Penggalian Kembali Sumur Zam-zam (Part 3 Dari “Syaibah, Calon Pemimpin yang Beruban”)


Sosok itu datang lagi dalam mimpi Abdul Muthalib. Ini sudah kali ketiga.

“Galilah timbunan harta karun!”, perintah sosok itu.

Namun ia menghilang sebelum Abdul Muthalib sempat meminta penjelasan, persis seperti dua malam sebelumnya. Mimpi itu datang pertama kali ketika putra Hasyim itu sedang menghabiskan malam di salah satu tempat favoritnya, tempat moyangnya Ismail AS dan sang bunda Hajar yang menjadi cikal bakal bangsa Arab menyisakan bekas ibu jari kaki.  Tempat itu dinamakan Hijr Ismail. Yang berabad-abad setelahnya para peziarah berebut, berdesak untuk dapat shalat dua rakaat di dalamnya.  Disanalah Abdul Muthalib tidur beralaskan tikar, dan lantas bermimpi.

Sosok itu konon berupa bayangan. Pada malam pertama, sosok tersebut menyuruhnya mengali sumber air yang manis dan lalu menghilang begitu saja. Malam kedua, sosok itu datang lagi dan mengatakan perkataan yang mirip, “Galilah keberuntungan!”. Namun sekali lagi, sosok itu hilang sebelum Abdul Muthalib mendapatkan keterangan.

Malam ketiga, masih tanpa berita. Semua masih samar-samar bagi Abdul Muthalib. Akan tetapi ia yakin, mimpinya bukan mimpi biasa. Apakah itu, dimanakah itu sumber air yang manis, keberuntungan dan timbunan harta karun?

Abdul Muthalib, pria yang sedang kita bicarakan di atas memiliki nama asli Syaibah. Ia adalah anak Hasyim, cucu Abdu Manaf. Garis keturunannya sungguh mulia, karena silsilahnya berlanjut hingga Nabi Ismail AS.  Qushay, kakek buyutnya mewariskan pekerjaan yang tidak kalah mulia kepada anak keturunannya, mengurus Ka’bah serta keperluan jamaah Haji.

Ayahnya, Hasyim bin Abdu Manaf, dulu kerap menyajikan Ats-Tsarid, roti yang diremukkan dan direndam dalam kuah, kepada para peziarah Ka’bah. Aslinya Hasyim bernama Amru, profesinya sebagai pemberi makan jamaah Haji-lah yang menjadikan penduduk Mekkah menjulukinya Hasyim, yang dalam bahasa Arab berarti  orang yang meremukkan roti.

Sebagai pengurus jamaah Haji menggantikan ayahnya, Abdul Muthallib sudah terbiasa dengan suasana Ka’bah dan wilayah sekitarnya yang disucikan, tempat para peziarah bersujud. Wilayah itu dikenal dengan Masjid Al-Haram. Abdul Muthalib pun tidak seperti bangsanya yang menjadikan Hubal, Lata, Uzza dan dewa dewi lainnya sebagai perantara Tuhan. Ia bersama sedikit orang di Mekkah hanya menyembah satu Tuhan, sebagaimana risalah Ibrahim AS yang diteruskan oleh kedua anaknya, Ismail AS dan Ishaq AS.

Namun ia tidak kuasa ketika kaumnya bersujud bukan lagi kepada Tuhan. Ia tidak kuasa pula mencegah dan melarang praktik-praktik syirik yang merajalela sejak sekian lama. Sejak Amru Bin Luhai dari Bani Khuzaah membawa berhala Hubal dari Syam yang dipercaya dapat menurunkan hujan dan pertolongan. Wahyu dan kenabian seakan demikian jauh dari bangsa Arab, walaupun masih ada segelintir orang yang memeluk Nasrani, seperti Waraqah Bin Naufal. Segelintir yang meyakini akan ada sang mesias, nabi terakhir yang terpuji namanya di langit dan bumi, sebagaimana tertulis dalam kitab-kitab agama mereka. Keberadaan mereka diakui oleh penduduk Mekkah, bahkan dihormati, karena bangsa Arab menjunjung tinggi kebersamaan dan toleransi. Pajangan Bunda Maria konon bahkan pernah ikut menghiasi Ka’bah bersama berhala lainnya untuk menghormati pemeluk Nasrani yang datang berziarah untuk menapaktilasi risalah Ibrahim AS dan Ismail AS. Hanya orang-orang Yahudi yang berhenti datang sejak berhala menjadi aksesori utama Ka’bah dan sekitarnya.

Akan tetapi, malam itu, Allah memilih Abdul Muthalib untuk menggali sebuah keberkahan yang Allah kucurkan pada tanah Mekkah yang gersang dan tandus.

Malam keempat. Sosok itu datang. Namun kini ia mengatakan hal yang berbeda. Atau sama? Atau ini berkaitan dengan mimpi-mimpi sebelumnya?

“Galilah Zam-zam!”, seru suara itu.

“Apakah Zam-zam itu?”, tanya Abdul Muthalib.

Mimpi keempat ini adalah pamungkasnya. Sosok itu memberikan keterangan,

“Galilah ia, maka engkau tak akan pernah menyesal,

Karena ia adalah pusaa yang amat kaya,

Dari nenek moyangmu yang paling luhur,

Ia tak akan pernah kering, tidak juga berkurang

Dalam memenuhi semua kebutuhan jamaah haji”

Sosok itu juga memerintahkan Abdul Muthalib untuk mencari suatu tempat yang lembab, penuh darah, penuh kotoran, tempat semut-semut bersarang, dan burung gagak mematuk-matuknya. Dan akhirnya, Abdul Muthalib disuruh berdo’a, “Demi air jernih yang melimpah yang akan memberi minum seluruh tamu Tuhan melalui hajinya”.

Keesokan harinya, Abdul Muthalib mulai menggali di tempat yang dimaksud oleh suara ghaib dalam mimpinya. Tempat itu ada di antara sepasang berhala yang konon merupakan nenek moyang kaum Jurhum. Di sana orang-orang Quraisy biasa menyembelih hewan sebagai bentuk sesajian kepada berhala. Tempat itu menjadi lembab dan senantiasa berlumur darah. Semut-semut bersarang di sana, dan burung gagak mematuk-matuk. Deskripsi yang sama persis dengan mimpinya.

Seperti yang sudah diduga, warga Mekkah gempar karena Abdul Muthallib menggali di tempat yang mereka sucikan. Namun demikian, Abdul Muthalib pantang menyerah. Hatinya demikian yakin, tempat inilah yang dimaksud dalam mimpinya, dan mimpinya bukan sembarang mimpi. Dan memang benar adanya. Harta karun yang pernah ditimbun kaum Jurhum memang ada di sana. Baik harta secara literal, maupun harta lainnya, sumur Zam-zam.

Harta dan kekuasaan adalah dua serangkai embel-embel duniawi yang sangat bisa menjerumuskan manusia. Power tends to corrupt. Di banyak tempat, kepemilikan tanah, sawah ladang dan perkebunan adalah penanda kekuasaan. Di era digital yang kita hidup di dalamnya sekarang, akses informasi adalah kekuasaan. Bagi penduduk padang pasir yang jumlah hari hujannya dalam setahun bisa dihitung dengan jari, air adalah penanda kekuasaan.

Dulu sekali, selepas bercerai dengan istri pertamanya, Nabi Ismail AS menikah dengan perempuan dari kaum Jurhum. Prestise kaum Jurhum serta merta naik. Bagaimana tidak? Berkeluarga dengan Nabiyullah, siapapun pasti mengamini bahwa itu adalah sebuah kebanggaan. Selain itu, akses terhadap Zam-zam juga menambah prestise tersendiri bagi kaum yang awalnya hidup berpindah-pindah. Namun, lambat laun, dari generasi ke generasi, kaum Jurhum yang menguasai wilayah Mekkah dan akses terhadap Zam-zam mulai meremehkan Ka’bah. Di situlah, mereka kemudian ditaklukan oleh Bani Khuza’ah dan dipaksa keluar dari Mekkah, kurang lebih pada abad ke-5 M. Sebelum pergi, kaum Jurhum sempat menimbun sumur Zam-zam dan harta karun mereka, agar tidak dinikmati Bani Khuza’ah. Oh, betapa penanda kekuasaan seringkali membuat seseorang menjadi serakah. Lena akan sebuah kuasa, dan mengesampingkan Sang Penguasa dari Segala Penguasa.

Kisah di atas mengajarkan kepada kita banyak hal. Pertama, dari sisi sosial, peran Abdul Muthalib sebagai seorang pemimpin mungkin memang sebuah konstruksi. Ada proses bertahap dalam sebuah masyarakat, sesuai dengan kultur dan kebiasaan setempat ketika seseorang dijadikan sebagai pemimpin. Proses ini adalah sunnatullah, pemberian peran juga sunnatullah, konstruksi sosial pun sunnatullah. Sunnatullah yang saya maksud adalah, demikianlah Allah mengilhamkan pengetahuan kepada tiap-tiap kaum sehingga mereka menjalani proses yang berbeda untuk tujuan yang sama. Termasuk juga ketika Abdul Muthalib menjadi pemimpin. Tidak pernah ada pemilihan dan penetapan resmi yang menjadikan Abdul Muthalib seorang pemimpin.  Ia dipilih oleh seleksi sosial. Dalam masyarakat kita pun mudah kita jumpai kejadian serupa. Beberapa orang memang Allah ciptakan untuk terlihat menonjol dan menjadi pemimpin, lalu masyarakatnya memberi peran itu padanya.

Namun urusan Zam-zam, bukan perkara biasa. Allah yang memilihnya untuk menggali sumur Zam-zam. Air yang mengalir sepanjang masa dan tidak akan pernah habis untuk menghilangkan dahaga para peziarah rumah-Nya.  Sebagaimana saya sebutkan di atas, bagi penduduk padang pasir air adalah barang berharga. Akses terhadap air bisa menjadikan seseorang berkuasa. Dan Allah memilih Abdul Muthallib untuk membuka akses itu. Ini, menurut saya adalah pengukuhan Tuhan atas kepemimpinan Abdul Muthalib. Mengapa Abdul Muthalib? Karena Abdul Muthalib, sebagaimana sudah saya sebutkan, adalah satu dari sedikit orang di Mekkah yang menyembah Allah tanpa perantara. Langsung, lurus, pada Allah saja. Artinya, menjadi yang sedikit, selama berada di jalan yang Allah ridhai tidak melemahkan kita. Kita tidak perlu larut pada penyembahan berhala-berhala masa kini bernama barang-barang mewah dan gaya hidup serba mudah. Kita cukup memilih jalan lurus, Allah saja.

Kedua, penaklukan kaum Jurhum yang kekerabatannya amat dekat dengan Nabi Ismail AS oleh Bani Khuza’ah tentu atas seizin Allah. Dan itu terjadi ketika kaum Jurhum mulai mengotori Ka’bah dengan sesembahan lain selain-Nya. Begitu pun dengan kita. Lihatlah apa yang terjadi dengan ummat Islam di Indonesia? Fitnah demi fitnah melanda kita. Fitnah akhir zaman memang sudah diramalkan. Tapi apa yang menjadi sebab kita dilanda fitnah (baca: ujian)? Mungkin… mungkin saja hati kita sudah tidak lagi berada pada jalur-Nya.

Misalnya saja, kecintaan pada gaya hidup mewah. Contoh sederhananya, sebuah tas. Sebagaimana perempuan kebanyakan, saya juga menyukai barang bagus, termasuk tas. Sering kita lihat artis-artis, atau bahkan kita (saya) sendiri tergila-gila pada sekempit tas  yang harganya bisa menyekolahkan seorang anak hingga lulus SMP.

Bukankah sekempit tas itu kita yang memberi makna padanya? Menjadikannya “mahal”, menaikkan “prestise” kita pun kita sendiri yang menganggapnya demikian.  Lalu bagaimanakah tas yang tidak memberi kita hidup bisa memperbudak kita?

Bukankah barang seindah apapun baru disahihkan keberhargaannya ketika kita memberinya label apakah itu Aigner, Versace, atau Bottega Veneta. Kalau sebuah tas atau sepatu kulit dengan kualitas luar biasa bagus masih ada di tangan para pengrajin Sidoarjo, akankah kita memaknainya dengan makna yang sama? Lalu siapa yang budak siapa yang majikan?

Apa hubungannya Jurhum dengan tas mahal? Jurhum diberi setidaknya kelebihan pada dua kebanggaan. Berkerabat dengan nabi Allah dan akses terhadap Zam-zam. Dua-duanya prestise. Sama seperti tas maha adalah prestise pada jaman ini. Lambang prestise lainnya misalnya, jam rolex, mobil alphard, rumah mewah, kartu kredit titanium, akses luas pada alat-alat penyampai informasi, titel berderet-deret di depan dan belakang nama, dan masih banyak lagi. Jaman selalu mengulang kisah yang sama, kata ustadzah saya, hanya bungkusnya saja yang berbeda.

Betapa mudahnya Allah cabut semua kenikmatan justru ketika kita terlena dan merasa di atas awan. Sebagaimana kaum Jurhum yang sudah berubah orientasi terhadap-Nya, lalu Allah gantikan dengan Bani Khuza’ah…

Wallahu A’lam. Yang menulis tidak lebih baik dari pada yang membaca. Yang benar dari Allah saja, dan yang salah murni dari saya.

*Pelengkap dari Part 1 dan Part 2
*Sumber: The Great Story of Muhammad, Syaikh Mubarakfury dan Muhammad, Martin Lings.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s