Letter to Dear Wu

Assalamu’alaykum Wr Wb

Hei Wu 🙂 How are you doing? I dreamed about you a couple of days ago. Weird huh? It’s been so long since our last contact on Friendster. Five years ago, you promised to invite me on your wedding celebration. But that invitation never came, though. But I don’t mind at all. Besides England is way far from Jakarta 😀

I wonder why after that dream I miss you so bad. I don’t even know why I had that dream. Somehow, we used to best friends, right? Even our friendship didn’t run that smooth and we fought sometimes, but still that was a moment worth to remember. 

How’s life, dear?

Is it still cold there in Sussex on March? Or you’re staying somewhere else now?

I remember you promised me that Archie Comics the last time we met at FISIP UI. Will you bring me some, if we ever meet again? 😀 LOL!

Life’s been good for me, here. Alhamdulillah. And I do wish that Allah will keep you safe, in His guidance and protection. Things may have happened in your life, dear, and you may think there’s no way back. Time will not change and go back to the past to where it all begun, but there is always a way back to Allah.

I just googled your name, and stupid Google, I couldn’t find you anywhere.

So, just in case you miss me, and want to how I’m doing, and google my name, and google bring you here to this post, I just want to say:

Don’t leave Allah, for He never leave you for one second in your life. Remember Him in your life, and He will remember you. The door to HIS love is 24/7, Allah is always there. He heals broken hearts and He never give up on you. So don’t give up on HIM 🙂

And please, please, do contact me…

Allah hafiz, dear Wulandari, a full moon on the day you were born, 10th January 🙂 

 

p.s. and don’t forget that Archie Comics :p

Advertisements

preparing….

Rumah Mbakje

kiamat-1Berdasarkan beberapa hadits shahih disebutkan, umur ummat Muhammad 1500 tahun. Sementara sekarang sudah tahun 1434 H. Dimana kita tahu, 1 H ditandai dengan hijrahnya Nabi dan para sahabat dari Mekkah ke Madinah yang terjadi pada tahun ke-13 masa kenabian Muhammad SAW.

Itu berarti 1434 H + 13 tahun kenabian di Mekkah = 1447 tahun. Dengan demikian, sisa masa Umat Islam = 1500 – 1447 =  53 tahun lagi, which istinggal satu generasi lagi!!

Dari mana angka ini didapat?

Bahasan detil tentang umur umat Muhammad ini ada dalam buku yang ditulis ulama Timur Tengah, Ust Amin Muhammad Jamaluddin. Beliau mengutip hadits riwayat Al Bukhari yang artinya:

Perumpamaan kaum Muslimin dan Yahudi serta Nasrani, seperti perumpamaan seorang yang mengupah satu kaum (Yahudi) untuk melakukan sebuah pekerjaan sampai malam hari, namun mereka melakukannya hanya sampai tengah hari. Lalu mereka pun berkata, “Kami tidak membutuhkan upah yang engkau janjikan pada kami…

View original post 569 more words

Review Baliratih Scrub Coklat

^^

frizki_nurnisya

Semua perempuan suka tampil cantik. Termasuk saya. Salah satu cara supaya tampil cantik bagi saya ialah membeli produk-produk personal care. Mulai dari yang standar biasa, yang melalui multilevel marketing hingga yang tradisional sudah sering saya coba nih.

Kali inipun saya kembali mencoba produk baru, tertarik untuk mencoba karena teman saya Shinta Galuh sering banget mengubah photo profile di contact BBMnya dengan foto produk ini dan akhirnya memang saya tergoda untuk mencoba produk yang katanya bodysh*p Indonesia.

Lets start, saya suka luluran. Saya pernah pakai lulur bali yang harganya 9rban dan emang produk yang itu buat saya juga recommended karena wanginya oks banget. Kali ini kita akan review produk Baliratih.

Untuk tekstur, emang Baliratiih scrub memiliki scrub yang lembut gak terlalu tajam. Beberapa produk entah karena alasan supaya kotoran benar-benar terangkat dan ada sensasi “grus-grus” ketika menggosok menciptakan scrub yang agak kasar sehingga kadang menyakitkan kulit. Namun produk Baliratih ini cukup…

View original post 191 more words

Meresapi Tahun yang Tidak Pernah Berulang

Saya lupa, kapan terakhir saya memasuki bulan Maret dengan hati berbunga-bunga. Sepertinya sebelum saya menginjak usia 20 tahun. Saat memasuki Maret adalah saat paling bahagia, karena saya selalu menghitung hari menuju tanggal 24. Ulang tahun Krisdayanti. Hehehe… Yang sekaligus ulang tahun saya juga, cuma beda umur dan beda nasib sama jeung KD. 

Sejak kecil, saya selalu menanti-nanti tanggal itu, karena di keluarga besar Mama, kami terbiasa bertukar kado, bahkan walaupun saat itu saya kecil tinggal di Semarang dan keluarga besar Mama tinggal di Jakarta. Pagi hari tanggal 24 Maret, saya selalu duduk di teras rumah, dan menunggu Pak Pos mengirim bingkisan paket dari Jakarta. 

Excitement begitu tinggi saat itu, hingga saya masih bisa mengingat momen dimana sebuah kotak besar dan berat berbungkus koran datang. Saya membukanya dengan tidak sabar, dan ketidaksabaran saya memang selalu beralasan. Di dalam kotak besar itu selalu ada bungkusan-bungkusan kado yang lebih kecil. Dibungkus cantik dan menarik. Berhubung anak eyang saya ada 9, dan yang saat itu masih tinggal serumah dengan eyang saya ada empat ditambah eyang saya, jadi setidaknya setiap ulang tahun saya selalu mendapat 5 kado, belum ada kado tambahan untuk kakak saya. Biasa, ulang tahun adik berarti ulang tahun kakak juga, begitu juga sebaliknya. Kalau nggak begitu bisa pecah perang saudara. Hihihi… 

Setelah usia saya 20, entah mengapa saya merasa enggan menerima ucapan selamat ulang tahun. Rasanya malu, segan, dan entah apa lagi. Semakin ke sini, saya semakin ingin memperkecil lingkaran kekerabatan saya untuk masalah ulang tahun. The less people know, the better. 

Tahun ini saya menginjak 27. Sudah masuk akhir 20-an. Sudah mulai mengkhawatirkan pori-pori yang semakin besar dan komedo yang semakin mudah muncul. Dan dalam lubuk hati yang paling dalam ada kekhawatiran akan jam biologis saya sebagai perempuan yang belum juga hamil.

Saya tahu, banyak orang yang merayakan ulang tahunnya dengan gegap gempita. Salah satu eyang saya, misalnya, walaupun sudah hampir 80, setiap ulang tahun selalu dirayakan. Sampai-sampai adik saya saat kecil mengenal adik Eyang Putri saya itu dengan “Eyang ulang tahun”. Si Eyang yang senang ulang tahun. Hihihi… 

Saya juga tahu, banyak orang menganggap usia 20-an masih masuk dalam kategori “muda”, sehingga tidak sedikit juga yang menghabiskan usia 20-nya dengan bekerja keras, dan pesta pora. Work Hard, Pray Hard. Entahlah, saya tidak merasa demikian. Saya merasa ada kesalahan besar ketika banyak orang merayakan tahun yang berlalu tanpa menghasilkan sesuatu yang bermanfaat.

Tua itu karunia, kata Kanjeng Nabi. Saya baru sadar, tua itu memang karunia, karena tidak semua orang berhasil mencapainya. Dan merasa masih muda adalah salah satu pintu masuk kelalaian. Merasa hidup hanya sekali, masa muda hanya sekali. Memang benar. Untuk alasan yang sama, banyak orang baru memulai mengenal Tuhan di saat rhematik sudah rutin menghampiri tiga kali seminggu. Banyak orang baru shalat di saat raga sudah sulit untuk dipakai rukuk, apalagi sujud. Banyak orang yang berpunya, baru tergerak pergi haji di saat kepergiannya “diikhlaskan” untuk tidak kembali oleh sanak keluarganya.

Ah, Masya Allah…

Saya ditakdirkan Allah hampir selalu duduk bersama orang-orang tua saat saya Umrah Mei tahun lalu. Di sekeliling saya berjajar kursi dan kursi roda, dan muslimah-muslimah yang sudah lanjut usianya. Ada yang shalat begitu lambat karena berusaha tegak berdiri, ada yang duduk di lantai, ada yang di atas kursi lipat, ada yang di atas kursi roda. Dan setiap sehabis shalat pula, tidak sedikit yang shalatnya harus “diwakilkan” oleh jamaah dalam bentuk shalat jenazah.

Ulang tahun, birthday, milad, apapun namanya, untuk saya adalah sebuah momen meredefinisi diri sendiri. Mensyukuri apa yang sudah diperoleh dan mengingat apa yang banyak terlewat. Sudah sebanyak apa manfaat dari usia yang diberikan Tuhan? 

Karena sisa usia kita tidak pernah mengetahuinya. Boleh jadi, saya tidak pernah menginjak masa tua. Hidup hanya sekali, maka hidupilah yang berarti. Karena kita tidak tahu dimana, bagaimana, bilamana, Izrail menutup episode hidup kita.

“Postingan ini diikutsertakan pada Give Away Ultah Samara”

 

 

“Money Talks, M…

“Money Talks, Monkey Walks” -Anonymous

Sebenarnya, Indonesia juga punya pepatah serupa, “Anjing mengonggong, kafilah berlalu” hanya saja konteksnya sangat berbeda. Hehe… Anyway, walaupun saya sering menggunakan kutipan kata-kata di atas untuk menyindir para elite politik, kali ini saya tidak sedang bicara politik. 

“When Money Talks…”

Kisah ini tentang pasangan muda suami istri. Sang suami demikian sibuk, hingga istrinya kerap merasa kehilangan quality time. Memang, untuk mengikuti ritme kerja suami yang sibuk, sang istri pun ikut-ikutan menyibukkan diri. Maklum, keduanya belum punya anak, jadi masih punya banyak free time. 

Beberapa kali sepekan, sang istri mengajar anak-anak besar yang konon bernama mahasiswa. Sisa harinya digunakan sang istri untuk belajar, lompat dari pengajian satu ke pengajian lain, dan menjalankan hobinya: membaca, menulis dan terakhir kabarnya sang istri sedang senang-senangnya jualan produk perawatan tubuh. 

Adapun sang suami, bekerja di salah satu bank pemerintah, sedang mengasah karier yang tampaknya cemerlang (aamiin :p). Usia yang belum tiga puluh, cukup menonjol dan sangat diandalkan seringkali membuat rekan kerjanya bergantung dan sang suami pun seringkali dilimpahi banyak tanggung jawab. 

Pulang larut malam, travelling ke luar kota dua kali seminggu, atau bekerja di akhir pekan menjadi sebuah konsekuensi yang tidak terelakkan. Suami pun bahkan kerap berkata, “Seandainya saya belum menikah, mungkin saya sudah membawa persediaan baju dan bantal ke kantor”. 

Istri yang malang, begitu sering merasa dinomorduakan. Cemburunya jadi serampangan. Sampai-sampai boss sang suami yang laki-laki pun “dicemburui”, saking seringnya si boss menelepon. “Tidak ada perempuan lain dalam hidup suamiku”, begitu pikir sang istri. “Tapi pekerjaan ini, tidak bisa kukalahkan”.

Ngambek, awalnya, menjadi senjata andalan Istri untuk mendapatkan perhatian Suami. Tapi lama kelamaan, Sang Istri lelah sendiri, karena sepertinya daya pikat pekerjaan lebih menarik ketimbang ambekan dirinya. Merengek-rengek, mungkin patut dicoba.

Semacam anak kecil kehilangan balon, sang istri mulai merengek-rengek, protes, ngambek, dan kombinasi dari ketiga-tiganya. Apalagi kalau sang Suami harus masuk di akhir pekan, hari-hari yang menurut sang istri adalah haknya yang semestinya tidak boleh diganggu gugat.

Ingin rasanya Sang Istri berdemo di depan kantor suaminya. Bicara dengan TOA segede-gede transformer (gaban sudah nggak jaman :p) sambil mengacung-acungkan tongkat yang dipasangi kertas bertuliskan, “Kembalikan Suami Saya”. Kadang terpikir pula oleh sang istri untuk menambahkan tulisan, “Naikan Gaji Suami Saya”. Hihihi… Tapi tentu saja ide-ide liar semacam itu hanya akan membuat Sang Istri dan suaminya malu. Salah-salah suaminya benar-benar dipulangkan.

Kadang, kalau lagi lempeng, baik Sang Suami maupun Istri sama-sama paham. Suami paham bahwa istrinya sangat merindukan waktu bersama suami, biar kata cuma ke Sevel beli cemilan, walaupun itu cuma sarapan bareng. Istri pun paham, apalagi setiap tanggal 25 dan beberapa hari setelahnya. Rasanya tingkat pengertian istri meningkat drastis. Hihihi…

Bukannya sang istri tidak mau bekerja penuh. Suami pun sudah menyarankan, biar sang istri tidak bosan. Apalagi melihat excitement Sang Istri tiap tanggal 25, “kan enak”, kata Sang Suami, “kalau kamu bisa nerima jumlah besar tapi uang sendiri”. Maklum, Sang Suami sering protes karena penghasilan Istri sebagai dosen, menurut Suami tidak manusiawi. Itu sudut pandang suami yang sayang istrinya. Walaupun sebenarnya Sang Istri mah senang-senang saja dengan apa yang dilakoninya. Istri hanya butuh perhatian lebih dan waktu lebih untuk bersama. Malahan istri berusaha menjaga agar tidak terlampau sibuk, agar rasa rindu tetap terjaga, setidaknya di salah satu pihak. Bahasanya istri mah, menjaga ketergantungan antara suami istri. 

Kadang-kadang Istri juga ngambek karena merasa jadi “penunggu rumah”. Mendadak jadi agak mirip sama yang ghaib-ghaib dong kalau “penunggu rumah”. Pasalnya setiap urusan surat menyurat, pertukangan, antar titipan polis asuransi, Istri harus selalu stand by. Tapi dasar Istri suka ndableg, gengsinya masih aja menari-nari.

“Makanya pakai pembantu,” saran Sang Suami,

“Enggak!”

“Kenapa sih? Kan enak, kamu bisa kemana-mana kalau pakai pembantu,” bujuk Suami

Terbayang sih, enaknya punya pembantu. Sarapan, makan siang, makan malam semua ada yang mengurus. Ada teman bicara. Ada yang nerima paket, surat, dan lain-lain. Kalau pegel bisa minta pijitin, kalau sakit ada yang bikinin teh panas.

Tapi…. nanti kalau Istri punya pembantu, Suami minta sarapan sama Si Mbak, minta bikinin Teh sama Si Mbak. Kalau Si Mbak masaknya enak, dipuji sama Suami. Ih, curang banget!

“Pokoknya enggak!”, Sang Istri ngotot dan tetap menggunakan Si Mbak yang setengah hari saja. Nggak perlu Si Mbak yang full day. Kalau untuk nerima surat, tinggal beli kotak surat. Selesai. 

Teorinya Sang Istri, ketergantungan antar pasangan itu harus ada. Biar ketika masing-masing sibuk dengan pekerjaannya, selalu ada titik temu dimana bersama selalu menyenangkan dan ditunggu-tunggu, walaupun hanya membuatkan secangkir teh atau cokelat panas.

Mungkin nanti, kalau mereka sudah punya momongan, punya Si Mbak yang full day boleh dipertimbangkan. 

Suatu hari, Sang Istri merasa sudah jenuh dengan segala daya upayanya menarik perhatian suami. Deadline pekerjaan Sang Suami kian mendesak, sehingga mau tidak mau, ia mengalah lagi. Tapi rupanya, melembutkan diri terkadang membawa hasil yang jauh lebih baik. Tiba-tiba Sabtu itu, Sang Suami berkeinginan mengajak Istrinya ke kantor. “Kasihan kamu ditinggal terus…”, begitu ucap Suami lembut. Cuma diajakke kantor saja, Istri rasanya begitu berbunga-bunga. Hihihi…

Sabtu itu keduanya berangkat sudah agak siang.

“Sepertinya aku akan pulang malam kalau kita berangkat siang begini. Nanti kamu bosan menunggu, jadi ini, kuberi uang jajan. Katanya kamu mau ke Tanah Abang,” beberapa lembar uang diselipkan di antara jemari Istri oleh Suami. Kantor Suami memang hanya 10.000 ongkos Bajaj dari Pusat Perbelanjaan Tanah Abang Blok A. 

Bak mendapat segepok cokelat dari langit, Istri melonjak bahagia. Wajahnya berseri-seri.

“Ya, sudah, Abang kerja saja ya. Aku mau belanja ke Tanah Abang,” ujar Istri girang bukan buatan.

Saya, eh Sang Istri memang harus kembali ke rumah dengan Taxi akhirnya. Suami sudah menawarkan untuk tinggal, tapi Istri jadi tidak enak hati karena hanya nongkrong di pantry sambil nonton TV sementara Suami dan para lembur-ers co-worker-nya sibuk bekerja dalam diam. Tapi, ada yang berbeda. Ya, Sang Istri kembali dengan beberapa kantong belanjaan dan hati membuncah oleh kesenangan.

“And so the monkey walks”

 

 

Baliratih, Murah yang Nggak Murahan

Baliratih, Murah yang Nggak Murahan

Untuk bisa merawat diri tidak harus dengan produk luar yang harganya lumayan menguras kantong. Baliratih, produk perawatan tubuh asli Indonesia dapat diperoleh dengan harga yang relatif terjangkau alias murah meriah.

Tersedia dalam 16 varian, produk Baliratih terdiri dari body mist, body lotion, body butter, dan body scrubs (lulur) yang harga masing-masing produknya di bawah Rp.30.000. Body Mist dan Body Butter Baliratih bisa diperoleh dengan harga masing-masing Rp.27.000, Body Lotion-nya hanya seharga Rp.24.500 dan Body Scrubs alias lulurnya dengan harga Rp.22.000. Sepaket? Hanya menambah gopek dari uang seratus ribuan, alias Rp. 100.500 saja 🙂

Murah nggak berarti murahan lho!

Walaupun harganya di bawah Rp.30.000, produk Baliratih sudah diuji dermatologist, free animal testing, dan hanya menggunakan bahan alami. Packagingnya juga menarik dan wanginya tahan lama karena kaya akan aromatherapy dan essential oil. Essential oil inilah yang jadi kunci keawetan sebuah produk pewangi.

Karena variannya bejibun, memang banyak yang bingung memilih varian yang cocok. Berikut ini saya berikan sediit review, berdasarkan penciuman saya :p dan testimoni pelanggan:

Bagi penyuka wangi buah-buahan yang Manis, Strawberry, Cherry, Apple dan Mango bisa jadi pilihan. Cherry menduduki tempat teratas wangi manis centil, diikuti Strawberry. Apple wanginya manis lembut dengan sensasi buah, dan Mango manis segar. Di antara keempat varian di atas, Mango adalah varian yang paling banyak diminati.

Penyuka wangi buah segar bisa mencoba Orange. Banyak yang bertanya, “apa baunya nggak kayak air freshener?”. Hehe… Insya Allah enggak. Sensasi Orange-nya cocok banget digunakan di siang yang terik membuat tubuh yang berpeluh jadi bersemangat kembali.

Penyuka wangi buah-buah hijau yang tidak terlalu girly bisa mencoba Olive dan Avocado. Kedua varian ini juga banyak dicari lho, terutama bagi mereka yang mencari sensasi segar yang tidak terlalu buah, dan tidak terlalu manis. Mendengar Olive, jangan bayangkan bau minyak Zaitun yaa… Justru Olive wanginya cenderung lebih kuat, dan lebih netral dibandingkan Avocado yang lebih manis dan kuat sensasi aromatherapy-nya.

Masih sama-sama hijau, ada varian Green Tea yang sangat grassy. Wanginya yang begitu segar memberikan sensasi “habis mandi”. He.. Tau kan wangi dan perasaan setelah mandi, waktu bau sabun dan shampoo-nya masih melekat di badan? Untuk sehari-hari, saya menggunakan Green Tea karena efek yang saya sebut “habis mandi” tadi. Eh tapi ini bukan modus untuk nggak mandi yaaaa… 😀
Oh iya, wangi Green Tea ini juga tidak feminin, malah cenderung androgene. Bisa digunakan perempuan dan laki-laki, walaupun lebih banyak perempuan yang menyukai.

Nah sekarang kita masuk ke wangi bunga. Baliratih memiliki wangi Lavender, White Musk, White Rose dan Chamomile. Di antara keempat varian di atas, Lavender, menurut saya memiliki sensasi sensual, mungkin karena Lavender masuk ke dalam aroma yang aphrodisiac (bisa membangkitkan gairah seksual). Untuk wangi bunga yang manis lembut dan sangat feminin, White Musk juaranya :). Selain itu, White Musk juga termasuk produk paling laris dan banyak dicari pelanggan. Sedikit lebih kuat dari White Musk, ada Chamomile. Wanginya masih termasuk lembut, elegan dan sangat feminin. Paling kuat di antara wangi-wangian bunga adalah White Rose. Tidak sekuat produk wewangian Rose lain yang ada di pasaran, memang, tapi di antara produk Baliratih yang lembut, White Rose termasuk yang paling kuat wanginya.

Dengan aroma mendekati White Rose, ada aroma Milk yang mengingatkan saya pada aroma spa. Memang banyak yang mengatakan bahwa Milk mirip wangi bunga-bungaan, sehingga wanginya hampir serupa dengan White Rose.

Selanjutnya adalah biji-bijian. Penyuka wangi rempah-rempah bisa memilih wangi Coffee yang kopi banget. Body Mist Coffee-nya sendiri juga lumayan diminati kaum pria penyuka wangi-wangian rempah lho. Adapun produk lulurnya, bersama dengan lulur Cokelat, juara banget!

Saya pribadi penyuka produk Cokelat, namun tidak untuk saya gunakan saat keluar rumah karena Cokelat masuk dalam wewangian aphrodisiac. Biasanya saya gunakan di ruang pribadi, saat sebelum tidur. Dan Cokelat ini juga termasuk banyak peminatnya.

Terakhir adalah Almond Nut. Jangan terkecoh dengan Almond-nya ya. Wanginya bukan wangi manis feminin, melainkan sporty dan maskulin. Kaum Adam atau kaum hawa yang agak tomboy biasanya menyukai wangi Almond Nut ini.

Jadi, apabila anda butuh produk perawatan tubuh, nggak usah ragu-ragu memilih Baliratih. Dan kalau Anda ragu-ragu memilih di antara 16 varian, silahkan dilihat review di atas. Semoga bermanfaat 🙂

Order dan info lebih lanjut, hubungi saya di shintagaluhtryssa@gmail.com 🙂