Meresapi Tahun yang Tidak Pernah Berulang


Saya lupa, kapan terakhir saya memasuki bulan Maret dengan hati berbunga-bunga. Sepertinya sebelum saya menginjak usia 20 tahun. Saat memasuki Maret adalah saat paling bahagia, karena saya selalu menghitung hari menuju tanggal 24. Ulang tahun Krisdayanti. Hehehe… Yang sekaligus ulang tahun saya juga, cuma beda umur dan beda nasib sama jeung KD. 

Sejak kecil, saya selalu menanti-nanti tanggal itu, karena di keluarga besar Mama, kami terbiasa bertukar kado, bahkan walaupun saat itu saya kecil tinggal di Semarang dan keluarga besar Mama tinggal di Jakarta. Pagi hari tanggal 24 Maret, saya selalu duduk di teras rumah, dan menunggu Pak Pos mengirim bingkisan paket dari Jakarta. 

Excitement begitu tinggi saat itu, hingga saya masih bisa mengingat momen dimana sebuah kotak besar dan berat berbungkus koran datang. Saya membukanya dengan tidak sabar, dan ketidaksabaran saya memang selalu beralasan. Di dalam kotak besar itu selalu ada bungkusan-bungkusan kado yang lebih kecil. Dibungkus cantik dan menarik. Berhubung anak eyang saya ada 9, dan yang saat itu masih tinggal serumah dengan eyang saya ada empat ditambah eyang saya, jadi setidaknya setiap ulang tahun saya selalu mendapat 5 kado, belum ada kado tambahan untuk kakak saya. Biasa, ulang tahun adik berarti ulang tahun kakak juga, begitu juga sebaliknya. Kalau nggak begitu bisa pecah perang saudara. Hihihi… 

Setelah usia saya 20, entah mengapa saya merasa enggan menerima ucapan selamat ulang tahun. Rasanya malu, segan, dan entah apa lagi. Semakin ke sini, saya semakin ingin memperkecil lingkaran kekerabatan saya untuk masalah ulang tahun. The less people know, the better. 

Tahun ini saya menginjak 27. Sudah masuk akhir 20-an. Sudah mulai mengkhawatirkan pori-pori yang semakin besar dan komedo yang semakin mudah muncul. Dan dalam lubuk hati yang paling dalam ada kekhawatiran akan jam biologis saya sebagai perempuan yang belum juga hamil.

Saya tahu, banyak orang yang merayakan ulang tahunnya dengan gegap gempita. Salah satu eyang saya, misalnya, walaupun sudah hampir 80, setiap ulang tahun selalu dirayakan. Sampai-sampai adik saya saat kecil mengenal adik Eyang Putri saya itu dengan “Eyang ulang tahun”. Si Eyang yang senang ulang tahun. Hihihi… 

Saya juga tahu, banyak orang menganggap usia 20-an masih masuk dalam kategori “muda”, sehingga tidak sedikit juga yang menghabiskan usia 20-nya dengan bekerja keras, dan pesta pora. Work Hard, Pray Hard. Entahlah, saya tidak merasa demikian. Saya merasa ada kesalahan besar ketika banyak orang merayakan tahun yang berlalu tanpa menghasilkan sesuatu yang bermanfaat.

Tua itu karunia, kata Kanjeng Nabi. Saya baru sadar, tua itu memang karunia, karena tidak semua orang berhasil mencapainya. Dan merasa masih muda adalah salah satu pintu masuk kelalaian. Merasa hidup hanya sekali, masa muda hanya sekali. Memang benar. Untuk alasan yang sama, banyak orang baru memulai mengenal Tuhan di saat rhematik sudah rutin menghampiri tiga kali seminggu. Banyak orang baru shalat di saat raga sudah sulit untuk dipakai rukuk, apalagi sujud. Banyak orang yang berpunya, baru tergerak pergi haji di saat kepergiannya “diikhlaskan” untuk tidak kembali oleh sanak keluarganya.

Ah, Masya Allah…

Saya ditakdirkan Allah hampir selalu duduk bersama orang-orang tua saat saya Umrah Mei tahun lalu. Di sekeliling saya berjajar kursi dan kursi roda, dan muslimah-muslimah yang sudah lanjut usianya. Ada yang shalat begitu lambat karena berusaha tegak berdiri, ada yang duduk di lantai, ada yang di atas kursi lipat, ada yang di atas kursi roda. Dan setiap sehabis shalat pula, tidak sedikit yang shalatnya harus “diwakilkan” oleh jamaah dalam bentuk shalat jenazah.

Ulang tahun, birthday, milad, apapun namanya, untuk saya adalah sebuah momen meredefinisi diri sendiri. Mensyukuri apa yang sudah diperoleh dan mengingat apa yang banyak terlewat. Sudah sebanyak apa manfaat dari usia yang diberikan Tuhan? 

Karena sisa usia kita tidak pernah mengetahuinya. Boleh jadi, saya tidak pernah menginjak masa tua. Hidup hanya sekali, maka hidupilah yang berarti. Karena kita tidak tahu dimana, bagaimana, bilamana, Izrail menutup episode hidup kita.

“Postingan ini diikutsertakan pada Give Away Ultah Samara”

 

 

7 thoughts on “Meresapi Tahun yang Tidak Pernah Berulang

  1. Karena waktu tak bisa terulang alangkah bijaknya jika kita mereview apa yang telah kita lakukan dan berusaha melakukan yg terbaik utk ke depannya.

    Terima kasih atas sharing dan partisipasinya dlm GA ultah Smara🙂

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s