“Money Talks, M…


“Money Talks, Monkey Walks” -Anonymous

Sebenarnya, Indonesia juga punya pepatah serupa, “Anjing mengonggong, kafilah berlalu” hanya saja konteksnya sangat berbeda. Hehe… Anyway, walaupun saya sering menggunakan kutipan kata-kata di atas untuk menyindir para elite politik, kali ini saya tidak sedang bicara politik. 

“When Money Talks…”

Kisah ini tentang pasangan muda suami istri. Sang suami demikian sibuk, hingga istrinya kerap merasa kehilangan quality time. Memang, untuk mengikuti ritme kerja suami yang sibuk, sang istri pun ikut-ikutan menyibukkan diri. Maklum, keduanya belum punya anak, jadi masih punya banyak free time. 

Beberapa kali sepekan, sang istri mengajar anak-anak besar yang konon bernama mahasiswa. Sisa harinya digunakan sang istri untuk belajar, lompat dari pengajian satu ke pengajian lain, dan menjalankan hobinya: membaca, menulis dan terakhir kabarnya sang istri sedang senang-senangnya jualan produk perawatan tubuh. 

Adapun sang suami, bekerja di salah satu bank pemerintah, sedang mengasah karier yang tampaknya cemerlang (aamiin :p). Usia yang belum tiga puluh, cukup menonjol dan sangat diandalkan seringkali membuat rekan kerjanya bergantung dan sang suami pun seringkali dilimpahi banyak tanggung jawab. 

Pulang larut malam, travelling ke luar kota dua kali seminggu, atau bekerja di akhir pekan menjadi sebuah konsekuensi yang tidak terelakkan. Suami pun bahkan kerap berkata, “Seandainya saya belum menikah, mungkin saya sudah membawa persediaan baju dan bantal ke kantor”. 

Istri yang malang, begitu sering merasa dinomorduakan. Cemburunya jadi serampangan. Sampai-sampai boss sang suami yang laki-laki pun “dicemburui”, saking seringnya si boss menelepon. “Tidak ada perempuan lain dalam hidup suamiku”, begitu pikir sang istri. “Tapi pekerjaan ini, tidak bisa kukalahkan”.

Ngambek, awalnya, menjadi senjata andalan Istri untuk mendapatkan perhatian Suami. Tapi lama kelamaan, Sang Istri lelah sendiri, karena sepertinya daya pikat pekerjaan lebih menarik ketimbang ambekan dirinya. Merengek-rengek, mungkin patut dicoba.

Semacam anak kecil kehilangan balon, sang istri mulai merengek-rengek, protes, ngambek, dan kombinasi dari ketiga-tiganya. Apalagi kalau sang Suami harus masuk di akhir pekan, hari-hari yang menurut sang istri adalah haknya yang semestinya tidak boleh diganggu gugat.

Ingin rasanya Sang Istri berdemo di depan kantor suaminya. Bicara dengan TOA segede-gede transformer (gaban sudah nggak jaman :p) sambil mengacung-acungkan tongkat yang dipasangi kertas bertuliskan, “Kembalikan Suami Saya”. Kadang terpikir pula oleh sang istri untuk menambahkan tulisan, “Naikan Gaji Suami Saya”. Hihihi… Tapi tentu saja ide-ide liar semacam itu hanya akan membuat Sang Istri dan suaminya malu. Salah-salah suaminya benar-benar dipulangkan.

Kadang, kalau lagi lempeng, baik Sang Suami maupun Istri sama-sama paham. Suami paham bahwa istrinya sangat merindukan waktu bersama suami, biar kata cuma ke Sevel beli cemilan, walaupun itu cuma sarapan bareng. Istri pun paham, apalagi setiap tanggal 25 dan beberapa hari setelahnya. Rasanya tingkat pengertian istri meningkat drastis. Hihihi…

Bukannya sang istri tidak mau bekerja penuh. Suami pun sudah menyarankan, biar sang istri tidak bosan. Apalagi melihat excitement Sang Istri tiap tanggal 25, “kan enak”, kata Sang Suami, “kalau kamu bisa nerima jumlah besar tapi uang sendiri”. Maklum, Sang Suami sering protes karena penghasilan Istri sebagai dosen, menurut Suami tidak manusiawi. Itu sudut pandang suami yang sayang istrinya. Walaupun sebenarnya Sang Istri mah senang-senang saja dengan apa yang dilakoninya. Istri hanya butuh perhatian lebih dan waktu lebih untuk bersama. Malahan istri berusaha menjaga agar tidak terlampau sibuk, agar rasa rindu tetap terjaga, setidaknya di salah satu pihak. Bahasanya istri mah, menjaga ketergantungan antara suami istri. 

Kadang-kadang Istri juga ngambek karena merasa jadi “penunggu rumah”. Mendadak jadi agak mirip sama yang ghaib-ghaib dong kalau “penunggu rumah”. Pasalnya setiap urusan surat menyurat, pertukangan, antar titipan polis asuransi, Istri harus selalu stand by. Tapi dasar Istri suka ndableg, gengsinya masih aja menari-nari.

“Makanya pakai pembantu,” saran Sang Suami,

“Enggak!”

“Kenapa sih? Kan enak, kamu bisa kemana-mana kalau pakai pembantu,” bujuk Suami

Terbayang sih, enaknya punya pembantu. Sarapan, makan siang, makan malam semua ada yang mengurus. Ada teman bicara. Ada yang nerima paket, surat, dan lain-lain. Kalau pegel bisa minta pijitin, kalau sakit ada yang bikinin teh panas.

Tapi…. nanti kalau Istri punya pembantu, Suami minta sarapan sama Si Mbak, minta bikinin Teh sama Si Mbak. Kalau Si Mbak masaknya enak, dipuji sama Suami. Ih, curang banget!

“Pokoknya enggak!”, Sang Istri ngotot dan tetap menggunakan Si Mbak yang setengah hari saja. Nggak perlu Si Mbak yang full day. Kalau untuk nerima surat, tinggal beli kotak surat. Selesai. 

Teorinya Sang Istri, ketergantungan antar pasangan itu harus ada. Biar ketika masing-masing sibuk dengan pekerjaannya, selalu ada titik temu dimana bersama selalu menyenangkan dan ditunggu-tunggu, walaupun hanya membuatkan secangkir teh atau cokelat panas.

Mungkin nanti, kalau mereka sudah punya momongan, punya Si Mbak yang full day boleh dipertimbangkan. 

Suatu hari, Sang Istri merasa sudah jenuh dengan segala daya upayanya menarik perhatian suami. Deadline pekerjaan Sang Suami kian mendesak, sehingga mau tidak mau, ia mengalah lagi. Tapi rupanya, melembutkan diri terkadang membawa hasil yang jauh lebih baik. Tiba-tiba Sabtu itu, Sang Suami berkeinginan mengajak Istrinya ke kantor. “Kasihan kamu ditinggal terus…”, begitu ucap Suami lembut. Cuma diajakke kantor saja, Istri rasanya begitu berbunga-bunga. Hihihi…

Sabtu itu keduanya berangkat sudah agak siang.

“Sepertinya aku akan pulang malam kalau kita berangkat siang begini. Nanti kamu bosan menunggu, jadi ini, kuberi uang jajan. Katanya kamu mau ke Tanah Abang,” beberapa lembar uang diselipkan di antara jemari Istri oleh Suami. Kantor Suami memang hanya 10.000 ongkos Bajaj dari Pusat Perbelanjaan Tanah Abang Blok A. 

Bak mendapat segepok cokelat dari langit, Istri melonjak bahagia. Wajahnya berseri-seri.

“Ya, sudah, Abang kerja saja ya. Aku mau belanja ke Tanah Abang,” ujar Istri girang bukan buatan.

Saya, eh Sang Istri memang harus kembali ke rumah dengan Taxi akhirnya. Suami sudah menawarkan untuk tinggal, tapi Istri jadi tidak enak hati karena hanya nongkrong di pantry sambil nonton TV sementara Suami dan para lembur-ers co-worker-nya sibuk bekerja dalam diam. Tapi, ada yang berbeda. Ya, Sang Istri kembali dengan beberapa kantong belanjaan dan hati membuncah oleh kesenangan.

“And so the monkey walks”

 

 

5 thoughts on ““Money Talks, M…

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s