Journal of The Honeymooners: The Hotel


Gambar

Kampung Lumbung. Nama yang menarik. Mengingatkan saya pada Kampung Sampireun, the best place for the honeymooners. Dari foto-foto di agoda dan website-nya, juga review orang-orang yang pernah menginap di sini, sepertinya hotel ini menarik dan harganya pun tidak menguras kantong.

Jalan masuknya memang agak kecil, tempatnya pun nyempil dan nyelip di pemukiman penduduk, tapi, sepertinya tempatnya menjanjikan. 

207 adalah kamar kami, terletak di lantai dua. Untuk sampai ke bangunan hotel, kami melewati jalan setapak. Agak licin untuk sepatu Cr*cs saya. Lumut mulai tumbuh di sela-sela jalan setapak yang bergerigi. Mungkin pengaruh hujan yang turun setiap hari. Saya dengar hujan sedang rajin mengunjungi Malang. 

Kampung Lumbung berlokasi di Batu, sebuah kota wisata yang sejuk, bersih dan rapih. Walaupun berbeda kotamadya, tapi jaraknya hanya sekitar setengah jam dari kota Malang. Mungkin seperti Pejaten ke Margonda kalau tidak macet. Oleh karena Kampung Lumbung terletak di Batu yang masih agak bawah, hawanya tidak sedingin Batu bagian atas. Cukup sejuklah untuk orang Jakarta macam saya dan suami yang sehari-hari terperangkap panas, debu dan polusi. 

Kamarnya sendiri cukup nyaman, dengan disain unik menggunakan dominasi kayu. Khas resort. Walaupun belum ada yang mengalahkan Kampung Sampireun, tapi ini lebih dari cukup. Nyaman, bersih dan harum. Malah dalam beberapa hal, kamarnya jauh lebih nyaman dari Kampung Sampireun. Kamar mandi, misalnya. Kamar mandi di Kampung Sampireun daknya terbuka, sehingga dinginnya udara Garut terasa menusuk kalau harus mandi malam-malam (namanya juga bulan madu)… Petugas Kampung Lumbung pun ramah, penuh senyum dan sangat helpful.

Untuk bulan madu, saya rasa cocoklah. 

Memang kualitas gambar di TV-nya tidak terlalu bisa diharapkan. Lima hari kami di sana hanya menonton TV O*e yang buram. Maklum hanya pakai antena dalam, tapi untuk saya sih no problemo. Toh tujuan saya untuk merelaksasi ketegangan urat syaraf dan memadu kasih *ehm* sebagai perayaan lima tahun pernikahan dengan suami, bukan nonton TV.😀

Saat tidur siang pertama saya menjelang pulas, belum lagi masuk ke deep sleep, saya dibangunkan oleh ketukan di pintu. Aha! Snack sore datang! Snack sore? Wow! This’s more than my expectation. Atau sepasang tahu goreng tepung ini adalah welcome snack? Yang manapun, saya tetap excited😀 Hehehe… Hawa dingin membuat perut “sensitif”, gampang keroncongan.

Karena sudah tidak bisa tidur, saya memutuskan untuk menyeduh secangkir teh hangat dan duduk di bangku kayu di luar kamar. Semacam meja kayu segi empat dengan empat bangku tinggi yang semuanya terbuat dari kayu. Beruntung dari empat kamar yang sederet dengan kamar saya, hanya saya dan suami penghuninya. Mungkin karena weekdays. Jadi saya leluasa membawa buku catatan, dan secangkir teh. Membuka ruang untuk inspirasi. 

Heaven!

Saya disuguhi pemandangan surgawi! Walaupun surga pasti jauh lebih indah daripada ini. Sungguh segala puja dan puji untuk-Nya, gunung Kawi (konon namanya gunung Kawi), salah satu gunung yang “mengepung” Malang, membentang di cakrawala. Ah, saya ini tipe wisatawan gunung. Alasannya sederhana, kalau sehari-hari sudah kepanasan, untuk apa mencari tempat wisata yang harus bermandi matahari lagi?Selain itu saya menyukai kesunyian. Sunyi adalah saat yang baik untuk kontemplasi. Dan pemandangan ini… Gunung dan perbukitan yang sebagiannya tertutup awan, nuansa hijau perkebunan, entah kebun apa (mungkin kubis), kota Malang yang tampak seperti liliput, menara Masjid, taman hotel dan kolam renangnya, burung-burung kecil yang ribut berlomba-lomba menyiduk air dari kolam dan suara… Oh Ya Tuhanku… Suara jangkrik!! Saya suka suara jangkrik! Ini bukan malam, belum malam, dan jejangkrik sudah berderik memainkan ensambel merdu, menjalani sunnatullah-nya.

Tuhan, itukah ibadah mereka kepada-Mu?

Alam ini begitu indah, Ya Rahmaan… begitu syahdu, begitu taat pada-Mu. Dan Engkau beri hamba kesempatan untuk menyaksikan mereka memuja-Mu, hanya dengan membuka mata dan menajamkan telinga…

Alhamdu lillah ‘ala kulli hal :’)

Alhamdu lillah Rabbil ‘alamiin…

One thought on “Journal of The Honeymooners: The Hotel

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s