Cerita tentang Buku


Tahukah bahwa kata ilmu diulang paling banyak dalam Al-Qur’an setelah kata Allah? 

Terima kasih pada Mama, yang sedari dini sudah membelikan saya buku-buku ensiklopedia anak, bahkan sebelum saya lahir. Saya percaya bahwa seorang anak dibesarkan dengan do’a dan harapan (selain kasih sayang dan makanan bergizi :p) orang tuanya. Dan menjejali saya dengan buku, sadar atau tidak sadar adalah harapan Mama agar kelak saya menjadi orang berilmu. Aamiin…

Buku pertama yang masih bisa saya ingat adalah serial Yosi. Tangan Yosi, Kaki Yosi, dan Mulut Yosi. Kabarnya, saya bisa anteng mendengarkan Mama mendongeng, walaupun seringkali dilebih-lebihkan. Hihihi… Hingga akhirnya saya hapal luar kepala buku serial Yosi di umur tiga tahun dan membuat tamu Mama terkagum-kagum karena anak TK kecil (saya masuk TK umur 3 tahun) sudah lancar membaca. Hihihihi…. Si Om dan Tante tidak tahu kalau selain makan nasi, saya juga “makan” buku.

Beranjak besar sedikit, saya ditemani oleh buku Cerita Harian Disney. Sampai sekarang masih ada bukunya. Ada empat seri tebal-tebal dan full gambar. Ada seri musim gugur, musim panas, musim dingin dan musim semi. Dan cerita kesukaan saya, tentu saja para Princess Disney yang cantik jelita. 

Saya dibesarkan dengan banyak dongeng karangan Mama dan buku-buku. Saat saya rewel, Mama membelikan saya majalah Bobo dan saya langsung “anteng”. Dibuatkan sudut “perpustakaan” tempat saya bisa “ngedeprok” dan membaca dengan santai. Walaupun “perpustakaan”-nya kini sudah berubah menjadi tempat Papa meletakkan peralatan Golf-nya, saya begitu menikmati aktivitas membaca.

Saat saya dewasa, ada banyak hal yang saya rasakan manfaatnya dari kebiasaan yang diajarkan Mama pada diri saya.

Pertama, pengetahuan, norma dan etika tidak hanya ada di ruang-ruang kelas; tapi banyak saya temukan dalam nilai-nilai moral di cerita dan dongeng-dongeng. Dan pengetahuan adalah tirai yang menyibak kebodohan dan kedunguan.

Kedua, cerita mengajarkan keteladanan. Saya ingat sebuah cerita yang membuat saya terharu saat masih duduk di bangku Taman Kanak-kanak. Cerita ini saya lupa, apakah dimuat di majalah Aku Anak Shaleh atau majalah Bobo, karena di rumah saya tersedia keduanya. Alkisah, seorang anak diajak belanja di sebuah department store oleh ibunya. Karena terlalu asyik melihat kemegahan bangunan toko dan tangganya yang bisa berjalan sendiri, ia kehilangan ibunya. Dibantu Satpam, ia mencari sang ibu di antara ibu-ibu cantik yang belanja di department store itu. Dari sekian banyak ibu, tidak ada satupun ibunya. Padahal ibu-ibu cantik di situ rela menjadi ibu barunya. Lalu datang tergopoh-gopoh seorang ibu bertubuh pendek dan gemuk, berkulit hitam, berambut keriting (agak bias fisik sih…) menghampiri sang anak sambil menangis. Dan sang anak pun menyambut ibunya gembira. Walaupun ibunya tidak secantik ibu-ibu lain, tapi ibunya tetap yang terbaik. Kurang lebih begitu ceritanya. Mungkin kurang, mungkin saya lebih-lebihkan berdasarkan ingatan saya. Hehehe…😀

Ketiga, saya jadi prefer membaca buku daripada nonton sinetron, apalagi gosip😀 Walaupun sesekali saya nonton DVD Marathon serial Omar Bin Khattab dan Ugly Betty, tapi membaca tetap nomor satu.

Anyway, apa yang ingin saya katakan adalah, sebuah buku bisa mengubah dunia. Apa yang diincar oleh tentara salib di masa lalu, selain kejayaan, adalah ilmu ummat Islam yang (pernah) mengantarkan mereka pada kejayaan. Ummat Islam-lah yang menerjemahkan buku-buku Yunani ke dalam bahasa Arab. Ummat Islam pula yang menemukan mulai dari cikal bakal kedokteran modern melalui buah pikir Ibnu Sina, hingga cikal bakal alat musik modern melalui kepandaian Al-Farabi menemukan solmisasi. (dan bahkan kata musik sendiri konon pertama kali ditemukan dalam buku Al-Kindi dengan kata musiqi)

Islam sudah memiliki filsuf sekelas Ibnu Rusyd hingga ahli ilmu sosial secemerlang Ibnu Khaldun. Sudah juga memiliki ahli matematika, fisika, dan astronomi secerdas Ibnu Haitham. Bahkan sudah sejak bangsa barat “belum menyikat gigi”, ummat Islam sudah mempunyai Al-Kindi, yang melakukan terapi kejiwaan pasiennya dengan menggunakan musik. Ngomong-ngomong sikat gigi, ummat Islam sudah belasan abad dibiasakan “mengasah” gigi dengan kayu siwak yang menurut bu dokter gigi tetangga saya terbukti bisa menguatkan gigi dan mencegah gigi berlubang.

Gambar

Dan semua ilmu dan kecemerlangan yang dimiliki oleh ummat Islam di masa jayanya, darimanakah asalnya? Apakah mereka seperti tipikal manusia modern yang berilmu tapi tidak berpikir? Tidak… Yang mengagumkan dari para ilmuwan Islam di masa jayanya adalah, banyak dari mereka bukan hanya ahli dalam pengetahuan dunia, tapi juga ahli dalam pengetahuan Islam. Dan darimanakah sumber pengetahuan Islam yang terutama yang membuka mata hati dan pikiran dan menjadi inspirasi hingga menghabisi gelap dan menerbitkan terang? 

Al-Qur’an…

Maka, “Bacalah! Dengan nama Tuhanmu yang menciptakan…” (Al-Qur’an surat Al-‘Alaq:1)

 

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s