Journal of The Honeymooners: Batu Night Spectacular


 

 

Sepertinya bel istirahat baru saja berbunyi untuk saya dan suami. Karena malam hari setelah kami sampai di Batu, kami langsung bersiap-siap untuk menghabiskan malam di BNS alias Batu Night Spectacular. Hanya bermodal sedikit pengetahuan dari Asy-Syaikh Google, saya dan suami super excited bak anak sekolah yang berhamburan keluar main saat bel istirahat. 

BNS buka dari sekitar jam 4 sore sampai jam 11 malam. Dan kami datang sekitar waktu Isya. Kesan pertama saya tentang taman bermain ini adalah meriah, tidak se-spektakuler namanya karena satu dan lain hal, tapi yang jelas BNS adalah amusement park yang romantis. Cocok deh buat acara reality show semacam “Katakan Cinta” (jadul banget yak, ketauan umurnya :p), atau buat melamar pujaan hati. 

Di film-film kan suka ada tuh ya, pacaran di amusement park yang nggak terlalu ramai, latar waktunya malam hari dengan lampu warna warni dari wahana bermain. Nah itu BNS banget, menurut saya. Jadi deh, malam itu kami pacaran, nyaingin para ABG. 

Wahananya nggak canggih-canggih amat sih. Ada lampion garden, taman berhiaskan lampion dengan berbagai theme; ada rumah hantu,ada sepeda udara, ada wahana 4D, bumper car, apa lagi ya… Yang bisa saya ingat cuma itu sih😀

Wahana 4D-nya, honestly kurang seru, karena kacamatanya sepertinya sudah tidak begitu ngaruh antara 3D dan tidak. Kedua, tidak ada petunjuk keselamatan dan cara penggunaan bangku yang walaupun goncangannya tidak sedahsyat di Dufan atau Trans Studio tapi tetap bisa membuat seorang anak terlonjak dari kursinya dan jatuh. 

Wahana berikutnya yang saya naiki bersama suami adalah Sepeda Udara. Asli! Ini mengerikan banget untuk saya. Karena rasanya setengah badan saya ada di udara. Oh iya, sepeda udara adalah wahana semacam monorail tapi bentuknya sepeda yang satu kereta bisa muat dua orang. Kalau mau dinikmatin sebenarnya romantis sih. Apalagi malam itu hujan turun rintik-rintik. Tapi, buat saya itu jadi semacam uji nyali. Sepanjang permainan, saya zikiran sambil mencengkram erat-erat lengan suami… Hihihihi….

Pas turun, melihat saya yang terrified, mas-mas petugasnya bergumam di belakang punggung saya, “kalah karo cah cilik…”. Hahahaha… xD Dikiranya saya nggak paham bahasa Jawa kali ya…

Si Sepeda udara itu, entah bagaimana membawa dampak yang luar biasa untuk saya. Karena merasa butuh banget sama suami saat di atas udara dan harap-harap cemas wahananya rusak, stuck atau keberatan jadi patah dan terjun bebas, ada perasaan sayang yang bertambah dalam diri saya. I can’t lose him for anything…

Lucu ya… 

Saya jadi kepikiran program outbound untuk pasutri. Memang dalam tiap tantangan ada latihan untuk memupuk dam menaruh kepercayaan pada pasangan. Walaupun saya belum pernah, tapi mungkin itu tujuannya.😀

Bahkan wahana sesederhana Sepeda Udara saja bisa mengubah perasaan saya terhadap suami. Ibarat teori expectancy violations walaupun tidak tepat diterapkan dalam hal ini, ada valensi positif dari saya terhadap suami. 

Sisa malamnya kami habiskan untuk bermain bumper car, makan malam, dan belanja oleh-oleh. Untuk makan malam saya memilih menu Bakso Bakar. Dua tusuk sate bakso berkuah kacang yang enak dan murah dihidangkan dengan semangkok kuah. Pertanyaan norak saya ajukan pada si Mbak penjualnya, “Mbak ini makannya gimana? Apa duluan yang harus saya makan?”. Si Mbaknya juga tampaknya kaget dan bingung dengan pertanyaan saya. Setelah diam agak lama, kemudian dia menjawab singkat, “Mana aja boleh, Mbak”. Lalu ngeloyor pergi. Hihihi…

Karena masih bingung akhirnya saya mencoba bereksperimen dengan menguahi bakso bakar berbumbu kacang. Hmm… Rasanya enyak… :9 Really would love to have some more some other time…

Setelah makan malam, saya belanja oleh-oleh di Night Market. Harganya mengejutkan murahnya. Jadi saya beli beberapa pasang sandal untuk oleh-oleh dan menjelang pulang saya membeli jambu klutuk putih. Again, saya norak. “Emang ada ya Jambu Putih?”, tanya saya masih dengan excitement penuh kenorakan. Kalau Emo-nya di BB pasti *dancing*. Hihi…

Padahal jambu klutuk putih memang ada dari dulu, tapi karena permintaan jambu merah lebih banyak sejak dikenal sebagai pendongkrak trombosit, jambu putih jadi kalah pamornya. Rasanya, menurut saya lebih segar walaupun tidak selegit jambu merah. Namanya juga jambu, manisnya juga manis-manis jambu. 

And then, we headed to the hotel. Istirahat, bersiap untuk petualangan selanjutnya esok hari. It was a lovely night, alhamdulillah ^__^

Gambar

 

8 thoughts on “Journal of The Honeymooners: Batu Night Spectacular

  1. Pingback: Journal of The Honeymooners: Let’s Play! | kata shinta tentang dunia

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s