Betapa Inginnya Saya Pura-pura Buta…


Di kompleks tempat saya tinggal, dikelilingi masjid dan musholla yang syi’arnya begitu membahana. Kadang kalau ta’lim ibu-ibu, speakernya saja sampai dua.

Kalau malam libur seperti ini, bahkan sering juga malam-malam biasa, entahlah, syi’ar itu tampaknya tidak berbekas sama sekali. Ada banyak anak-anak usia SD atau SMP nongkrong di samping rumah salah satu penghuni dan merokok, beberapa memadu kasih.

Yang SMP/SMA kadang kedapatan membolos di pagi hari dan lagi-lagi menjadikan kompleks tempat saya tinggal sebagai tempat kongkow.

Gerah? Pasti!

Satu kali, dulu sekali, saya menegur seorang anak yang merokok, yang paling baru berumur 8 tahun. Saya paksa dia mematikan rokoknya, dan dia ngeloyor sambil cengar-cengir. Saya tanyakan dimana rumahnya, “Swadaya,” jawabnya.

Teringat saya rombongan ibu-ibu peminta-minta setiap Jumat pagi yang konon ada juga yang berasal dari daerah yang disebutkan di atas.

Sekali, dua kali, saya usir anak-anak itu. Tapi saya tahu, saya tidak menyelesaikan masalah. Mau mereka nongkrong dimanapun, merokok di usia sedini itu adalah sebuah kesalahan besar.

Kalau ada yang bertanya, “kemana perginya Satpam?”. He… Kabarnya mereka segan menegur, karena ada di antara anak-anak itu yang merupakan anak tetangganya.

Kompleks tempat saya tinggal memang tidak dimaksudkan untuk eksklusif, sehingga “anak-anak luar kompleks” dan masyarakat yang tinggal di gang senggol yang bersisian persis dengan kompleks bisa dengan mudah keluar masuk jalan raya. Tapi kenyataannya, sekarang banyak orang menyesali mengapa tidak dari dulu saja kompleks ini dipisah dinding tinggi dengan perkampungan.

Memang, jauh lebih mudah tinggal di pemukiman dengan sistem cluster dan security yang di-hire dari perusahaan penyedia jasa security. Pemandangan anak-anak kampung merokok, memanjat pagar rumah untuk mengambil buah yang masak di pohon, atau bahkan nongkrong dan memarkir motor persis depan rumah tidak mungkin bisa dilihat.

Tapi apa itu yang kita cari? Apa itu yang saya juga cari?

Lalu apakah alasan saya merasa gerah melihat anak-anak usia SD-SMP berbuat tidak pantas semacam merokok, pacaran atau membolos didasarkan pada idealisme saya dan keinginan untuk mengubahnya, ataukah saya sebenarnya tidak rela kompleks yang saya tinggali “dikotori” oleh kehidupan dari perkampungan yang menurut saya tidak bermoral dan tidak terdidik?

Allah, faghfirlii…

“Ngapain sih harus dipikirin segitunya?”, kata seseorang ketika saya mengeluarkan unek-unek.

“Memangnya kamu nggak takut nanti dijahatin sama mereka?”, tanya yang lain.

🙂

Bukankah apabila yang merokok usia dini adalah saya, lalu ada orang dengan alasan apapun mengingatkan saya, dan karenanya saya berhenti merokok di usia dini, ibu saya akan berterima kasih?

Dan di atas segalanya, apabila dengan sepasang mata saya, saya sudah menyaksikan ketidaklurusan moral anak-anak yang tinggal tidak berapa jauh dari rumah saya (bahkan mungkin masih masuk hitungan tetangga menurut hadits Rasulullah SAW), yang saya jamin semuanya Muslim, lalu saya tidak berbuat apa-apa; bukankah saya juga harus mempertanggungjawabkan apa yang sudah saya saksikan?

Lalu apa yang akan saya katakan pada Allah nanti?

Maafkan, Tuhan, karena saya tidak ingin ambil pusing? Maafkan, Tuhan, karena saya sudah terlalu lelah?

Laa haula wa laa quwwata illa billah…… T_TGambar

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s