Seperti Inikah Saya Ingin Dilihat Allah…


“Terakhir kita makan, inget nggak, kamu marah-marah sama pelayannya”

Masih saya ingat kata-kata teman saya tadi siang saat kami makan bersama, setelah tahunan tidak berjumpa. Astaghfirullahal ‘adzim…

Seperti itukah dia mengingat saya? Saya yang marah-marah? 

Dulu saya memang paling tidak suka dilayani dengan buruk di tempat umum, karena saya merasa itu hak saya untuk mengajukan protes. Bukankah pelanggan adalah raja?

Tapi apakah “marah-marah” itulah yang dikenang teman saya? 

Saya teringat almarhum ustadz Jefri Al-Bukhori dan bagaimana setiap orang memiliki kesan yang baik tentangnya. Dermawan, ramah, baik hati… Dan lihatlah bagaimana akhir hidupnya. Berduyun-duyun manusia mengantarkannya menuju kuburnya, memanjatkan doa untuk ampunan-Nya atas diri sang ustadz. Rasanya di Indonesia, setelah Amrozi yang diantarkan warga sekampung menuju liang lahat, pemakaman ustadz Jefri sungguh fenomenal. Masjid Istiqlal penuh dengan jamaah yang ingin mensholatkannya, peziarah pun tidak putus-putus berdo’a untuknya.😥

 

Lalu pertanyaan selanjutnya adalah, seperti apa Allah melihat saya? Adakah Allah melihat saya sebagai orang yang “marah-marah” juga? Bukankah Allah tahu yang lebih buruk dalam diri saya dibandingkan sekedar “marah-marah”? 

Apabila konsultan humas bisa mengubah citra seseorang dan menipu publik melalui polesan dan banyak setting-an, maka bagaimana cara menipu Allah, sedang Dia Maha Mengetahui?

“…Allah mengetahui apa yang mereka sembunyikan dan apa yang mereka lahirkan, sesungguhnya Allah Maha Mengetahui segala isi hati.” Q.S. Huud: 5

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s