Perempuan Gaptek?


Dalam sebuah kelas kajian budaya dan media yang sedang membahas tentang feminis, beberapa tahun silam, saya masih ingat sebuah kalimat. Detail redaksinya sih saya lupa, tapi intinya adalah, beberapa peralatan elektronik konon dibuat untuk memudahkan para ibu rumah tangga mengerjakan pekerjaan rumahnya; namun pada akhirnya mereka tetap membutuhkan pria untuk mengoperasionalkannya. Selain fakta bahwa engineer yang menemukan dan merakit mesin cuci, dishwasher machine, rice cooker, atau microwave sebagian besar adalah laki-laki, dalam pandangan di atas tersirat pesan bahwa dalam bahkan dalam teknologi rumah tangga sekalipun posisi perempuan seakan berada di bawah laki-laki karena ke-kurangcanggih-annya mengoperasikan peralatan rumah tangganya sendiri. Ya namanya juga belajar feminisme, pandangan su’uzon yang selalu menganggap seolah-olah perempuan berada di bawah kekuasaan laki-laki. Pandangan yang saya nggak pernah bisa menerima, karena justru “membodohi” diri sendiri. Buat apa berpikir perempuan sub marginal, dan lantas berjuang untuk menyetarakan diri? Saya sih, alhamdulillah, tidak dibesarkan dan tidak merasa dipelakukan sedemikian. Paman-paman saya dari pihak mama hampir semua bisa mengerjakan pekerjaan rumah tangga karena eyang saya tidak pernah membeda-bedakan anak laki-laki dan perempuan baik dalam pendidikan maupun pekerjaan rumah tangga. Semua harus sekolah tinggi, di sisi lain semua juga harus bisa mengurus rumah. Papa saya pun dibesarkan oleh seorang abah yang punya visi jauh ke depan untuk mendidik anak-anak perempuannya. Suami saya malah menyuruh saya bekerja, jangan di rumah saja. Suami menyuruh saya mengerjakan apapun yang bermanfaat, karena suami saya menghargai kapabilitas istrinya (dan marah-marah kalau tahu istrinya dibayar murah :p).

Anyway, saya sendiri, sebagai perempuan yang minus kemampuan teknik tidak merasa “kalah” atau tidak setara karena dalam banyak hal saya bergantung pada laki-laki (baca: suami, atau kadang tukang ehehehe…). Memang benar sekali, saya membutuhkan suami saya, atau teknisi peralatan elektronik untuk membantu saya mengoperasikan mesin cuci baru *ehm* atau membetulkan kulkas, HP, laptop, dan banyak lagi. Apakah saya merasa rendah? Ah tidak sama sekali. Saya malah merasa girang karena tidak perlu melakukan pekerjaan yang membuat saya mumet seperti itu. Harap maklum, dalam setiap tes psikologi yang pernah saya ikuti, dari semua kemampuan yang diujikan, kemampuan teknis selalu menempati urutan paling rendah. Hihihii…

Suami dan istri, perempuan dan laki-laki, bahkan sejatinya setiap individu memiliki kemampuan yang berbeda-beda, bukan? Bukan karena laki-laki cenderung lebih mampu mengerjakan hal-hal sifatnya teknikal berarti perempuan tidak bisa, atau bukan karena perempuan tidak bisa artinya ia lebih rendah dari laki-laki. Toh dalam banyak hal, saya sih, jujur saja merasa sangat senang dan bahagia kalau suami saya yang meng-handle banyak hal. Jadi saya tinggal duduk manis, dan bebas melakukan hal-hal yang saya inginkan. Rasanya saya istimewa banget gitu, bak putri raja yang tahu beres aja.😀

“Orang yang baik antara kamu adalah orang paling berlaku baik terhadap istrinya dan akulah orang paling baik terhadap istri dari kalangan kamu.” (Hadis riwayat at-Tirmizi).

 

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s