Sang Gubernur yang Miskin


Gambar

Image courtesy of m_bartosch / FreeDigitalPhotos.net

 

 

Terkisah Said Bin Amir, seorang sahabat dari Rasulullah SAW. Kesetiaannya terhadap dakwah Islam tidak pernah diragukan, ia tidak pernah absen dari peperangan menegakkan kebenaran. Di jaman khalifah Umar Bin Khattab, Amir ditunjuk oleh khalifah menjadi gubernur di Himsh. Selang beberapa waktu setelahnya, delegasi dari Himsh datang kepada khalifah untuk melaporkan jalannya kepemimpinan Amir Bin Said sekaligus membawa daftar orang-orang miskin di kota itu untuk diberi santunan.

Khalifah terkejut mendapati nama Said Bin Amir, sang gubernur, pemimpin Himsh ada dalam daftar orang-orang miskin.

“Siapa Said Bin Amir yang kalian cantumkan ini? tanya Umar.
“Gubernur kami!” jawab para delegasi.
“Betulkah gubernur kalian miskin?” Umar kembali bertanya.
“Sungguh ya amirul mukminin! Demi Allah! Seringkali di rumahnya tidak ada tanda-tanda api menyala (tidak memasak)” jawab para utusan.

Maka Umar Bin Khattab membawakan bersama utusan uang sejumlah seribu dinar untuk membantu kesulitan sang gubernur miskin.

Tatkala Said Bin Amir menerima uang itu, ia berujar, “Inna lillah wa inna ilaihi rajiun”, layaknya seseorang yang tertimpa musibah.

Sang istri yang mendengar kata-kata suaminya bertanya penasaran, “Apa yang terjadi, hai Said? Meninggalkah amirul mukminin?”. “Bahkan lebih besar daripada itu!” ujar Said. “Apakah tentara Muslimin kalah berperang?”, tanya sang istri lagi. “Jauh lebih besar daripada itu!”, ujar Said. “Apa pulalah yang lebih besar daripada itu?” desak sang istri tidak sabar.

“Dunia telah datang untuk merusak akhiratku. Bencana telah menyusup ke rumah tangga kita,” jawab Said.

“Bebaskan dirimu dari padanya!” kata sang istri memberi semangat, tanpa tahu perihal pundi-pundi berisi seribu dinar. 

“Maukah engkau menolongku untuk melakukannya?” tanya Said.

“Tentu!”, sahut istrinya mantap.

Said lalu mengambil pundi-pundi pemberian khalifah dan menyuruh sang istri membagi-bagikannya kepada fakir miskin.

Masya Allah…

Benarlah Rasulullah SAW ketika menyebut generasi sahabat beliau adalah generasi terbaik ummat Islam. Mereka memilih menjauh dari pesona dunia, bukan untuk hidup seperti rahib; bukan pula menjadi pertapa. Mereka adalah orang-orang yang meyakini bahwa dunia hanyalah senda gurau belaka, dan apa yang ada setelahnya lebih baik daripada dunia dan rupa-rupanya. 

Nama Said Bin Amir mungkin kurang dikenal, setidaknya dibandingkan dengan Umar Bin Khattab atau Utsman Bin Affan Namun laki-laki ultra zuhud yang masuk Islam di usia muda ini memiliki kisah menarik yang mengantarkannya menjadi Muslim.

Di masa mudanya, ia menjadi saksi bersama orang-orang Quraisy lainnya atas pembantaian Khubaib Bin Adiy di muka umum karena ke-Islamannya. Khubaib tahu, usianya berakhir di tangan musyrikin Mekkah, maka sebelum eksekusi kematiannya ia meminta satu hal: shalat sunnah dua rakaat. 

Said menyaksikan bagaimana tenangnya Khubaib di panggung ajalnya, padahal para pemuka Quraisy memotong satu persatu bagian tubuhnya. Mereka bertanya pada Khubaib, “Apakah kamu ingin Muhammad ada di tempatmu ini, sedangkan kamu selamat?”. Khubaib dengan darah bercucuran menjawab, “Demi Allah, aku tidak ingin berada di antara keluarga dan anak-anakku dalam keadaan aman dan tenang, sementara Muhammad tertusuk oleh sebuah duri”.

Pemandangan itu membekas dalam diri Said. Menghantui pikirannya, bahkan masuk ke dalam mimpi-mimpinya. Ia menyaksikan kaumnya yang keji, sementara Khubaib menjemput kematiannya tanpa gentar sedikitpun. Hidayah itu pun akhirnya datang pada Said Bin Amir. Ia berdiri di hadapan orang banyak, menyatakan keIslamannya dan menanggalkan berhala serta patung sesembahan kaum Quraisy. 

Tragedi Khubaib itu bahkan masih melekat di benak Said sampai ia menjabat sebagai gubernur Himsh. Adakalanya ia terkenang dengan peristiwa itu lalu timbul ketakutan yang amat sangat akan dosa-dosanya di masa lalu hingga kemudian ia pingsan.

Banyak hikmah yang bisa kita pelajari dari kisah Said Bin Amir , setidaknya untuk saya sendiri. Ketika Said Bin Amir menerima dan memeluk Islam, ia meninggalkan seluruh penghambaan kepada apapun selain Allah. Ia sadar betul akan kesalahannya di masa lalu, sekalipun itu harus melalui tragedi seorang Khubaib Bin Adiy. Kesadaran dan pengakuan akan kesalahan, menurut saya adalah salah satu pelembut hati. Dan itulah yang dilakukan Said Bin Amir. Hatinya yang lembut menjadikannya “mudah” membedakan benar dan salah dan menakar diri sejauh mana ia bisa menerima sesuatu dari dunia. Uang seribu dinar halal baginya. Namun ia takut uang itu akan menjadikannya lalai dari mengingat Allah, Dzat yang kepada-Nya, Said kelak harus mempertanggungjawabkan kota Himsh dan rakyatnya yang kini berada di atas pundaknya. Allah, yang jalan-Nya sudah Said pilih setelah ia tinggalkan budaya dan tradisi kaumnya yang jauh dari kebenaran. Atas dasar iman pula, Said memilih menjadi miskin dan mendahulukan rakyat yang dipimpinnya. Miskin tidak menjadikannya hina di mata Allah, tapi berlimpah harta sangat mungkin menyilaukan mata hatinya. 

Seperti Said yang meninggalkan jalan menyimpang dan menempuh jalan lurus, seperti itulah hendaknya kita (saya) semua. Jalani jalan yang lurus, tanpa penghambaan kepada yang lain selain Allah, dan jadikan Allah saja sebagai landasan segala sesuatunya. Menjadi saudagar kaya-kah, menjadi yang pertengahan, atau memilih kesahajaan; menjadi apapun kita, apabila semua didasarkan atas iman, hidup akan jauh lebih indah untuk dihidupi, lebih semarak tanpa perlu musik menghentak-hentak, lebih meriah tanpa perlu perta pora.  

Wallahu A’lam. 

Sumber: 
-Newsletter “Mulia”, Baitul Maal Hidayatullah.

http://kisahmuslim.com/said-bin-amir-al-jumahi/

http://www.republika.co.id/berita/dunia-islam/khazanah/12/05/25/lz6i1l-kisah-sahabat-nabi-said-bin-amir-aljumahi-pemimpin-bersahaja-2habis

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s