Satu Tubuh, Satu Cinta


“Perumpamaan kaum mukminin dalam cinta-mencintai, sayang-menyayangi dan bahu-membahu, seperti satu tubuh. Jika salah satu anggota tubuhnya sakit, maka seluruh anggota tubuhnya yang lain ikut merasakan sakit juga, dengan tidak bisa tidur dan demam”.[HR Bukhari, Muslim, dan Ahmad]

Saya suka berkeliling. Travelling. Jalan-jalan.  Tamasya, dan nama-nama lainnya. Termasuk juga dalam menuntut ilmu Islam. Saya senang mengikuti kajian Islam di kelompok nenek-nenek, dewasa muda seperti saya, di TV, dimana saja dan oleh siapa saja. Saya sedang berusaha membuka hati dan pikiran agar bisa memahami, mengapa dan bagaimana seorang Muslim bisa merasa dirinya “berbeda” dengan saudara Muslim lainnya hanya karena berbeda “baju”-nya.

Tidak mudah memang, tapi saya belajar. Dan belum ingin berhenti (semoga tidak).

Pikiran saya sederhana saja. Tuhan itu pasti Maha Tunggal. Ia mengutus seorang manusia untuk menjadi penyampai berita gembira untuk mereka yang taat dan pengingat bagi mereka yang mbalelo, sekaligus benchmark terbaik bagi manusia lainnya. Bersama dengan itu, Tuhan juga menurunkan guidelines bagaimana jalan-Nya harus ditempuh dan dengan itulah manusia semestinya hidup. Sederhana. Lurus saja, tanpa perantara benda, benda-benda angkasa, atau manusia. Dan untuk saya, jalan itu bernama Islam.

Islam Cuma satu. Dalam usaha menjalankannya, ummat Islam berusaha berjamaah, bersama-sama, karena masing-masing kita sadar bahwa kita ini satu tubuh. Dan karena satu lidi tidak akan mampu menyapu dedaunan, tapi banyak lidi yang disatukan kuat bisa menyapu bersih dedaunan dan sampah yang berjatuhan di jalan. Dengan dua sapu lidi akan lebih banyak lagi jalanan bersih, apalagi tiga atau empat.  

Tapi, alih-alih digunakan untuk membersihkan jalan yang kotor, sapu-sapu itu sering digunakan untuk menyerang sapu lainnya. Tidak merasa sama, tidak merasa satu walaupun tugas yang diemban sama, sama-sama membersihkan jalan menjadikannya nyaman, bersih dan indah untuk dihuni semesta alam…

Analogi yang buruk? Saya mohon maaf…

Saya hanya berusaha menjawab pertanyaan-pertanyaan ini:

Mengapa ikhwah fillah kader PKS membela mati-matian para petingginya yang kata TV melakukan korupsi? Mengapa banyak Muslimah yang memilih berkerudung “full-face”? Mengapa dalam pemahaman Hizbut Thahrir pakaian perempuan adalah gamis? Mengapa Salafiy banyak membid’ahkan ritual yang oleh kalangan Nahdhiyin justru dilestarikan dan dianggap istimewa? Mengapa Muhammadiyah menggunakan metode hisab? Dan akhirnya, setelah sekian lama, saya berusaha menjawab pertanyaan mengapa FPI bertindak “anarkis”?

Dan masih banyak lagi mengapa-mengapa lainnya yang pelan-pelan saya coba temukan jawabnya.

Suatu hari, saya bertanya pada Ustadz Ahsan, guru ngaji keluarga kami; “Apa kita harus mengikuti jamaah-jamaah itu?”.

Beliau menjawab diplomatis, “Kelompok-kelompok Islam itu sebenarnya tujuannya kan satu, sebagaimana yang ada di Al-Quran: fastabiqul khairat”. Demikian kurang lebih jawaban Ustadz.

Ya, Fastabiqul Khairat. Berkompetisi, bersaing, berlomba dalam kebaikan. Bersaing dengan tetangga depan rumah yang sangat rapih menjaga hijabnya, dan suaminya tidak pernah absen dari shalat jamaah. Bersaing dengan teman yang hafalannya menginjak juz 27 *sementara saya masih mengumpulkan ayat-ayat yang berhamburan  dari ingatanL*. Bersaing dengan Sand*aga Uno yang konon zakatnya tiap bulan mencapai milyaran rupiah (berat ini saingannya….). Bersaing dengan saudara yang datang memberi hadiah lebaran *sedangkan saya masih ngitung-ngitung anggaran*.

Ini semua tentang persaingan. Persaingan super sehat dalam rangka merebut ridho-Nya dan surga-Nya. Persaingan “sapu” mana yang paling bersih dan paling solid dalam membersihkan jalan lurus yang Allah suka.

Karena kita sudah sama-sama tahu, tidak semua orang masuk surga. Belum tentu ulama terkenal dengan jamaah seantero nusa bangsa bisa mencium bau surga, sebagaimana belum tentu juga seorang pelacur menjadi bahan bakar neraka. Tentu tidak sama antara orang yang shalatnya tampak khusyuk karena ingin dilihat orang dengan koruptor kelas kakap yang bertaubat sejadi-jadinya.

Dan persaingan ini, hanya Allah yang berhak menilai…

Jamaah-jamaah itu, menurut hemat saya, hanyalah sarana mempersembahkan amal shalih yang terbaik, bukan standar kebenaran. Seorang ustadz, mursyid ‘am, murabbi, syaikh, apapun namanya tidak mungkin sempurna memberi ajaran, tapi Islam pasti sempurna karena ianya datang dari Tuhan.

Akhir kata, kiranya, semoga kita semua kelak di yaumil akhir bersatu dalam satu golongan, golongan kanan…

“Dan golongan kanan, alangkah bahagianya golongan kanan itu…” (QS.Al Waqiah:27)

Aamiin Ya Rabbal ‘Alamiin…

Gambar 

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s