Si Outgoing dan Incoming


Gambar

Si Abang: “Kamu ngapain sih? Mau difoto yang bener dong gayanya!”
Saya: :p

Setiap weekend, saya selalu gelisah minta diajak jalan-jalan. Bak anak kecil dijanjikan ke taman hiburan. Girangnya alang kepalang. Dan selama lima tahun menikah, ini kadang mengesalkan suami saya.

“Abang itu capek kerja, pulang malem. Sabtu-Minggu maunya di rumah sama istri,” ujar si Abang.

“Ngapain di rumah?” tanya saya sembari manyun.

“Ya gini-gini aja, emang kamu nggak seneng?”. Pertanyaan sulit.

Dijawab nggak seneng, artinya saya nggak bersyukur, dijawab seneng juga badan saya udah minta diajak pergi. Rasanya semacam ada pegas yang ditekan dan siap melesat.

Oh iya, “gini-gini aja” versi suami saya itu adalah nonton TV, atau ngaso di teras sambil minum teh dan baca koran.

“Kenapa sih nggak pergi aja? Kemana kek gitu…”. Ini pasti suara saya. Pundung.

“Emang kamu mau kemana?”

Ditanya begitu sebenarnya saya juga nggak tahu tujuan saya mau kemana. Ke mall sebenarnya bosan. Saya cuma tahu kalau saya mau keluar rumah, melihat jalanan lengang di akhir minggu yang pastinya jarang ditemui di hari kerja. Saya juga tahu saya ingin bersama-sama suami saya, hanya saja di rumah dan “gitu-gitu aja” terasa agak…. datar.

“Aku ini orangnya outgoing, Bang. Sukanya pergi ke luar rumah,” 

“Kamu kayak telpon aja. Kalau gitu abang incoming dong,”

Percakapan di atas sering sekali terjadi. Kadang saya merasa tidak dipahami. Memangnya lima tahun menikah tidak sadar kalau istrinya pembosan. Mana bisa duduk diam, bisa-bisa stres dan sakit-sakitan. Tapi suami pun pasti ingin dimengerti, lima hari bergulat dengan pekerjaan, jalanan yang macet tidak berkesudahan, pasti lelahnya nggak ketulungan. Wajar kalau akhir pekan ingin menikmati rumah sambil melepas penat. Well, saya dan suami, jelas memiliki cara melepas penat yang sangat berbeda.

Lalu seorang teman pernah berkomentar, “Tapi orang yang outgoing butuh orang yang ‘incoming’ untuk mensupport ke outgoing-annya”. Kurang lebih begitu. Detail redaksinya saya lupa.

Saya ingat tertawa memcaca komentarnya. Hihihihi…

But that’s absolutely right! 

“Ngapain sih jalan terus? Ngabisin duit tau!” ini Si Abang. Protes.

“Kan nggak usah beli apa-apa. Jalan-jalan aja,” saya memohon.

Bukan suami saya banget, jalan-jalan tanpa tujuan yang jelas. Sedangkan saya, menikmati jalan-jalannya, tujuannya kemana kek… Terserah aja.

Tapi kadang, kalau lagi kumat jenuhnya, suami saya suka mendadak ngajak jalan yang agak ekstrim. Abis Maghrib suatu ketika, tiba-tiba suami mengajak saya ke Bandung. Membangunkan sepupu saya pagi-pagi buta untuk sekedar merebahkan kepala, lalu paginya numpang makan dan pulang lagi. Pernah juga suami memutuskan cuti di hari itu dan mengajak saya jalan-jalan ke Cimory, Puncak. 

Sungguh lucu kalau saya ingat-ingat. Saya dan suami sebenarnya bertolak belakang dalam banyak hal. Suami saya, karena doi laki-laki-of course-, berpikirnya sangat rasional. Hal tersebut menurut saya ditambah dengan latar belakang pendidikannya di teknik yang dominan laki-laki plus saudaranya yang semuanya laki-laki. Pekerjaannya pun banyak berkutat dengan angka-angka dan analisis berpikir logis. Coba bandingkan dengan saya. Saya kuliah di kampus yang dominan perempuan, di jurusan yang laki-lakinya satu angkatan hanya 11 orang, senang bersosialisasi dan sangat people person dengan saudara yang semuanya perempuan.

Saya dan suami punya cara berbeda untuk menghabiskan waktu menghilangkan jenuh. Dan punya definisi berbeda pula dalam memaknai kebersamaan. Untuk suami, bersama-sama itu ya bersama-sama di rumah, walaupun suami mantengin TV dan saya mantengin laptop, itu namanya bersama-sama. Kan sudah sama-sama, satu rumah. Wujudnya ada. (logika banget ya….). Untuk saya, bersama-sama itu ya melakukan kegiatan bersama-sama, seperti makan bersama, jalan-jalan bersama, nonton (bioskop) bersama, pokoknya bersama.

But after all this time, saya (harus) selalu bersyukur atas perbedaan itu. Tidak terbayang kalau suami saya adalah orang yang “sama” dengan saya, sama-sama senang keluar rumah, sama-sama tidak memperhitungkan keadaan, mungkin cerita saya akan menjadi “lima koma”. Tanggal lima, uang tinggal koma-nya. Mungkin banget kalau suami saya punya sifat yang sama dengan saya, kami malah sering bertengkar yang penuh retorika dan berujung dalam ketidakpuguhan. Justru karena suami saya adalah suami saya, we never have a fight that stays overnight. Mudah-mudahan tidak pernah. 

Dan terlepas dari semua perbedaan, saya tahu, pada akhirnya memang harus si Abang yang menjadi suami saya. Nggak kebayang dan nggak mau ngebayangin kalau itu bukan dia, entah bagaimana hidup saya. So I guess, it had to be him… ^^
 

5 thoughts on “Si Outgoing dan Incoming

  1. kalo kami, libur akhir pekan pinginnya santai di rumah, tapi lebih sering kerja bakti bersihin rumah dan nyuci baju karena dipelototin orang tua hehehe… nasib… nasib…

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s