Ketika Muslimah Dikomersialisasi


Islam memuliakan perempuan bukan dengan mahkota dan kemewahan🙂

Image

Rame-rame pro kontra Miss World akhir-akhir ini membuat saya ingat masa kecil saya. Dibesarkan dengan buku cerita yang penuh putri-putri Disney, mulai dari Snow White sampai Pocahontas (dan Mulan tapi saya sudah agak gede waktu nonton Mulan) membuat saya menyukai sosok “princess-like” yang bertubuh langsing, dan cantik jelita. Sudah dapat dipastikan saya juga suka mengikuti acara-acara beauty pageant sebagai penonton setia. Putri Indonesia sih yang dulu selalu saya ikuti. Waktu itu saya masih SD. Bayangan saya akan Putri Indonesia nggak jauh-jauh amat sama imej “princess” a la Disney, cantik, berambut panjang terurai dengan gaun panjang dan mahkota, yang melambaikan tangan dengan putaran seperti kipas angin (bukan ke kiri ke kanan tapi ke arah dalam dan luar).

Sekarang sih, saya memandang acara-acara beauty pageant, jujur saja dengan pandangan iba. Bagaimana bisa perempuan-perempuan yang katanya nggak cuma cantik tapi juga pintar, tidak cukup pintar untuk menyadari bahwa kecantikan mereka-lah yang membawa mereka sampai ke kontes semacam itu. Pernah melihat kontestan miss world atau miss-miss lain yang over-weight ? Uh wait, saya lupa ada juga acara-acara miss-miss-an untuk mereka yang over-weight. Atau pernah lihat acara beauty pageant yang pesertanya handicapped? Apa mereka tidak cantik? Apa mereka tidak pintar dan kurang behave?

Lupakan acara miss-miss-an, itu belum seberapa, saya lebih iba dan kasihan lagi dengan adanya kontes Muslimah bertaraf dunia. Inna Lillah…

Apa segitu doang nilai Muslimah? Senilai kontes dunia? Apa gunanya mencantumkan embel-embel “Muslimah” kalau ternyata pesertanya pun tidak jauh dari cantik dan gaya? Apa guna hijabnya kalau tidak bisa meng-hijab dirinya? Bukankah Allah tetapkan hijab itu untuk melindungi dan menjadikan seorang Muslimah “berbeda”?

Muslimah “Berbeda” bukan karena eksklusif dan mewah, tapi “berbeda” karena kita sudah Allah berikan sarana untuk melindungi diri. Berlindung dari kesombongan, rasa ingin tampil dan yang paling utama Allah melindungi kita dari dipandang sekedar fisiknya saja. Lalu apa bedanya Miss World dengan Miss (atau Ukhti) World Muslimah kalau orientasinya juga hanya fisik semata? Apa dengan embel-embel ke-Islam-an membuat segala sesuatu menjadi Islami? I’m not quite agree with that.  

Muslimah sudah keren dari sononya, saya berulang kali menulis ini, tanpa harus dikontestasi, tanpa harus dilombakan. Keren karena kita semestinya merdeka dari penjajahan fashion, mode dan tuntutan jaman yang entah kapan habisnya. Keren karena kita diwajibkan menuntut ilmu dan memberi sebesar-besarnya manfaat untuk orang banyak. Keren karena kita adalah tiang negara dengan segala potensi yang Allah berikan pada tiap-tiap diri. Keren karena dalam Islam perempuan juga bisa menjadi penutur sejarah, tidak hanya “his story”, tapi juga “her story”. Keren karena dalam Islam perempuan sudah dari lahirnya dilindungi hak dan kewajibannya dengan seadil-adilnya. Keren karena seorang laki-laki dalam Islam selamanya harus tunduk pada Ibunya. Keren karena perempuan (Ibu) tiga kali lebih berhak dihormati daripada Ayah. 

Sudah keren. Tanpa tren. Sudah punya mahkota. Walau tanpa permata. Sudah mulia. Tanpa perlu piala.

As for myself, saya punya banyak sekali alpa dan kekurangan. Bukan saya lebih baik dari siapapun, apalagi di mata Allah hanya amal shalih yang dihitung, sedang saya sadar belum melakukan banyak hal. Mungkin para peserta dan penyelenggara kontes muslimah dunia jauh lebih mulia dari saya di sisi Allah. Ini hanya sisi “kritis” saya dan hati saya yang tidak nyaman dan iba dengan saudari Muslimah saya yang harus menjadi pusat perhatian di saat semestinya ia bisa menjadi lebih dari sekedar produk komersialisasi dan komodifikasi. 

Bu Een Sukaesih, seorang guru di Cimahi yang insyaAllah, Allah muliakan dengan rematik di sekujur tubuh, menurut saya lebih pantas menjadi duta Muslimah dunia, karena dedikasinya yang luhur pada pendidikan, ketulusan, semangat dan kesabarannya menghadapi penyakit yang tidak mudah. Bu Saidah di Buton yang menjadi aktivis konservasi biota laut, juga tidak kalah pantasnya menjadi inspirasi dunia. Keduanya mungkin tidak punya waktu untuk “bergaya”, alih-alih keduanya mengisi hari-hari dengan banyak karya. Saya yakin, selain mereka, masih banyak Muslimah-muslimah keren nan tangguh di luar sana, yang pantas menjadi inspirasi bagi kita semua, mungkin tanpa selempang gelar, tanpa mahkota dan make-up tebal, mungkin kedua matanya tidak bisa melihat, atau kakinya hanya ada satu, mungkin tampilannya tidak menarik dari tolak ukur dunia. Tapi, bukankah apa yang di dunia lambat laun akan sirna, dan apa yang di sisi Allah akan kekal?

 

“Katakanlah kepada wanita yang beriman, hendaklah mereka menahan sebagian pandangannya dan memelihara kemaluannya. Dan janganlah mereka menampakkan perhiasannya kecuali yang biasa nampak daripadanya…” (QS. An-Nur:30) 

*Image Courtesy of Getideaka/freedigitalphotos.net

6 thoughts on “Ketika Muslimah Dikomersialisasi

  1. Haish, baruuu aja kemaren sy ngomel2 di Twitter soal World Muslimah ini. Prihatin bener, deh. Wong, sdh dimuliakan dgn status sbg muslimah, kok, masih mau, ya, dinilai dari fisiknya aja. Mestinya acara ini juga diprotes dgn keras jg. *Esmosi. Tantangan dakwah Islam ke depan memang makin berat, ya, Mbak. *berdoa biar istiqamah.

    • iya, bener mbak diannie. duh maaf baru bales komennyaaa… >.<

      dari judul acaranya aja sudah sangat "bias". world muslimah beauty. logika saya sih klw menang jd the most beautiful muslimah kan ya…

      memang, mbak, kita hidup di jaman yg benar dan salah tampak sama saja…

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s