Hajj: For Those Who Do!


Meminjam tagline sebuah produk, “For Those Who Do!”.
Berhaji memang bagi yang mampu.
Tapi tahukah, bahkan petani dan pemulung kardus saja tercatat sebagai tamu-Nya tahun ini?
Berhaji memang bagi yang mampu, tapi mampu adalah bagi yang mau.
 

Baru kemarin, ketika saya berkunjung ke rumah ibu saya, saya berpapasan dengannya. Laki-laki sederhana itu berprofesi sebagai tukang kebun, belum berubah sejak lebih dari sepuluh tahun yang lalu. Kurang lebih sepuluh tahun yang lalu pula, Mang Lilik, demikian ia biasa disapa, menunaikan kewajibannya berhaji. Saya masih terkenang saat beberapa orang mencibirnya. Seakan terlalu tinggi mimpi berhaji bagi seorang perawat tanaman. Seakan ketika ia pulang, keluarganya akan luntang lantung dan susah makan. Dari apa yang bisa saya kenang, ia menjual sawah di kampungnya. Sawah yang mungkin merupakan aset berharga untuknya dan keluarganya. Jaminan penghidupan dan kecukupan pangan. Tapi toh, ia tetap berangkat.

Ia memang masih tetap menjadi tukang kebun. Bukan ujug-ujug menjadi menteri pertanian. Tapi toh ia dan keluarganya tidak kekurangan makan. Tidak melarat dan jatuh miskin. Dan yang paling penting, tidak kurang secuil pun kemuliaannya di sisi Allah. 

Begitulah kita (mungkin ini saya aja ya…). Seringkali mengukur sesuatu dari sudut pandang kita. Lupa bahwa bukan kita-lah yang menjalankan alam semesta. Semesta dan pengaturannya sudah ada Allah yang menjaganya. Kehidupan dan kematian, sudah ada Allah yang mempergilirkan. Jodoh dan rezeki demikian pula adanya, Allah-lah yang menetapkan, mendistribusikan, mencukupkan dan menjadikannya berkah. 

Semestinya kita malu dan belajar dari Mang Lilik. Betapa banyak dari kita yang gaji bulanannya tiga bahkan lima kali pendapatan Mang Lilik. Masih muda dan bertenaga. Rumah, mobil, plesir mengelilingi dunia ada dalam target masa depan. Tapi lupa menyertakan Haji sebagai cita-cita. Mang Lilik memulainya dari menjual petak-petak sawah keluarga. Berkurban apa yang ia cinta. Mungkin tidak seberapa besar pengorbanannya. Tidak besar dibandingkan Nabi kita yang mulia, Ibrahim AS yang mengorbankan putera terkasihnya. Tapi dibandingkan kita, mungkin kita (saya) bukan apa-apa. 

Maka, ketika kita membuat “Rancang Hidup Lima Tahun”, jangan lupa selipkan Berhaji di antaranya. Perkara kapan dan bagaimana mengumpulkan uangnya, serahkan pada Allah Sang Maha Pengatur Segala. Tugas kita toh hanya bercita-cita dan berusaha. Bukankah Allah tidak mungkin lalai mencatat keduanya?

*Tulisan penyemangat diri… Semoga Allah lapangkan usia dan rezeki saya dan suami untuk berhaji :”) * 

 

 

One thought on “Hajj: For Those Who Do!

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s