People Do Change, Don’t They?

I just saw a photo of an old friend on my Facebook Timeline and I’m so glad to see him with his wife and baby boy. I can’t help my memory to flew back to many-many years ago when we were at the same class in highschool. I was not close to him, all I know was that he’s a nice boy. He failed the class last year, and still not working that hard. We then got in the same college. We would just say hi when we met, and asked each other, “whatsup..?”, or sort of. He did tell me once that he didn’t manage his grades very well.

So when I saw his picture with his wife and baby boy, I’m so glad. He looked so different than what he used to look like back then, messy and clueless and all. Now he looks neat, fresh and fatherly.

People make choices in their life, and people do change.

So, don’t judge anyone by what they are now… Because we will never know, perhaps tomorrow, or another day after tomorrow, he/she might probably change to be a better person, perhaps even better than us. I always remember my friend told me once to be patient to others. As much as we want ourselves to be understood… As much as we hate others judging us, so does other people… As much as we want other people to be patient with us… other people would want to be treated exactly the way we want to treated….

 

“And the Hereafter is better for you the the first (life)” (Al Quran, surah Ad-duha: 4)   

Kelas Tarik Ulur

Semester ini saya dapat amanah mengajar empat kelas yang, apabila para “veteran” alias senior yang ngulang tidak dihitung, semuanya adalah mahasiswa baru. Mengajar mahasiswa baru, menurut saya gampang-gampang susah. Separuh, bahkan mungkin lebih dari separuh jiwa mereka masih berada dalam seragam putih abu-abu. Kalau pernah mendengar istilah “tarik-ulur”, nah, persis seperti itu rasanya. 

Ada kalanya saya ingin sekali “mites-mites” mereka karena geram, ada kalanya saya tertawa terbahak-bahak dengan lelucon konyol atau kelakuan konyol mereka. 

Saya belajar bahwa tidak selalu anak-anak SMA kelas 4 ini bisa diajar dengan keras; pun tidak selalu bisa diikuti maunya. Jangan pernah menjadi terlalu keras atau terlalu lembek. Berusahalah berada di antaranya, demikian prinsip saya mengajar mereka. 

Suatu hari, di kelas sore yang melelahkan karena tenaga saya sudah hampir habis mengajar dua kelas sebelumnya, saya marah-marah karena mahasiswa saya, hampir sekelas tidak bisa menjawab kuis lisan mingguan. Padahal saya selalu mengingatkan bahwa saya selalu memberikan kuis sebelum mulai perkuliahan dan langsung saya ambil nilainya. Jadi, sekali mereka missed, kosonglah nilainya. Seperti biasa, kalau saya sudah bicara dengan nada tinggi, kelas lalu hening seketika. Namun demikian, tetap saja mengajar menjadi kurang menyenangkan karena mood saya sudah ternodai dengan acara misuh-misuh.

Minggu depannya, sebenarnya saya sudah lupa kejadian saya marah-marah minggu sebelumnya. Saya hanya ingin menyelesaikan materi dengan baik dan dapat dipahami seisi kelas. Sudah, itu saja. Saya sedang tidak mood untuk kuis mingguan. 

Saya tidak menyangka ketika saya masuk kelas, mereka sudah duduk manis, tidak seperti biasanya yang kebanyakan datang hampir di batas akhir waktu toleransi lima belas menit. Ketika saya ajukan pertanyaan, mereka aktif menjawab, dan jawabannya benar. Rupanya mereka sudah belajar terlebih dahulu sebelum masuk kelas. Jauh berbeda dari minggu sebelumnya.

Saya lalu berusaha mengingat-ingat, walaupun sampai sekarang saya masih tidak ingat, apa yang saya katakan ketika saya marah-marah di kelas hingga mereka berubah. Entah apakah melalui perasaan geram saya mereka berubah, atau karena faktor lain; yang jelas Allah-lah pemilik hati manusia, Allah pula yang membolak-balikkannya. Yang pasti, sejak hari itu rasanya, mengajar di kelas sore tersebut bukan lagi beban untuk saya. Saya mulai menikmatinya, seperti saya menikmati mengajar di kelas pagi dan siang.

Dan ketika saya menikmati proses mengajar tersebut, suasana kelas rasanya berubah. Saya tidak banyak marah, mahasiswanya pun tidak lagi semrawut seperti minggu-minggu pertama. Malah saya banyak terhibur di kelas sore itu, karena ada seorang mahasiswa yang menurut saya “born to be clown”. Ya, beberapa orang memang tampaknya lahir untuk menghibur orang lain dengan lawakan-lawakan konyol. Mungkin dia semestinya menjadi komedian. Hehe…

Saya lalu ingat sebuah kisah pengantin baru. Suatu pagi sang istri mengintip melalui jendela kaca. Tampaklah tetangga sebelah yang sedang menjemur pakaian. Ia lalu berkata pada suaminya, “Mas, lihat deh itu, istrinya tidak pintar mencuci, warna bajunya butek-butek”. Kejadian itu berlangsung berhari-hari, hingga suatu hari sang suami mengatakan padanya, “Dek, sepertinya kaca jendela kita yang kotor dan perlu dibersihkan”.

Mungkin bukan kelasnya yang semrawut, tapi cara pandang saya terhadap proses belajar anak didik saya yang harus berubah. Semua orang berproses, belajar, dan selalu punya kesempatan untuk bisa menjadi orang yang labih baik. ^^ 

 

 

This’s Indonesia…

This’s Indonesia. Negara yang Islam menjadi mayoritas agama yang dianut masyarakatnya, tapi hanya serupa “buih” di lautan. Islam hanya kulitnya. Islam banyak dipahami hanya sebatas ritual semata. Kita sudah merasa baik hanya dengan mengerjakan ritual-ritual agama. Sudah merasa baik karena memang kita sudah berbuat baik. Tidak anarkis, membayar pajak, tidak korupsi, menyumbang sesekali bila diperlukan. Surga dan neraka menjadi bahan guyonan. Seakan-akan keduanya hanyalah dongeng masa kanak-kanak untuk mendisiplinkan perilaku semata. 

Islam dimaknai demikian beragam. Entah, darimana benang kusut ini harus diurai. Sebagian memaknai Islam dengan saklek. Sebagian senang dengan ritual-ritual gegap gempita. Sebagian memilih menjadikan Islam hanya sebagai warisan, regenerasi latar belakang. Sebagian lain, malah menganggapnya sama dengan ajaran yang lain, yang penting ber-Tuhan. 

Bangsa ini menolak untuk belajar sejarah, dan memilih melupakan Islam yang menjadi semangat pembebas para pejuang. Lebih buruk lagi, sebagian orang yang terlahir Muslim malah “alergi” dengan agama. Mereka mau berpikir objektif untuk agama lain; tapi menolak berpikir serupa untuk Islam. 

Sejarah Indonesia, bahkan belum lagi direkonstruksi. Kartini masih menjadi feminis. Patimura belum dikembalikan identitasnya. Semangat jihad Bung Tomo dan pekik Allahu Akbar-nya redup sayup-sayup. Tapi, fitnah terhadap Islam datang lagi-dan lagi-dan lagi.  

Entah mengapa saya merasa sesak dan sempit. Mungkin karena saya, sedikit banyak, merasa menjadi bagian dari kubu Islamis yang tidak pernah mendapat tempat di media massa. Contoh sederhananya saja, guru-guru yang merasa “dipaksa” berhijab beritanya tayang di media online; tapi pegawai toko buku terbesar se-Indonesia tidak boleh menjalankan perintah agamanya untuk berhijab; mana beritanya?

 

Toleransi yang digembar-gemborkan; nampaknya hanya berlaku satu arah. Dari “agama mayoritas” kepada kelompok agama lain. Kalau ada yang diberhentikan karena hijabnya; diperingatkan atasan karena jenggotnya; itu bukan diskriminasi. Pernah bertanya mengapa?

Meyakini bahwa agamanya yang benar dan yang lain salah disebut fundamental dan fanatik; lalu apa seseorang harus mengakui semua agama itu benar, padahal dengan menyatakannya berarti secara tidak langsung pula menyatakan bahwa kebenaran itu tidak pernah ada? 

Seseorang tidak dibenarkan “menyalahkan” perilaku orang lain karena; “Hanya Tuhan yang berhak menentukan benar dan salah”. Kalau begitu bukankah seseorang semestinya juga tidak dibenarkan membenarkan perilaku orang lain? Dan pernyataan itu pun tidak bisa disebut argumen yang hebat dan cerdas. Bukankah Tuhan yang menentukan benar dan salah?   

Inilah negara yang semuanya serba terbalik…

Maka sungguh saya menunggu… Menunggu datangnya orang yang akan meluruskan agama ini seperti janji Allah dalam salah satu hadits nabi. Seperti Imam Bonjol dan KH Ahmad Dahlan. Dulu dianggap asing, tapi selamanya dikenang sebagai pahlawan.