This’s Indonesia…


This’s Indonesia. Negara yang Islam menjadi mayoritas agama yang dianut masyarakatnya, tapi hanya serupa “buih” di lautan. Islam hanya kulitnya. Islam banyak dipahami hanya sebatas ritual semata. Kita sudah merasa baik hanya dengan mengerjakan ritual-ritual agama. Sudah merasa baik karena memang kita sudah berbuat baik. Tidak anarkis, membayar pajak, tidak korupsi, menyumbang sesekali bila diperlukan. Surga dan neraka menjadi bahan guyonan. Seakan-akan keduanya hanyalah dongeng masa kanak-kanak untuk mendisiplinkan perilaku semata. 

Islam dimaknai demikian beragam. Entah, darimana benang kusut ini harus diurai. Sebagian memaknai Islam dengan saklek. Sebagian senang dengan ritual-ritual gegap gempita. Sebagian memilih menjadikan Islam hanya sebagai warisan, regenerasi latar belakang. Sebagian lain, malah menganggapnya sama dengan ajaran yang lain, yang penting ber-Tuhan. 

Bangsa ini menolak untuk belajar sejarah, dan memilih melupakan Islam yang menjadi semangat pembebas para pejuang. Lebih buruk lagi, sebagian orang yang terlahir Muslim malah “alergi” dengan agama. Mereka mau berpikir objektif untuk agama lain; tapi menolak berpikir serupa untuk Islam. 

Sejarah Indonesia, bahkan belum lagi direkonstruksi. Kartini masih menjadi feminis. Patimura belum dikembalikan identitasnya. Semangat jihad Bung Tomo dan pekik Allahu Akbar-nya redup sayup-sayup. Tapi, fitnah terhadap Islam datang lagi-dan lagi-dan lagi.  

Entah mengapa saya merasa sesak dan sempit. Mungkin karena saya, sedikit banyak, merasa menjadi bagian dari kubu Islamis yang tidak pernah mendapat tempat di media massa. Contoh sederhananya saja, guru-guru yang merasa “dipaksa” berhijab beritanya tayang di media online; tapi pegawai toko buku terbesar se-Indonesia tidak boleh menjalankan perintah agamanya untuk berhijab; mana beritanya?

 

Toleransi yang digembar-gemborkan; nampaknya hanya berlaku satu arah. Dari “agama mayoritas” kepada kelompok agama lain. Kalau ada yang diberhentikan karena hijabnya; diperingatkan atasan karena jenggotnya; itu bukan diskriminasi. Pernah bertanya mengapa?

Meyakini bahwa agamanya yang benar dan yang lain salah disebut fundamental dan fanatik; lalu apa seseorang harus mengakui semua agama itu benar, padahal dengan menyatakannya berarti secara tidak langsung pula menyatakan bahwa kebenaran itu tidak pernah ada? 

Seseorang tidak dibenarkan “menyalahkan” perilaku orang lain karena; “Hanya Tuhan yang berhak menentukan benar dan salah”. Kalau begitu bukankah seseorang semestinya juga tidak dibenarkan membenarkan perilaku orang lain? Dan pernyataan itu pun tidak bisa disebut argumen yang hebat dan cerdas. Bukankah Tuhan yang menentukan benar dan salah?   

Inilah negara yang semuanya serba terbalik…

Maka sungguh saya menunggu… Menunggu datangnya orang yang akan meluruskan agama ini seperti janji Allah dalam salah satu hadits nabi. Seperti Imam Bonjol dan KH Ahmad Dahlan. Dulu dianggap asing, tapi selamanya dikenang sebagai pahlawan. 

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s