Kelas Tarik Ulur


Semester ini saya dapat amanah mengajar empat kelas yang, apabila para “veteran” alias senior yang ngulang tidak dihitung, semuanya adalah mahasiswa baru. Mengajar mahasiswa baru, menurut saya gampang-gampang susah. Separuh, bahkan mungkin lebih dari separuh jiwa mereka masih berada dalam seragam putih abu-abu. Kalau pernah mendengar istilah “tarik-ulur”, nah, persis seperti itu rasanya. 

Ada kalanya saya ingin sekali “mites-mites” mereka karena geram, ada kalanya saya tertawa terbahak-bahak dengan lelucon konyol atau kelakuan konyol mereka. 

Saya belajar bahwa tidak selalu anak-anak SMA kelas 4 ini bisa diajar dengan keras; pun tidak selalu bisa diikuti maunya. Jangan pernah menjadi terlalu keras atau terlalu lembek. Berusahalah berada di antaranya, demikian prinsip saya mengajar mereka. 

Suatu hari, di kelas sore yang melelahkan karena tenaga saya sudah hampir habis mengajar dua kelas sebelumnya, saya marah-marah karena mahasiswa saya, hampir sekelas tidak bisa menjawab kuis lisan mingguan. Padahal saya selalu mengingatkan bahwa saya selalu memberikan kuis sebelum mulai perkuliahan dan langsung saya ambil nilainya. Jadi, sekali mereka missed, kosonglah nilainya. Seperti biasa, kalau saya sudah bicara dengan nada tinggi, kelas lalu hening seketika. Namun demikian, tetap saja mengajar menjadi kurang menyenangkan karena mood saya sudah ternodai dengan acara misuh-misuh.

Minggu depannya, sebenarnya saya sudah lupa kejadian saya marah-marah minggu sebelumnya. Saya hanya ingin menyelesaikan materi dengan baik dan dapat dipahami seisi kelas. Sudah, itu saja. Saya sedang tidak mood untuk kuis mingguan. 

Saya tidak menyangka ketika saya masuk kelas, mereka sudah duduk manis, tidak seperti biasanya yang kebanyakan datang hampir di batas akhir waktu toleransi lima belas menit. Ketika saya ajukan pertanyaan, mereka aktif menjawab, dan jawabannya benar. Rupanya mereka sudah belajar terlebih dahulu sebelum masuk kelas. Jauh berbeda dari minggu sebelumnya.

Saya lalu berusaha mengingat-ingat, walaupun sampai sekarang saya masih tidak ingat, apa yang saya katakan ketika saya marah-marah di kelas hingga mereka berubah. Entah apakah melalui perasaan geram saya mereka berubah, atau karena faktor lain; yang jelas Allah-lah pemilik hati manusia, Allah pula yang membolak-balikkannya. Yang pasti, sejak hari itu rasanya, mengajar di kelas sore tersebut bukan lagi beban untuk saya. Saya mulai menikmatinya, seperti saya menikmati mengajar di kelas pagi dan siang.

Dan ketika saya menikmati proses mengajar tersebut, suasana kelas rasanya berubah. Saya tidak banyak marah, mahasiswanya pun tidak lagi semrawut seperti minggu-minggu pertama. Malah saya banyak terhibur di kelas sore itu, karena ada seorang mahasiswa yang menurut saya “born to be clown”. Ya, beberapa orang memang tampaknya lahir untuk menghibur orang lain dengan lawakan-lawakan konyol. Mungkin dia semestinya menjadi komedian. Hehe…

Saya lalu ingat sebuah kisah pengantin baru. Suatu pagi sang istri mengintip melalui jendela kaca. Tampaklah tetangga sebelah yang sedang menjemur pakaian. Ia lalu berkata pada suaminya, “Mas, lihat deh itu, istrinya tidak pintar mencuci, warna bajunya butek-butek”. Kejadian itu berlangsung berhari-hari, hingga suatu hari sang suami mengatakan padanya, “Dek, sepertinya kaca jendela kita yang kotor dan perlu dibersihkan”.

Mungkin bukan kelasnya yang semrawut, tapi cara pandang saya terhadap proses belajar anak didik saya yang harus berubah. Semua orang berproses, belajar, dan selalu punya kesempatan untuk bisa menjadi orang yang labih baik. ^^ 

 

 

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s