Adik saya itu…

Namanya Fauzia. Usianya baru 12 tahun. Beda 16 tahun dengan saya. Anaknya aktif dan sibuk. Menyukai camping dan kegiatan-kegiatan outdoor. Jago main bulutangkis. Di usia 8 bulan sudah bisa naik turun tangga dengan “memanjat”. 

Waktu ia duduk di kelas lima, gadis bermata bulat itu mencoba jualan online via blackberry. Menjadi dropshipper dari distributor Bath and Body Works Hand Sanitizer. Kenal dari mana? Alurnya agak panjang untuk dijelaskan. Apparently, distributornya itu seumuran dengan adik saya, diberi “bisnis” oleh ayahnya yang direktur sebuah perusahaan produsen mie instant terkenal. Sehari-harinya si anak itu homeschooling. Di luar itu, sepertinya kedua orang tuanya memberinya banyak kegiatan, salah satunya gymnastics. Di kelas gymnastics inilah, dia bertemu teman sekelas adik saya. Hehehe…. Panjang ya jalurnya…

Awalnya saya bingung, kok bisa “gituan” doang laku di kalangan teman-temannya. Karena harganya lumayan lho. Bukan 10.000-an seperti hand sanitizer yang banyak beredar di pasaran. Belum lagi pocket bag-nya. Bisa mencapai ratusan ribu kalau yang bisa nyala.

Tapi, kemudian kedua orang tua saya (dan saya-karena banyak pengambil keputusan untuk adik saya adalah saya…) berpikir untuk mengembangkan minatnya yang ternyata lumayan menghasilkan. Setiap hari, Zia hampir selalu punya transaksi. Untungnya cuma 5.000 atau 3.000, tapi uang itu dikumpulkan setiap hari hingga suatu ketika tabungannya mencapai angka yang fantastis untuk anak seumur dia.

Saya memperhatikan adanya perkembangan kedewasaan dan kecerdasan emosi. Cara dia menangani pesanan, keluhan dan tanggung jawabnya pada pelanggan menunjukkan kematangan yang saya sendiri tidak menyangka. Adik saya ini harus bekerja keras di pelajaran Matematika, tapi dalam hal bisnis sepertinya perhitungan itu berjalan secara natural (walaupun sesekali dibantu Papa saya).

Selain itu, rupanya distributornya adik saya ini adalah anak yang sangat baik. Tuturnya santun dan cerdas. Sepertinya ia dididik dalam keluarga Katolik yang cukup taat beragama. Selain itu, apabila adik saya mencapai jumlah penjualan tertentu, ia mengirimkan banyak hadiah yang sebagian lalu dijual lagi oleh adik saya (satu atau dua barang kadang dihadiahkan untuk saya). Hehehehe…Untuk adik saya yang sekolah di sekolah Islam sejak TK, bergaul dengan teman yang bukan Muslim adalah sesuatu yang baru. Dari situ, muncul banyak pertanyaan yang diajukan ke saya, yang berkenaan dengan perbedaan agama.

Saya lupa sih, apa persisnya yang saya jelaskan ke adik saya. Tapi basically saya menekankan sopan santun dan nilai-nilai kebaikan yang Islam ajarkan itu universal sifatnya. Kita mungkin berbeda dan tidak bisa disatukan dalam prinsip agama dengan agama lain; akan tetapi dalam hal pergaulan dan pertemanan, akhlak yang baik itu bernilai pahala. Dan tidak ada balasan bagi kebaikan selain kebaikan yang lain.

Tapi itu kisah setahun-an lalu. Zia berhenti jualan online sejak gurunya menyarankan untuk berhenti sementara. Setidaknya sampai lulus SD.

Kemarin, Zia menemukan sisa pocket bag holder yang ada di rumah saya. “Masih ada ya…”, tanyanya.

“Iya masih. Kamu nggak mau jualan lagi, Dek?” tanya saya iseng.

“Mau, tapi nggak mau jualan itu lagi… Nanti jualan pashmina aja…”

“Kenapa?”

“Aku baca alkoholnya 90 %, aku nggak mau ah…”

“Kamu takut haram ya..”

“Iya…”

Adik saya rupanya belum tahu kalau semua hand sanitizer pasti kadar alkoholnya tinggi. Saya hanya jelaskan sedikit tentang penggunaan alkohol yang diharamkan, dan tidak semua alkohol adalah khamr. Entah dia memperhatikan atau tidak. Tapi kemudian saya mendukung prinsipnya. Prinsip yang saya terkejut, ia memilikinya. Maksud saya, saya tidak menyangka dia berpikir sejauh itu.

Berapa banyak orang yang berdagang tanpa berpikir dampak dari barang jualannya. Betapa banyaknya… 

Adik saya masih akan berproses selama Allah masih melapangkan usianya. Sebagaimana semua orang, ia pasti kelak menghadapi masa-masa pasang surut hati dan keimanan. Sesuatu yang beyond my control. Saya hanya bisa menggantungkan doa, semoga Allah menjaganya selalu dalam jalan lurus dan kebaikan. Aamiin aamiin…Insya Allah ^^  

 

Advertisements

Nama Sebuah Rasa

Pernahkah kamu melakukan suatu pekerjaan yang teramat istimewa hingga kamu rasanya ingin menangis karena bahagia? Rasanya seakan seluruh rasa haus terpuaskan hanya dengan melakukannya. Rasanya seperti sepatu kaca bertemu kaki Cinderella:  Bahagia tak terkira.

Saya selalu tahu, bahwa saya bisa mendapatkan rasa itu, salah satunya, ketika saya membaca cerita Rasulullah SAW, berulang-ulang; bahkan jika cerita yang sama dikisahkan lagi oleh orang lain; saya selalu menyukainya. Seperti jarak 14 abad lamanya, diikat dalam mesin waktu bernama sejarah, dan saya bisa berkelana di jaman itu. Membayangkan gersangnya gurun pasir yang tumbuhan enggan bersemi di atasnya, unta-unta yang melenggak-lenggok elegan, dan patung-patung yang mereka jadikan “perhiasan” di dalam Ka’bah dan pelatarannya. Manusia sudah kehilangan pemandunya. Jarak demikian jauh berbilang, dari Nabi Isa AS kepada penutup para nabi, Rasulullah Muhammad SAW memang menjadikan beragama dengan lurus begitu sulit. Bukan tidak ada orang-orang cendikia yang mengimani Allah dan mengikuti risalah Isa AS, atau Musa AS, atau bahkan bertahan sedemikian lamanya menjalankan ajaran Ibrahim AS dan dua puterannya. Namun, rasa butuh akan kedekatan pada Tuhan, menjadikan bangsa Quraisy membuat perantara antara mereka dan Tuhan melalui berhala-berhala. Inilah mungkin, mengapa beriman pada Allah yang tidak terlihat oleh sepasang mata menjadi titik iman paling utama. Meyakini bahwa Allah yang Maha Agung dan Maha Tinggi, juga sekaligus Maha Dekat.  

Di tengah kegersangan hati saya, mengulang kisah Rasulullah SAW seakan hujan dan angin sepoi-sepoi, yang menumbuhkan tunas-tunas tetumbuhan. Mungkin demikian kiranya kehadiran Muhammad Bin Abdullah ke dunia. Orang-orang di bumi Syam bahkan konon bisa melihat seberkas cahaya dari arah Makkah di hari kelahirannya.

Dia, yang teristimewa. Yang akan menutup, menyempurnakan. Melestarikan penyembahan pada Yang Maha Esa, Maha Tunggal. Mengajarkan penyerahan diri seutuhnya pada Tuhan, tiada yang lain selain-Nya.

Rasa itu, entah apa namanya.