Digugu dan Ditiru


Suatu pagi, saat kami sedang berpakaian, suami merapihkan kemeja dan saya sibuk menyemat peniti:

“Kenapa ya, kok kalau aku bilang pekerjaanku ngajar, pasti tebakan pertama orang adalah ngajar SD…? Emang tampilanku representatif-nya sama guru SD atau TK, gitu?”, tanya saya pada suami.

“Emang. Kalau bosen jadi dosen, kamu ngajar SD aja yangg,” jawab suami.

“Waduh! Berat banget lagi ngajar SD tuh, yangg. Kalau aku jadi dosen, ngadepin mahasiswa itu lebih mudah. Mereka sudah paham dengan risiko, dengan reward dan punishment. Kalau mereka ribut di kelas bisa aku keluarin dan mereka nggak bisa marah karena itu konsekuensinya. Dan alhamdulillah, mahasiswa yang aku ajar semester ini lebih enak dikasih tau. Kalau ngajar SD mah… mana bisa begitu… apalagi kalau ngajar TK. Apa yang aku ajarkan bisa nempel dan kebawa banget sampe gede. Siapa mereka  di masa dewasa salah satunya juga ada hasil bentukan guru-gurunya waktu TK dan SD, kan..

Sebenarnya aku mah tinggal menuai apa yang ditabur sama guru-guru SD mahasiswaku aja. Mereka adalah keluaran sistem pendidikan yang udah mereka jalani. Tugasku hanya men-deliver. Bagian mendidiknya nggak seberat guru-guru TK atau SD…”

“Oh gitu yah, yangg..”

“Iya” (tarik napas mau nyerocos lagi) “Makanya aku suka sebel tuh kalau orang menjadikan profesi guru sebagai pelarian. Karena anaknya kurang pinter jadi diarahin supaya jadi guru. Sering tuh aku denger. Ya gimana? Mestinya kan yang jadi guru itu yang pinter. Apalagi untuk anak-anak TK. Kadang nyari gurunya asal comot aja, mikirnya ‘ah gampang jadi guru TK, modal prakarya sama nyanyi’. Padahal itu lekat seumur hidup si anak.”

“Oh gitu…”

“Iya…” (lanjut) “Malah aku denger kalau di Jepang, gaji guru TK itu gede lho, yang. Soalnya mereka sadar bahwa membentuk karakter dan menanamkan value itu ga gampang. Jadi, wajarlah kalau gajinya gede. Kita juga nanti kalau punya anak nggak mau kan anak kita diajar sama guru yang sembarangan…”

“Wah, kalau gitu semestinya gaji kamu paling kecil dong. Kan tingkat kesulitan dan risikonya paling rendah…”

“Yaaaaa…jangan dongggg…”

 

*dengan sedikit modifikasi*

Seringkali masyarakat kita memandang sebelah mata profesi guru. Padahal menjadi guru tidak mudah. Menjadi guru TK, misalnya, bukan hanya modal prakarya, bisa nyanyi, atau bisa menggambar gajah. Tanpa kreatifitas, gambar anak-anak se-Indonesia hanyalah dua gunung dengan sawah membentang dan jalanan lengang membelah gunung. Tidak ada indahnya danau Toba, atau Puncak Cartenz bersalju. Menjadi guru berarti men-deliver value, membentuk karakter. Sayangnya, seringkali saya temui jurusan keguruan hanya diambil ketika tiada pilihan lain. Harusnya orang-orang yang memang memilih menjadi guru-lah yang menjadi guru. Ah… Makanya saya kagum berattt sama program Indonesia Mengajar, dan TIDAK akan memilih Anies Baswedan kalau dia jadi capres. Kenapa? Karena saya sayang sama dia *lho…Hehehe… Kasihan, jadi presiden banyak urusannya. Baiknya, menurut saya, dia mengkaderisasi penerus-penerusnya meneruskan Indonesia Mengajar. Sehingga semakin banyak orang mengajar karena pilihan, bukan karena tidak ada pilihan lain.

Banyak juga orang berpikir mau jadi dosen karena “gampang”. Kalau dibandingkan jadi presiden atau jadi mentri keuangan mungkin iya. Dan memang saya menikmati fleksibilitas waktu dan pemikiran. Tapi jadi dosen itu nggak gampang! Setiap profesi punya challenge-nya masing-masing. Bisa menjadi “teladan” adalah tantangan penggiat dunia pendidikan. Mahasiswa tidak hanya membaca buku, bahkan saya yakin mereka “membaca” dosen lebih banyak daripada membaca buku. Dan, kalau menurut mereka yang bilang jadi dosen itu “gampang”, menjadi teladan itu mudah, silahkan dicoba jadi pengajar. 

Akhir cerocosan ini, salam hormat saya pada Bapak Ibu Guru yang sudah mengajar dan mendidik saya. Terutama sekali yang pertama mengenalkan saya pada huruf Arab dan menjadikan saya bisa membaca Al-Quran. Semoga mereka semua ridho dengan ilmunya dan apa yang mereka ajarkan bisa saya manfaatkan untuk banyak orang. :”) Aamiin…

Happy Long Weekend, All ^^

 

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s