Ke China Ku Kan Pergi (InsyaAllah)


 

Sebenarnya sudah lama saya menginginkan perjalanan ke China. Dan alhamdulillah, sudah pernah juga menginjakkan kaki di China. Waktu itu tahun 2000, saya baru kelas 1 SMA. Sudah banyak detail perjalanan yang saya lupa. Saya hanya ingat, Oktober itu, musim gugur sedang mampir di China. Udaranya dingin sekali apalagi untuk saya yang alergi dingin. Saya selalu melapis celana jeans saya dengan celana tipis di dalamnya.

Gambar

Saya pergi bersama keluarga saya dalam rangkaian tour China Muslim. Jadi, katanya, makanan yang kami santap semuanya dijamin halal. Maklum, agak susah menemukan masakan China orisinal yang beneran halal dan pure tanpa ang ciu ataupun bercampur dengan per-babi-an. Tidak banyak kota yang saya kunjungi. Saya hanya mengunjungi Beijing. Tapi satu Beijing saja tidak semua bisa puas dijelajahi. Kalau se-Jakarta aja kurang puas untuk dijelajahi seharian, apalagi Beijing yang luas wilayah jurisdiksinya 16.410,54 km persegi atau lebih dari dua kali luas Jakarta yang ‘hanya’ 7641,51 km persegi.

Beijing itu luas banget. Jarak tempuh dua jam perjalanan itu terbilang dekat (tahun 2000 lho yaa). Jalan-jalannya pun lebar dan kotanya amat bersih. Jalan yang disebut wu tong atau “gang” kalau di Indonesia, besarnya sebesar jalan masuk ke rumah saya. Hehehehe… Buat ukuran Indonesia itu mah belum gang.

Dulu, saya belum menemukan apapun yang menarik selain belanja, dan kunjungan ke masjid. Ada yang menarik dari kunjungan saya ke masjid tertua di Beijing. Nama masjidnya adalah masjid Niew Jie, kalau saya tidak salah. Terletak di sebuah wu tong tempak komunitas Muslim tinggal.

Pertama saya pikir, saya tidak akan lagi menjadi “tontonan”, secara sepanjang perjalanan semua orang memperhatikan jilbab saya. Akan tetapi, saya masih tetap jadi “tontonan”, karena gaya berkerudung Muslimah di sana agak berbeda. Tidak ada yang benar-benar tertutup rapat. Lagipula sebagian besar yang saya temui di Masjid sudah nenek-nenek. Hehehehe…

Mengetahui kedatangan turis Muslim, sang imam keluar dan menyambut saya dan Papa saya (ibu dan kakak saya sedang haid jadi tidak boleh masuk masjid). Kami diajak berkeliling masjid. Dia sibuk menunjuk-nunjuk langit-langit serta mimbar yang gayanya khas banget China sambil menjelaskan dalam bahasa Mandarin. Bahasa yang sama sekali tidak kami (saya dan papa saya) pahami, tapi entah mengapa pada momen itu kami saling mengerti. Mimbarnya dibangun pada masa dinasti Ming. Sebagian dibangun pada masa dinasti Tang. Dan sang imam pun memperkenalkan diri sebagai Haji Yusuf. Pria tua bertubuh kecil, berwajah terang benderang, dengan janggut putih yang tumbuh dipaksakan🙂. Sebenarnya saya berfoto dengan beliau, tapi makan waktu untuk mencarinya. Hehehe…

Sebenarnya sejarah China selalu menarik untuk saya. Sebab konon, walaupun tidak berbekas sedikit pun di wajah saya, nenek buyut saya berdarah China yang kemudian dinikahi oleh penghulu agama Kalua, Kalimantan Selatan yang turunan Arab. Keluarga Papa saya, bahkan kakak saya sendiri masih mewarisi mata sipit nenek buyut saya. Walaupun kata orang saya persis plek dengan Papa, tapi saya mewarisi mata dari keluarga Mama. Jadi, nggak ada China-china-nya acan.

Untuk alasan yang sama pula, saya suka sekali dengan kisah Cheng Ho dan penasaran dengan gelombang kedatangan bangsa China ke Nusantara. Apakah nenek buyut saya bagian dari China Muslim yang memegang peranan cukup penting dalam tersebarnya Islam di Nusantara? Atau pernikahan kakek buyut saya dengan nenek buyut saya adalah bagian dari Islamisasi?

Personally, saya merasa ada mata rantai yang putus antara masyarakat keturunan Tiong Hoa sekarang dengan Islam. Islam seakan-akan jauh, asing, identik dengan kemiskinan, bahkan menyeramkan bagi banyak masyarakat Tiong Hoa. Saya sudah cukup merasakan beberapa pengalaman, yang tidak akan saya tulis di sini untuk alasan etika dan kesopanan, berinteraksi dengan masyarakat Tiong Hoa yang memandang saya (yang berjilbab) dengan tendensi kurang menyenangkan.

Stereotyping tentu tidak terbentuk serta merta. Diskriminasi di era Orde Baru (diskriminasi ini sebenarnya sudah ada sejak jaman Belanda) hingga kerusuhan rasial tahun 1998 mungkin bisa jadi salah satu penyebabnya. Ini baru dugaan saya saja. Saya belum melakukan riset tentang ini. So, it’s not really anyone’s fault. Bukankah saya dan kita semua juga hidup dengan cerita turun temurun tentang kelompok masyarakat lain yang akhirnya membentuk stereotipi tertentu terhadap kelompok tersebut?

Mata rantai yang putus ini sebenarnya patut disayangkan. Kenapa? Karena China merupakan bagian penting yang selalu dilalui dalam perjalanan dagang bangsa Arab. Dan bangsa China pun memeluk Islam jauh lebih dulu daripada bangsa Indonesia yang kini menyumbang seperempat populasi Muslim di seluruh dunia. Daaaan… yang lebih istimewa, penyebar Islam di China bukan orang sembarangan. Dia adalah Saad Bin Abi Waqqash ra, sahabat Rasulullah SAW yang juga termasuk dalam Assabiqunal Awwalun atau golongan orang-orang pertama yang memeluk Islam. Asli, waktu mendengar ini dari National Geographic, saya langsung iriiiii… dan langsung ingin berkemas-kemas pergi ke Guang Zhou dan Xi’An, karena katanya, konon, dua kota itu adalah kota pertama yang didatangi para pedagang Muslim dan salah satu masyarakat pertama yang menerima Islam. Bahkan sebenarnya, kalau saya tidak salah dengar, di antara dinasti China yang banyak itu (Shang-Chou-Chin-Han-T’ang-Tsung-Ming), salah satunya merupakan dinasti Muslim. So, bangsa China dan Muslim bersahabat sejak dulu.

Bukankah Sultan India mengirimkan duta besarnya, Ibnu Battutah ke negeri China?

Dan bukankah temuan bangsa China berupa kertas, disebarkan oleh pedagang Muslim ke wilayah Eropa?

Aaaaah… *kesenengan sendiri*

Saya jadi semakin ingin jalan-jalan ke Chinaaaaa…

Gambar

 

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s