Isabella, Muslimah Spanyol (Review Novel “Isabella” terbitan Navila)


Well, beberapa malam lalu saya tiba di rumah dalam keadaan sangat bosan dengan suasana. Saya bosan dengan bahasa buku, saya bosan dengan bahasa akademis nan metodologis. Saya butuh bacaan ringan. Santai tapi tidak terlalu santai. Bahasa indah mendayu-dayu penuh imajinasi. Saya butuh novel. Novel ringan saja, tapi juga agak ‘mikir’. Jelas bukan novel semacam Inferno-nya Dan Brown yang butuh konsentrasi. Tapi juga bukan novelnya Tere-Liye yang bisa saya habiskan dalam hitungan jam. It had to be something in between. Light but not too light. 

Jadilah jemari saya menyusuri buku-buku yang berjajar di rak buku saya. Dan saya melihat sebuah novel yang tidak selesai saya baca. Jusulnya “Isabella”. Saya membelinya beberapa tahun lalu saat sedang tertarik dengan isu perbandingan agama. Judul depannya sangat ‘menggoda’. Best Seller dan True Story. (Konon katanya) Sebuah kisah nyata seorang perempuan Nasrani di Spanyol (di era kejayaan Islam… Saat jalan-jalan di Cordoba dipenuhi cahaya bahkan ketika malam tiba) yang masuk Islam dan menggegerkan se-Spanyol.

Gambar

Saya mulai membukanya lagi malam itu.

Isabella, sebagai tokoh utamanya digambarkan sebagai sosok cantik jelita yang diharapkan ayahnya, rohaniawan Katolik ternama se-Spanyol untuk menjadi biarawati. Ia adalah gadis terpelajar, santun dan sangat cinta pada Tuhannya. Kisah ini berawal dari sebuah curi dengar. Ya, Isabella mencuri dengar percakapan dua orang cendikiawan Muslim yang membicarakan tentang agama Katolik. Sang cendikiawan, Umar Lahmi, mendiskusikan kepada rekannya, Muaz, perihal kontradiksi dalam agama Katolik yang kemudian mengusik Isabella untuk mempertanyakan kembali agamanya.

Singkat cerita, Isabella mengumpulkan para rahib Katolik untuk sebuah diskusi bersama Umar Lahmi dan para cendikiawan Muslim lain. Akan tetapi para rahib gagal menjawab pertanyaan yang dikemukakan Umar Lahmi. Hal ini mengejutkan Isabella. Ia tidak pernah berpikir sebelumnya bahkan para rahib terhormat pun tidak mampu menjawab pertanyaan yang mendasar. 

Alurnya mudah ditebak. Isabella kemudian masuk Islam, membawa serta tiga sahabatnya yang juga merupakan putri rohaniawan Katolik terkemuka. Suatu hari, berkat rencana ketiga sahabatnya, Isabella berhasil kabur dari penjara yang dibuat oleh para rahib sebagai tempat pendera diri. Isabella lalu mempelajari Islam dengan sangat dalam dan menjadi cendekiawan Muslim tempat banyak orang berguru padanya.

Jujur, saya berusaha meng-google Isabella of Spain untuk mengetahui apakah ini memang kisah nyata. Saya memang menemukan cerita yang exactly serupa hanya saja dalam bahasa Inggris. Tapi tidak bisa menjadi patokan kebenaran kisah Isabella ini. Detail dalam novelnya terlalu detail untuk sebuah kisah nyata. Penggambaran ruang untuk mendera diri bagi para rahib agak terlalu menyeramkan untuk saya dan membuat saya mempertanyakan kebenarannya. Apakah ruangan sedemikian memang benar-benar ada? Apakah tradisi Katolik untuk para biarawan dan biarawatinya memang seperti itu? Ataukah itu hanya khayalan sang pengarang saja?

Namun, lalu saya teringat Da Vinci Code dan tokoh Silas yang menyiksa dirinya untuk mengingat penebusan dosa Kristus (if I’m not mistaken)…

But anyway, buku itu cukup menambah pengetahuan perbandingan agama untuk saya pribadi. Saya tidak mau ambil pusing dengan urusan agama lain. Lakum diinukum wa liiya diin (bagimu agamamu, bagiku agamaku).Saya hanya penasaran dengan klaim “true story” yang ada di cover depan novel tersebut. Ke-true story-annya agak kabur menurut saya. Karena, kebetulan ada seorang perempuan yang juga bernama Isabella dengan perilaku yang kontradiktif. Isabella of Spain adalah ratu yang menjagal Muslim dan Yahudi di Spanyol. Memaksa mereka murtad atau mati, dan memaksa umat Islam untuk memakan babi. Apakah benar ada seorang Isabella lain yang memeluk Islam dan menyebarkannya di Spanyol sebelum Isabella penjagal? Mengapa nama di novel itu bisa sama? Sama-sama Isabella… 

Mungkin saja kisah itu nyata, atau mungkin juga tidak benar-benar nyata tapi hanya terinspirasi dari kisah nyata dengan sedikit hiperbola sebagai bunga penulisan sastra. Saya sih berharap yang pertama. Karena apabila benar, Isabella sungguh menginspirasi. Sayang, tidak ada kisah cintanya dalam novel tersebut, dengan siapa dia menikah dan bagaimana mereka bertemu. Lalu berapa anak mereka dan apakah mereka masih hidup saat Isabella penjagal beraksi. 

Gambar   

But overall, sebagai novel perbandingan agama, saya katakan cukuplah untuk menambah pengetahuan karena penulisnya sudah melengkapi dengan footnote. Dan beberapa poin sudah pernah saya dengar dalam kajian Kristologi, jadi sekedar peneguhan saja untuk saya. Saya juga sebenarnya mengharapkan lebih banyak detail latar Cordova dideskripsikan dalam novel tersebut; akan tetapi penulis tidak menggambarkan sebanyak yang saya harapkan (Tidak seperti Habiburrahman El-Shirazy menggambarkan Alexandria dalam Ayat-ayat Cinta <3) .

Penasaran banget soalnya…

Seperti apakah kiranya wajah Spanyol ketika nama Allah disebut di setiap sudutnya?

 

 

 

 

 

 

 

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s