Agama Dibawa-bawa…


“Akan datang suatu zaman dimana orang yang berpegang teguh pada agamanya seperti orang yang menggenggam bara api.”
(HR. Tirmidzi)

*******

Suatu siang, beberapa tahun lalu. Saya terbungkam, secara literal. Speechless, kata orang. Seorang teman mengatakan sesuatu pada saya seraya bercanda, “Rasulullah lo bawa-bawa…”. Konteksnya apa, saya sudah lupa. Saya hanya ingat menyebut sesuatu tentang Rasulullah SAW di tengah-tengah diskusi.

Tanggapan teman saya itu membuat saya diam. Benar-benar diam. Satu sisi hati saya (jika yang disebut hati punya sisi) tidak bisa terima, sisi lainnya sibuk bertanya-tanya “bagaimana bisa?”.

Rupanya semakin ke sini, membawa-bawa unsur keagamaan, ke-Tuhan-an adalah sesuatu yang tabu. Menyertakan Tuhan konon adalah pelecehan terhadap ke-Tuhan-an. Membuatmu diskriminatif, old fashioned, dan tidak pancasilais (apapun artinya itu). Apabila tabu harus dijabarkan, maka homoseksual sepertinya lambat laun akan keluar dari kriteria tabu. Membicarakan homoseksual dan mempertentangkannya-lah yang semakin hari semakin tabu. Bertato tidak tabu. Minum bir juga tidak tabu. Alih-alih kombinasi tato dan bir adalah bentuk kemerdekaan baru. Modern, bebas, dan berpikir maju. Tato dan bir, jika saya boleh menggeneralisir secara subjektif, menjaring pasar baru anak-anak muda yang mendobrak ke-tabu-an edisi lalu.

“Agama lo bawa-bawa…”

Demikian kata mereka. Kata banyak orang. Baik itu dalam kata-kata frontal, atau samar-samar. Saya agak bingung awalnya. Bagaimana harus mengurainya: Agama jangan dibawa-bawa.

Lalu apa yang harus saya bawa? Bukankah agama, ad-diin, adalah apa yang saya hirup, yang dengannya saya hidup? Dimana harus saya tinggalkan? Apa yang harus saya kenakan menggantikannya?

Apakah modernitas yang menggantikan Islam sebagai agama saya, padahal modernitas sudah terganti dengan post-modern? Apakah ilmu yang menggantikan Islam, padahal cendekiawan Muslim-lah yang membangun pondasi keilmuan dan menginspirasi dunia dengan cahaya pengetahuan?

Apa yang dibuat oleh tangan manusia, akan terganti. Cepat atau lambat. Maka, logika saya mengatakan bahwa ianya tak bisa dijadikan pegangan. Karena hidup tidak mengenal siaran ulang, atau edisi revisi. Jadi bukankah semestinya pada hidup yang hanya sekali tayang ini, hanya yang sejati saja yang harus saya bawa?

Dan apabila mereka hendak memperdebatkan kesejatian, melabelinya dengan kata-kata relatif; sungguh saya berani mengatakan; bukan agama ini yang salah. Mereka yang terlalu sombong meninggalkan Tuhan yang sejati, dengan dunia yang akan segera selesai.

 

 

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s