Sesaat Bersama Para Penjaga Cilik


Tahukah apa yang selalu “menghancurkan” hati saya?

Siang ini, seperti biasa saya turun dari tempat peraduan saya di ruang dosen lantai 4 untuk membeli makan siang. Di lobby, mata saya bertemu dengan pemandangan indah, gadis-gadis cilik berhijab lebar dengan wajah cemerlang. Baru saya ingat hari ini ada lomba tahfiz Quran di auditorium.

Saya lalu sampai di bazaar yang kerap diadakan di selasar untuk mengambil pesanan hijab dan gamis. Tiba-tiba saya kehilangan keinginan untuk membeli makan siang. Saya harus ngobrol-ngobrol dengan gadis-gadis cilik penghafal Qur’an sebelum mereka pulang. Jadi, setelah transaksi per-baju-an saya selesai, saya bergegas menuju Lobby, tempat gadis-gadis cilik itu duduk.

Saya menyapa salah satunya. Berkerudung ungu dan gamis bercorak merah jambu. Kulitnya sawo matang dengan mata sipit menarik.

Isma namanya. Saat ini duduk di kelas 4 SD. Ia dan teman-temannya datang dari Pondok Pesantren Bayt Quran, di bilangan Ciputat.

“Isma berapa hafalannya?”, tanya saya.

Si kerudung ungu berbisik dengan teman sebelahnya, berusaha mengingat-ingat jumlah hafalannya. Terdengar bisik-bisik temannya, “udah sepuluh”.

“Sepuluh…”, jawabnya perlahan.

Saya lalu duduk di sebelahnya, meminta dibacakan satu surat yang menjadi kesukaannya. (Tadinya saya mau minta dibacakan surat Maryam, tapi takut kepanjangan… hehehe…)

Isma lalu membacakan surat Al-Fajr, yang juga menjadi favorit saya. Bacaannya tartil, indah, dan sempurna bagi telinga saya. Basah rasanya hati saya yang kerontang karena haid seminggu ini.

Surat Al-Fajr pun sempurna dibacakannya, tanpa cela.

“Mudah-mudahan terus sampai 30 juz ya… Doain aku juga ya…,” ucap saya padanya.

“Didoain biar bisa jadi hafizhoh…,”ujarnya sembari mengurai senyum.

“Doain juga biar anaknya kayak…”

“Iya, didoain supaya punya anak-anak hafizhoh…”, sambungnya masih dengan senyuman.

Sesaat saya membuang pandang, menahan nafas, menahan air mata. Karena saya “tidak kuat”, jadi saya mohon diri. Gadis-gadis kecil itu bergantian bersalaman dan mencium tangan saya. Ah, sungguh tidak pantas mereka mencium tangan saya. Saya-lah yang harus mencium tangan-tangan mereka, tangan-tangan penjaga firman-Nya.

:”)

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s