Ir-Rasional=Out of The Box


“Barangsiapa bertakwa kepada Allah niscaya Dia akan mengadakan baginya jalan keluar. Dan memberinya rezeki dari arah yang tiada disangka-sangkanya. Dan barangsiapa yang bertawakkal kepada Allah niscaya Allah akan mencukupkan (keperluan)nya. Sesungguhnya Allah melaksanakan urusan yang (dikehendaki)Nya. Sesungguhnya Allah telah mengadakan ketentuan bagi tiap-tiap sesuatu.” (Q.S. Ath-Thalaq 2-3)

Dikenalkan kepada sebuah situs oleh seorang teman kemarin, saya penasaran membukanya hari ini. Dan ada satu tulisan yang menggelitik saya. Si Penulis mengomentari orang-orang yang menurutnya irasional dalam berbisnis karena mengutamakan “beramal” dan “sedikit-sedikit Tuhan”.

Saya ingat betapa irasionalnya Mang Lilik, yang ceritanya juga sudah saya muat di sini, ketika menjual sawahnya untuk berhaji. Lelaki asal Jawa Barat itu profesinya “hanya” sebagai tukang kebun yang penghasilannya jelas tidak sama dengan pegawai bank. Tapi, ia menjual sawah, yang mungkin satu-satunya harta peninggalannya untuk menyempurnakan rukun Islam.

Kurang irasional apa? Saat itu saya masih terlalu kecil untuk berkomentar, tapi entah bagaimana kenangan ketika orang-orang meng-irasional-kan Mang Lilik masih lekat di kepala saya.

“Nanti sampai di sini mau makan apa?”, demikian kira-kira bunyi komentar orang-orang sekitar saya. Setidaknya demikian yang saya ingat.

Tapi Mang Lilik masih sehat wal afiat sampai hari ini. Dan demikian pula dengan keluarganya. Sepetak sawah yang sudah digadaikan dengan “Haji”, tidak mengurangi rezekinya, walaupun tidak lantas serta-merta menjadikannya Menteri Perkebunan dan Perbungaan. Mang Lilik tetaplah Mang Lilik yang tukang kebun. Yang sama seperti kita semua, bergantung hidup, makan-minum-segalanya, kepada Tuhan.

Jadi, saya pikir, saya dan Penulis di mojok.co itu beredar di garis edar yang berbeda. Mungkin. Karena dalam benak saya, jangankan sedikit-sedikit; semestinya seluruh hidup kita menyertakan Tuhan. Karena hanya karena-Nya-lah saya, kamu, Penulis mojok.co, mereka, dia, kalian semua; ada. Saya ada, dari ketiadaan. Saya menuliskan ini semua, saya bicara anu dan anu; setelah mengalami 365 (atau sesekali 366) hari dikalikan 28 lebih beberapa bulan plus beberapa hari kejadian yang menjadikan saya adalah saya. Mengapa saya yang mengalami dan bukan orang lain? Bukankah segalanya sudah ada Allah yang mengaturnya? Sedangkan saya hanya bisa berusaha, karena Allah Sang Maha Mengatur segala menciptakan hukum kausalitas: Barangsiapa yang mengikuti-Nya dan berusaha dengan sungguh-sungguh, Allah akan melapangkan jalannya.

Rasional perlu. Karena untuknyalah, saya pikir, Allah menciptakan akal. Tapi, berpikir out of it, out of the box (ini pemahaman saya tentang out of the box), saya yakini akan membawa kita see and beyond things. Karena bukankah kita kerap terpenjara dalam rasio kita sendiri dalam memaknai nasib yang kita jalani? Mempertanyakan kegagalan demi kegagalan yang kita alami? Atau mempertanyakan “pilihan” yang diberikan Tuhan kepada kita?

Dan bukankah “box” bernama rasio itu pula yang kerap menjadikan kita terperangkap dalam jerat kapitalisme? Ketakutan akan ketidakpunyaan, yang menjadikan banyak orang menghamba pada materi dan kepemilikan.

Wallahu A’lam 

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s