My reading lists

Sebelum mengukuhkan diri sebagai blogger buku (dan masih pengen jadi travel blogger dan beauty blogger sebenarnya ~maunya apa sih shinta~), saya menchallenge diri sendiri untuk menyelesaikan beberapa buku yang sudah saya baca sedikit, tapi tidak selesai karena berbagai alasan. Jadi, mohon kiranya untuk tidak diejek kalau dalam list ini banyak buku2 yang sebenernya udh “yaelah kemana aja lo, shin” banget.

1. To Kill a Mockingbird
Buku lama, memegang rekor sebagai buku terlaris di dunia dan sudah difilmkan. Baru baca dua bab deh. Ceritanya bagus. Saya suka banget sama tokoh atticus yang sangat humanis. Tp kayaknya butuh baca sampai khatam tam, baru bisa bicara banyak.

2. The Year of Living Dangerously. Sebenarnya saya sangsi buku ini masih ada di tangan saya. Hahahaha. Tp cerita ttg (klo ga salah) kebijakan2 era sukarno di indonesia menarik banget nih. Apalagi ini kisah nyata yg ditulis olh jurnalis asing d masa itu. Dan sudah difilmkan pula. Dulu sih belinya karena murahhhh bangettt diobral di bookfair.

3. Bumi Manusia.
Jujur, saya suka banget sama bukunya. Ada value yang kaya dan sejarah yang menarik. Dan entah rasanya bisa banget dilihat dr teori poskolonial. Serta nggak tau gimana, saya kok jd lbh yakin sama agama saya. Sebenernya tau sih, cuma males aja bahas di sini. Hehe. Lagipula bukunya baru dibaca separo. Tokohnya aja saya udh ga inget.

4. Totto Chan.
Yang ini membaca ulang. Saya sudah pernah baca jutaan taun lalu. Jutaan taun versi semut. Hehe. Sangat menghibur dan menginspirasi.

5. Berjalan di Ayas Cahaya.
Sekuelnya 99 Cahaya di Langit Eropa. Dunia Islam di luar negeri selalu menarik perhatian saya. Tapi buku keduanya ini beda. Genrenya sama. Hanya saja ditulis oleh beberapa penulis, bukan cuma Hanum Rais.

Nah, demikian 5 buku yang saya tetapkan sebagai tantangan. Setidaknya untuk 3 bulan ke depan.

Tapi kalau dipikir2 kenapa ya saya bisa nggak selesai bacanya? Kayaknya karena saya gampang kedistract deh. Mungkin karena pekerjaan sebagai dosen mewajibkan saya untuk banyak membaca juga di luar buku2 tersebut, saya jadi susah fokus. Soalnya membaca akademis kan butuh konsentrasi ya menurut saya. Sementara beberapa buku di atas juga detailnya banyak, bukan sesuatu yang bisa selesai sehari gitu…

Jadi skrg saya juga sekaligus menantang diri untuk membagi waktu. Supaya kepala saya isinya nggak teori doangan (edisi betawinya keluar). He..

Happy reading juga buat kamuuuu ♡

Cerita Romansa SMA, Dilan dan Milea

(Review Novel “Dilan, Dia adalah Dilanku Tahun 1990” Karya Pidi Baiq)

20150425_233033 20150415_220030

Penerbit: Mizan Media Utama

Tahun Terbit: 2015

Membaca buku ini sekaligus juga adalah perkenalan pertama saya dengan karya-karya Pidi Baiq. Jauh sebelum ini, teman saya sudah sering menyebut, meng-quote kutipan bukunya, atau kerap juga saya temukan tweet ulang kicauan penulis unik ini berseliweran di timeline Twitter saya. Hingga suatu ketika, seorang teman yang lain menyebut buku ini ketika saya bertanya rekomendasi buku yang ringan tapi menyenangkan di status FB saya.

Sebetulnya saya mencatat beberapa rekomendasi. Tapi, hari itu, di toko buku dekat rumah saya, beberapa buku yang direkomendasikan ternyata sedang kosong stoknya (dan satu buku lagi serial detektif, yang sepertinya sedang tidak cocok dengan mood saya), jadilah saya membeli buku berjudul “Dilan, Dia adalah Dilanku Tahun 1990” yang sudah ada di jajaran best seller (padahal baru beberapa bulan terbit).

Bagian-bagian pertama berhasil membuat saya senyum-senyum sendiri, bahkan tertawa. Banyolan khas 90-an (rasanya ada sedikit gaya-gaya Lupus di situ), dan dialog yang disusun dalam bahasa tutur khas Bandung memiliki kedekatan tersendiri dengan saya yang pernah menghabiskan dua tahun (dari empat tahun kuliah di Jatinangor) di Bandung. Dan karena settingan-nya adalah masa SMA, saya jadi sedikit terhanyut dalam romantisme masa-masa silam. Maklum setelah tujuh tahun menikah, saya lupa rasanya di-PDKT-in. Hihi.

“Dia lagi!” bisik Revi seperti ngomong sendiri.

Revi adalah teman sekelas, yang berdiri di sampingku.

“Siapa dia?” kutanya Revi.

“Dilan.”

“Oh.”

Itulah harinya. Hari aku tahu namanya.

Ya, Dilan, sesuai judulnya memang menjadi tokoh utama dengan karakter yang kuat. Dia digambarkan dengan sosok yang unik, cerdas, tulus dan jujur dengan caranya sendiri. Dilan selalu berusaha membuat Milea, gadis yang dicintainya (yang juga menjadi penutur dalam novel tersebut) merasa dicintai; dan memastikan bahwa dirinya baik-baik saja. Dilan itu keren, dan bahwa dia digambarkan tidak sempurna di beberapa sisi meningkatkan kekerenannya.

Seperti isi suratnya untuk Milea di bawah ini, misalnya:

“Milea, kamu cantik. Tapi, aku belum mencintaimu. Enggak tahu kalau sore. Tunggu aja.”

Perempuan mana yang tidak akan meleleh dengan secarik surat bertuliskan kata-kata tersebut? Perempuan mana pula yang tidak akan merasa tersanjung jika ada lelaki yang rela berbuat apapun demi mempertahankan harga diri perempuan yang dicintainya?

Saya rasa penokohan Dilan dan gambaran kisah kasih Dilan dan Milea adalah kekuatan dari novel ini. Kekuatan lainnya adalah gaya bahasa khas Pidi Baiq yang sejujurnya agak scattered, tidak sesuai gramatika pada beberapa bagian, tapi berhasil dikemas dengan apik sehingga terasa cerdas dan mengena.

Namun demikian, saya sempat hendak berhenti membacanya karena alurnya menurut saya mudah ditebak sehingga terasa flat terutama menjelang akhir, serta kesulitan saya untuk menempatkan diri di sisi Milea (karena mungkin ter-distract dengan tokoh Kang Adi :p) dan menebak karakteristik dirinya yang seakan terlalu flawless. Tapi, demi semangat menyelesaikan apa yang sudah saya mulai, akhirnya khatam juga novel bercover Navy blue ini.

Saya agak penasaran sama buku keduanya, dan berharap Milea tidak menikah dengan Dilan, tapi dengan orang lain. Mungkin Kang Adi (teuteup), atau Piyan yang menjadi sidekick-nya Dilan. Karena kalau menikahnya dengan Dilan, kisahnya menjadi terlalu mainstream.

(Ditambah kalau ditinjau dari judulnya “Dilan, Dia adalah Dilanku Tahun 1990”, maka probabilita “Dilan”-nya Milea yang sekarang bukan “Dilan” yang itu, kan?)

At last,

Buat saya, novel ini nilainya 3 out of 5. Cocok untuk anak muda masa kini, generasi 90-an, dan yang ada di antaranya macam saya :D; yang menginginkan bacaan ringan di waktu senggang.