Serpihan Hati di Toko Buku


Ada banyak kenangan dan serpihan hati saya yang tertinggal di Gramedia Dago, Bandung. Bukan, ini bukan tentang cinta-cintaan apalagi cita-citata. Sebagian besar momen saya di toko buku terbesar di Indonesia (yang sayangnya masih belum mengizinkan pegawai muslimahnya berhijab, mudah2an segera) itu justru saya habiskan sendirian. Tapi, ada sesuatu yang sangat menenangkan dalam kesendirian itu. Konon namanya adalah “Me Time”.

Seperti menemukan surga dan ecstasy di antara tumpukan buku-buku berrgam genre. Seringkali saya keluar tanpa membeli buku. Tapi melihat-lihat, numpang baca sebentar (nyobain “tester”) saja sudah membuat saya senang.

Untuk waktu yang lama saya kehilangan kesenangan terhadap buku fiksi. Membeli bukunya pun malas. Otak saya mulai “kidal”, dan saya salahkan tumpukan skripsi sebagai biang keroknya.

Membaca buku fiksi harusnya pake hati. Ketika alur cerita semacam (kalau kata suami saya) tidak taat pada logika, saya cepat kehilangan minat.

Tapi bahkan otak pun perlu beristirahat. Terima kasih pada pidi baiq dan raditya dika yang tulisan-tulisannya mampu membuat kepala saya ter-relaksasi sejenak. Terpingkal-pingkal hingga terbatuk-batuk saya membaca buku mereka, khususnya Raditya Dika. Buku yang, maaf ya Radit, dulu saya pandang sebelah mata, ternyata mampu mengembalikan cita rasa dan kekananan otak saya, serta memberikan kesan mendalam: sesekali hidup itu harus keluar dari hukum semesta.

Lalu hari ini pun datang. Sebuah obrolan singkat dengan rekan kerja memunculkan majalah “Nat Geo” dalam topik cerita. Majalah yang sering saya beli dulu, walaupun saya memang truly suka tapi pride dan ego masa remaja lebih mendominasi. Saya seakan-akan ingin menyatakan pada sesama remaja , “hello ketika lo semua beli majalah fashion-fashion yang so shallow, gw beli ini untuk peradaban”. Yah, harus saya akui saya kualat banget. Hahahaha… (Allah, ampuni masa muda hamba)

Bersama saya, ada seorang teman (entahlah, tadinya hendak mengetik sahabat, tapi urung…) yang juga menyukai “Nat Geo”, dan juga senang membaca. Rasanya menyenangkan sekali punya teman yang punya minat serupa, yang saling berbagi excitement yang sama ketika di toko buku.

Entah mungkin kebetulan, saya sedang whatsappan juga dengan dia, ketika saya kemudian menyadari perubahan gaya bahasanya yang terasa formal. You know, rasanya aneh banget. Sejak kapan semuanya berubah ya?

Pulang kantor, saya ke Gramedia bersama adik saya. Di jajaran best seller, Ghazi karya Felix Siauw masih terpampang nyata (eaaa..). Teringat lagi saya akan teman saya itu dan buku Gajah Mada yang gemari. Sepertinya, ia akan suka juga pada Ghazi. Saya pun jadi ingat belum memberinya kado. Haruskah saya hadiahkan? Ah tapi… bagaimana kalau tidak suka?

Bagaimana kalau rentang waktu yang sangat lama dan jarak membuat saya memang menjadi orang asing buatnya?
Lalu…rasanya seperti bertepuk sebelah tangan.

Lalu, saya mulai mengingat berapa banyak sisa sahabat perempuan saya yang masih tau “saya banget” selain suami saya? Yang tidak akan membuat saya merasa asing walaupun waktu berganti, tahun berbilang? Yang, in my point of view, tidak membuat saya merasa ditinggalkan? Rasanya kurang dari 10 orang saja (dan padahal saya punya ribuan teman di FB -_-).

Hhhh… *ceritanya narik nafas*

Boleh jadi benar kata seorang teman saya yang lain, kelak ketika dewasa, jumlah orang-orang di lingkaran kita semakin sedikit walaupun jumlah teman kita banyak.

Namun demikian, saya masih berharap, berdo’a kepada Allah agar Allah memberikan saya sahabat-sahabat yang “abadi”.

Yang akan tulus mendoakan saya diam2,

yang berharap yang terbaik untuk saya (karena ada juga TTS-Temen tapi Saingan),

yang mengingatkan saya pada Allah,

yang menyemangati saya untuk tidak putus asa dari rahmat Allah (dan meyakinkan saya bahwa saya bisa menjadi ibu yang baik-instead of menanyakan terus pertanyaan yang saya sendiri tidak tau jawabannya),

dan yang kelak bertetangga dengan saya di surga-Nya (aamiiin, insyaAllah).

Kan, bener kan? Toko buku banyak menyimpan serpihan hati saya🙂

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s