Isu

isu_wpSuatu hari, di dalam lift, saya bertemu dengan seorang mahasiswi (sebut saja dia mahasiswi :p).

Saya: “Hei Mahasiswi!”

Mahasiswi (kebetulan angkatan dia manggil saya ‘Mbak’): “Hei Mbak! Katanya Mbak waktu itu nikah ya?”

Saya: “Ha?”

Mahasiswi: “Iya, ada yang bilang gitu…”

Saya (asli bingung campur geli-geli gimana gitu, lalu jadi terstimulasi untuk iseng): “Kok kamu nggak dateng?”

Mahasiswi: “Iya, waktu itu juga Pak Dosen (mahasiswi menyebut kolega saya sesama dosen yang memang baru menikah) nikah, terus Mbak juga. Abis nggak ada yang ngajakin jadi aku nggak dateng”

Saya (senyum lebaaaaar banget, sembari berjalan bareng mahasiswi keluar lift): “Saya nikahnya udah lama kaliiiii”

Mahasiswi: “Oh gitu, kalo gitu temen aku salah dong kasih infonya….”

Saya masih senyum-senyum sambil melangkah ke mobil. Senyum-senyum ge-er. Tau dong rasanya… Wong nikahnya udah tahun 2008 pas abis jadi sarjana. Jadi saya berasa…berasa dikira muda. Entah dikira muda, atau menikah tua.

Di kesempatan berbeda, saya menceritakan hal ini pada teman-teman sesama dosen. Lalu salah seorang teman saya, sebut saja Pak Dosun juga berbagi pengalamannya (dengan sedikit gubahan):

“Emang mahasiswa suka gitu. Masak kemarin mahasiswa saya dateng-dateng bilang dia mau bimbingan karena katanya saya mau naik haji. Jadi, katanya, sebentar lagi sudah mulai manasik. Saya sih aamiin-in aja. Daftar haji aja belom, nabung juga belom…”

Saya tidak hendak menuduh mahasiswa suka bikin isu. Atau membahas mahasiswa-mahasiswa yang suka comel. Bukan. Saya tertarik dengan fakta seringnya kita menambahkan, atau menyempurkan bagian-bagian cerita yang tidak kita dapatkan secara utuh dengan kesimpulan kita sendiri. Sadar atau tidak sadar.

Melihat tetangga cantik, masih muda, pulang pagi; maka kita akan mulai menyusun potongan-potongan informasi tersebut, mengkombinasikan dengan frame of reference dan field of experience yang sudah kita miliki mengenai perempuan cantik yang pulang pagi dan membungkusnya dengan satu simpulan sederhana: Perempuan Nggak Bener.

Saya, sebagai orang yang saat ini menuliskan ini, dan pernah juga mengajarkan ini di kelas; tidak luput bahkan jangan-jangan kerap melakukan ini. Kesesatan berpikir karena kita memilih “potong kompas”, atau tidak mau repot. Apa yang sudah tersedia di kepala kita sudah cukup, menurut kita. Dan seakan-akan puzzle-puzzle informasi yang kita anyam bersama pengalaman dan pengetahuan kita (yang entah benar atau tidak) sudah valid untuk kita, dan untuk orang lain. Kita kerap merasa berhak menyebarluaskannya.

Sedihnya, tidak perlu menjadi uneducated untuk tidak melakukan ini. Banyak saya temukan orang yang titelnya banyak (pertanda ia sudah bertahun-tahun sekolah), tidak cukup cerdas untuk memilah, mana yang prasangka-nya sendiri dan mana yang fakta. Mana bagian yang sudah ia tambah-tambahkan dengan pengalaman dan pengetahuannya, dan mana bagian yang memang ia lihat sendiri sebagai realita. Menyimpulkan memang tidak boleh segampang itu. Apalagi menyimpulkan perilaku manusia.

Jika kebetulan, isu yang dihembuskan menyenangkan seperti saya baru nikah atau rekan saya mau naik haji; mungkin bisa menerbitkan senyuman. Bagaimana kalau yang terjadi adalah fitnah?

“Kok dia nggak dateng waktu Bapakmu sakit?”

“Anu, waktu pilpres kemarin dia milihnya beda sama kita”

“Oh gitu. Mosok segitunya sampe nggak besuk bapakmu”

Padahal, bisa jadi yang sedang dirasani saat itu sedang sakit juga. Atau jangan-jangan sedang mengangkat tangan mengucap do’a untuk kesembuhan Bapak temannya.

🙂

Advertisements

Terima Kasih, Pak Jokowi

“Orang yang tidak berterima kasih kepada manusia,

berarti ia tidak bersyukur kepada Allah”

(HR. Tirmidzi no.2081, ia berkata: “Hadits ini hasan shahih”)

picture002

Saya bukan pemilih Jokowi, but I do always try to stand on the right side, sebelum “right side” itu dikuasai para pemilihnya yang entah benar di sisi Allah atau tidak. Saya juga bukan penggemar Jokowi, bahkan ketika orang-orang memujanya ketika menjadi Walikota Solo. Sekarang pun, jika boleh memilih, saya tidak ingin dipimpin oleh Jokowi, walaupun saya sebagai orang beriman wajib meyakini ketentuan Allah bahwa memang beliau-lah yang terbaik untuk rakyat Indonesia.

Betapa tidak, Jokowi seakan menjelma menjadi sosok suci yang membuat semua orang berbaik sangka padanya. Jangan berani-berani mengkritisi Jokowi, kalau tidak mau dikuliti oleh penggemar fanatiknya, yang ironisnya kadang mereka adalah teman dekat kita yang kita kenal lama; sedangkan Pak Jokowi…bahkan ulang tahun teman kita aja, beliau nggak tau. Sungguh perilaku yang berbeda yang ditampilkan masyarakat ketika era SBY.

Padahal, era Jokowi yang belum lagi genap setahun memerintah ini, bukannya mulus-mulus saja. Saya, sebagai orang yang ingin menempatkan diri dalam golongan Islamis (semoga saya pantas), merasa dalam beberapa hal, ada upaya de-islamisasi di era Jokowi. Kaum Islamis seakan dengan sengaja tidak diberi tempat. Padahal katanya dalam sistem demokrasi, semua aspirasi didengarkan. Tapi aspirasi kami (atau setidaknya teman-teman, dan ustadz-ustadz panutan saya yang shalih shalihah) kerap ditempatkan menjadi bulan-bulanan. Dan seolah-olah bebas saja orang mengolok-olok hanya karena seseorang itu “Islamis”.

Yang paling menyakitkan buat saya adalah masalah pelemahan harga rupiah dan pernyataan Jokowi kalau dana haji turun. Dana haji turun, ketika dihitung dalam dollar. Bukan dalam rupiah. Memangnya sebagian masyarakat Indonesia yang ingin naik haji bayar haji dengan dollar? Atau punya kebun dollar?

Kan, saya jadi sensi lagi.

Kalau mau diingat-ingat, pasti tidak akan selesai. Saya tidak akan pernah puas dengan Jokowi. Atau jangan-jangan dengan siapapun pemimpinnya, karena saya inget juga pernah sebel sama SBY, sama Gus Dur, dan sama bu Mega. Rasanya cuma sama Pak Karno saya nggak punya keluhan, karena saya memang belum lahir. Bahkan masih jauh dari proses produksi. Padahal, saya juga nggak lebih baik dari presiden-presiden itu. Cuma karena saya rakyat jelata, jadi seakan boleh dan bebas-bebas aja mencari cela.

Serem juga ya saya. Kok kayak nggak bersyukur sama pemimpin.

Padahal, sebenarnya banyak juga kok hal positif yang diberikan Jokowi yang berhak kita syukuri.

Dalam isu Rohingya, misalnya. Pak Jokowi sudah sangat baik mengizinkan saudara-saudara saya sesama Muslim dari etnis Rohingya untuk, paling tidak, sementara diterima di Indonesia dengan amat baik. Dalam mencitrakan pribadinya, Pak Jokowi selalu mengesankan pribadi yang sederhana, yang mudah-mudahan bisa menjadi panutan untuk rakyat Indonesia. Termasuk dalam menyelenggarakan pernikahan anaknya yang menurut saya, untuk urusan pemimpin negara cukup sederhana. Ketika memilih Bu Susi menjadi menteri pun, walaupun awalnya saya ikutan mencibir, sebenarnya menunjukkan bahwa untuk Pak Jokowi seseorang itu tidak hanya dilihat dari deretan gelarnya saja. Dan di era Jokowi, Permendag No.6/2015 mengenai pengendalian dan pengawasan terhadap pengadaan, peredaran dan penjualan minuman beralkohol disahkan (long live Pak Rahmat :’)) –> ini mungkin satu kebijakan yang sangat Pro Islamis, dan terbukti penjualan Miras sudah turun 40%, alhamdulillah :), semoga Allah membukakan pintu rezeki yang lain, yang halal, berkah dan lebih banyak bagi para pengusaha Miras.

Apabila, by coincidence, Pak Jokowi membaca tulisan saya, saya mohon maaf kalau banyak komplain. Alhamdulillah hidup saya baik-baik saja, Pak, semoga juga dengan hidup rakyat Indonesia yang lain. Tapi saya butuh banyak sarana untuk membuat iman saya tetap “terisi”. Saya nggak akan bikin makar, kok, Pak. Bener. InsyaAllah. Sama kecoa aja saya takut… Saya cuma mau seperti teman-teman saya yang dituduh “salafi wahabi” itu, Pak. Selalu mengajarkan untuk taat pada pemimpin dan mensyukuri pemimpin. Oleh karena itu, boleh dong buka ruang untuk teman-teman saya dan ustadz-ustadz saya yang “Islamis” bisa bersuara (dan didengar :)). Jangan dibreidel lagi situs-situs Islam yang “fundamentalis”, ya, Pak. Saya sudah lama baca situs-situs itu dan alhamdulillah nggak tertarik jadi teroris. Saya yakin kalau kebijakan Bapak dan pejabat-pejabat Bapak positif, pasti didukung. Jangankan oleh manusia, Allah pasti yang menolong Bapak.

Tapi ya kan, sebagai manusia, Bapak pasti butuh penyeimbang supaya tidak dipuja-puja terus ;).

Akhir kata, saya ingin mengucapkan terima kasih, Pak Jokowi…

Semoga cepat jadi Yang Kung 😉

P.S. E-KTP saya belum jadi juga, Pak 😥 Hiks….

The Twisted Image

Cerita ini bermula ketika dini hari tadi. Saya sedang membaca sebuah artikel tentang penguasa-penguasa perempuan di era kerajaan di Indonesia. Keren sekali tentunya kan? Saya lupa bagaimana tepatnya (mungkin nyawa belum kumpul semua juga) saya kesulitan melanjutkan artikel tersebut dan malah membaca komentar-komentar yang ada. Komentar teratas sontak membuat saya melek. Seseorang yang FB-nya bukan nama sebenarnya (pake des des something gitu) menulis bahwa Islam-lah yang menjadi pengkhianat nusantara.

image

Rasanya panas membaca itu. Saya sampai memastikan berulang-ulang apa yang saya baca itu benar begitu.

Marah, itu yang saya rasakan. Itu bukan pertama kali saya mendapati komen bernada negatif tentang Islam. Dari orang Indonesia, yang tinggal berdampingan dengan masyarakat yang mayoritas Muslim. Kemarahan yang sebenarnya sudah bertumpuk-tumpuk karena fitnah demi fitnah yang mendera Islam yang membuat Islam jadi asing untuk pemeluknya sendiri. Dan rasanya kok dunia punya double standard untuk Islam. Well, actually none of them is personal issue. Tapi kalau sudah bawa-bawa agama, itu menjadi very personal buat saya.

Salah saya karena terbawa suasana. Salah saya karena carried away dengan tulisan itu. Salah saya karena bangun bukannya baca Qur’an dulu malah buka internet. Salah saya karena kecerdasan saya (baa: logika) mendadak tenggelam oleh emosi. Salah saya karena tidak sabar.

Anyway, dari situ saya jadi berpikir (capek banget nggak sih jadi saya, apa-apa dipikirin), kenapa banyak orang memilih percaya dengan gambaran yang mereka dapatkan di media massa, yang dalam hal ini adalah gambaran tentang Islam? Islam identik dengan teroris, kitab sucinya mengajarkan kekerasan (ini komen orang Indonesia di salah satu berita), ajaran agamanya tidak toleran, pemeluknya tidak cinta damai.

Padahal apakah dalam realita kita pernah bertemu dengan seorang Muslim yang benar-benar mengacung-acungkan senjata? Apakah itu mewakili sebagian besar Muslim yang ada di dunia? Apakah Islam yang sudah berabad-abad lamanya ada di Indonesia masuk dengan paksaan, penjajahan dan penindasan? Kalau memang Islam demikian identik dengan kekerasan, kekolotan, dan semua hal-hal buruk lainnya; mengapa isu ini tidak dari dulu ada? Mengapa ISIS baru ada sekarang? Dan mengapa saya, orang tua saya, dan bahkan nenek saya yang sudah sejak lahir menjadi Muslim tidak pernah diajarkan bahwa membom rumah ibadah agama lain adalah bagian dari jihad? Apakah guru-guru agama saya dan sebagian besar Muslim di dunia yang salah?

Saya malah jadi kepo, ada apa dengan dunia sehingga begitu kompak mengkonstruksi Islam sebagai teroris? Ada apa dengan Islam? Tidak cukupkah sumbangan pemikiran Shalahuddin Al-Ayyubi yag lalu diadopsi pada etika peran internasional? Pemikiran yang dilatarbelakangi oleh keimanannya yang begitu kuat? (Sumber: Nat Geo Channel) Tidak cukupkah banyak temuan dan buah pikir para ilmuwan Islam yang menjadi cikal bakal peradaban modern? Tidak cukupkah semua fakta itu untuk melenyapkan mitos bahwa Islam adalah teroris?

Well, well,

Dan padahal saya sudah baca hadits-hadits berkenaan dengan akhir zaman, tapi masih carried away juga. Jadi, walaupun sudah terlambat untuk mengucapkan, selamat datang akhir zaman. Semoga Allah menguatkan hati saya, melewati zaman ini, menjadi mereka yang “asing”, yang memegang teguh agamanya meskipun memegangnya seperti memegang bara api…

Astaghfirullah al ‘Adzim wa atuubu ilaih…

(for further reading: https://www.islampos.com/fitnah-akhir-zaman-seperti-malam-gelap-gulita-84454/ )

Serba-serbi Dosen: Cerita dari Kelas Istimewa

Hari ini semestinya saya mengajar mahasiswa semester 2. Kelas yang harusnya saya ajar ini terbilang istimewa, karena anak-anaknya yang cerdas dan berinisiatif tinggi. Salah satu dari mereka, sebut saja SR, adalah mahasiswa yang IP di semester satunya 4.00 alias straight As. SR ini juga sangat aktif di kelas. Ia kerao mengesalkan teman-temannya dengan pertanyaan-pertanyaan yang diajukan. Saya sih agak bingung kenapa budaya Indonesia tidak biasa dengan mahasiswa yang kritis, seakan-akan perilaku SR dianggap kurang sopan pada dosen oleh teman-temannya, padahal saya sebagai dosen malah merasa terbantu dengan banyak pertanyaan. Materi kuliah jadi berkembang. Dalam kegiatan non akademis pun SR ini aktif sekali. Sy kerap melihat namanya dalam susunan panitia acara himpunan mahasiswa, menjadi bagian dari tim promosi kampus, sekaligus juga tidak pernah absen di acara-acara kerohanian Islam.
Kebayang dong seperti apa anaknya?

Untuk dosen dia adalah sosok mahasiswa teladan yang seandainya saja ada 10 mahasiswa seperti SR di setiap kelas, niscaya pekerjaan dosen menjadi lebih mudah.

Jadi ceritanya, semalam SR me-LINE saya, meminta agar kelas saya hari ini dialihkan saja ke seminar karir yang diadakan MNC Group. Saya awalnya keberatan karena takut perkuliahan tidak berjalan sesuai SAP, walaupun kalau mengikuti hawa nafsu saya pun sedang tidak mood melakukan apapun. Tapi tadi pagi PR universitas meminta kesediaan saya melakukan hal yang sama.

Saya meminta SR memastikan jadwal presentasi dan kesediaan anak-anak lainnya, termasuk juga kesediaan mereka menerima konsekuensi adanya kelas pengganti kalau tidak cukup materinya. SR bisa memastikan bahwa anak-anak di kelasnya menginginkan seminar tersebut.

Sebagai akuntabilitas, saya meminta mereka mengerjakan review seminar tersebut dan mengaitkan dengan materi kuliah saya, yaitu teori komunikasi. Tidak lupa saya berikan salam manis: kalau minggu depan tidak bawa tugasnya, tidak boleh masuk kelas.

Lalu mulailah satu persatu dari mahasiswa di kelas tersebut me-LINE saya, meminta agar kuliah dilaksanakan seperti biasa. Sampai malam ini pun saya masih menerima keluhan “ya allah kenapa harus seminar…”. Atau “yang mau cuma SR bu”.

Jujur, saya tertawa membaca LINE tersebut. Bukan karena saya senang melihat mereka “tersiksa”, tapi karena kadang mahasiswa lupa atau memang tidak tahu usia dosennya paling-paling hanya berpaut 10 tahun dengan mereka.

Saya mengerti perasaan, dan kadang juga taktik mereka. Bukankah saya baru 8 tahun lalu lulus kuliah?

Kalau dikira bahwa tidak kuliah adalah win-win solution untuk mahasiswa dan dosen, they’re so wrong. Saya akan dengan “tega” menjejali mereka dengan tugas. Saya tidak mau seperti sebagian dosen saya dulu yang terkadang seenaknya meninggalkan kelas, sehingga sebenarnya kami sedikit banyak belajar sendiri.

Setiap tindakan ada konsekuensinya, setiap pilihan yang mereka buat pun demikian adanya. Dan saya semakin belajar cara meng-outsmart mahasiswa. At some point, sebagai dosen, saya harus menjaga dinamika hubungan. Or else, saya akan carried away…

Silahkan bicara santai, akrab, tapi untuk urusan akademis, ada yang harus saya pertanggungjawabkan kepada universitas yang meng-hire saya dan di atas semuanya saya harus bertanggung jawab kepada Allah.