Serba-serbi Dosen: Cerita dari Kelas Istimewa


Hari ini semestinya saya mengajar mahasiswa semester 2. Kelas yang harusnya saya ajar ini terbilang istimewa, karena anak-anaknya yang cerdas dan berinisiatif tinggi. Salah satu dari mereka, sebut saja SR, adalah mahasiswa yang IP di semester satunya 4.00 alias straight As. SR ini juga sangat aktif di kelas. Ia kerao mengesalkan teman-temannya dengan pertanyaan-pertanyaan yang diajukan. Saya sih agak bingung kenapa budaya Indonesia tidak biasa dengan mahasiswa yang kritis, seakan-akan perilaku SR dianggap kurang sopan pada dosen oleh teman-temannya, padahal saya sebagai dosen malah merasa terbantu dengan banyak pertanyaan. Materi kuliah jadi berkembang. Dalam kegiatan non akademis pun SR ini aktif sekali. Sy kerap melihat namanya dalam susunan panitia acara himpunan mahasiswa, menjadi bagian dari tim promosi kampus, sekaligus juga tidak pernah absen di acara-acara kerohanian Islam.
Kebayang dong seperti apa anaknya?

Untuk dosen dia adalah sosok mahasiswa teladan yang seandainya saja ada 10 mahasiswa seperti SR di setiap kelas, niscaya pekerjaan dosen menjadi lebih mudah.

Jadi ceritanya, semalam SR me-LINE saya, meminta agar kelas saya hari ini dialihkan saja ke seminar karir yang diadakan MNC Group. Saya awalnya keberatan karena takut perkuliahan tidak berjalan sesuai SAP, walaupun kalau mengikuti hawa nafsu saya pun sedang tidak mood melakukan apapun. Tapi tadi pagi PR universitas meminta kesediaan saya melakukan hal yang sama.

Saya meminta SR memastikan jadwal presentasi dan kesediaan anak-anak lainnya, termasuk juga kesediaan mereka menerima konsekuensi adanya kelas pengganti kalau tidak cukup materinya. SR bisa memastikan bahwa anak-anak di kelasnya menginginkan seminar tersebut.

Sebagai akuntabilitas, saya meminta mereka mengerjakan review seminar tersebut dan mengaitkan dengan materi kuliah saya, yaitu teori komunikasi. Tidak lupa saya berikan salam manis: kalau minggu depan tidak bawa tugasnya, tidak boleh masuk kelas.

Lalu mulailah satu persatu dari mahasiswa di kelas tersebut me-LINE saya, meminta agar kuliah dilaksanakan seperti biasa. Sampai malam ini pun saya masih menerima keluhan “ya allah kenapa harus seminar…”. Atau “yang mau cuma SR bu”.

Jujur, saya tertawa membaca LINE tersebut. Bukan karena saya senang melihat mereka “tersiksa”, tapi karena kadang mahasiswa lupa atau memang tidak tahu usia dosennya paling-paling hanya berpaut 10 tahun dengan mereka.

Saya mengerti perasaan, dan kadang juga taktik mereka. Bukankah saya baru 8 tahun lalu lulus kuliah?

Kalau dikira bahwa tidak kuliah adalah win-win solution untuk mahasiswa dan dosen, they’re so wrong. Saya akan dengan “tega” menjejali mereka dengan tugas. Saya tidak mau seperti sebagian dosen saya dulu yang terkadang seenaknya meninggalkan kelas, sehingga sebenarnya kami sedikit banyak belajar sendiri.

Setiap tindakan ada konsekuensinya, setiap pilihan yang mereka buat pun demikian adanya. Dan saya semakin belajar cara meng-outsmart mahasiswa. At some point, sebagai dosen, saya harus menjaga dinamika hubungan. Or else, saya akan carried away…

Silahkan bicara santai, akrab, tapi untuk urusan akademis, ada yang harus saya pertanggungjawabkan kepada universitas yang meng-hire saya dan di atas semuanya saya harus bertanggung jawab kepada Allah.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s