The Twisted Image


Cerita ini bermula ketika dini hari tadi. Saya sedang membaca sebuah artikel tentang penguasa-penguasa perempuan di era kerajaan di Indonesia. Keren sekali tentunya kan? Saya lupa bagaimana tepatnya (mungkin nyawa belum kumpul semua juga) saya kesulitan melanjutkan artikel tersebut dan malah membaca komentar-komentar yang ada. Komentar teratas sontak membuat saya melek. Seseorang yang FB-nya bukan nama sebenarnya (pake des des something gitu) menulis bahwa Islam-lah yang menjadi pengkhianat nusantara.

image

Rasanya panas membaca itu. Saya sampai memastikan berulang-ulang apa yang saya baca itu benar begitu.

Marah, itu yang saya rasakan. Itu bukan pertama kali saya mendapati komen bernada negatif tentang Islam. Dari orang Indonesia, yang tinggal berdampingan dengan masyarakat yang mayoritas Muslim. Kemarahan yang sebenarnya sudah bertumpuk-tumpuk karena fitnah demi fitnah yang mendera Islam yang membuat Islam jadi asing untuk pemeluknya sendiri. Dan rasanya kok dunia punya double standard untuk Islam. Well, actually none of them is personal issue. Tapi kalau sudah bawa-bawa agama, itu menjadi very personal buat saya.

Salah saya karena terbawa suasana. Salah saya karena carried away dengan tulisan itu. Salah saya karena bangun bukannya baca Qur’an dulu malah buka internet. Salah saya karena kecerdasan saya (baa: logika) mendadak tenggelam oleh emosi. Salah saya karena tidak sabar.

Anyway, dari situ saya jadi berpikir (capek banget nggak sih jadi saya, apa-apa dipikirin), kenapa banyak orang memilih percaya dengan gambaran yang mereka dapatkan di media massa, yang dalam hal ini adalah gambaran tentang Islam? Islam identik dengan teroris, kitab sucinya mengajarkan kekerasan (ini komen orang Indonesia di salah satu berita), ajaran agamanya tidak toleran, pemeluknya tidak cinta damai.

Padahal apakah dalam realita kita pernah bertemu dengan seorang Muslim yang benar-benar mengacung-acungkan senjata? Apakah itu mewakili sebagian besar Muslim yang ada di dunia? Apakah Islam yang sudah berabad-abad lamanya ada di Indonesia masuk dengan paksaan, penjajahan dan penindasan? Kalau memang Islam demikian identik dengan kekerasan, kekolotan, dan semua hal-hal buruk lainnya; mengapa isu ini tidak dari dulu ada? Mengapa ISIS baru ada sekarang? Dan mengapa saya, orang tua saya, dan bahkan nenek saya yang sudah sejak lahir menjadi Muslim tidak pernah diajarkan bahwa membom rumah ibadah agama lain adalah bagian dari jihad? Apakah guru-guru agama saya dan sebagian besar Muslim di dunia yang salah?

Saya malah jadi kepo, ada apa dengan dunia sehingga begitu kompak mengkonstruksi Islam sebagai teroris? Ada apa dengan Islam? Tidak cukupkah sumbangan pemikiran Shalahuddin Al-Ayyubi yag lalu diadopsi pada etika peran internasional? Pemikiran yang dilatarbelakangi oleh keimanannya yang begitu kuat? (Sumber: Nat Geo Channel) Tidak cukupkah banyak temuan dan buah pikir para ilmuwan Islam yang menjadi cikal bakal peradaban modern? Tidak cukupkah semua fakta itu untuk melenyapkan mitos bahwa Islam adalah teroris?

Well, well,

Dan padahal saya sudah baca hadits-hadits berkenaan dengan akhir zaman, tapi masih carried away juga. Jadi, walaupun sudah terlambat untuk mengucapkan, selamat datang akhir zaman. Semoga Allah menguatkan hati saya, melewati zaman ini, menjadi mereka yang “asing”, yang memegang teguh agamanya meskipun memegangnya seperti memegang bara api…

Astaghfirullah al ‘Adzim wa atuubu ilaih…

(for further reading: https://www.islampos.com/fitnah-akhir-zaman-seperti-malam-gelap-gulita-84454/ )

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s