Terima Kasih, Pak Jokowi


“Orang yang tidak berterima kasih kepada manusia,

berarti ia tidak bersyukur kepada Allah”

(HR. Tirmidzi no.2081, ia berkata: “Hadits ini hasan shahih”)

picture002

Saya bukan pemilih Jokowi, but I do always try to stand on the right side, sebelum “right side” itu dikuasai para pemilihnya yang entah benar di sisi Allah atau tidak. Saya juga bukan penggemar Jokowi, bahkan ketika orang-orang memujanya ketika menjadi Walikota Solo. Sekarang pun, jika boleh memilih, saya tidak ingin dipimpin oleh Jokowi, walaupun saya sebagai orang beriman wajib meyakini ketentuan Allah bahwa memang beliau-lah yang terbaik untuk rakyat Indonesia.

Betapa tidak, Jokowi seakan menjelma menjadi sosok suci yang membuat semua orang berbaik sangka padanya. Jangan berani-berani mengkritisi Jokowi, kalau tidak mau dikuliti oleh penggemar fanatiknya, yang ironisnya kadang mereka adalah teman dekat kita yang kita kenal lama; sedangkan Pak Jokowi…bahkan ulang tahun teman kita aja, beliau nggak tau. Sungguh perilaku yang berbeda yang ditampilkan masyarakat ketika era SBY.

Padahal, era Jokowi yang belum lagi genap setahun memerintah ini, bukannya mulus-mulus saja. Saya, sebagai orang yang ingin menempatkan diri dalam golongan Islamis (semoga saya pantas), merasa dalam beberapa hal, ada upaya de-islamisasi di era Jokowi. Kaum Islamis seakan dengan sengaja tidak diberi tempat. Padahal katanya dalam sistem demokrasi, semua aspirasi didengarkan. Tapi aspirasi kami (atau setidaknya teman-teman, dan ustadz-ustadz panutan saya yang shalih shalihah) kerap ditempatkan menjadi bulan-bulanan. Dan seolah-olah bebas saja orang mengolok-olok hanya karena seseorang itu “Islamis”.

Yang paling menyakitkan buat saya adalah masalah pelemahan harga rupiah dan pernyataan Jokowi kalau dana haji turun. Dana haji turun, ketika dihitung dalam dollar. Bukan dalam rupiah. Memangnya sebagian masyarakat Indonesia yang ingin naik haji bayar haji dengan dollar? Atau punya kebun dollar?

Kan, saya jadi sensi lagi.

Kalau mau diingat-ingat, pasti tidak akan selesai. Saya tidak akan pernah puas dengan Jokowi. Atau jangan-jangan dengan siapapun pemimpinnya, karena saya inget juga pernah sebel sama SBY, sama Gus Dur, dan sama bu Mega. Rasanya cuma sama Pak Karno saya nggak punya keluhan, karena saya memang belum lahir. Bahkan masih jauh dari proses produksi. Padahal, saya juga nggak lebih baik dari presiden-presiden itu. Cuma karena saya rakyat jelata, jadi seakan boleh dan bebas-bebas aja mencari cela.

Serem juga ya saya. Kok kayak nggak bersyukur sama pemimpin.

Padahal, sebenarnya banyak juga kok hal positif yang diberikan Jokowi yang berhak kita syukuri.

Dalam isu Rohingya, misalnya. Pak Jokowi sudah sangat baik mengizinkan saudara-saudara saya sesama Muslim dari etnis Rohingya untuk, paling tidak, sementara diterima di Indonesia dengan amat baik. Dalam mencitrakan pribadinya, Pak Jokowi selalu mengesankan pribadi yang sederhana, yang mudah-mudahan bisa menjadi panutan untuk rakyat Indonesia. Termasuk dalam menyelenggarakan pernikahan anaknya yang menurut saya, untuk urusan pemimpin negara cukup sederhana. Ketika memilih Bu Susi menjadi menteri pun, walaupun awalnya saya ikutan mencibir, sebenarnya menunjukkan bahwa untuk Pak Jokowi seseorang itu tidak hanya dilihat dari deretan gelarnya saja. Dan di era Jokowi, Permendag No.6/2015 mengenai pengendalian dan pengawasan terhadap pengadaan, peredaran dan penjualan minuman beralkohol disahkan (long live Pak Rahmat :’)) –> ini mungkin satu kebijakan yang sangat Pro Islamis, dan terbukti penjualan Miras sudah turun 40%, alhamdulillah🙂, semoga Allah membukakan pintu rezeki yang lain, yang halal, berkah dan lebih banyak bagi para pengusaha Miras.

Apabila, by coincidence, Pak Jokowi membaca tulisan saya, saya mohon maaf kalau banyak komplain. Alhamdulillah hidup saya baik-baik saja, Pak, semoga juga dengan hidup rakyat Indonesia yang lain. Tapi saya butuh banyak sarana untuk membuat iman saya tetap “terisi”. Saya nggak akan bikin makar, kok, Pak. Bener. InsyaAllah. Sama kecoa aja saya takut… Saya cuma mau seperti teman-teman saya yang dituduh “salafi wahabi” itu, Pak. Selalu mengajarkan untuk taat pada pemimpin dan mensyukuri pemimpin. Oleh karena itu, boleh dong buka ruang untuk teman-teman saya dan ustadz-ustadz saya yang “Islamis” bisa bersuara (dan didengar :)). Jangan dibreidel lagi situs-situs Islam yang “fundamentalis”, ya, Pak. Saya sudah lama baca situs-situs itu dan alhamdulillah nggak tertarik jadi teroris. Saya yakin kalau kebijakan Bapak dan pejabat-pejabat Bapak positif, pasti didukung. Jangankan oleh manusia, Allah pasti yang menolong Bapak.

Tapi ya kan, sebagai manusia, Bapak pasti butuh penyeimbang supaya tidak dipuja-puja terus😉.

Akhir kata, saya ingin mengucapkan terima kasih, Pak Jokowi…

Semoga cepat jadi Yang Kung😉

P.S. E-KTP saya belum jadi juga, Pak😥 Hiks….

4 thoughts on “Terima Kasih, Pak Jokowi

  1. Well said, Shinta. Aku suka ini!🙂
    Aku pendukung Jokowi, tapi sebel juga kalo ada kebijakannya yang aneh2. Aku nggak terlalu paham juga masalah politik. Mungkin Jokowi banyak salahnya, meskipun harus diakui dong, ada juga kebijakan2 beraninya yang belum pernah dilakukan pemerintahan sebelumnya (misalnya eksekusi bandar narkoba, membubarkan Petral, penenggelaman kapal illegal).
    Menurut aku kalo ada yang menyimpang silakan kritik sepedes-pedesnya, tapi kalo ada hal positif juga kudu berani mengapresiasi atuhlah…

    • Iya bener teh rika. Orang seringnya jadi ga fair ketika itu adalah pihak yang ga mereka sukai…

      Setuju sama teteh, intinya kita harus objektif dan berlaku adil ya, teh. ^_^

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s