My Pale Face


Ini berawal ketika saya melihat sebuah video milik akun “My Pale Face”. Video itu memperlihatkan betapa kejamnya dunia maya menghakimi wajah asli seorang perempuan, tanpa pulasan make up. Komentar-komentar menyakitkan seperti, “imagine waking up beside her”, atau bahkan “you are disgusting” hanya karena si empunya wajah menunjukkan wajah aslinya yang, yah, agak berjerawat.

Padahal, menurut saya, si mbak di video itu sama sekali tidak jelek. Entah apakah ada yang salah dengan definisi jelek dan cantik yang saya miliki sehingga standarnya berbeda dengan kebanyakan orang.

Sebagai seorang perempuan yang kecanduan pujian “cantik” dari suaminya, I really can feel her waktu di video itu air matanya jatuh. Dunia (barat) memang “kejam” pada perempuan. Sudah mah dituntut harus tampil “sexy”, harus kurus, juga harus punya wajah flawless. Dunia saat ini senang sekali dengan sesuatu yang serba polesan dan pulasan. Dan tebak, siapa korban utamanya? Yup, lagi2 perempuan.

Saya tidak anti make up. Saat hari pertama perkuliahan biasanya saya mengenakan make up tipis, atau kapan pun saya merasa perlu berbedak dan berlipstik tipis (lipstik saya bisa awet bertahun2 -_-). Tapi, menurut saya, seorang perempuan (dan laki2) semestinya berhak untuk tampil apa adanya (tanpa polesan dan pulasan ya, bukan tanpa mengindahkan nilai2 kepatutan) tanpa takut dihakimi siapapun. Dan siapapun tidak boleh menghakimi apalagi mengolok-olok.

Saya beruntung menjadi perempuan Muslim, yang meyakini bahwa Allah tidak menilai hamba-Nya dari segala polesan dan pulasan tersebut. Dan bahwa sebaik2 perempuan bukanlah yang gemar OOTD, yang seksi, fashionable, atawa full make up (ini mungkin sebaik2 perempuan standar laki2). Sebaik2 perempuan adalah yang shaliha. Sudah. Dan shaliha, standar Tuhan,  mengalahkan semua atribut2 tambahan buatan manusia.

Jadi, segala #nomakeupchallenge yang akhir2 ini marak sebagai bentuk courage terhadap perempuan sejatinya sudah lamaaaaaaaaaaaaa sekali ada dalam Islam. Bahkan tabarruj pun sebenarnya terlarang dalam Islam. Sekarang, akhirnya saya paham mengapa. Ini bukan hanya masalah menggoda lawan jenis. Make up membuat orang melihat yang “tidak nyata”, padahal diri yang baik dan sehat secara mental adalah diri yang menerima dan diterima apa adanya. Dengan make up, mudah sekali bagi seorang perempuan tergelincir pada kesombongan, pada perasaan lebih dari yang lain. Dan terakhir, agar seorang perempuan tidak menghamba pada standar laki2, dan hanya menghamba pada standar Allah semata.

Wallahu a’lam

Subhanaka laa ‘ilmalana illa maa ‘allamtana…

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s