Next Destination, please…

Apabila ada satu kota yang begitu istimewa di hati jutaan Muslim di seluruh dunia; maka itu adalah Madinah Al-Munawarah. Madinah, yang bercahaya.

Di sanalah, peradaban Islam dibangun oleh Nabi Muhammad SAW. Bukan dengan harta dan kemewahan, karena Nabi Muhammad SAW dan sahabat sepeninggal beliau tidak meninggalkan prasasti penanda kekuasaan ataupun istana sebagai bukti kemegahan.

Hanya masjid sederhana, yang kemudian dimakmurkan dan diluaskan oleh kerajaan Saudi Arabia untuk menampung jamaah yang semakin bertambah.

Dan di sana, di bawah kubah hijau dan menara putih; terbaring Nabi-ku (SAW) bersama kedua sahabatnya…

Beliau (saw) yang sederhana, lembut, pengasih, dan pemaaf kepada manusia. Kiranya mustahil bagi siapapun yang mengenal beliau (saw), percaya begitu saja bahwa ajarannya penuh kekerasan dan kebencian.

Kesejahteraan, keselamatan, dan kemuliaan; semoga selalu tercurah untukmu, wahai Nabi-ku (saw)…

#afirmasidiri #edisikangenumroh #madinah #nextdestination

View on Path

Next Destination, Please…

Makkah adalah salah satu dari tiga kota suci bagi ummat Islam. Membicarakan Makkah, sekaligus mengingat Nabi Ibrahim (AS) yang meninggalkan istri dan anaknya di gurun pasir nan tandus yang kini dikunjungi jutaan Muslim setiap tahunnya.

Di sana terdapat Ka’bah, kiblat; arah shalat bagi ummat Islam di seluruh penjuru dunia. Ka’bah adalah tumpuan, sumbu dimana ibadah kita bertemu.

Meski berkali-kali menginjakkan kaki di sana, banyak orang tidak pernah puas dan bosan. Saya sendiri tidak bisa menjelaskan mengapa. Rasanya seluruh keindahan dunia tidak bernilai ketika kita di hadapan Ka’bah. Sejatinya, kita bukan siapa-siapa di hadapan-Nya.

#nextdestination #edisiafirmasidiri #kangenumrohlagi

View on Path

Cita-cita

Waktu kecil, saya membayangkan kelak saat dewasa saya akan bekerja di gedung tinggi, megah, di ruang kantor yang mewah. Persis seperti kantor Papa saya.

Tapi, rupanya Allah mengarahkan saya pada jalan yang lain. Sulit untuk saya bisa “betah” pada pekerjaan yang mengekang saya dengan kemegahan dan gengsi.

Cita-cita saya sejak dulu, sesungguhnya tidak pernah berubah banyak. Jurnalis. Ya, sejak dulu saya selalu ingin jadi jurnalis. Meskipun setiap psikotes, baik yang formal maupun psikotes ala-ala di internet selalu disarankan jadi PR. Saya juga heran kenapa. Dan jadi jurnalis pula alasan saya masuk FIKOM, meski akhirnya menyerah pada konformitas keluarga dan akhirnya mengambil jurusan Humas.

Sejak kuliah pula, saya sadar, saya sangat menikmati menjadi pengajar. Sebenarnya mungkin karena saya tipe orang yang “people oriented”, dan pernah menjadi orang yang ekstrovert. Jadi, bertemu dan bicara di depan banyak orang selalu membuat saya berenergi. Semacam, bergelora.

Tapi, akhir-akhir ini, saya ingin menjadi ibu rumah tangga. Ingin identitas utama saya adalah IBU rumah tangga. Walaupun mungkin banyak yang akan mengernyitkan dahi.

Seriously?

Yep.

Saya ingin jadi IBU rumah tangga yang juga dosen. Yang juga penulis. Yang juga membuka sekolah untuk Muslimah cilik dan perpustakaan lengkap dengan pojok dongeng.

Saya ingin jadi IBU rumah tangga yang juga fasih berbahasa Arab dan Perancis. Yang juga punya toko buku. Yang melahap buku2 sejarah di antara pergumulan sapu dan debu.

Saya ingin jadi IBU rumah tangga yang membesarkan anak2 saya dengan tangan saya sendiri. Yang menjadi guru pertama mereka. Yang mengajarkan a-ba-ta-tsa. Yang menyekolahkan mereka di sekolah saya sendiri.

Saya ingin jadi IBU rumah tangga yang sekaligus juga diva dapur. Yang memastikan keluarga saya mendapatkan makanan yang sehat dan lezat.

Saya ingin jadi IBU rumah tangga yang naik haji. Yang juga membuka Jamu On The Go, usaha jamu botolan racikan saya sendiri (ide liar akhir2 ini, akibat sering minum kunyit-madu-jeruk nipis). Siapa tau nanti ada sinetron berseri Ibu Rumah Tangga yang Tukang Jamu Naik Haji.

Well, gitu aja sih.

I wanna be a mother first.

A wife.

And all of the above.