Judul Paling Klise di Awal Tahun: ReSolusi


Posting pertama di tahun 2016! Yaaaaay!

Melewati tahun 2015, ada banyak kejadian yang saya alami. Some were sweet, some were bitter. Pahit manis kehidupan selalu dipergilirkan, bukan?

Banyak pelajaran yang saya lewati, entah apakah saya sudah cukup “belajar” atau belum. Semoga, Allah mencatat saya sebagai orang-orang yang belajar, yang berpikir dan mencari makna.

2015 itu tahun yang melelahkan. Rasanya hidup saya penuh, riuh, tapi nggak puguh. Kering dan rapuh. I even felt like I lost myself somewhere…

Di tengah keriuhan hidup saya, saya belajar untuk tidak mengumbar-umbar sebab musabab kelelahan saya. Saya bilang di sosmed, hidup saya melelahkan. Tahulah semua orang kalau saya lagi galau plus baper. But I learned to keep my problems just for me. Dan hanya saya bagi pada mereka yang saya sangat-sangat percayai.

Ternyata, seiring bertambahnya usia; punya sekelompok geng yang keren itu menjadi nggak penting-penting banget. Cukuplah sahabat-sahabat yang shalih sebagai pengiring langkah. Asli, itu cukup!

Di 2015 juga saya belajar untuk tidak jumawa, meski setan menyelipkan rasa jumawa itu dalam bentuk yang kerap kita pura-pura tidak sadari. Betapa gampangnya Allah membolak-balikkan keadaan, dan meruntuhkan kemapanan. Rencana yang sudah kita susun rapih itu bukan punya kita. Allah yang punya kehendak menjadikannya “jadi” atau “tidak”. Some of you may relate this to my TTC journey. Gak salah-salah banget sih, walaupun bukan itu main point-nya.

Di 2015 pula, saya menginjakkan kaki di Kuala Lumpur, Malaysia. Negara yang kerap dipandang dengan sentimen negatif, padahal mereka sudah sampai Tanah Abang, kita masih ribut aja gimana cara nyampe ke Tanah Abang.

Segala stereotipi saya tentang orang Malaysia PATAH. Tahu saya dari Indonesia, mereka justru sangat-sangat baik. Apalagi bapak-bapak India yang punya warung kari di belakang hotel; kayaknya girang banget kedatangan kami. Entah kenapa, muka saya itu cetakan banget endonesah-nya. Semua orang rasanya tahu saya turis dan orang Indonesia. Apa karena hidung ini ketarik pipi jadi agak nggak mancung… (menolak menyebut pesek!) Atau karena Jawir banget…

Oia, ada satu hal yang sangat saya syukuri, yang terjadi di akhir 2015. Resolusi saya alhamdulillah terpenuhi, tapi mohon maaf, tidak bisa saya share di sini :’)

Anyway, saya hanya ingin berbagi (salah) satu resolusi saya tahun ini. Aseli ya, sebenarnya saya agak gimana gitu menuliskan ini. Ada rasa takut, ragu-ragu, jangan-jangan saya kepedean. Tapi kan, cukuplah seseorang itu “meragukan” kuasa Allah kalau dia khawatir tidak bisa makan esok hari. Jadi, buat Allah mah resolusi dan my (actually) top one wishlist ini GAMPANG.

Saya pengen umroh. Pengen banget. Saya tahu uangnya tidak sedikit, tapi…

Saya itu, kok, ge-er banget… Ge-er kalau saya bakal berangkat lagi. InsyaAllah segera. Rasanya di depan mata gitu. Dan rasanya nih, segala hal yang saya lihat, dengar, baca; mengarahkan saya pada UMROH.

Jadi, saudara-saudara saya yang baik hatinya (semacam Maria Teguh :p), mohon do’akan saya yaaaaa. Saya rindu.

Hatinya sudah menggebu ingin istirahat. Ingin meluruskan lagi orientasi hidup. Ingin mengingatkan diri sendiri lagi bahwa hidup itu, ah, cuma “permainan” sahaja. Akhirat itu selamanya. Akhirat itu rumah kita, rumah saya.

(Gimana mau “pulang”, kalau, jangan-jangan, jalan menuju “rumah sendiri” aja nggak tau……….)

Gitu.

Do’ain (lagi) ya, gaes :”)

 

 

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s