Ayah, Review Novel “Ayah” oleh Andrea Hirata


Ayah, demikian novel tersebut diberi judul.

Ayah adalah sosok istimewa bagi saya. Saya memanggilnya dengan Papa. Lelaki yang, kalau tidak salah, sudah saya tuliskan namanya sebagai idola saat mengisi biodata di buku harian teman-teman sewaktu SD.

Maka membaca novel “Ayah” karya penulis salah satu buku paling fenomenal dalam sejarah kesusasteraan Indonesia, Andrea Hirata, awalnya membuat saya berpikir ini pasti terkait dengan sosok “Ayah” Ikal dalam tetraloginya. Sang Ayah juara yang sedikit bicara.

Meski latar tempatnya sama, tapi Ayah yang diceritakan dalam novel “Ayah” baru dibuka tabirnya di tengah-tengah cerita. Dan ini yang menjadikan buku tersebut susah sekali diletakkan. Saya harus menemukan siapakah “Ayah” dalam novel itu.

Sejak semula, pembaca akan diajak mengarungi kehidupan yang jauh dari kemapanan para tokoh-tokohnya. Tidak ada lelaki ganteng berkulit sawo matang, bermata elang. Yang ada adalah Sabari Bin Insyafi, lelaki bergigi tupai bertelinga lebar.

Sabari remaja berkelompok dengan tiga orang temannya, dengan segala polah konyol mereka yang selalu menjadi pemegang nomor-nomor buntut peringkat kelas. Toharun, Ukun, dan Tamat. Ketiganya tidak ada yang “beres”. Sabari-lah yang paling lurus, persis seperti namanya. Jika teman-temannya punya deretan nama perempuan yang digemari; maka Sabari tidak. Sabari justru bingung mengapa teman-temannya memperlakukan cinta dengan seenaknya. Bagi Sabari, pemuda pecinta bahasa, cinta tidak semestinya diperlakukan seperti itu.

Dan demikianlah Sabari memperlakukan cinta, ketika Marlena, si lesung pipi sedalam sumur, tukang nyontek paling jago, sang purnama kedua belas menohok hatinya yang terdalam.

Segala cara dilakukan Sabari untuk membuat Marlena melirik padanya. Semua hal ditempuhnya, kecuali menyerah.

Akankah Marlena akhirnya jatuh takluk pada Sabari? Ah, review ini akan memberikan terlalu banyak spoiler (meski saya yakin buku ini sudah dibaca sejuta ummat manusia) tentunya. Keruwetan cinta Sabari inilah yang akan menuntun kita memahami siapakah “Ayah” yang dijadikan judul novel. Keruwetan cinta Sabari pulalah yang akan memberikan inspirasi kepada kita, mengenai kerja keras, ketulusan, kenyamanan kesempurnaan cintaaa *lho*😀. He..

Kalau ada di dunia ini penghargaan cinta yang tulus, Sabari adalah juaranya.

Andrea Hirata, seperti biasa, bisa membuat pembacanya terpingkal-pingkal di satu bagian; untuk kemudian menitikkan keharuan, bahkan rasa pedih ketika sang “Ayah” harus dipisahkan dari anaknya di bagian lain. Melalui buku ini pula, Andrea, sekali lagi, bisa mengisahkan kehidupan kelompok marjinal dalam rangkaian yang menarik.  Meski tidak se-fenomenal Tetralogi Laskar Pelangi, dan mungkin tidak akan masuk ke dalam rak “novel favorit” saya dimana karya-karya Andrea Hirata lain bercokol, tapi sangat menyenangkan untuk dibaca serta menginspirasi.

 

 

One thought on “Ayah, Review Novel “Ayah” oleh Andrea Hirata

  1. Pingback: Ayah, Review Novel “Ayah” oleh Andrea Hirata | WriteOn Garden

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s