Bagi Kamu yang Meragu


Ramadhan yang baru saja berlalu, menyisakan banyak hikmah bagi mereka yang mau mengambil pelajaran. Salah satunya adalah semakin banyak Muslimah di Indonesia yang memutuskan untuk menutup aurat. Meskipun tidak perlu menunggu Ramadhan, tapi mencari momen yang sesuai sangatlah penting bagi sebagian orang. Mengapa? Karena mengenakan hijab adalah keputusan besar yang boleh jadi awal dari berbagai pilihan lain dalam hidup. So, you kinda want to make this memorable.

Saya sendiri memulainya di Ramadhan, 17 tahun lalu. Anak SMP yang lagi naksir sama kakak kelasnya, anak mall, update dengan musik-musik terkini itu memutuskan untuk berhijab. Apa yang ada di pikiran saya ketika itu?

Lemme tell you a bit of my background.

Keinginan saya tidak sepenuhnya didukung oleh lingkungan. Keadaan ketika itu tidak seperti sekarang dimana hijab seakan menjadi genre fashion tersendiri. Dulu, kain yang dilipat menjadi segitiga itu, yang kami sebut jilbab; hanya dikenakan oleh golongan tertentu. Pertama adalah para santriwati. Masa itu pula, stigma “santri” dan “pesantren” identik dengan kekolotan; apalagi buat anak remaja yang sekolah di sekolah yang konon tempat anak orang-orang berduit. Golongan kedua adalah para ibu haji, alias emak-emak yang baru pulang haji. Tidak seperti sekarang dimana tidak perlu menunggu usia emak-emak untuk naik haji; ketika itu hanya emak-emak dan bapak-bapak yang naik haji. Sebagian dari mereka memutuskan untuk berjilbab setelah pulang Haji. Walaupun sebagian lagi tidak. Golongan ketiga adalah para ustadzah. Ustadzah-ustadzah muda yang sekarang banyak mengabdi di masyarakat mungkin masih pada kuliah di Cairo atau Mekkah di jaman itu. Ustadzah Oki Setiana Dewi bahkan masih SD. Ustadzah yang terlihat di depan mata saya adalah mereka yang mengenakan kerudung lempar, a.k.a selendang rambut. Ada sih, tentunya, golongan lain yang mengenakan jilbab dengan baik dan benar. Guru-guru SMP saya, misalnya.

Berjilbab ketika itu seakan-seakan harus siap menghadapi kenyataan bahwa tidak banyak pekerjaan yang mau menerima karyawan berjilbab. Termasuk juga soal jodoh. Saya dibisiki kiri kanan bahwa “the options are limited, you either marry an arab or no one would marry you”. xD

Tapi saya punya guru-guru yang shalih dan shalihah. “Rezeki dan jodoh itu sudah diatur sama Allah”, ujar salah satu dari mereka saat saya menceritakan kondisi saya. Mereka juga yang pertama-tama “me-madu-i” (yakali meracuni) pikiran saya tentang jilbab. Too deep, hingga setiap kali saya bangun tidur saya dibayang-bayangi ketakutan akan meninggal seketika.

What if I die today? What if I never wake up?

Yang namanya anak SMP, pada dasarnya pikiran saya sependek itu. Saya nggak bener-bener berpikir panjang bakal nggak dapet jodoh, nggak dapet kerja, nggak punya temen… Pikiran saya sependek itu. Sependek bangun tidur dan mendapati diri saya belum berjilbab. Sependek ketakutan kalau saya meninggal seketika itu juga, saya tidak punya jawaban atas pertanyaan malaikat di alam kubur padahal saya tahu dan hati saya menerima sepenuhnya bahwa berjilbab adalah kewajiban bagi muslimah yang sudah akil baligh.

Suatu ketika, teman saya bertanya, “kok lo pake jilbab? Kan kelakuan lo belum baik”. Pertanyaan-pertanyaan macam itulah. Saya ini (sejak) dulu baragajulan. Dulu, saya bukan tipe anak yang rajin mengaji, jago bikin puisi *eaaa. Pun saya lebih banyak bergaul sama lagu daripada sama kitab suci.

“Itu kewajiban seorang muslimah. Mau dia pelacur pun, kalau muslimah ya wajib pake jilbab,” demikian jawaban saya.

Sulitlah kalau dicari terus apologi-nya. Kalo nggak pake jilbab emang halal jadi penjahat?

Demikianlah sedikit latar belakang saya.

Secara pribadi, saya berpendapat bahwa berjilbab adalah pilihan. Why so? Karena dalam surah Al-Baqarah ayat 256, Allah menyebutkan bahwa “tidak ada paksaan dalam agama”. Toh kita ini, yang tinggal di bumi-Nya Allah dan dikasih nafas-makan-minum-kebahagiaan siang malam; memang disisakan DUA pilihan:

Taat. Atau tidak taat.

Selesai perkara.

Bukan berarti berhijab sudah ter-taat. Tentu saja tidak. Ini adalah salah satu usaha menaati Pemilik Semesta. Masih banyak PR-PR ketaatan lainnya, seperti berlaku adil, jujur, memuliakan tamu, patuh pada orang tua, membayar zakat, shalat tepat waktu, menuntut ilmu agama, menyempurnakan pekerjaan (profesional) daaaaaaan banyak lagi.

Namun demikian, saya percaya, kran-kran kebaikan lain akan terbuka ketika kita melakukan sebuah kebaikan dengan niat murni karena Allah, karena Allah tidak akan menyia-nyiakan amal shalih hamba-Nya di dunia dan akhirat.

Jadi, jika kamu ingin berhijab tapi masih maju-mundur cantik; my advice would be:

Maju!

Do the best, Allah will do the rest 😉

ID-10033275

 

 

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s