Sepercik Kesenangan Ala Konmari

Baiklah. Mari kita buka posting-an ini dengan sebuah pertanyaan:

“Apa yang sungguh-sungguh membawa kegembiraan dalam hidupmu?”

WhatsApp Image 2017-08-02 at 10.01.30 PM.jpeg

Jawaban dari pertanyaan ini pasti bermacam-macam. Boleh jadi ada di antara kita memerlukan waktu lebih banyak untuk merenungi, apa yang sebenarnya membawa kebahagiaan? Apakah kita sudah dikelilingi oleh hal-hal yang memercikkan rasa senang, atau kita bertahun-tahun membohongi diri sendiri?

Pesan tersebutlah yang saya dapatkan dari metode “Konmari”. Walaupun sudah banyak dikenal, bukunya international best seller, dan dinilai fenomenal; saya akan sedikit mengulas apa itu metode “Konmari”.

Konmari adalah sebuah sistem “bebenah” yang dicetuskan oleh seorang perempuan Jepang berperawakan mungil dan super kawaii bernama Marie Kondo. Bukunya yang berjudul “The Life Changing Magic of Tidying Up” atau kalau saya boleh terjemahkan secara suka-suka “Sihir Bebenah yang Mengubah Hidup” terjual lebih dari lima juta kopi di seluruh dunia. Kondo juga sudah berkeliling dunia untuk menemui klien membenahi rumah mereka.

Di negara maju, “beres-beres” rumah sudah menjadi sebuah bisnis yang lumayan menjanjikan. Sesuatu yang terdengar nonsense bagi sebagian orang. Seriously? Beres-beres rumah aja perlu konsultan?

Faktanya, di era dimana segala hal serba ‘fast’, teknologi yang memudahkan belanja, dan konsumerisme yang menjangkiti banyak orang; kita (terutama perempuan) menjadi lebih impulsif membeli barang yang sebenarnya…. tidak kita perlukan. Membeli barang, just because. Bahkan, dalam wawancara saya dengan Narga Habib, pemilik agensi periklanan beberapa tahun lalu, ia mengatakan bahwa enam dari sembilan barang yang dibeli perempuan tidak dia butuhkan? Bener nggak? *tutup muka* *tunjuk diri sendiri*

Rumah kita kerap kali dipenuhi oleh barang-barang yang sebenarnya tidak kita butuhkan. Lebih dari itu, barang-barang tersebut malah kadang tidak kita inginkan. Hanya karena sudah terlanjut beli, masa nggak dipake?

Let me name a few:

Angkat tangan bagi yang pernah beli baju karena diskon?

Angkat tangan bagi yang pernah beli baju “target” kurus yang tidak pernah tercapai?

Angkat tangan bagi yang pernah beli buku yang sampai sekarang masih perawan?

Angkat tangan bagi yang punya sepatu, tapi jaraaang dipake karena nggak enak di kaki?

Nah, disinilah esensi metode Konmari.

Hal paling penting dalam memiliki sebuah barang adalah apakah barang tersebut “spark joy”, atau memercikkan kesenangan (ini terjemahan saya ya). Lupakan masalah butuh atau tidak butuh, perlu atau tidak perlu, atau…. siapa tahu nanti perlu. Lupakan semua ‘just in case’ items.

Kita hanya perlu alasan sederhana: Spark Joy.

Marie Kondo menyarankan agar kita menyortir barang berdasarkan kategori: Baju, Buku, Kertas-kertas, dan Pernak-pernik (alias lain-lain). Kondo memulai dari baju (termasuk celana, dan semua yang terkait dengan per-baju-an), karena ini adalah barang dengan perputaran super cepat. Selera kita berubah, ukuran kita berubah *glek*.

Gimana cara melakukannya? Meskipun banyak banget videonya di youtube, tapi saya akan coba jelaskan dengan sederhana.

Pertama, turunkan semua pakaian yang ada di lemari, di laci, atau di lemari suami :p. Biarkan baju-baju itu tergeletak di lantai. Kemudian, pegang satu persatu dan rasakan… Apakah barang tersebut memercikkan kesenangan?

Pisahkan benda-benda yang memercikkan kesenangan, dan yang tidak. Susun ulang yang memercikkan kesenangan ke dalam lemari, dan yang tidak memercikkan kesenangan diletakkan dalam kantong atau kardus, untuk dijual atau didonasikan.

Lakukan hal yang sama untuk kategori-kategori lain.

Kuncinya, menurut saya satu saja. Be honest to yourself. Dan saya jamin, kita akan terkejut mendapati bahwa sebenarnya kita bahagia hanya dengan sedikit barang.

Sudah terbayang?

Screenshot_2017-08-01-20-17-25[1]

Sayangnya, video prosesnya ngga bisa di-upload. Kira-kira begitu hasil akhirnya.

Untuk yang sudah pernah melakukan konmari, mungkin merasakan hal yang sama dengan saya: Released. Percayalah bahwa meminimalisir kepemilikan itu therapeutic alias sebuah terapi. Setelahnya, kita akan merasakan hati yang lebih lapang, dan pikiran yang lebih terbuka. Bahkan, mengapa Kondo berani menamai metodenya sebagai sesuatu yang mengubah hidup? Karena ‘spark joy’ bukan hanya masalah beres-beres rumah semata; ini masalah me-re-orientasi kehidupan.

Banyak orang yang mengaku berani mengambil keputusan besar dalam hidupnya, mengubah kehidupan dan persepsinya; setelah memulai dengan hal se-sederhana menerapkan Konmari dalam membereskan rumahnya.

Personally, ini adalah tahun ke-tiga saya melakukan Konmari, once in a while. Barang-barang yang saya keluarkan tidak se-massive dulu. Mungkin karena saya, akhirnya, belajar jujur pada diri sendiri. Dalam hal fashion, setidaknya ada beberapa hal yang saya sadari. Pertama, hanya ada empat jenis warna yang saya simpan: Monochrome kecuali abu-abu muda, Nudes, Marun dan Dusty Pink. Kedua, saya ternyata suka banget pake gamis :D. Ketiga, motif bunga-bunga hanya saya sukai sesaat saja. Indah dilihat, tapi tidak untuk selamanya dimiliki.

Oia, hal lain yang menjadi ciri khas metode ini adalah cara melipat pakaian. Untuk bagian ini saya tidak sepenuhnya mengikuti. Tapi, idenya boleh dicoba. Intinya adalah, setiap pakaian harus dapat “berdiri sendiri” sehingga dapat disusun dengan cara ‘dijejer’ alih-alih ditumpuk. Pakaian-pakaian seperti dress tentu saja tetap digantung.

Tentunya, ada plus minus dari metode ini. Yang saya sebutkan di atas adalah nilai-nilai plusnya. Minusnya, ketika hati saya sangat senang, melakukan Konmari menjadi lebih sulit karena semua terlihat membahagiakan hati. Hehehehe… Kemudian, ketika semua sudah ‘spark joy’ sedangkan saya merasa masih memiliki terlalu banyak, sulit sekali menentukan mana yang harus saya keluarkan. Akhirnya, saya menemukan metode saya sendiri. Kapan-kapan kalau sudah konsisten, insyaAllah akan saya share. Selain itu, dalam kehidupan pribadi, ada banyak pertimbangan dalam memutuskan sesutau. Bukan hanya apakah suatu hal membahagiakan atau tidak. Ada hal-hal yang tidak menyenangkan kita tapi kita tahu harus dijalani. Seperti, minum obat.

Bagaimana? Berani mencoba?

 

Dalam rangka mengikuti tantangan #OneDayOnePost  #KomunitasBloggerMuslimah   #ODOP2