Baju Baru untuk Cici

WhatsApp Image 2017-08-04 at 7.21.05 PM

 

“Mas Miko berubah, Kak,”. Cici menundukkan wajahnya dalam-dalam.

Aku menelan ludah. Se-serius itukah?

“Sudah dua bulan ini dia seperti malas melihatku. Aku bahkan tidak diajak ke family gathering kantornya lagi,” lanjutnya.

“Sudah pernah dibicarakan?”, tanyaku.

Cici menggeleng kuat-kuat. Air matanya pecah.

“Kapan, Kak? Mas Miko selalu pulang tengah malam. Bahkan akhir-akhir ini Mas Miko pulang pagi. Saat Mas pulang, aku sedang terlelap, atau sibuk dengan Chiko. Mas Cuma mencium Chiko sebentar, bantu menggendong lalu terlelap. Pagi-pagi buta berangkat lagi. Begitu terus, Kak. Sabtu-Minggu-nya habis untuk bermain dengan Chiko. Aku merasa seperti orang asing di rumah, Kak.” Perempuan tiga puluh-an itu sesenggukan. Suaranya meninggi.

Aku berpindah duduk ke sebelahnya. Berusaha menenangkan adik iparku sambil tersenyum pahit pada seorang pelayan kafe dan beberapa pengunjung yang melirik ke arah kami.

“Apa yang bisa aku bantu?”

Malam itu, Miko pulang sedikit lebih cepat. Chiko pun sudah terlelap.

“Bun, kita makan roti bakar yuk,” ajak Miko sambil mendekatkan wajahnya pada istrinya. Cici baru saja menerima pesan Whatsapp. Ah, dari Kak Mika, pikirnya dalam hati.

“Ayo, Bun. Sudah lama kita nggak makan berdua,” Miko melempar senyum. Lamat-lamat dipandanginya wajah ibu dari anaknya tersebut. Pipinya yang dulu tirus kini membulat, batang hidungnya semakin mekar.

“Ayah serius? Tapi Bunda nggak punya baju bagus, Yah. Baju-baju lama Bunda sudah banyak yang sempit. Bunda malu pergi sama Ayah…”

“Sekarang punya dong! Nih!” Miko menyerahkan sesuatu berbungkus kado.

Mata Cici berbinar. “Hadiah? Buat aku?”

Miko mengangguk.

“Terima kasih sudah menjadi Bunda yang baik untuk Chiko, dan terima kasih sudah menjadi istriku. Beberapa waktu belakangan ini, aku mikirin cara supaya Cici-ku yang dulu kembali. Ceria, percaya diri, berbinar-binar lagi.

“Iya sih, Bunda sudah nggak selangsing dulu. Tapi buat Ayah, Bunda selalu cantik. Ayah sedih kalau Bunda nggak mau pergi sama Ayah, nggak mau lagi ke kondangan. Makanya Ayah nggak ngajak Bunda pas family gathering kemarin. Ayah takut Bunda nggak mau lagi pergi sama Ayah. Makanya, Ayah tanya ke temen-temen kantor hadiah apa yang cocok buat istri. Eh, Ayah ditunjukin instagram @kafika_ficca. Mudah-mudahan Bunda suka yaa,”

Miko mengecup kening istrinya.

Wajah Cici bersemu kemerahan. Entah kapan terakhir ia merasa begitu tersanjung. Sekaligus merasa bersalah. Ia selama ini berburuk sangka pada suaminya.

“Ayah, bajunya bagus banget. Pas sama Bunda. Warnanya Bunda banget! Bunga-bunganya cantik sekali…” Cici berseru kegirangan.

“Busui friendly lho. Dan bisa dipakai sampai Bunda hamil adiknya Chiko” Miko mengerling genit.

“Ih Ayah, apa sih…”

“Ayo, Bun. Langsung pake aja. Nanti kita kemaleman perginya,” Miko menggamit lengan istrinya.

Tiba-tiba telepon genggam Miko berbunyi.

Mika muncul begitu saja di rumah Miko dan Cici.

“Baby sitter sudah datang. Pangeran dan Tuan Puteri dipersilahkan berangkat,”Mika mengurai senyum penuh arti.

“Makasih ya, Kak,” Cici memeluk kakak iparnya ke-malu-malu-an. Ia masih ingat momen di kafe beberapa waktu lalu.

“Have fun yaaa kalian,” ujarnya sambil melambaikan tangan.

Motor Miko melaju membelah malam.

Seorang teman saya pernah mogok pergi ke pesta saat hamil besar. Alasannya sama persis seperti Cici: Nggak punya baju yang layak dipakai. Semua baju sudah sempit. Padahal, bagi seorang perempuan, menemukan baju favoritnya sempit rasanya terrrrr-baper. Apa pun alasannya. Mau karena hamil besar, pasca bersalin, maupun pasca kebahagiaan yang membuat enak makan. Hihi…Mungkin saatnya mencari baju favorit baru yang didesain spesial agar nyaman digunakan Busui dan Bumil, sekaligus juga cantik bagi yang bukan keduanya.

Meski saat ini banyak produsen pakaian yang sudah merancang pakaiannya agar bersahabat dengan para Ibu Menyusui, akan tetapi saya ingin mempernalkan butik sahabat saya (yang sebenarnya sudah lumayan terkenal di jagad instagram). Pernah mendengar butik @kafika_ficca di instagram?

Kafika, demikian butik tersebut dinamai oleh pemiliknya sekaligus nama brand-nya. Butik yang dirintis sejak 2008 saat ini telah memiliki 19 ribu-an followers. Didominasi oleh warna-warna cerah, butik yang digawangi oleh Fendricca Syahdan ini awalnya menyasar segmentasi muslimah berusia 20-40 tahun, dari kelas ekonomi menengah. Akan tetapi, setelah 2013, banyak permintaan pakaian dengan akses menyusui; sehingga Fendricca mulai mencoba mendesain pakaian dengan akses menyusui alias busui friendly sekaligus juga bumil friendly.

Inspirasi rancangan-rancangannya diakui Fendricca datang ketika berburu kain atau melihat trend fashion dunia, lalu dikembangkannya sesuai koridor pakaian muslimah. Selain itu, menurutnya, kadang inspirasi datang dari “langit” begitu saja.

Untuk memudahkan para pelanggannya, saat ini perempuan yang akrab disapa Ficca menyediakan Webstore yang dapat diakses di http://www.kafikastore.com.

Bagi penggemar pakaian berpotongan longgar, casual dan berwarna cerah, mungkin kamu bisa melirik foto di bawah ini:

WhatsApp Image 2017-08-04 at 7.04.18 PM

 

Tertarik? You know where to click 😉

#OneDayOnePost #ODOP4  #BloggerMuslimahIndonesia