Mikir!

WhatsApp Image 2017-08-05 at 5.46.56 PM.jpegRembulan telah menampakkan diri ketika Maha mengunci pintu bertuliskan “Himpunan Mahasiswa Pecinta Alam”. Tertatih, Maha melangkah menuju gerbang kampus. Lorong yang ia lalui hanya menyisakan satu bohlam pucat pasi. Liburan semester menjadikan kampus di malam hari seperti sarang hantu, meski Maha terlalu skeptis untuk mempercayai omong kosong semacam itu. Satu, dua, tiga langkah; sesosok makhluk dengan mata berkilat melintasi kakinya. Ia kehilangan keseimbangan, tongkat yang menumpu tubuhnya oleng ke kanan.

 

“Kucing sialan! Tongkat sialan!”, makinya.

Laki-laki berrambut gimbal itu berusaha meraih tongkat dan bangkit perlahan. Kedongkolan merajai hatinya. Terlebih lagi membayangkan teman-temannya yang sedang menuju Rinjani, meninggalkan dirinya seorang yang tidak mungkin berangkat dengan kondisi kaki seperti itu. Padalah, ia yang mengusulkan perjalanan, merancang, bahkan sudah menyisihkan sedikit demi sedikit uang hasil pekerjaannya menjadi tutor bahasa Indonesia untuk orang asing, demi kesenangan menikmati semesta dari atas Rinjani.

Mengapa harus terjadi?

Uangnya bahkan habis tidak tersisa untuk mengongkosi pengobatan kakinya. Sebulan lalu, Maha menjadi korban tabrak lari. Ia tidak punya kartu jaminan kesehatan yang menjadi program kebanggan pemerintah. Maha terlalu skeptis tentang itu, dan tentang sejuta hal lainnya. Tidak mungkin Maha menelepon Nenda, neneknya, satu-satunya orang yang masih ia miliki dan memilikinya. Satu-satunya orang yang dicintai dengan sepenuh rasa oleh Maha. Dunia dan seisinya sudah lama seakan mengkhianatinya. Mengingkari keberadaannya.

Setelah dua puluh tahun Maha hidup dari uang pensiun Nenda-nya, ia bertekad untuk bekerja. Sejak itu, Nenda hidup dari hasil jerih payahnya. Biarlah uang pensiun Nenda untuk kesenangan Nenda. Nenda-lah alasan Maha bernafas, berusaha tegak kembali setiap pagi.

Jadi, bagaimana mungkin ia menelepon Nenda dan mengatakan seorang pengendara motor melindasnya dan pergi begitu saja?

Maha melangkah kembali. Bayangan akan Nenda selalu membuatnya bangkit. Nenda menungguku, demikian pikirnya selalu.

Lorong temaram. Kali ini Maha merasa melihat sosok hitam berkelebat. Ia tersentak sesaat. Kampus sialan! Apa susahnya menambah satu bohlam lagi agar lorong ini terlihat sedikit terang?

Siapakah gerangan sosok tersebut? Penadah? Atau genderuwo penghuni lorong seperti desas-desus yang beredar? Ah, genderuwo gundhulmu! Nonsense! Maha berdebat dengan dirinya sendiri.

“Maha!” sosok hitam itu mendekat, memanggil namanya. Bahkan ia tidak sendiri, ia membawa seorang lagi sosok hitam.

Malaikat mautkah? Apakah malaikat maut datang bergandengan dan berjenis kelamin perempuan?

“Maha! Hei!” Sosok itu… melambai-lambai…

“Arika?!” Maha terbelalak. Arika, gebetannya seumur hidup. Mengapa sekarang hanya menyisakan sepasang mata-nya untuk melihat….dan dilihat?

“Kaget ya liat gue? Makanya ini kacamata lo dipake!” Arika dan temannya, yang menurut tebakan Maha adalah Vanya, terbahak-bahak sembari mengangsurkan kacamatanya. Memang sudah dua hari ia kehilangan kacamata.

“Kok bisa ada sama lo?”

“Ada yang nemu di masjid, ditaro di lost and found masjid. Gue liat. Kacamata siapa lagilah yang buluk begitu kalo bukan kacamata lo?” Arika kembali cekikikan.

“Kok lo tau gue di sini?”

“Ih, nanya mulu! Emang lo dimana lagi jam segini kalo bukan di sini? Terus lo gimana nanti ngeliatnya kalo nggak pake ini? Liat gue sama Vanya aja sampe melotot gitu”, jawabnya.

“Cie…”, Vanya mulai menimpali. Tapi Arika keburu menginjak kakinya.

“Jadi, seorang Aksara Mahamada  ke masjid? Ngapain? Mau ngebom ya?” Arika memberondong Maha dengan pertanyaan yang sudah bisa tebak sesampainya mereka di gerbang.

Maha tidak menjawab.

“Paling disuruh Nenda,”. Tebakan jitu. Siapa lagi yang bisa menyuruh Maha ke masjid selain Nenda?

“Lo berdua ngapain malem-malem masih di sini?” Maha bertanya balik. “Mau bom bunuh diri?” balas Maha pahit.

Arika dan Vanya saling pandang dan kompak berseru, “Apaan sih?”.

“Kita abis ikut kajian di masjid kampus. Setiap Rabu malam rame lho di sini”, ucap Vanya.

“Maha, kita balik ya. Kapan-kapan ikut kajian, atau perlu gue bilang Nenda biar lo ikut kajian?” sindir Arika, lagi-lagi nge-gas. Hubungan keduanya tidak berakhir baik-baik, meskipun memang juga tidak pernah ada kata ‘jadian’.

“Buat apa? Supaya gue berubah jadi teroris kayak lo berdua?”

Arika menatapnya tajam. Ia maju selangkah.

“Biar hidup lo jelas mau kemana! Kita udah pernah sama-sama ke gunung, pantai, bahkan ke bawah laut. Apa lo nggak pernah berpikir kalau semua yang kita lihat itu ada tujuan penciptaannya, masa lo, masa gue tercipta dan ada di bumi ini cuma buat nonton semua itu aja? Mikir!”

#ODOP #OneDayOnePostChallenge #BloggerMuslimahIndonesia