Diet Gluten, Haruskah?


Diet Mayo, Diet Keto, Diet Atkins, Diet Paleo, Diet GM, and so on and so forth. Nama-nama yang saya sebutkan barusan adalah nama jenis-jenis diet (ya iyalah, masa jenis tumbuhan…) yang populer dan tidak asing lagi di telinga kita. Masing-masing memiliki cara dan teori sendiri mengenai metabolisme tubuh manusia dan pendekatan berbeda memandang pola makan. Meskipun kata ‘diet’ sendiri berarti pola makan, banyak dari kita salah kaprah dan menyandingkat kata ‘diet’ dengan cara menurunkan berat badan. Padahal segala rupa ‘diet’  tersebut justru bertujuan untuk mengatur pola makan. Sehat paripurna adalah tujuan akhirnya, dengan berat badan ideal (BMI) sebagai indikator-nya.

Anyway, apakah istilah Diet Gluten familiar di telinga kamu?

Mungkin sebagian kita pernah mendengar istilah Gluten atau Gluten Free, pernah membaca di label makanan impor berharga selangit, atau mengasosiasikannya dengan just another lifestyle. Atau, boleh jadi, bagi sebagian yang lain, istilah gluten sama sekali tidak dikenal.

Boleh deh yuk, saya kenalkan.

Gluten adalah sejenis protein yang terdapat dalam gandum dan tepung. Dengan sifatnya yang kenyal dan elastis, gluten sesuai namanya (glue = perekat) berfungsi membantu berbagai jenis makanan tetap pada bentuknya. Karena ia banyak terdapat pada gandum dan tepung, maka bayangkan makanan-makanan yang menggunakan kedua jenis bahan tersebut. Semuanya makanan enak, bukan? Roti, serealia, gorengan…

Jadi, sudah terbayang ‘kan apa yang dimaksud dengan diet gluten? Yup! Artinya menyingkirkan semua makanan yang terbuat dari gandum dan tepung dari diet kita!

Di negara-negara barat, diet gluten ini sedang naik daun dalam satu atau dua dekade terakhir. Lorong-lorong supermarket mulai menyediakan counter khusus makanan-makanan gluten free.

Mengapa diet jenis ini digandrungi?

Ada beberapa keuntungan yang diklaim bisa diperoleh ketika seseorang menjalankan gluten free diet. Pertama, menurunkan berat badan. Tentu saja, tujuan jangka pendek seseorang melakukan pengaturan pola makan adalah menurunkan berat badan. Kedua, diet gluten diklaim bisa membuat awet muda. Ketiga, menjaga kestabilan gula darah dalam tubuh.

Bagaimana? Sangat menggoda untuk dicoba, bukan? Siapa sih kaum Hawa yang tidak ingin lagsing dan awet muda?

Sebelum menyingkirkan roti dari daftar sarapan pagi kamu, ketahuilah (ceileee…), diet ini pada dasarnya dibuat bagi mereka yang alergi atau sensitif terhadap gluten, atau pengidap coeliac disease yang merupakan salah satu penyakit auto-imun. Selain itu, mereka yang memiliki autism syndrome, down syndrome dan beberapa tipe syndrome lainnya, sependek pengetahuan saya, banyak yang memiliki sensitivitas teradap bahan makanan yang mengandung gluten ini, sehingga menghilangkan gluten dari daftar menu adalah sebuat keharusan.

Alergi-nya akan seperti apa reaksinya? Pengidap alergi gluten mungkin akan mengalami diare atau malah konstipasi; kembung dan perasaan ‘penuh’, sebah, sesak; dan lain-lain sebagainya pasca mengonsumsi makanan-makanan menggandung gluten. Dan sehari saja tanpa tepung dan teman-temannya sudah menjadikan dunia tempat yang lebih indah bagi pengidap alergi gluten.

How do I know?

Well…meski saya tidak tahu apakah saya alergi terhadap jenis gandum-gandum lainnya; akan tetapi saya sudah lama punya feeling bahwa saya alergi tepung terigu dan apapun yang terkait dengannya. Roti, mi, gorengan… you name it. Saya selalu merasa sebah, dan perut saya membuncit pasca makan makanan mengandung tepung. Rasanya tidak nyaman. Nikmatnya sesaat, buncitnya lama.  Hehehehe… Suatu hari saya memutuskan untuk berhenti makan terigu selama sehari. Apa yang terjadi? Begah dan sebah akibat re-ruti-an di hari sebelumnya hilang; dan berat badan saya turun sekilo. Padahal saya makan seperti biasa.

Oh iya, selain itu, kalau sudah terlaluuuuu banyak makan makanan yang mengandung terigu, akan muncul bruntusan di wajah saya. Bukan bruntusan merah-merah, tapi kulit saya akan kering dan kusam sehingga tampak agak cracky.

Prediksi saya terkonfirmasi lewat tes alergi. Tepung terigu ada di daftar utama makanan yang harus saya hindari karena ternyata, eh, ternyata saya alergi berat terhadap terigu.

Karena bukan sesuatu yang umum di Indonesia, maka saya sering mendapatkan ‘that look’ seakan-akan saya ‘sok keren’ banget atau ‘sok hype’ saat saya menolak makanan mengandung terigu karena alasan alergi. Padahal, beneran deh, saya kangen banget sarapan roti cokelat T_T.

Saran saya sih, kepada kamu-kamu yang ingin menurunkan berat badan dan awet muda; dan tidak punya alergi terigu atau alergi gluten; carilah jenis diet lain. Syukurilah nikmatnya roti bakar, mie ayam, martabak, bakso, gorengan… Karena, nun jauh di sini ada saya yang sungguh-sungguh merindu makanan-makanan itu…

*kenapa berujung curcol…

#ODOP #OneDayOnePost #BloggerMuslimahIndonesia

 

 

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s