Di Antara Rasa-rasa


Izinkan aku mengisahkan kepadamu tentang seorang perempuan yang bisa membaca rasa.

Ia cukup memandangmu beberapa saat, melihat ke dalam matamu dan ia akan menemukanmu. Sedihmu, hancurnya rasamu saat orang tuamu berpisah, rasa tidak aman yang menghantuimu, atau kekecewaanmu yang mendalam. 

Terkadang ia bisa melihat lebih jauh ke masa kecilmu. Saat ayahmu memukulimu, atau saat kamu menyaksikan ibumu menangis setelah mendapati ayahmu selingkuh. Ia menghitung berapa kali kamu menyebutkan “ibu”-mu dengan bahagia dan tidak pernah sedikit pun tentang ayah. Ia juga bisa menebak sepintas berapa banyak guru yang sudah mengecewakanmu, karena menganggapmu sulit, padahal kamu hanya sedikit ekspresif dan mudah bosan.

Sesekali, ia bahkan bisa mengetahui kamu sedang demam tanpa menyentuhmu, bahkan tanpa kamu mengatakannya. 

Kadangkala, ia hanya perlu membaca sebuah tulisan tangan, dan ia bisa mengetahui siapa penulisnya. Kadang-kadang pula, ia mencoba menebak seperti apa perilaku penulisnya dan seringkali tebakannya benar. Dan ia tidak pernah benar-benar belajar grafologi.

Apakah ini berkah atau kutukan, entahlah, ia tidak pernah memperhitungkan. Bukan, ia bukan peramal. Jika ada hal-hal dalam hidupmu yang kebetulan (walaupun tidak ada yang namanya kebetulan) bisa diterkanya dengan mudah, sungguh ia pun tidak tahu mengapa dan bagaimana.

Masalah mulai muncul ketika ia berhadapan dengan sekelompok orang yang ia sebut dengan “toxic”. Para dementor dari Azkaban, penghisap kebahagiaan dan energi positif.

Mengapa?

Karena, ia bisa membaca rasa. Ia mengenali pedih itu, lelah itu, patah hati dan kesedihan mendalam yang menyebabkan lisan mereka, para dementor dunia nyata, menjadi racun.

Tapi, tidak ada yang lebih menyedihkan dari hari itu. Hari ketika ia melihat foto-fotonya di masa lalu. 

Siapa perempuan di foto ini? Mengapa ia tidak lagi mengenali senyumnya? 

Lekas-lekas ia mencari fotonya yang terbaru, foto liburan yang dirasanya menyenangkan. Senyum mengembang, tapi…kemana perginya binar di kedua matanya?

Ah…

Setahun lalu, memang ia banyak menangis. Banyak sekali menangis. Kejadian demi kejadian mengajarkannya bahwa hanya Allah saja tempatnya berharap, bertumpu dan bermohon. 

Ia tidak menyesali, meski tidak ingin mengulangi. Ia mensyukuri, sungguh-sungguh mensyukuri setiap hal yang terjadi dalam hidupnya. Namun, mengapa binar itu tidak jua kembali?

Mungkin, sebagaimana setiap pasang mata yang dipandangnya berkisah, demikian pula dengan dirinya. Pedihnya hilang, namun bekasnya tidak sirna.

Ia tidak pernah menjadi orang yang sama lagi…

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s