Penghujung Ikhlas


Pada hari-hari tidak melelahkan seperti hari ini, saya senang membuka topik pembicaraan dengan supir taxi. Apalagi kalau saya merasa butuh teman bicara, atau sekadar ingin mendengarkan cerita. Banyak hikmah yang bisa saya petik, kalau saya mau mendengarkan seksama.

Seperti cerita Bapak S yang mengantar saya pulang dari nongki-nongki sore ini. Obrolan saya mulai dengan pertanyaan terstandar. “Dari kapan kerja di …?”, “Enak ngga kerja di …?”, dan pertanyaan-pertanyaan semisal. Pertanyaan yang mungkin kalau saya jadi pak supir, akan saya rangkum dalam sebuah F.A.Q dan saya tempel di jok belakang agar penumpang kepo yang butuh temen ngobrol bisa baca sendiri.

Si Bapak S ini tipe pancing dikit-curhat.

Hehe.

Jadi, topik cepat berkembang biak laksana saya kebanyakan makan cokelat. Mulai bicara macet, jalan alternatif yang saya pasrahkan ke beliau, hingga…

“Sebenernya ya, hal paling sulit itu adalah menempatkan diri di posisi orang lain. Kalau kita bisa melakukan itu, hidup ini akan berjalan damai,” ujarnya. Kira-kira gitulah.

Sumpah ya, saya ingin melanjutkan dengan, “Salam super”.

Mobil menuruni jalan di selatan kemang, saat saya nggak tahan untuk berucap, “Bapak kayak Mario Teguh, hihi..”.

Dan tertawalah ia berderai-derai. Tawa yang spontan. Bukan tawa formalitas antara supir-penumpang.

“Jujur aja, saya memang penggemar berat Mario Teguh. Kalau ngomong itu, dia laksana mutiara gitu…”, suaranya terdengar antusias.

Kan?! 

Diskusi kami masuk ke bab, keanehan penumpang-penumpang taxi. Salah satu yang paling menyesakkan, menurutnya, adalah penumpang yang dijemput di rumah dengan tiga mobil terparkir di garasinya. Ia pergi seharian dengan taksi hingga argo mencapai 650.000. Namun, sang penumpang raib begitu saja. 

Apakah Bapak S sakit hati? Pasti.

Jumlah uang yang sama sudah ia kumpulkan untuk mengurus SIM yang menjelang kedaluwarsa, namun harus digunakan “nombok” setoran di hari itu. Kerja kerasnya seharian terasa sia-sia.

Ia berusaha menghubungi penumpang raib, tapi namanya juga raib; tidak ada tanggapan berarti dari sang penumpang.

“Akhirnya, saya belajar ikhlas…”, kisahnya.

Kata yang mudah diucap, tapi belajarnya bertahun-tahun dan berliter-liter air mata bagi sebagian kita.

“Pas saya udah ikhlas, percaya ngga percaya ya… tiga hari itu, penumpang ngasih saya uang lebih terus. Argo 50.000, saya dikasih 250.000. Begitu terus tiga hari sampe akhirnya uang saya balik 650.000,” ia menuturkan.

:’)

Allah itu baik ya? 

Kalau mendengar kisah orang lain, saya sering berpikir, apa maksud Allah memilihkan saya supir taxi yang ini, dan memperdengarkan saya kisah ini? Pernah nggak kamu mikir gitu? Bahwa orang-orang yang takdirnya bersisian dengan takdirmu, memang sudah “meant to be” untuk mengajarkanmu sesuatu.

Hari ini saya belajar ikhlas dari Bapak S. Dua bulan lalu saya pun belajar ikhlas…dari hal lain. Agak mirip dengan kisah Bapak S, dengan skenario sedikit berbeda.

Singkatnya begini:

Karena penghasilan saya sudah tidak sebesar dulu, hehe…kalau ingin beli apa-apa harus melipir dan rayu-rayu suami. Kadang juga malu kalau sering-sering minta. Kadang sebel juga karena dulu biasa apa-apa bisa beli sendiri. 

Jadi, ada barang yang saya pikir saya butuhkan. Barangnya bukan barang darurat seperti HP. Biasalah, barang penunjang penampilan paripurna (prett..). 

Lalu saya sampai di satu titik dimana saya lelah. Orang obsesif kayak saya kalau ada maunya emang ngerepotin. Akhirnya, saya minta ke Allah, kalau memang saya butuh pasti Allah kasih ke saya, entah gimana caranya. 

Suatu hari, belanjaan online ibu saya datang. Karena beli partai besar, si online shop memberi bonus yang disertakan dengan pesanan. Dan, tau kan ujungnya? Yup, bonusnya adalah barang yang saya mau, yang lalu dikasih dengan bahagia ke saya oleh ibu saya. Produk kualitas terbaik, award winning product, dan Allah kasih gratis dianter pula sama kurir. 

Begitulah bab ikhlas hari ini. Meski sulit mencapainya, tapi selalu ada hadiah manis bagi mereka yang mengusahakannya. 

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s