Nikah Muda

Beberapa tahun belakangan, menikah muda tampak mulai menjadi tren. Mahasiswa-mahasiswi saya banyak yang menikah sembari kuliah. Atau kuliah sembari menikah. Hehe… 

Sayangnya, sebagian gagal menyempurnakan gelar sarjana-nya. Tentu karena ada konsekuensi dari sebuah pernikahan. Salah satunya adalah karena ketika menikah, kita tidak lagi hidup untuk diri sendiri. 

Namun demikian, saya mendukung pernikahan dini yang dilakukan dengan matang dan penuh kesadaran. Mungkin karena saya pun, kata orang, menikah terlalu muda.

Usia saya waktu itu baru 22. Sebagian teman-teman saya waktu itu bahkan masih kuliah. Beberapa bertanya-tanya, mengapa saya berani menikah?

Sejujurnya saya sendiri tidak berpikir panjang. Pikiran saya sependek bahwa saya tidak mau menjalin kedekatan dengan laki-laki yang bukan mahram saya lama-lama tanpa ada ikatan sah. Selain itu, saya nggak merasa usia 22 itu muda.

Calon suami saya, juga kayaknya terjebak dengan saya. Hihihi…

Banyak pengorbanan masa muda yang kami lakukan. Suami saya, yang usianya 25 waktu menikahi saya, baru kerja di sebuah perusahaan swasta. Baru saja lulus program ODP. Gaji belum seberapa. Tabungannya dari pertama kerja, semua dihabiskan untuk menikahi saya saat teman-temannya merancang liburan. 

Saya… nggak bisa sering-sering nongki selepas kerja seperti teman-teman lain, saya juga harus puas dengan pekerjaan yang gitu-gitu saja, karena pekerjaan impian saya (waktu itu) rasanya kurang memungkinkan untuk membangun keluarga. Saya juga harus puas dengan tas yang harganya ekonomis 😁😁😁. 

Belum lagi saat saya berhenti kerja dan melanjutkan studi. Uang sisa gaji yang tidak seberapa habis untuk beli buku. Kami baru pindah ke rumah sendiri, dengan tagihan sendiri tentunya. Dan akhirnya, saya pertama kali berakrab-akrab ria dengan bis kota Jakarta. Disitulah saya paham pepatah yang mengatakan bahwa ibukota lebih kejam dari ibu tiri.

Saat long weekend di awal-awal pernikahan, bermodalkan mobil orang tua, kami plesiran ke Bandung, kota nostalgia bagi kami berdua. Nginepnya di hotel yang… mungkin pernah hits di jamannya, tapi ya… begitulah… kamar mandinya masih pake gayung dan bak mandi! Mirip-mirip hotel di film-film baheula-lah. Tapi saat itu, cuma hotel itu yang kami bisa afford. Alhamdulillah. Seneng aja tuh rasanya. 

Pernahkah berantem? 

Wah, jangan ditanya. Setiap hari (di masa itu) isinya berantem. 

Saya ini menakar apa-apa dengan rasa. Dibesarkan di keluarga yang dominan perempuan. Sepintas aja udah keliatan saya ini “cewek banget”. Meanwhile, suami saya dibesarkan di keluarga yang didominasi kaum pria, kuliah di tempat yang se-angkatan kaum hawa-nya hanya seorang, dan menakar segala sesuatunya dengan logika. 

Gimana coba?

Tapi saya belajar banyak sekali. And I learn the hard way :D, bahwa menikah itu ngga cuma cinta-cintaan. Prettt… makan tuh cinta. Hihi..

Menikah itu butuh diperjuangkan, nggak ada yang effortless. Semua pihak harus mau menekan ego, mengalahkan rasa paling benar sendiri, dan mengusahakan kebahagiaan bersama. Ada saat kita dimengerti, ada saatnya memahami. Ada saatnya didengarkan, ada saatnya mendengarkan, kadang ada pula saatnya pura-pura mendengarkan. Hehehehe.. 

Konflik pasti ada. Kadang dengan pasangan, kadang melibatkan keluarga, kadang melibatkan man…ehm…teman di sosmed, kadang ada pula pihak ketiga yang bernama pekerjaan dan gadget. 

Namun demikiapn, saya tidak ingin menghakimi siapapun yang mungkin ditakdirkan Allah menjomblo agak lama, atau harus menyudahi rumah tangganya. Kita semua punya jalan jihad masing-masing, bab-bab kehidupan yang harus kita selesaikan. 

Tidak ada yang lebih baik dari yang lain.

Saya ulang ya, tidak ada yang lebih baik dari yang lain.

Jodoh itu milik Allah. Bukan kita yang memilih, atau dipilih. Tapi Allah yang mempertemukan. Allah yang menggerakkan semesta mempertemukan sepasang manusia, membuat mereka saling memandang-tertarik-berkenalan-jatuh cinta. 

So, akhir kata…

Menikah muda, paling tidak bagi saya, berarti grow UP together, alias men-dewasa bersama. Bukan prestasi yang harus dibanggakan, bukan pula capaian yang bisa dipamerkan.

Ini saya kisahkan, sengaja, agar jiwa-jiwa baper jaman now, yang mungkin membaca postingan ini memahami… ada yang lebih dari sekedar romantisme dalam pernikahan. 

Karena apapun yang tidak dapat dipertanggungjawabkan di hadapan-Nya, akan sia-sia pada akhirnya….

Advertisements

A Challenge to Myself

Menulis dapat menjadi sebuah terapi. Terapi kognisi, sekaligus terapi hati. Saya selalu setuju dengan hipotesa ini.

So, saya memutuskan untuk men-challenge diri saya sendiri dengan menulis 30 topik berbeda. Karena sebelumnya saya gagal memenuhi OneDayOnePostChallenge di sebuah komunitas blogger, maka, saya nggak mau bikin tantangan ini terikat waktu. Cukup terikat pada topik.

Berikut ini, kira-kira, topik yang ingin saya tulis:

1. Nasihat untuk diri saya 10 tahun yang lalu.

2. Surat untuk diri saya 10 tahun yang akan datang.

3. Lima hal yang membuat saya bahagia.

4. Three things I’m grateful of.

5. Film favorit.

6. Perempuan yang menginspirasi saya.

7. Miliarder dunia.

8. Entrepreuner Series: Social-preuner.

9. Wawancara Sahabat.

10. Buku Pekan ini.

11. What I’m Struggling With.

12. Terkenal Di Langit: Uwais Al Qarni.

13. Terkenal Di Langit: Julaibib.

14. Entrepreuner Series: Momma-preuner.

15. Nikah Muda.

16. Wajah di Balik Cadar.

17. Puisi.

18. Lirik lagu paling berkesan.

19. Hal yang saya rindukan dari masa kanak-kanak.

20. Tips mengatur keuangan.

21. Hijrah.

22. Minimalism.

23. Lima kata untuk mendeskripsikan saya.

24. Fiksi Mini.

25. Setan-setan Kolom Komentar.

26. Off Social Media.

27. Cara saya melepaskan stress.

28. My childhood buddy.

29. Anything on travelling.

30. Tujuh hari sebelum mati.

Sebenarnya, challenge ini terinspirasi dari posting-an di Pinterest. Tapi karena ada beberapa hal yang konsumsi pribadi banget yang disertakan dalam challenge, jadi, saya modifikasi sedikit.

So, here we go…