Latihan Berpikir Positif


Seseorang penceramah yang pernah saya ikuti ceramahnya semasa SMA pernah mengatakan sesuatu yang sampai saat ini masih menempel di kepala saya:

“Husnuzhon itu harus dipaksa. Kalau masih sulit, paksa terus. Lama-lama akan terbiasa”

Kira-kira seperti itulah bunyi ceramahnya.

Nasihat ini bener-bener saya ingat semalam, saat saya, di tengah kencan di malam long weekend, berusaha menerima kenyataan bahwa HP saya hilang.

Awalnya saya biasa aja, tidak terlalu panik. Cuma benda, Shinta. Sudah diambil lagi sama Pemiliknya (dengan cara yang menghinakan bagi siapapun dia yang mengambilnya dari tas saya). Benda yang ternyata harganya masih satu kali gaji manajer bank. Benda yang isinya data-data dan foto-foto. Benda yang isinya aplikasi finansial, yang…. Ah….

Saya mulai mewek.

Padahal saya nggak ngeluarin uang sepeser pun untuk membeli HP itu. HP itu adalah hadiah dari rekan kerja suami, yang lalu dihibahkan ke saya. HP yang canggih (bahkan rasanya kecanggihan buat saya yang ‘cuma’ dosen ini), udah dua kali jatuh mencium tanah tapi nggak retak, nggak bikin saya emosi seperti HP saya sebelumnya yang sangat cepat panas dan suka re-start sendiri saat sudah kelelahan, dan fitur kamera depannya sangat mendukung selfie se-liar-liarnya…

Maka, di pelataran mall yang malam itu ramenya mirip pasar malem; saya akhirnya nangis beneran. Segala kemungkinan terburuk melintas di kepala saya. The devilish thought of “What If”…

When I got back to my senses, berjam-jam kemudian, setelah nangis panjang (dan sampai tulisan ini dibuat)…

Saya mulai berpikir, apa hikmah di balik hilangnya HP saya?

Oh, mungkin itu teguran dari Allah karena saya lalai dan teledor

Oh, mungkin HP itu telah memberi saya rasa bangga yang tidak pada tempatnya

Oh, mungkin Allah ingin menggantikan untuk saya HP yang lebih bermanfaat

Oh, mungkin HP itu telah banyak melalaikan saya dari hal-hal bermanfaat

Oh, mungkin dengan kejadian itu, Allah ingin menghapus dosa-dosa saya dan mengabulkan keinginan saya-sebagai orang yang terzholimi-

Oh, mungkin ini, mungkin itu

Ternyata hikmahnya banyak. Hati saya saja yang terlalu terikat pada benda dan terlalu gelap mata semalam… đŸ˜¦

Toh, paling tidak sampai saat detik ini, hidup saya baik-baik saja dengan HP samsung jaman baheula yang bahkan ngga bisa internetan :D.

Begitulah kisah saya dan pelajaran husnuzhon yang saya terima, in a hard way.

Apabila kamu, mengalami hal-hal yang tidak menyenangkan, atau bertemu orang yang membuatmu ingin mendoakan seribu keburukan; cobalah membuat husnuzhon-list, dan lihatlah betapa sebenarnya kejadian-kejadian buruk yang menimpa hidup kita hanya perlu sudut pandang yang berbeda-kata orang yang matanya masih bengkak karena menangisi barang yang hilang.

 

 

Advertisements

2 thoughts on “Latihan Berpikir Positif

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s