Beranjak


 

first love

First love never dies, they said…

Bertemu lagi denganmu, mengubah semua peta hidupku. Kamu. Iya, kamu.

Tiba-tiba saja duduk di hadapanku, dan menyapaku dengan sapaan khasmu,

“Hai…”

Aku membeku. Mataku mengedip cepat, tidak percaya itu kamu.

“Kaget ya?”

Aku pura-pura membetulkan posisi laptop, dan pura-pura acuh. Layar monitorku bertuliskan “RANCANGAN PENELITIAN”, kubaca berulang-ulang dalam hati agar sukses menutupi kecanggunganku.

“Nggak usah pura-pura gitu,” kamu menutup laptopku semena-mena.

Wajahku terasa panas, dadaku bergemuruh. “Mau kamu apa?”, tanyaku kesal. Campur grogi, dengan sedikit kesenangan yang kutekan jauh ke dasar hati.

“Kamu sehat?”

“As you see… Sudah ya. Lebih baik kamu pergi sana!,” aku mengusirmu, membuka lagi laptopku dan berpura-pura konsentrasi.

Kamu masih ada di hadapanku. Mengetuk-ngetuk meja dengan ujung kukumu, sebelum akhirnya kamu membuka suara. Pertanyaan yang sama, selalu sama.

“Cincin kamu bagus. Kali ini dengan siapa?”

“Bukan urusan kamu!”

“Aku harap dia tahu, bahwa aku adalah laki-laki yang pernah menjagamu lima belas tahun, tumbuh besar bersamamu, dan membawa mati cintaku,”. Selalu sama. Skenario macam kaset rusak yang kamu ulang-ulang di saat aku ingin melepaskan diri dari sosokmu. Entah bagaimana kamu selalu menemukanku, meski kali ini kamu sedikit terlambat.

“Dia yang akan menjaga sisa hidupku. Bukan kamu!” suaraku meninggi.

“Lalu, aku akan kamu letakkan dimana dalam hatimu?”. Suaramu tiba-tiba mengiba. Aku sudah memperingatkan diriku sendiri untuk tidak melihat wajahmu, tapi tidak kuasa.

Matamu layu.

Lima tahun lalu juga begitu. Kamu meneteskan air matamu, ketika aku pamit hendak menikah dengan seniorku di kampus. Selama lima belas tahun, aku tidak pernah mendengarmu menyatakan perasaan apa-apa melainkan hanya selalu berada di sisiku. Mendengarkan cerita-ceritaku, pacar-pacarku, keluh kesahku. Kamu tidak pernah pergi jauh. Kamu pegang baik-baik nasihat Mama saat pertama kali datang ke rumah,

“Le, kamu sekarang jadi anakku, ya. Tidak usah khawatir dengan sekolahmu, aku yang tanggung. Almarhum bapak dan ibu kamu sudah pesan untuk menitipkan kamu kalau ada apa-apa dengan mereka. Bapak dan ibumu itu sahabatku dari kecil…

Mulai sekarang panggil aku Mama ya, Le. Panggil Om juga tidak usah Om lagi, panggil saja Papa. Tidak usah canggung. Nah ini adikmu, Lani. Nanti kalian saling jaga yaaa…”

Kamu datang tidak lama setelah kecelakaan kereta yang merenggut nyawa ayah dan ibumu. Kamu seharusnya jadi kakakku, Mas Ale. Kita semestinya cukup menjadi kakak-adik. Tidak perlu punya rasa lebih dari itu.

Lima tahun lalu, rusak sudah hubungan itu. Aku batal menikah. Kita datang minta dinikahkan, tapi Mama dan Papa marah besar merasa dikhianati. Lalu kamu pergi meninggalkan rumah, menyisakan secarik surat:

‘Mama, Papa, terima kasih untuk kasih sayangnya selama ini. Maafkan Ale.

Lani, maafkan aku sudah merusak hidupmu’

Bodoh. Kamu bodoh. Mengapa tidak memperjuangkanku? Di hari kamu pergi, Mama menangis sejadi-jadinya. Semalaman Mama dan Papa berpikir panjang. Jika harus melepaskan aku untuk dipinang, maka kamu adalah orangnya. Tapi kamu keburu pergi…

“Mas Ale, terima kasih untuk tahun-tahun yang indah. Terima kasih telah menjagaku. Terima kasih. Kali ini, aku akan melepaskanmu…”

Aku menghabiskan sisa lemon tea-ku, membereskan barangku dan beranjak ke kasir untuk membayar minumanku. Tidak kudengar kamu memanggilku, atau berusaha menahan kepergianku. Baguslah. Kemajuan. Baru kusadari beberapa pengunjung dan pelayan kafe memandangiku heran, beberapa ketakutan. Aku membalas mereka dengan senyuman getir.

Sempat aku melirik ke meja tempat kamu tadi berada. Kamu masih di sana. Tidak mengapa, nanti pada saatnya kamu akan beranjak pergi. Pergi untuk kedua kali. Karena kamu memang sebenarnya tidak pernah kembali kepadaku. Malam hari saat kepergianmu, asthma yang kamu derita menerjemahkan pedih hatimu, hingga lepas nyawamu dibuatnya.

***

“Ale datang lagi?”, tanya Elias penasaran saat aku meneleponnya. Elias adalah tunanganku, terapis sekaligus ‘tong sampah’ segala cerita-ceritaku.

Aku mengangguk.

“Lalu?”

“Lalu aku yang pergi. Aku memilih bersama kamu,” ucapku.

“Elias…,” panggilku.

“Ya?”

“Kamu benar-benar ada kan? Bukan fantasiku saja kan?”

Suara di ujung sana tertawa kecil.

“Aku benar-benar ada, sayang,”

Fantasy

 

 

Advertisements

2 thoughts on “Beranjak

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s