I think, Therefore I am

Corgito ergo sum…

Dalam perjalanan pulang selepas takziah hari ini, saya ngobrol lumayan banyak sama bu dekan. Saya suka ngobrol sama beliau, selalu membekas dan membuat saya punya bahan ngelamun selepasnya. Hihi.

Salah satu topiknya adalah tentang perempuan dan perceraian. Mungkin saya ngelamunnya kejauhan, tapi meski saya meyakini bahwa seorang istri harus patuh pada suami, saya juga meyakini suami pun harus membuka banyak ruang diskusi dan negosiasi. Kenapa?
Karena mendidik istri untuk ‘udah terima aja’, kadangkala jadi terkesan mengkerdilkan hak perempuan untuk berpikir.
Becoz, helloooo berpikir adalah hak asasi manusia!
Ini bukan masalah perempuan bekerja atau di rumah, bukan masalah perempuan sekolah tinggi atau ‘secukupnya’. Bukan. Ini hal yang lebih dasar dari itu: hak berpikir.
Banyak orang tidak memanfaat hak ini dengan baik, saya pun masih jauh dr optimal dalam memanfaatkan hak ini.
Mari kita bicara tentang bagaimana perempuan dikaburkan dari haknya dalam berpikir.
Sejak kecil, kita dididik bahwa perempuan harus cantik, berpakaian menarik, berdandan… Kalau kau kurang putih, gigi tonggos, gendut, kau serta merta berada dalam daftar tidak cantik. Nggak penting si perempuan mungkin berbudi luhur, sopan santun, pandai berhemat, aapalagi….pintar.
Saya ngga against make up, atau hal-hal berbau kecantikan. Not at all. Cantik adalah hak lain dari perempuan yang terlalu sering diingatkan kiri kanan.
What I’m trying to say issss…
Betapa sering kita sebagai perempuan mengikuti standar orang lain, dan lupa bahwa seharusnya ada indikator yang lebih manusiawi daripada sekadar fisik.
Karena cantik saja nggak akan cukup untuk menghadapi cobaan dunia (apalagi buat mengelabui malaikat munkar nakir…)
Misal nih, mantan ART ibu saya. Usianya baru 16 tahun saat ia bekerja di rumah ibu saya. Bekerja sangat passionate, gesit, cerdas, dan yang paling saya suka dari dirinya adalah, she knows what she’s doing with her life.
Keluarganya nggak terlalu harmonis, adik-adiknya masih banyak, ibunya harus mencari nafkah ke luar negeri. Someone has to be there, bukan?
Resign-lah dia akhirnya. Dilepas dengan isak tangis oleh keluarga saya, dikenang selalu sebagai the best employee ever. Lalu, apa yang ia lakukan di kampung? Join sebuah MLM, punya banyak pelanggan, bahkan sudah terima order dr luar negeri.
She’s making money for her family, and taking care of her siblings.
Kalau saja dia hanya mengikuti arus seperti banyak orang lain di usianya, maka habislah sudah gajinya untuk dandan sana sini, eksis sana sini.
Jadi, ini bukan sekadar sejauh mana paparan edukasi menerpa seorang perempuan. Bukan sama sekali.
Ini adalah tentang gimana kita, sebagai perempuan, mengoptimalisasi hak dasar dalam kehidupan. Dalam hal apapun.
Seperti wajah dan tubuh perempuan yang berharga, dan bisa jadi mahal bingit perawatannya; begitu pula akal sehat. Harus dijaga senantiasa sehat dengan mengonsumsi hal-hal yang juga sehat.
Bahkan nih, dalam hal penghambaan kepada Tuhan. The very basic needs of a human being sebagai makhluk Allah, adalah penghambaan kepada-Nya. Dalam Al-Quran pun, betapa banyak ayat yang diturunkan ‘agar kamu berpikir’, atau ‘untuk orang-orang yang mengambil pelajaran’.
Bukankah hakikat utama dari penciptaan manusia adalah menghamba kepada Allah :’) dan akal pun diberi oleh Allah sebagai tools to worship Him?
To my fellow ladies,
There are a lot of things that make you, you. You’re not just a pretty face. You’re waaaaaaaaay more than that.

To my fellow men,

Saya meng-quote sebuah pernyataan yang saya sering lihat instagram dengan sedikit modifikasi: “kalaulah laki-laki lebih melihat akhlak dan kecerdasan seorang perempuan daripada keindahan fisiknya; pasti lebih banyak perempuan yang berusaha mencerdaskan dirinya dan memperbaiki perilakunya”.

Akhir kata, sesungguhnya saya, yang menulis ini adalah orang yang paling butuh dinasehati, orang yang paling butuh dimarahi karena belum mengoptimalkan akalnya 😦
Berhentilah, Shinta, nonton Say Yes to The Dress yang kurang ada faedahnya. Kembalilah nonton kajian, atau Tedx Talk. Kembalilah baca buku, diriku. Kembalilah gunakan akalmu agar sisa hidupmu bermanfaat…
You know you won’t live long enough to follow your worldly desire.
Advertisements

Hujan


Kadang terang,
Kadang kelabu.
Persis seperti kamu.
Kalau sudah terlalu jenuh,
Luruh.

Persis seperti kamu.

Tapi, hujan tak luruh karena cemburu.

-katashinta-