Hurt People Hurt Other People

“Dia datang, ayo siap-siap”, si Buntal menarik napas panjang. Wajahnya nyureng, matanya terpejam. Perlu mental baja, meski tubuh membal, untuk jjadi sandaran Fey.

“Aku kali yang harusnya siap-siap”, kata si Gul.

“Ssstttt…” Buntal memberi kode kepada Gul untuk diam.

Gul ikut memejamkan mata. Menghayati peran yang akan dimainkannya.

Tak lama, terdengar suara pintu dibanting. Fey menghambur masuk dan membanting tubuhnya di kasur. Gadis itu memaksakan diri untuk tidur. Namun, cuplikan kejadian hari ini menghantui usahanya.

Fey marah. Marah pada segalanya.

Marah pada dosennya yang terlambat berjam-jam tapi tetap mengajar, marah pada teman kelompoknya yang tidak bisa diandalkan dalam mengerjakan tugas kuliah, marah pada ojek online yang lambat, tapi terutama Fey marah pada teman-teman kelompoknya yang membuatnya merasa tidak kompeten. Teman-teman kelompoknya pun marah padanya. Semacam Fey versus mereka semua.

“Lo nggak usah bossy. Nggak usah sok pinterlah. Lo pikir lo siapa? Kita semua di sini sama kok. Sama-sama punya gagasan dan kita mau kerja. Jangan gara2 bukan ide lo, jadi lo anggep jelek!” Lusi, si Nyinyir, mengulek hati Fey sampai lumat.

“Lo pikir lo siapa?”suara itu terngiang lagi. Hatinya berdenyut nyeri.

Padahal ia hanya ingin mengatakan bahwa ide teman-temannya itu, tidak sebagus idenya yang paripurna. Gagasan mereka memang lebih mudah, tapi tidak…ideal. Bukankah, idenya lebih…sempurna?

Semalaman ia memikirkan gagasan itu. Hingga tidak tidur karena sibuk mencari data di dunia maya. Ah, idenya berasal dari data. Ide mereka darimana datangnya? Hanya ingin gampangnya saja…

“Lo pikir lo siapa?”. Lagi, ocehan Lusi menghujam tepat di hatinya.

“Kamu bisanya apa sih? Ngerjain gini aja salah”. Tiba-tiba suara Lusi berubah jadi suara Bunda.

Sosok Bunda hadir di hadapannya. Berkacak pinggang, sambil melotot ke arahnya. Bunda melempar buku PRnya ke lantai. Fey kecil buru-buru memungutnya.

Dari sepuluh soal, ada satu yang salah.

Hanya satu.

Ah tidak, kata Bunda sejuta tidak akan jadi sejuta tanpa satu rupiah. Satu nomor yang salah juga sebuah kesalahan besar.

“Kalau kamu sampai jeblok nilainya, cari aja Bunda lain. Bunda malu punya anak bodoh”

Bunda… Tapi Fey sudah belajar keras, Bunda… Fey bergumam dalam hati… kecemasan meliputi hati dan perasaannya. Kecemasan yang berganti dengan kesedihan, yang dibawa Fey tidur hampir setiap hari.

“Jangan cengeng! Anak Bunda nggak boleh cengeng!” Gelegar suara Bunda terdengar lagi. Setiap Fey menunjukkan wajah ingin menangis, Bunda langsung menggelegar.

Fey tidak boleh menangis, Bunda dulu dicambuk rotan juga tidak menangis.

Bunda lebih baik daripada Nenek, karena Bunda tidak pernah mencambuk Fey dengan rotan.

Namun, kadang Fey berpikir keras…”Apakah Bunda sayang pada Fey sedangkan Fey selalu berbuat salah dan nakal? Apakah Bunda akan menyuruh Fey mencari Bunda lain padahal Fey sangat sayang pada Bunda?”

“Bunda…”, Fey mulai meracau.

“Sssshhh…”, Buntal berbisik di telinga Fey. “Tidur saja, Fey. Kamu lelah…”, bujuk Buntal. Fey membenarkan posisi kepalanya yang bersandar di tubuh sahabat gendutnya itu. Ia meraih Gul dalam peluknya dan melingkarkan kakinya pada tubuh Gul.

“Gul, ayo…kita jalankan tugas kita,” Buntal berbisik pada rekannya.

Buntal dan Gul bersenandung lirih. Lirih sekali, mengantarkan Fey menuju tidur yang lebih dalam dan lelap. Lelap sekali.

“Istirahat ya, Sayang…”, Buntal dan Gul mengecup kening Fey bergantian.

Katanya…

Katanya, haid teratur penting untuk kehamilan. Nyatanya, teman saya yang haidnya setahun hanya dua kali, sudah punya anak dua.

Katanya, nggak boleh gendut kalau mau hamil. Nyatanya, ada perempuan yang morbidly obese dan punya anak tanpa kesulitan.

Katanya, mungkin Allah belum percaya. Nyatanya, ada, banyak pasangan “tidak sengaja” dan “tidak berharap” yang Allah berikan kehamilan pada mereka.

Katanya, nggak boleh kelelahan kalau mau hamil. Nyatanya, ART ibu saya dalam keadaan bekerja fisik setiap hari: menyapu, mengepel, jongkok2 nyikat kamar mandi dan dia baru tahu kalau sudah hamil 6 bulan. Qadarullah badannya memang subur.

Katanya, perempuan berkejaran dengan waktu untuk hamil. Nyatanya, perempuan India berusia 70 tahunan, hamil pertama kali setelah menunggu puluhan tahun.

Ada banyak katanya dalam hidup ini.

Maka, ketika logika lelah mencari keping puzzle yang hilang; istirahatlah.

Buat Allah semua mudah.

Istirahatlah.

Kasih sayang Allah tanpa tepi, tanpa tapi.

Istirahatlah.

Lidah manusia menyakiti, tapi Allah Maha Memeluk rasa hati.