Sebuah Catatan Pribadi tentang Bahasa Arab (Part1)

Bahasa Arab, untuk banyak anak muda Indonesia masih dianggap kurang keren. Setidaknya bahasa Inggris, Prancis atau yang sekarang sedang booming, Bahasa Korea masih menjadi favorit dan dianggap lebih keren dibandingkan dengan Bahasa Arab. Dan terima kasih kepada media massa yang seringkali menampilkan sosok Arab yang bicara cadel huruf “P” dan menjadi bulan-bulanan; yang mungkin, menurut analisis saya, hal ini juga menjadi pengaruh tersendiri menjadikan Bahasa Arab jadi terasa nggak keren. Padahal bangsa kulit putih juga banyak yang dalam berbahasa tidak bisa mem-pronounce huruf “R”. Sebut saja Prancis, atau orang-orang berbahasa Inggris yang menyebut “R” hanya di ujung lidah. Tapi herannya, mengapa tidak dianggap “tidak keren”?

Personally, saya suka belajar bahasa. Jadi, sampai beberapa waktu lalu, saya tidak punya tendensi apa-apa saat belajar bahasa asing. Dulu sekali saya pernah belajar bahasa Prancis, tapi selalu tidak bisa menyelesaikan satu term karena terbentur waktu dan aktivitas lain. Alasan saya belajar bahasa Prancis selain karena kesukaan saya pada bahasa, adalah karena they just sound so…beautiful. Dan Bahasa Prancis, konon adalah akar dari bahasa-bahasa Eropa. Banyak buku-buku klasik keilmuan Barat ditulis dalam bahasa Prancis.  Alasan terakhir, karena jaraknya dekat dari rumah saya waktu itu. Hehe. Pandangan saya terhadap per-bahasa-an ini mulai bergeser saat saya S2. Saya baru melek bahwa bahasa sejatinya bisa menjadi petunjuk atas banyak hal. Siapa influencer terbesar sebuah bangsa bisa terlihat dari bahasanya. Sejauh mana kemajuan peradaban sebuah bangsa juga bisa dilihat dari bahasanya. Pilihan kita dalam menggunakan bahasa pun menunjukkan siapa kita.

Menarik bahwa Indonesia adalah rumah bagi seperempat populasi Muslim dunia tapi hanya segelintir orang yang mampu bicara bahasa Arab. Padahal aksara-aksara Melayu kuno banyak dipengaruhi oleh bahasa Arab. Dan kesusasteraan bangsa Melayu di masa keemasannya sungguh indah, santun dan tinggi. Lalu, kapan mulanya bahasa Arab menjadi “tertinggal” dari bahasa-bahasa bangsa barat? Mungkin sejak “The Britanian Rules The Waves” dan imperialisme serta misi penaklukan kembali dilakukan. Lalu menjadi serupa dengan bangsa penjajah meningkatkan kelas sosial…

 Buku-buku Komunikasi Antar Budaya yang menjadi makanan saya selama mengajar mata kuliah bernama sama banyak mengajarkan saya tentang makna di balik sebuah bahasa. Sudah jamak diketahui bahwa salah satu bagian dari nilai budaya adalah perbedaan “high context” dan “low context”. Gampangnya begini, budaya dengan konteks tinggi adalah budaya dengan bentuk komunikasi tersirat. Maknanya tidak selalu ada dalam bahasa verbal. Alih-alih seseorang harus melihat pada banyak konteks serta gesture non verbal untuk bisa menemukan makna. Budaya konteks rendah sebaliknya. Makna bisa ditemukan dengan cukup memahami bahasa verbal seseorang. Tidak banyak konteks yang melatarbelakangi sebuah interaksi.

Ribet?

Begini contohnya. Indonesia, khususnya Jawa berkonteks budaya tinggi. Lihat bagaimana orang Jawa memulai sebuah pembicaraan. Seringkali maksud pembicaraannya tidak sama dengan ucapannya, dikarenakan banyaknya konteks yang mengelilingi sebuah interaksi. Penuh dengan tata krama. Berbicara dengan orang yang lebih tua berbeda dengan bicara dengan orang yang lebih muda. Bicara dengan Sultan, berbeda dengan bicara dengan tukang becak.

Bandingkan dengan, misalnya, Amerika Serikat. Kepada boss, seseorang bisa memanggil nama; seorang anak kecil juga bisa memanggil nama pada orang-orang tua; bahkan seorang anak kadang memanggil ayahnya dengan nama. Tidak ada Anda, tidak ada Sampean, tidak ada Panjenengan. Semuanya “Kamu”. 

Dari sinilah, muncul kekaguman saya pada bahasa Jawa, bahasa China, bahasa Jepang, dan bahasa Arab. Betapa tinggi sebenarnya peradaban dan tata kelola masyarakat yang bangsa-bangsa itu bangun di masa lalu. Tidak mudah menciptakan, membangun peradaban dari komunikasi yang sarat konteks. Sejak itu anggapan saya terhadap bahasa Inggris jadi agak rendah. Belajar bahasa Jawa, jadi terlihat lebih classy dari belajar bahasa Inggris.  

Nah, di antara bangsa-bangsa yang berkonteks budaya tinggi, sebagaimana sudah saya sebutkan, adalah Arab. Sekalipun gaya bahasa mereka “outspoken”, tapi ketika berbahasa banyak konteks yang meliputinya. Sebuah kata tidak bisa dipahami sepotong-sepotong, tapi harus dipahami seluruh kalimat, dilihat kalimat sebelum dan sesudahnya serta dilihat pula konteksnya. Tata bahasanya pun sangat detail, memisahkan laki-laki dan perempuan (seperti bahasa Prancis ada feminin dan masculin), memisahkan benda berjumlah satu, dua dan lebih dari dua, membedakan gramatika bahasanya atas masa lalu, masa kini, kata suruhan dan kata larangan. Satu kata bisa memiliki banyak arti dan banyak perubahan bentuk dengan arti yang berbeda. Sebuah kata juga bisa berubah pengucapannya mana kala berubah kedudukan dalam kalimat. “Rumah” pada kata “Rumah yang Indah” berbeda dengan “Saya ada di rumah”. 

Al-Quran, sebagai sebuah kitab otentik berbahasa Arab yang tidak berubah sejak masa diturunkannya, sebenarnya awalnya ditulis oleh para sahabat Rasulullah SAW yang bisa menulis tidak dengan bantuan tanda baca, alias arab botak. Artinya mereka paham betul makna serta konteks sebuah ayat dan kedalaman maknanya. Menurut guru bahasa Arab saya, Al-Quran diberi tanda baca untuk memudahkan bangsa non-Arab belajar Al-Quran. Ya, kebayang sih ya… 😀

Saya, yang baru belajar beberapa bulan dengan tambahan sisa ingatan ilmu jaman SMP,  alhamdulillah dengan izin Allah, begitu norak karena senang mulai bisa membaca (baca: menebak) sedikit petunjuk dengan tulisan Arab gundul. Kuncinya adalah memang memahami konteksnya. Begitupun, saat saya lagi “ngawur”, saya ditertawakan ustadzah bahasa arab saya karena salah membaca “Al-Jumu’ah” dengan “Al-Jaami’ah”. Padahal tulisannya beda dan artinya jauh. Al-Jumu’ah merujuk pada Hari Jum’at. Al-Jaami’ah merujuk pada universitas :p. Dan memang semakin kita pahami konteksnya, tanpa tanda baca pun sebenarnya terlihat maknanya. 

Artinya apa? Artinya, apabila Al-Quran dituliskan awalnya tanpa tanda baca, dan Al-Quran memiliki tingkat kesusasteraan yang sangat tinggi bagi bangsa Arab di jaman itu (dan jaman sekarang) memahaminya memang harus melihat konteksnya. Saya bener-bener baru agak paham makna surat Ad-Dhuha waktu nonton film Omar. Waktu Ammar Bin Yasir membacakannya kepada kedua orangtuanya, dan saya membaca subtitlenya. Surat yang sudah saya hafal sejak SD, ternyata dalemmmm banget maknanya, terlebih lagi di film yang membuat saya paham dengan konteks surat tersebut. Dan saya jadi paham mengapa disunnahkan dibaca pada waktu shalat Dhuha, yang katanya adalah shalat para pencari rizki.  

 

 

Advertisements

Muslimah Keren: Chibi, Berkarya di Banyak Lini

38349_408174738019_3727137_nBerkenalan dengan Muslimah Keren yang satu ini, bisa membuat kita tertular semangat dan energinya yang amat positif. Seolah tidak ada kata istirahat baginya untuk terus berkarya dan member manfaat bagi banyak orang. Jadi, setelah sekian lama tidak mengisi blog saya dengan sesuatu yang berarti, saya ingin membagi cerita tentang sahabat saya, si Muslimah Keren, yang insyaAllah bisa menjadi inspirasi untuk kita semua.

Terlahir dengan nama Ranny Rastati, sebagian besar orang yang mengenalnya memanggilnya Chibi, nama “Jepang” yang ia dapatkan ketika mengenyam pendidikan sarjana di Sastra Jepang UI. Sosoknya riang dan ramah dan tampak lebih muda dari usia sebenarnya.

Sehari-hari, ia bekerja di bagian Departemen Service dan Training Lotte Indonesia. Sepintas, kehidupannya sama saja dengan perempuan muda berpendidikan yang sedang bersemangat meniti karier di ibu kota. Tapi, di sela-sela kesibukannya, Chibi menyempatkan diri mengurus “orang lain” dengan membuka Chibi Ranran Help Center.

Inspirasi itu datang saat ia dan teman-teman SMP-nya mengadakan bakti social kesehatan gratis serta seminar mengenai kesehatan. Hal itu mereka adakan sebagai wujud syukur sekaligus sebagai rasa terima kasih kepada para guru dan masyarakat sekitar SMP tempatnya dulu belajar. Ternyata kegiatan tersebut masih menyisakan sejumlah uang yang bisa dimanfaatkan untuk kepentingan murid-murid yang tidak mampu di SMP tersebut. Dari situ, anak kedua dari dua bersaudara ini terpikir untuk mewadahi bantuan dari teman-temannya atau dari siapapun yang ingin membarikan bantuan. Dan lahirlah Chibi Ranran Help Center. Sampai saat ini, Chibi Ranran Help Center sudah menyalurkan bantuan untuk merenovasi musholla SMP 102, tempatnya dulu belajar dan sebuah musholla di daerah Tangerang dan masih akan terus menyalurkan bantuan peralatan sholat untuk musholla yang membutuhkan.

Yang menarik, Chibi mengaku bahwa dirinya nyaris tidak menemukan “duka” saat mengerjakan pekerjaan dan kegiatan sosialnya. “Yang ada semuanya suka. Hehe. Yang penting segala sesuatu djalani dengan bahagia, ikhlas, dan semangat. Kalau dimulai dengan niat yang baik, maka Allah juga akan memudahkan jalannya,” ujar dara kelahiran Jakarta, 27 tahun silam ini.  

Manajemen waktu yang baik adalah kuncinya. Chibi senantiasa berusaha mempergunakan waktu dengan maksimal. Ketika di kantor, ia akan mencurahkan perhatiannya secara total untuk kepentingan pekerjaan; begitu juga apabila saatnya ia mengerjakan  urusan Chibi Ranran Help Center, ia akan focus untuk mengerjakan urusan Chibi Ranran Help Center.

Chibi pertama kali berhijab saat ia duduk di kelas satu SMA selepas pesantren kilat di sekolahnya. Sebuah taushiyah tentang kematian demikian menggugah kesadarannya untuk menunaikan kewajiban dari Tuhannya sebelum maut datang menjemput: berhijab. Dan sejak saat itu, Chibi selalu rapih menutup auratnya.

Apakah pernah ia merasa terhalang dengan hijab yang dikenakannya, mengingat ia bekerja di perusahaan asing?

Ternyata, hijab tidak menghalanginya untuk berkarya dan bergaul dengan orang-orang dari budaya berbeda. Menurut Chibi, yang menjadi masalah bukanlah pakaian tapi attitude atau perilaku yang dibawa seseorang yang lebih menentukan. Beruntung, Chibi berada di lingkungan multi kultur yang amat toleran dengan ke-Islam-annya. Campuran Jawa-Toraja ini bahkan pernah ditegur rekannya yang “orang asing” karena waktu shalat sudah tiba sedang ia masih disibukkan dengan pekerjaan.

Bersama hijab itu pula, Chibi sudah melanglang buana ke berbagai negara dimana Muslim sangatlah minoritas. Mulai dari homestay di Sydney, Australia; Jepang, Korea dan China. Dan ia tidak pernah merasakan diskriminasi dalam perjalanan dan interaksinya dengan penduduk local. Salah satunya karena ia diuntungkan dengan kemampuannya bicara dalam tiga bahasa asing! Ya, Chibi yang juga pernah aktif mengkampanyekan “Save The Whale” ini mahir berbicara dalam bahasa Inggris, Jepang dan Korea.

Chibi yang senang memodifikasi gaya hijabnya juga memiliki pengalaman unik selama travelling. Ketika ia berkeliling Nami Island, tempat pengambilan gambar Drama Korea fenomenal, Winter Sonata, dengan sepeda, banyak orang melihatnya dan melambaikan tangan. Bahkan banyak juga yang minta foto bersama karena hijabnya dipandang unik dan menarik.

Dalam kehidupan sehari-hari, Chibi sangat mengidolakan sang Mama. Baginya, Mama adalah super woman. Walaupun sang Mama bukan ibu rumah tangga full time dan memiliki banyak kegiatan di luar rumah, akan tetapi Chibi tidak pernah merasa kehilangan sosoknya.

Walaupun sehari-hari cuma ketemu 2-3 jam, tapi waktu yang kami habiskan itu sangat berkualitas. Jadi rasanya nyokap itu selalu ada kapan pun dan dimana pun”, tuturnya.

Berhijab, bagi Chibi, tidak semestinya menjadi penghalang seorang Muslimah untuk berkarya dan member manfaat bagi banyak orang. Menurutnya, sangat penting bagi seseorang untuk memiliki dan memenuhi impian dan harapan, sebab siapapun mampu bertahan selama mereka memiliki impian dan harapan.

“Seperti tangga, hidup itu harus direncanakan. Semakin baik, semakin berkualitas. Karena hidup cuma sekali dan jadikanlah hidup itu luar biasa. Agar nanti ketika kita kembali kepada Allah dan ditanya, apa aja yang udah dilakukan dalam hidup, kita bisa menjawab ‘saya menjadi manusia yang bermanfaat untuk orang lain’”,pungkasnya.

Muslimah Keren: Jejak Muslimah “Petualang”

Pada Inspirasi Muslimah perdana ini, saya ingin memperkenalkan sosok “Muslimah Keren” yang dulu dikenal sebagai “petualang” karena pekerjaannya sebagai host di beberapa acara “petualangan” yang kebetulan adalah teman baik saya.

Bismillah…

***

Gambar

Melihat sosoknya yang mungil dan manis, rasanya sulit untuk percaya bahwa ia adalah salah satu dari sedikit perempuan Indonesia yang pernah mencapai Puncak Cartenz, Papua. Wow! Bayangkan! Padahal Cartenz adalah salah satu dari Seven Summits, tujuh puncak tertinggi di dunia. Terletak di Pegunungan Jayawijaya, Puncak Cartenz berada pada ketinggian 4884 mdpl dengan puncak gunung diliputi salju abadi. 

Bersama tim Metro TV, Ferissa Djohan, atau yang akrab disapa Rissa berangkat ke Puncak Cartenz dalam rangka menyemarakkan HUT Kemerdekaan Indonesia ke-62 sekaligus ingin mengibarkan Merah Putih di sana. Dibutuhkan banyak persiapan, ketahanan dan keberanian tentunya untuk bisa mencapainya. Menurut Rissa, pengalaman itu “mengerikan” karena ia nyaris meregang nyawa dalam perjalanan menuju ke Puncak Cartenz. Mantan host Jejak Petualang ini menyebutkan bahwa untuk menyebrang dari satu bukit ke bukit lain, para pendaki hanya menggunakan seutas tali; sedangkan pada saat itu ia bersama sepuluh orang lainnya (kru dan pendaki internasional) berada di ketinggian lebih dari 4000 meter dengan jurang yang entah dimana ujungnya! Disanalah Rissa nyaris berhadapan dengan maut.

“karena kecapekan saya ga sanggup menaiki dan menuruni bukit menggunakan tali lagi, istilahnya jumaring, naik turun pakai tali, ilmunya para pemanjat tebing itu deh,jadilah saya sempet jatuh dan kepala saya ada di bawah, sementara tali penghubung terikat di pinggangnya kameraman saya,” tulisnya dalam wawancara melalui surel beberapa waktu lalu. 

Beruntung sang kameramen berhasil menahan tubuhnya. Saat itu, tubuhnya sudah upside down, dan sejauh mata memandang yang dilihatnya hanyalah jurang yang seakan  tanpa dasar dan hamparan salju. Singkat cerita, ia tiba di Puncak Cartenz saat hari memasuki malam dalam keadaan lapar dan haus. Tim memulai pendakian pada pukul 1 dini hari, dan baru tiba di Puncak pukul 8 malam, disambut dengan gelap gulita dan badai es. Di puncaknya pun tidak bisa berlama-lama, karena mereka harus segera kembali, naik turun bukit menggunakan tali…sekali lagi. 

Pengalaman itu, walaupun tidak ingin diulang Rissa, namun banyak menjadi pendorong semangatnya. Apabila Cartenz saja, yang mendakinya (dan menuruninya) begitu menantang maut, bisa ditaklukan maka permasalahan hidup pun semestinya tidak sesulit itu. 

Walaupun usianya masih terbilang muda, namun dara kelahiran Jakarta, 29 tahun lalu ini sudah makan asam-garam dunia penyiaran. Diawali dari menjadi host Jejak Petualang semasa kuliah, lalu acara Trekking di RCTI, Archipelago di Metro TV, hingga menjadi anchor acara berita di beberapa stasiun TV. Pengalaman tersebut ditambah dengan pendidikan Master of Communications Science yang diraihnya pada 2011 lalu mengantarkannya saat ini menjadi produser acara Megapolitan di Kompas TV.

Ada yang berbeda dari Rissa beberapa tahun belakangan. Pada 2009, ia memutuskan untuk berhijab, sebuah “gunting pita” dari keinginan yang lama tertunda. Walaupun, ia mengaku harus lebih banyak belajar sabar (sebagaimana yang memang harus KITA SEMUA lakukan), namun ia tetap berusaha menjadi pribadi yang lebih baik.

Apakah hijab mengekang dirinya? Ternyata ia sama sekali tidak berpikir demikian. Rissa meyakini bahwa apa yang diperintahkan Allah dan Nabi Muhammad SAW pasti selalu ada hikmahnya. Hijab untuknya memberikan rasa aman dan nyaman serta menjadi penjaga sekaligus pengingatnya untuk selalu berperilaku Islami. 

“Perempuan yang ngga suka sensasi biasanya jilbabnya sederhana aja yang penting menutupi aurat dan ngga mentingin harus begini dan begitu, isi otak sama isi hati paling utama untuk perempuan yang sejati menggunakan hijabnya, gw suka sih banyaknya tren mode hijab tapi esensinya dapat atau ngga itu tetap harus dilihat dari perilaku si perempuannya,” tuturnya.

Tantangan terbesar yang ia hadapi setelah berhijab justru tidak datang dari pekerjaan atau dunia sosialnya; namun tantangan terbesar yang ia rasakan justru datang dari dirinya sendiri untuk selalu memperbaiki perilaku agar tidak khilaf dan menurutkan emosi semata. 

Lulusan S1 dari London School of Public Relations ini menyebutkan bahwa shalat ada ajaran Islam yang paling ia sukai karena dalam shalat manusia disuruh mencuci dirinya lima kali sehari. Selain itu, dengan shalat seseorang dapat mencurahkan isi hatinya langsung kepada Allah juga lima kali sehari. Shalat juga dirasanya sebagai cara menenangkan diri dari gejolak emosi.

“Dengan shalat slalu ada kesempatan mencurahkan apapun yang terjadi dg diri kita tiap harinya, ada cara menenangkan diri saat emosi, ada waktu setiap hari untuk melepas lelah secara batin, karena dinamika hidup manusia ga bisa slalu seneng. Tiap hari masalah selalu ada, mau dicari mau ngga, dan shalat ngajarin kita untuk mengembalikan setiap persoalan dengan Pemiliknya, dan kita bisa belajar dari tiap kesalahan yang kita buat dengan mengadu sama Allah, evaluasi dan belajar dari kesalahan itu. Shalat memang ternyata tiang agama dan kehidupan…”, pungkasnya.

Rissa adalah salah satu orang pertama yang saya kenal saat hari pertama kuliah di pascasarjana Fisip UI. Saya tidak menyangka, kehidupan dunia hiburan yang menurut saya saat itu saat menonjolkan tampilan fisik semata bisa “menyisakan” sosok seperti Ferissa yang menurut saya bukan hanya cantik secara fisik tapi juga cerdas dan sangat humble. 

Semoga kita semua bisa mengambil hikmah dari “Muslimah Keren” yang satu ini. Berhijab, berkarya, dan selalu memperbaiki diri. 😉

 

 

 

Perempuan Gaptek?

Dalam sebuah kelas kajian budaya dan media yang sedang membahas tentang feminis, beberapa tahun silam, saya masih ingat sebuah kalimat. Detail redaksinya sih saya lupa, tapi intinya adalah, beberapa peralatan elektronik konon dibuat untuk memudahkan para ibu rumah tangga mengerjakan pekerjaan rumahnya; namun pada akhirnya mereka tetap membutuhkan pria untuk mengoperasionalkannya. Selain fakta bahwa engineer yang menemukan dan merakit mesin cuci, dishwasher machine, rice cooker, atau microwave sebagian besar adalah laki-laki, dalam pandangan di atas tersirat pesan bahwa dalam bahkan dalam teknologi rumah tangga sekalipun posisi perempuan seakan berada di bawah laki-laki karena ke-kurangcanggih-annya mengoperasikan peralatan rumah tangganya sendiri. Ya namanya juga belajar feminisme, pandangan su’uzon yang selalu menganggap seolah-olah perempuan berada di bawah kekuasaan laki-laki. Pandangan yang saya nggak pernah bisa menerima, karena justru “membodohi” diri sendiri. Buat apa berpikir perempuan sub marginal, dan lantas berjuang untuk menyetarakan diri? Saya sih, alhamdulillah, tidak dibesarkan dan tidak merasa dipelakukan sedemikian. Paman-paman saya dari pihak mama hampir semua bisa mengerjakan pekerjaan rumah tangga karena eyang saya tidak pernah membeda-bedakan anak laki-laki dan perempuan baik dalam pendidikan maupun pekerjaan rumah tangga. Semua harus sekolah tinggi, di sisi lain semua juga harus bisa mengurus rumah. Papa saya pun dibesarkan oleh seorang abah yang punya visi jauh ke depan untuk mendidik anak-anak perempuannya. Suami saya malah menyuruh saya bekerja, jangan di rumah saja. Suami menyuruh saya mengerjakan apapun yang bermanfaat, karena suami saya menghargai kapabilitas istrinya (dan marah-marah kalau tahu istrinya dibayar murah :p).

Anyway, saya sendiri, sebagai perempuan yang minus kemampuan teknik tidak merasa “kalah” atau tidak setara karena dalam banyak hal saya bergantung pada laki-laki (baca: suami, atau kadang tukang ehehehe…). Memang benar sekali, saya membutuhkan suami saya, atau teknisi peralatan elektronik untuk membantu saya mengoperasikan mesin cuci baru *ehm* atau membetulkan kulkas, HP, laptop, dan banyak lagi. Apakah saya merasa rendah? Ah tidak sama sekali. Saya malah merasa girang karena tidak perlu melakukan pekerjaan yang membuat saya mumet seperti itu. Harap maklum, dalam setiap tes psikologi yang pernah saya ikuti, dari semua kemampuan yang diujikan, kemampuan teknis selalu menempati urutan paling rendah. Hihihii…

Suami dan istri, perempuan dan laki-laki, bahkan sejatinya setiap individu memiliki kemampuan yang berbeda-beda, bukan? Bukan karena laki-laki cenderung lebih mampu mengerjakan hal-hal sifatnya teknikal berarti perempuan tidak bisa, atau bukan karena perempuan tidak bisa artinya ia lebih rendah dari laki-laki. Toh dalam banyak hal, saya sih, jujur saja merasa sangat senang dan bahagia kalau suami saya yang meng-handle banyak hal. Jadi saya tinggal duduk manis, dan bebas melakukan hal-hal yang saya inginkan. Rasanya saya istimewa banget gitu, bak putri raja yang tahu beres aja. 😀

“Orang yang baik antara kamu adalah orang paling berlaku baik terhadap istrinya dan akulah orang paling baik terhadap istri dari kalangan kamu.” (Hadis riwayat at-Tirmizi).

 

Beberapa Perempuan Memilih Tidak Menunjukkan Wajahnya

“Kayak istri teroris,” seseorang memberi komentar atas dirinya. Sosoknya berhijab panjang dan bercadar. Kebetulan ia makan bakso, satu meja dengan saya.

Entah mengapa tensi saya selalu naik mendengar kata-kata itu. Dan sekalipun saya tahu nada suara saya akan lebih tinggi -sadar atau tidak sadar- menjawab komentar tersebut, sulit menahan diri untuk tidak berkomentar.

Gambaran perempuan bercadar sudah dikonstruksi sedemikian rupa oleh media massa, hingga cadar, pakaian yang semestinya menunjukkan sebuah kehormatan dan pemuliaan pada perempuan menjadi begitu menyeramkan, Istri Teroris. Masih lebih baik, saya pikir dibandingkan dengan “koruptor” atau “istri koruptor”, mengingat banyak perempuan tersangka kasus korupsi mendadak berhijab dan bercadar (walaupun saya juga bisa paham bahwa hal itu dimaksudkan untuk melindungi dan menjaga nama baik keluarga tersangka).

“Bukannya itu cuma budaya Arab aja?”

TIdak tahukah mereka bahwa ketika seruan menutup aurat turun, para perempuan Muslim bergegas mengambil kain apapun yang bisa mereka kenakan untuk menutupi aurat mereka? Tidak tahu jugakah mereka, bahwa sebelum Islam, banyak perempuan Arab yang berpakaian terbuka dan berlenggak lenggok dengan sengaja untuk menarik perhatian lelaki? Artinya sebelum Islam, berhijab rapih sesuai syariat, apalagi bercadar bukanlah sebuah kebudayaan.

Teringat saya pada rekan-rekan saya yang bercadar dan bagaimana santun dan demikian terhormatnya perilaku mereka. Mereka pun bercanda, tergelak bahkan terbahak, sama seperti perempuan normal lainnya. Oh maaf, tidak sama, mereka terbahak dengan menutup mulut mereka. Anggun dan elegan. Mereka pun menyukai barang-barang bagus seperti perempuan normal lainnya. Tersembul jam tangan dari ujung tangan salah seorang kenalan saya yang bercadar, warnanya shocking pink. Tak sengaja pula saya melirik ke sandal perempuan bercadar lainnya, Fit Flop asli. Tas bermerk, gadget canggih. Dari cara mereka bicara dan bertutur kata, saya tahu mereka berpendidikan tinggi. Mereka perempuan biasa dalam keseharian. Pusing dengan tetek bengek rumah tangga, juga terjebak di kemacetan yang sama.

Tidak ada kewajiban bagi seorang perempuan Muslim untuk bercadar. Memang iya. Tetapi haruskah karena sempitnya pengetahuan dan resistensi diri kita berpikir mereka istri teroris karena mereka terkesan serba ekstrem?

Lalu apakah perempuan yang berpakaian juga serba ekstrem terbukanya lebih mulia dari perempuan yang bercadar? Apabila yang mengumbar punya “hak” untuk berpakaian serba terbuka dan dianggap trendy, lalu mengapa yang menjaga “haqq” distigmatisasi?

Mengapa mereka bercadar padahal banyak dari mereka yang temui punya lebih dari cukup uang untuk bersenang-senang dengan keluar masuk salon, gonta ganti penampilan? Mengapa malah memilih untuk menutupi kecantikan diri? Mengapa mengorbankan citra diri di tengah masyarakat yang masih tinggi resistensi?

Alasan seseorang mungkin berbeda-beda…

Tapi apabila suatu hari nanti saya berpikir untuk tidak memperlihatkan secuil pun bagian tubuh saya pada siapapun kecuali yang berhak melihatnya, inilah mungkin yang menjadi satu dari sekian alasan saya:

Karena istri-istri Rasulullah SAW bercadar. Dan siapakah perempuan yang lebih baik untuk ditiru dalam segala hal daripada istri-istri Rasulullah SAW?

Bukan Oki Setiana Dewi sekalipun hijabnya syar’i, bukan pula Dian Pelangi sekalipun hijabnya menarik hati…

Jadi, berhentilah mengatakan dan mengaitkan perempuan bercadar dengan terorisme. Apakah kita akan mengatakan hal yang sama apabila kita tahu bahwa ummahatul mu’minin, istri-istri Rasulullah SAW juga bercadar?

Seperti Inikah Saya Ingin Dilihat Allah…

“Terakhir kita makan, inget nggak, kamu marah-marah sama pelayannya”

Masih saya ingat kata-kata teman saya tadi siang saat kami makan bersama, setelah tahunan tidak berjumpa. Astaghfirullahal ‘adzim…

Seperti itukah dia mengingat saya? Saya yang marah-marah? 

Dulu saya memang paling tidak suka dilayani dengan buruk di tempat umum, karena saya merasa itu hak saya untuk mengajukan protes. Bukankah pelanggan adalah raja?

Tapi apakah “marah-marah” itulah yang dikenang teman saya? 

Saya teringat almarhum ustadz Jefri Al-Bukhori dan bagaimana setiap orang memiliki kesan yang baik tentangnya. Dermawan, ramah, baik hati… Dan lihatlah bagaimana akhir hidupnya. Berduyun-duyun manusia mengantarkannya menuju kuburnya, memanjatkan doa untuk ampunan-Nya atas diri sang ustadz. Rasanya di Indonesia, setelah Amrozi yang diantarkan warga sekampung menuju liang lahat, pemakaman ustadz Jefri sungguh fenomenal. Masjid Istiqlal penuh dengan jamaah yang ingin mensholatkannya, peziarah pun tidak putus-putus berdo’a untuknya. 😥

 

Lalu pertanyaan selanjutnya adalah, seperti apa Allah melihat saya? Adakah Allah melihat saya sebagai orang yang “marah-marah” juga? Bukankah Allah tahu yang lebih buruk dalam diri saya dibandingkan sekedar “marah-marah”? 

Apabila konsultan humas bisa mengubah citra seseorang dan menipu publik melalui polesan dan banyak setting-an, maka bagaimana cara menipu Allah, sedang Dia Maha Mengetahui?

“…Allah mengetahui apa yang mereka sembunyikan dan apa yang mereka lahirkan, sesungguhnya Allah Maha Mengetahui segala isi hati.” Q.S. Huud: 5

Penggalian Kembali Sumur Zam-zam (Part 3 Dari “Syaibah, Calon Pemimpin yang Beruban”)

Sosok itu datang lagi dalam mimpi Abdul Muthalib. Ini sudah kali ketiga.

“Galilah timbunan harta karun!”, perintah sosok itu.

Namun ia menghilang sebelum Abdul Muthalib sempat meminta penjelasan, persis seperti dua malam sebelumnya. Mimpi itu datang pertama kali ketika putra Hasyim itu sedang menghabiskan malam di salah satu tempat favoritnya, tempat moyangnya Ismail AS dan sang bunda Hajar yang menjadi cikal bakal bangsa Arab menyisakan bekas ibu jari kaki.  Tempat itu dinamakan Hijr Ismail. Yang berabad-abad setelahnya para peziarah berebut, berdesak untuk dapat shalat dua rakaat di dalamnya.  Disanalah Abdul Muthalib tidur beralaskan tikar, dan lantas bermimpi.

Sosok itu konon berupa bayangan. Pada malam pertama, sosok tersebut menyuruhnya mengali sumber air yang manis dan lalu menghilang begitu saja. Malam kedua, sosok itu datang lagi dan mengatakan perkataan yang mirip, “Galilah keberuntungan!”. Namun sekali lagi, sosok itu hilang sebelum Abdul Muthalib mendapatkan keterangan.

Malam ketiga, masih tanpa berita. Semua masih samar-samar bagi Abdul Muthalib. Akan tetapi ia yakin, mimpinya bukan mimpi biasa. Apakah itu, dimanakah itu sumber air yang manis, keberuntungan dan timbunan harta karun?

Abdul Muthalib, pria yang sedang kita bicarakan di atas memiliki nama asli Syaibah. Ia adalah anak Hasyim, cucu Abdu Manaf. Garis keturunannya sungguh mulia, karena silsilahnya berlanjut hingga Nabi Ismail AS.  Qushay, kakek buyutnya mewariskan pekerjaan yang tidak kalah mulia kepada anak keturunannya, mengurus Ka’bah serta keperluan jamaah Haji.

Ayahnya, Hasyim bin Abdu Manaf, dulu kerap menyajikan Ats-Tsarid, roti yang diremukkan dan direndam dalam kuah, kepada para peziarah Ka’bah. Aslinya Hasyim bernama Amru, profesinya sebagai pemberi makan jamaah Haji-lah yang menjadikan penduduk Mekkah menjulukinya Hasyim, yang dalam bahasa Arab berarti  orang yang meremukkan roti.

Sebagai pengurus jamaah Haji menggantikan ayahnya, Abdul Muthallib sudah terbiasa dengan suasana Ka’bah dan wilayah sekitarnya yang disucikan, tempat para peziarah bersujud. Wilayah itu dikenal dengan Masjid Al-Haram. Abdul Muthalib pun tidak seperti bangsanya yang menjadikan Hubal, Lata, Uzza dan dewa dewi lainnya sebagai perantara Tuhan. Ia bersama sedikit orang di Mekkah hanya menyembah satu Tuhan, sebagaimana risalah Ibrahim AS yang diteruskan oleh kedua anaknya, Ismail AS dan Ishaq AS.

Namun ia tidak kuasa ketika kaumnya bersujud bukan lagi kepada Tuhan. Ia tidak kuasa pula mencegah dan melarang praktik-praktik syirik yang merajalela sejak sekian lama. Sejak Amru Bin Luhai dari Bani Khuzaah membawa berhala Hubal dari Syam yang dipercaya dapat menurunkan hujan dan pertolongan. Wahyu dan kenabian seakan demikian jauh dari bangsa Arab, walaupun masih ada segelintir orang yang memeluk Nasrani, seperti Waraqah Bin Naufal. Segelintir yang meyakini akan ada sang mesias, nabi terakhir yang terpuji namanya di langit dan bumi, sebagaimana tertulis dalam kitab-kitab agama mereka. Keberadaan mereka diakui oleh penduduk Mekkah, bahkan dihormati, karena bangsa Arab menjunjung tinggi kebersamaan dan toleransi. Pajangan Bunda Maria konon bahkan pernah ikut menghiasi Ka’bah bersama berhala lainnya untuk menghormati pemeluk Nasrani yang datang berziarah untuk menapaktilasi risalah Ibrahim AS dan Ismail AS. Hanya orang-orang Yahudi yang berhenti datang sejak berhala menjadi aksesori utama Ka’bah dan sekitarnya.

Akan tetapi, malam itu, Allah memilih Abdul Muthalib untuk menggali sebuah keberkahan yang Allah kucurkan pada tanah Mekkah yang gersang dan tandus.

Malam keempat. Sosok itu datang. Namun kini ia mengatakan hal yang berbeda. Atau sama? Atau ini berkaitan dengan mimpi-mimpi sebelumnya?

“Galilah Zam-zam!”, seru suara itu.

“Apakah Zam-zam itu?”, tanya Abdul Muthalib.

Mimpi keempat ini adalah pamungkasnya. Sosok itu memberikan keterangan,

“Galilah ia, maka engkau tak akan pernah menyesal,

Karena ia adalah pusaa yang amat kaya,

Dari nenek moyangmu yang paling luhur,

Ia tak akan pernah kering, tidak juga berkurang

Dalam memenuhi semua kebutuhan jamaah haji”

Sosok itu juga memerintahkan Abdul Muthalib untuk mencari suatu tempat yang lembab, penuh darah, penuh kotoran, tempat semut-semut bersarang, dan burung gagak mematuk-matuknya. Dan akhirnya, Abdul Muthalib disuruh berdo’a, “Demi air jernih yang melimpah yang akan memberi minum seluruh tamu Tuhan melalui hajinya”.

Keesokan harinya, Abdul Muthalib mulai menggali di tempat yang dimaksud oleh suara ghaib dalam mimpinya. Tempat itu ada di antara sepasang berhala yang konon merupakan nenek moyang kaum Jurhum. Di sana orang-orang Quraisy biasa menyembelih hewan sebagai bentuk sesajian kepada berhala. Tempat itu menjadi lembab dan senantiasa berlumur darah. Semut-semut bersarang di sana, dan burung gagak mematuk-matuk. Deskripsi yang sama persis dengan mimpinya.

Seperti yang sudah diduga, warga Mekkah gempar karena Abdul Muthallib menggali di tempat yang mereka sucikan. Namun demikian, Abdul Muthalib pantang menyerah. Hatinya demikian yakin, tempat inilah yang dimaksud dalam mimpinya, dan mimpinya bukan sembarang mimpi. Dan memang benar adanya. Harta karun yang pernah ditimbun kaum Jurhum memang ada di sana. Baik harta secara literal, maupun harta lainnya, sumur Zam-zam.

Harta dan kekuasaan adalah dua serangkai embel-embel duniawi yang sangat bisa menjerumuskan manusia. Power tends to corrupt. Di banyak tempat, kepemilikan tanah, sawah ladang dan perkebunan adalah penanda kekuasaan. Di era digital yang kita hidup di dalamnya sekarang, akses informasi adalah kekuasaan. Bagi penduduk padang pasir yang jumlah hari hujannya dalam setahun bisa dihitung dengan jari, air adalah penanda kekuasaan.

Dulu sekali, selepas bercerai dengan istri pertamanya, Nabi Ismail AS menikah dengan perempuan dari kaum Jurhum. Prestise kaum Jurhum serta merta naik. Bagaimana tidak? Berkeluarga dengan Nabiyullah, siapapun pasti mengamini bahwa itu adalah sebuah kebanggaan. Selain itu, akses terhadap Zam-zam juga menambah prestise tersendiri bagi kaum yang awalnya hidup berpindah-pindah. Namun, lambat laun, dari generasi ke generasi, kaum Jurhum yang menguasai wilayah Mekkah dan akses terhadap Zam-zam mulai meremehkan Ka’bah. Di situlah, mereka kemudian ditaklukan oleh Bani Khuza’ah dan dipaksa keluar dari Mekkah, kurang lebih pada abad ke-5 M. Sebelum pergi, kaum Jurhum sempat menimbun sumur Zam-zam dan harta karun mereka, agar tidak dinikmati Bani Khuza’ah. Oh, betapa penanda kekuasaan seringkali membuat seseorang menjadi serakah. Lena akan sebuah kuasa, dan mengesampingkan Sang Penguasa dari Segala Penguasa.

Kisah di atas mengajarkan kepada kita banyak hal. Pertama, dari sisi sosial, peran Abdul Muthalib sebagai seorang pemimpin mungkin memang sebuah konstruksi. Ada proses bertahap dalam sebuah masyarakat, sesuai dengan kultur dan kebiasaan setempat ketika seseorang dijadikan sebagai pemimpin. Proses ini adalah sunnatullah, pemberian peran juga sunnatullah, konstruksi sosial pun sunnatullah. Sunnatullah yang saya maksud adalah, demikianlah Allah mengilhamkan pengetahuan kepada tiap-tiap kaum sehingga mereka menjalani proses yang berbeda untuk tujuan yang sama. Termasuk juga ketika Abdul Muthalib menjadi pemimpin. Tidak pernah ada pemilihan dan penetapan resmi yang menjadikan Abdul Muthalib seorang pemimpin.  Ia dipilih oleh seleksi sosial. Dalam masyarakat kita pun mudah kita jumpai kejadian serupa. Beberapa orang memang Allah ciptakan untuk terlihat menonjol dan menjadi pemimpin, lalu masyarakatnya memberi peran itu padanya.

Namun urusan Zam-zam, bukan perkara biasa. Allah yang memilihnya untuk menggali sumur Zam-zam. Air yang mengalir sepanjang masa dan tidak akan pernah habis untuk menghilangkan dahaga para peziarah rumah-Nya.  Sebagaimana saya sebutkan di atas, bagi penduduk padang pasir air adalah barang berharga. Akses terhadap air bisa menjadikan seseorang berkuasa. Dan Allah memilih Abdul Muthallib untuk membuka akses itu. Ini, menurut saya adalah pengukuhan Tuhan atas kepemimpinan Abdul Muthalib. Mengapa Abdul Muthalib? Karena Abdul Muthalib, sebagaimana sudah saya sebutkan, adalah satu dari sedikit orang di Mekkah yang menyembah Allah tanpa perantara. Langsung, lurus, pada Allah saja. Artinya, menjadi yang sedikit, selama berada di jalan yang Allah ridhai tidak melemahkan kita. Kita tidak perlu larut pada penyembahan berhala-berhala masa kini bernama barang-barang mewah dan gaya hidup serba mudah. Kita cukup memilih jalan lurus, Allah saja.

Kedua, penaklukan kaum Jurhum yang kekerabatannya amat dekat dengan Nabi Ismail AS oleh Bani Khuza’ah tentu atas seizin Allah. Dan itu terjadi ketika kaum Jurhum mulai mengotori Ka’bah dengan sesembahan lain selain-Nya. Begitu pun dengan kita. Lihatlah apa yang terjadi dengan ummat Islam di Indonesia? Fitnah demi fitnah melanda kita. Fitnah akhir zaman memang sudah diramalkan. Tapi apa yang menjadi sebab kita dilanda fitnah (baca: ujian)? Mungkin… mungkin saja hati kita sudah tidak lagi berada pada jalur-Nya.

Misalnya saja, kecintaan pada gaya hidup mewah. Contoh sederhananya, sebuah tas. Sebagaimana perempuan kebanyakan, saya juga menyukai barang bagus, termasuk tas. Sering kita lihat artis-artis, atau bahkan kita (saya) sendiri tergila-gila pada sekempit tas  yang harganya bisa menyekolahkan seorang anak hingga lulus SMP.

Bukankah sekempit tas itu kita yang memberi makna padanya? Menjadikannya “mahal”, menaikkan “prestise” kita pun kita sendiri yang menganggapnya demikian.  Lalu bagaimanakah tas yang tidak memberi kita hidup bisa memperbudak kita?

Bukankah barang seindah apapun baru disahihkan keberhargaannya ketika kita memberinya label apakah itu Aigner, Versace, atau Bottega Veneta. Kalau sebuah tas atau sepatu kulit dengan kualitas luar biasa bagus masih ada di tangan para pengrajin Sidoarjo, akankah kita memaknainya dengan makna yang sama? Lalu siapa yang budak siapa yang majikan?

Apa hubungannya Jurhum dengan tas mahal? Jurhum diberi setidaknya kelebihan pada dua kebanggaan. Berkerabat dengan nabi Allah dan akses terhadap Zam-zam. Dua-duanya prestise. Sama seperti tas maha adalah prestise pada jaman ini. Lambang prestise lainnya misalnya, jam rolex, mobil alphard, rumah mewah, kartu kredit titanium, akses luas pada alat-alat penyampai informasi, titel berderet-deret di depan dan belakang nama, dan masih banyak lagi. Jaman selalu mengulang kisah yang sama, kata ustadzah saya, hanya bungkusnya saja yang berbeda.

Betapa mudahnya Allah cabut semua kenikmatan justru ketika kita terlena dan merasa di atas awan. Sebagaimana kaum Jurhum yang sudah berubah orientasi terhadap-Nya, lalu Allah gantikan dengan Bani Khuza’ah…

Wallahu A’lam. Yang menulis tidak lebih baik dari pada yang membaca. Yang benar dari Allah saja, dan yang salah murni dari saya.

*Pelengkap dari Part 1 dan Part 2
*Sumber: The Great Story of Muhammad, Syaikh Mubarakfury dan Muhammad, Martin Lings.