Muslimah Keren: Chibi, Berkarya di Banyak Lini

38349_408174738019_3727137_nBerkenalan dengan Muslimah Keren yang satu ini, bisa membuat kita tertular semangat dan energinya yang amat positif. Seolah tidak ada kata istirahat baginya untuk terus berkarya dan member manfaat bagi banyak orang. Jadi, setelah sekian lama tidak mengisi blog saya dengan sesuatu yang berarti, saya ingin membagi cerita tentang sahabat saya, si Muslimah Keren, yang insyaAllah bisa menjadi inspirasi untuk kita semua.

Terlahir dengan nama Ranny Rastati, sebagian besar orang yang mengenalnya memanggilnya Chibi, nama “Jepang” yang ia dapatkan ketika mengenyam pendidikan sarjana di Sastra Jepang UI. Sosoknya riang dan ramah dan tampak lebih muda dari usia sebenarnya.

Sehari-hari, ia bekerja di bagian Departemen Service dan Training Lotte Indonesia. Sepintas, kehidupannya sama saja dengan perempuan muda berpendidikan yang sedang bersemangat meniti karier di ibu kota. Tapi, di sela-sela kesibukannya, Chibi menyempatkan diri mengurus “orang lain” dengan membuka Chibi Ranran Help Center.

Inspirasi itu datang saat ia dan teman-teman SMP-nya mengadakan bakti social kesehatan gratis serta seminar mengenai kesehatan. Hal itu mereka adakan sebagai wujud syukur sekaligus sebagai rasa terima kasih kepada para guru dan masyarakat sekitar SMP tempatnya dulu belajar. Ternyata kegiatan tersebut masih menyisakan sejumlah uang yang bisa dimanfaatkan untuk kepentingan murid-murid yang tidak mampu di SMP tersebut. Dari situ, anak kedua dari dua bersaudara ini terpikir untuk mewadahi bantuan dari teman-temannya atau dari siapapun yang ingin membarikan bantuan. Dan lahirlah Chibi Ranran Help Center. Sampai saat ini, Chibi Ranran Help Center sudah menyalurkan bantuan untuk merenovasi musholla SMP 102, tempatnya dulu belajar dan sebuah musholla di daerah Tangerang dan masih akan terus menyalurkan bantuan peralatan sholat untuk musholla yang membutuhkan.

Yang menarik, Chibi mengaku bahwa dirinya nyaris tidak menemukan “duka” saat mengerjakan pekerjaan dan kegiatan sosialnya. “Yang ada semuanya suka. Hehe. Yang penting segala sesuatu djalani dengan bahagia, ikhlas, dan semangat. Kalau dimulai dengan niat yang baik, maka Allah juga akan memudahkan jalannya,” ujar dara kelahiran Jakarta, 27 tahun silam ini.  

Manajemen waktu yang baik adalah kuncinya. Chibi senantiasa berusaha mempergunakan waktu dengan maksimal. Ketika di kantor, ia akan mencurahkan perhatiannya secara total untuk kepentingan pekerjaan; begitu juga apabila saatnya ia mengerjakan  urusan Chibi Ranran Help Center, ia akan focus untuk mengerjakan urusan Chibi Ranran Help Center.

Chibi pertama kali berhijab saat ia duduk di kelas satu SMA selepas pesantren kilat di sekolahnya. Sebuah taushiyah tentang kematian demikian menggugah kesadarannya untuk menunaikan kewajiban dari Tuhannya sebelum maut datang menjemput: berhijab. Dan sejak saat itu, Chibi selalu rapih menutup auratnya.

Apakah pernah ia merasa terhalang dengan hijab yang dikenakannya, mengingat ia bekerja di perusahaan asing?

Ternyata, hijab tidak menghalanginya untuk berkarya dan bergaul dengan orang-orang dari budaya berbeda. Menurut Chibi, yang menjadi masalah bukanlah pakaian tapi attitude atau perilaku yang dibawa seseorang yang lebih menentukan. Beruntung, Chibi berada di lingkungan multi kultur yang amat toleran dengan ke-Islam-annya. Campuran Jawa-Toraja ini bahkan pernah ditegur rekannya yang “orang asing” karena waktu shalat sudah tiba sedang ia masih disibukkan dengan pekerjaan.

Bersama hijab itu pula, Chibi sudah melanglang buana ke berbagai negara dimana Muslim sangatlah minoritas. Mulai dari homestay di Sydney, Australia; Jepang, Korea dan China. Dan ia tidak pernah merasakan diskriminasi dalam perjalanan dan interaksinya dengan penduduk local. Salah satunya karena ia diuntungkan dengan kemampuannya bicara dalam tiga bahasa asing! Ya, Chibi yang juga pernah aktif mengkampanyekan “Save The Whale” ini mahir berbicara dalam bahasa Inggris, Jepang dan Korea.

Chibi yang senang memodifikasi gaya hijabnya juga memiliki pengalaman unik selama travelling. Ketika ia berkeliling Nami Island, tempat pengambilan gambar Drama Korea fenomenal, Winter Sonata, dengan sepeda, banyak orang melihatnya dan melambaikan tangan. Bahkan banyak juga yang minta foto bersama karena hijabnya dipandang unik dan menarik.

Dalam kehidupan sehari-hari, Chibi sangat mengidolakan sang Mama. Baginya, Mama adalah super woman. Walaupun sang Mama bukan ibu rumah tangga full time dan memiliki banyak kegiatan di luar rumah, akan tetapi Chibi tidak pernah merasa kehilangan sosoknya.

Walaupun sehari-hari cuma ketemu 2-3 jam, tapi waktu yang kami habiskan itu sangat berkualitas. Jadi rasanya nyokap itu selalu ada kapan pun dan dimana pun”, tuturnya.

Berhijab, bagi Chibi, tidak semestinya menjadi penghalang seorang Muslimah untuk berkarya dan member manfaat bagi banyak orang. Menurutnya, sangat penting bagi seseorang untuk memiliki dan memenuhi impian dan harapan, sebab siapapun mampu bertahan selama mereka memiliki impian dan harapan.

“Seperti tangga, hidup itu harus direncanakan. Semakin baik, semakin berkualitas. Karena hidup cuma sekali dan jadikanlah hidup itu luar biasa. Agar nanti ketika kita kembali kepada Allah dan ditanya, apa aja yang udah dilakukan dalam hidup, kita bisa menjawab ‘saya menjadi manusia yang bermanfaat untuk orang lain’”,pungkasnya.

Advertisements

Muslimah Keren: Jejak Muslimah “Petualang”

Pada Inspirasi Muslimah perdana ini, saya ingin memperkenalkan sosok “Muslimah Keren” yang dulu dikenal sebagai “petualang” karena pekerjaannya sebagai host di beberapa acara “petualangan” yang kebetulan adalah teman baik saya.

Bismillah…

***

Gambar

Melihat sosoknya yang mungil dan manis, rasanya sulit untuk percaya bahwa ia adalah salah satu dari sedikit perempuan Indonesia yang pernah mencapai Puncak Cartenz, Papua. Wow! Bayangkan! Padahal Cartenz adalah salah satu dari Seven Summits, tujuh puncak tertinggi di dunia. Terletak di Pegunungan Jayawijaya, Puncak Cartenz berada pada ketinggian 4884 mdpl dengan puncak gunung diliputi salju abadi. 

Bersama tim Metro TV, Ferissa Djohan, atau yang akrab disapa Rissa berangkat ke Puncak Cartenz dalam rangka menyemarakkan HUT Kemerdekaan Indonesia ke-62 sekaligus ingin mengibarkan Merah Putih di sana. Dibutuhkan banyak persiapan, ketahanan dan keberanian tentunya untuk bisa mencapainya. Menurut Rissa, pengalaman itu “mengerikan” karena ia nyaris meregang nyawa dalam perjalanan menuju ke Puncak Cartenz. Mantan host Jejak Petualang ini menyebutkan bahwa untuk menyebrang dari satu bukit ke bukit lain, para pendaki hanya menggunakan seutas tali; sedangkan pada saat itu ia bersama sepuluh orang lainnya (kru dan pendaki internasional) berada di ketinggian lebih dari 4000 meter dengan jurang yang entah dimana ujungnya! Disanalah Rissa nyaris berhadapan dengan maut.

“karena kecapekan saya ga sanggup menaiki dan menuruni bukit menggunakan tali lagi, istilahnya jumaring, naik turun pakai tali, ilmunya para pemanjat tebing itu deh,jadilah saya sempet jatuh dan kepala saya ada di bawah, sementara tali penghubung terikat di pinggangnya kameraman saya,” tulisnya dalam wawancara melalui surel beberapa waktu lalu. 

Beruntung sang kameramen berhasil menahan tubuhnya. Saat itu, tubuhnya sudah upside down, dan sejauh mata memandang yang dilihatnya hanyalah jurang yang seakan  tanpa dasar dan hamparan salju. Singkat cerita, ia tiba di Puncak Cartenz saat hari memasuki malam dalam keadaan lapar dan haus. Tim memulai pendakian pada pukul 1 dini hari, dan baru tiba di Puncak pukul 8 malam, disambut dengan gelap gulita dan badai es. Di puncaknya pun tidak bisa berlama-lama, karena mereka harus segera kembali, naik turun bukit menggunakan tali…sekali lagi. 

Pengalaman itu, walaupun tidak ingin diulang Rissa, namun banyak menjadi pendorong semangatnya. Apabila Cartenz saja, yang mendakinya (dan menuruninya) begitu menantang maut, bisa ditaklukan maka permasalahan hidup pun semestinya tidak sesulit itu. 

Walaupun usianya masih terbilang muda, namun dara kelahiran Jakarta, 29 tahun lalu ini sudah makan asam-garam dunia penyiaran. Diawali dari menjadi host Jejak Petualang semasa kuliah, lalu acara Trekking di RCTI, Archipelago di Metro TV, hingga menjadi anchor acara berita di beberapa stasiun TV. Pengalaman tersebut ditambah dengan pendidikan Master of Communications Science yang diraihnya pada 2011 lalu mengantarkannya saat ini menjadi produser acara Megapolitan di Kompas TV.

Ada yang berbeda dari Rissa beberapa tahun belakangan. Pada 2009, ia memutuskan untuk berhijab, sebuah “gunting pita” dari keinginan yang lama tertunda. Walaupun, ia mengaku harus lebih banyak belajar sabar (sebagaimana yang memang harus KITA SEMUA lakukan), namun ia tetap berusaha menjadi pribadi yang lebih baik.

Apakah hijab mengekang dirinya? Ternyata ia sama sekali tidak berpikir demikian. Rissa meyakini bahwa apa yang diperintahkan Allah dan Nabi Muhammad SAW pasti selalu ada hikmahnya. Hijab untuknya memberikan rasa aman dan nyaman serta menjadi penjaga sekaligus pengingatnya untuk selalu berperilaku Islami. 

“Perempuan yang ngga suka sensasi biasanya jilbabnya sederhana aja yang penting menutupi aurat dan ngga mentingin harus begini dan begitu, isi otak sama isi hati paling utama untuk perempuan yang sejati menggunakan hijabnya, gw suka sih banyaknya tren mode hijab tapi esensinya dapat atau ngga itu tetap harus dilihat dari perilaku si perempuannya,” tuturnya.

Tantangan terbesar yang ia hadapi setelah berhijab justru tidak datang dari pekerjaan atau dunia sosialnya; namun tantangan terbesar yang ia rasakan justru datang dari dirinya sendiri untuk selalu memperbaiki perilaku agar tidak khilaf dan menurutkan emosi semata. 

Lulusan S1 dari London School of Public Relations ini menyebutkan bahwa shalat ada ajaran Islam yang paling ia sukai karena dalam shalat manusia disuruh mencuci dirinya lima kali sehari. Selain itu, dengan shalat seseorang dapat mencurahkan isi hatinya langsung kepada Allah juga lima kali sehari. Shalat juga dirasanya sebagai cara menenangkan diri dari gejolak emosi.

“Dengan shalat slalu ada kesempatan mencurahkan apapun yang terjadi dg diri kita tiap harinya, ada cara menenangkan diri saat emosi, ada waktu setiap hari untuk melepas lelah secara batin, karena dinamika hidup manusia ga bisa slalu seneng. Tiap hari masalah selalu ada, mau dicari mau ngga, dan shalat ngajarin kita untuk mengembalikan setiap persoalan dengan Pemiliknya, dan kita bisa belajar dari tiap kesalahan yang kita buat dengan mengadu sama Allah, evaluasi dan belajar dari kesalahan itu. Shalat memang ternyata tiang agama dan kehidupan…”, pungkasnya.

Rissa adalah salah satu orang pertama yang saya kenal saat hari pertama kuliah di pascasarjana Fisip UI. Saya tidak menyangka, kehidupan dunia hiburan yang menurut saya saat itu saat menonjolkan tampilan fisik semata bisa “menyisakan” sosok seperti Ferissa yang menurut saya bukan hanya cantik secara fisik tapi juga cerdas dan sangat humble. 

Semoga kita semua bisa mengambil hikmah dari “Muslimah Keren” yang satu ini. Berhijab, berkarya, dan selalu memperbaiki diri. 😉

 

 

 

Perempuan Gaptek?

Dalam sebuah kelas kajian budaya dan media yang sedang membahas tentang feminis, beberapa tahun silam, saya masih ingat sebuah kalimat. Detail redaksinya sih saya lupa, tapi intinya adalah, beberapa peralatan elektronik konon dibuat untuk memudahkan para ibu rumah tangga mengerjakan pekerjaan rumahnya; namun pada akhirnya mereka tetap membutuhkan pria untuk mengoperasionalkannya. Selain fakta bahwa engineer yang menemukan dan merakit mesin cuci, dishwasher machine, rice cooker, atau microwave sebagian besar adalah laki-laki, dalam pandangan di atas tersirat pesan bahwa dalam bahkan dalam teknologi rumah tangga sekalipun posisi perempuan seakan berada di bawah laki-laki karena ke-kurangcanggih-annya mengoperasikan peralatan rumah tangganya sendiri. Ya namanya juga belajar feminisme, pandangan su’uzon yang selalu menganggap seolah-olah perempuan berada di bawah kekuasaan laki-laki. Pandangan yang saya nggak pernah bisa menerima, karena justru “membodohi” diri sendiri. Buat apa berpikir perempuan sub marginal, dan lantas berjuang untuk menyetarakan diri? Saya sih, alhamdulillah, tidak dibesarkan dan tidak merasa dipelakukan sedemikian. Paman-paman saya dari pihak mama hampir semua bisa mengerjakan pekerjaan rumah tangga karena eyang saya tidak pernah membeda-bedakan anak laki-laki dan perempuan baik dalam pendidikan maupun pekerjaan rumah tangga. Semua harus sekolah tinggi, di sisi lain semua juga harus bisa mengurus rumah. Papa saya pun dibesarkan oleh seorang abah yang punya visi jauh ke depan untuk mendidik anak-anak perempuannya. Suami saya malah menyuruh saya bekerja, jangan di rumah saja. Suami menyuruh saya mengerjakan apapun yang bermanfaat, karena suami saya menghargai kapabilitas istrinya (dan marah-marah kalau tahu istrinya dibayar murah :p).

Anyway, saya sendiri, sebagai perempuan yang minus kemampuan teknik tidak merasa “kalah” atau tidak setara karena dalam banyak hal saya bergantung pada laki-laki (baca: suami, atau kadang tukang ehehehe…). Memang benar sekali, saya membutuhkan suami saya, atau teknisi peralatan elektronik untuk membantu saya mengoperasikan mesin cuci baru *ehm* atau membetulkan kulkas, HP, laptop, dan banyak lagi. Apakah saya merasa rendah? Ah tidak sama sekali. Saya malah merasa girang karena tidak perlu melakukan pekerjaan yang membuat saya mumet seperti itu. Harap maklum, dalam setiap tes psikologi yang pernah saya ikuti, dari semua kemampuan yang diujikan, kemampuan teknis selalu menempati urutan paling rendah. Hihihii…

Suami dan istri, perempuan dan laki-laki, bahkan sejatinya setiap individu memiliki kemampuan yang berbeda-beda, bukan? Bukan karena laki-laki cenderung lebih mampu mengerjakan hal-hal sifatnya teknikal berarti perempuan tidak bisa, atau bukan karena perempuan tidak bisa artinya ia lebih rendah dari laki-laki. Toh dalam banyak hal, saya sih, jujur saja merasa sangat senang dan bahagia kalau suami saya yang meng-handle banyak hal. Jadi saya tinggal duduk manis, dan bebas melakukan hal-hal yang saya inginkan. Rasanya saya istimewa banget gitu, bak putri raja yang tahu beres aja. 😀

“Orang yang baik antara kamu adalah orang paling berlaku baik terhadap istrinya dan akulah orang paling baik terhadap istri dari kalangan kamu.” (Hadis riwayat at-Tirmizi).

 

Beberapa Perempuan Memilih Tidak Menunjukkan Wajahnya

“Kayak istri teroris,” seseorang memberi komentar atas dirinya. Sosoknya berhijab panjang dan bercadar. Kebetulan ia makan bakso, satu meja dengan saya.

Entah mengapa tensi saya selalu naik mendengar kata-kata itu. Dan sekalipun saya tahu nada suara saya akan lebih tinggi -sadar atau tidak sadar- menjawab komentar tersebut, sulit menahan diri untuk tidak berkomentar.

Gambaran perempuan bercadar sudah dikonstruksi sedemikian rupa oleh media massa, hingga cadar, pakaian yang semestinya menunjukkan sebuah kehormatan dan pemuliaan pada perempuan menjadi begitu menyeramkan, Istri Teroris. Masih lebih baik, saya pikir dibandingkan dengan “koruptor” atau “istri koruptor”, mengingat banyak perempuan tersangka kasus korupsi mendadak berhijab dan bercadar (walaupun saya juga bisa paham bahwa hal itu dimaksudkan untuk melindungi dan menjaga nama baik keluarga tersangka).

“Bukannya itu cuma budaya Arab aja?”

TIdak tahukah mereka bahwa ketika seruan menutup aurat turun, para perempuan Muslim bergegas mengambil kain apapun yang bisa mereka kenakan untuk menutupi aurat mereka? Tidak tahu jugakah mereka, bahwa sebelum Islam, banyak perempuan Arab yang berpakaian terbuka dan berlenggak lenggok dengan sengaja untuk menarik perhatian lelaki? Artinya sebelum Islam, berhijab rapih sesuai syariat, apalagi bercadar bukanlah sebuah kebudayaan.

Teringat saya pada rekan-rekan saya yang bercadar dan bagaimana santun dan demikian terhormatnya perilaku mereka. Mereka pun bercanda, tergelak bahkan terbahak, sama seperti perempuan normal lainnya. Oh maaf, tidak sama, mereka terbahak dengan menutup mulut mereka. Anggun dan elegan. Mereka pun menyukai barang-barang bagus seperti perempuan normal lainnya. Tersembul jam tangan dari ujung tangan salah seorang kenalan saya yang bercadar, warnanya shocking pink. Tak sengaja pula saya melirik ke sandal perempuan bercadar lainnya, Fit Flop asli. Tas bermerk, gadget canggih. Dari cara mereka bicara dan bertutur kata, saya tahu mereka berpendidikan tinggi. Mereka perempuan biasa dalam keseharian. Pusing dengan tetek bengek rumah tangga, juga terjebak di kemacetan yang sama.

Tidak ada kewajiban bagi seorang perempuan Muslim untuk bercadar. Memang iya. Tetapi haruskah karena sempitnya pengetahuan dan resistensi diri kita berpikir mereka istri teroris karena mereka terkesan serba ekstrem?

Lalu apakah perempuan yang berpakaian juga serba ekstrem terbukanya lebih mulia dari perempuan yang bercadar? Apabila yang mengumbar punya “hak” untuk berpakaian serba terbuka dan dianggap trendy, lalu mengapa yang menjaga “haqq” distigmatisasi?

Mengapa mereka bercadar padahal banyak dari mereka yang temui punya lebih dari cukup uang untuk bersenang-senang dengan keluar masuk salon, gonta ganti penampilan? Mengapa malah memilih untuk menutupi kecantikan diri? Mengapa mengorbankan citra diri di tengah masyarakat yang masih tinggi resistensi?

Alasan seseorang mungkin berbeda-beda…

Tapi apabila suatu hari nanti saya berpikir untuk tidak memperlihatkan secuil pun bagian tubuh saya pada siapapun kecuali yang berhak melihatnya, inilah mungkin yang menjadi satu dari sekian alasan saya:

Karena istri-istri Rasulullah SAW bercadar. Dan siapakah perempuan yang lebih baik untuk ditiru dalam segala hal daripada istri-istri Rasulullah SAW?

Bukan Oki Setiana Dewi sekalipun hijabnya syar’i, bukan pula Dian Pelangi sekalipun hijabnya menarik hati…

Jadi, berhentilah mengatakan dan mengaitkan perempuan bercadar dengan terorisme. Apakah kita akan mengatakan hal yang sama apabila kita tahu bahwa ummahatul mu’minin, istri-istri Rasulullah SAW juga bercadar?

Cantik Berhijab? (Part 4 – Done!)

Kata Muslimah tentang Hijab-nya

Demi kelengkapan tulisan ini, saya melakukan semacam survey kecil-kecilan kepada beberapa orang Muslimah lintas profesi, berusia 20-an, berpendidikan sarjana ke atas, status ekonomi menengah sampai menengah ke atas, dan yang pasti berhijab dengan gaya dan keunikannya sendiri.

Makna Hijab menurut Ficca, 24 tahun, Pemilik usaha baju Muslimah di bawah label Iyala Gallery dan Kafika:

“Hijab buat Ficca itu identitas, pelindung, dan penjaga. Dengan Hijab, Ficca mudah dikenal sebagai Muslimah… Dengan hijab, ficca seperti dapet perlindungan, setidaknya lelaki menggodanya cuma dengan “assalamualaykum bu haji” masih positif juga ada doanya… Hijab juga menjaga Ficca, jadi sensor, setidaknya Ficca masih mikir kalo mw melakukan hal-hal tertentu. Dipikirin lagi, apa pantes muslimah berhijab melakukan hal kayak gini?! Jadi ngejagain akhlaqnya lebih gampang, Mungikn kalo ga berhijab, udah kacau kali kelakuan aku. Kalo ada yang bilang mau jilbabin hati dulu, mestinya ya berhijab dulu, nanti hatinya akan jadi baik seiring proses.

Saat ditanya tentang Hijab yang Ideal menurutnya:

“Hijab ideal ya yang seperti di Qur’an. Surat an-nur ayat 31 itu. Menutup dada, Dan ga cuma dipake saat keluar rumah aja. Kalo pas di rumah dan ada yang bukan mahram, harus tetep pake jilbab. Sekarang banyak yang pake jilbab tapi ga ngerti hukum syariatnya, tapi gapapa, mungkin berproses. Untuk pakaiannya juga sesuai dengan syariat, ga menampakkan bentuk tubuh, ga trawang. Boleh gaya dan fashionable selama masih sesuai aturan. ”

Opini Arni Susanti, 22 Tahun, Guru Matematika di SMU 1 Muhammadiyah Medan:

“Hijab itu simbol ketaqwaan dan kehormatan para muslimah…Tak sekedar pakaian penutup lahir tp juga bathin…Sayangnya sekarang makna hijab telah dipersempit hanya sebagai penutup rambut…Padahal cangkupan hijab itu luas…Selain itu hijab sendiri secara harfiah berarti batas nah seharusnya muslimah yang memakai hijab mampu membatasi dirinya baik lahir dan bathin dari segala hal yang tidak diridhoi Allah

Hijab yang ideal menurut Ibu Guru adalah:

“Nah hijab ideal itu seharusnya memenuhi kriteria yg Allah dan Rasul sampaikan. Longgar, Tidak transparan. Menutup seluruh tubuh kecuali muka dan telapak tangan.. Berhijablah sewajarnya tidak berlebihan menggunakan.aksesoris agar tak termasuk katagori tabaruj (berhias, pen.). Tidak menyerupai pakaian lelaki dan yg terpenting niatkan berhijab krn Allah

 

Adapun Chibi, 26 Tahun, seorang Blogger memutuskan untuk berhijab karena…

“Karena gw ga tau kapan gw mati. Bisa bsk, lusa, minggu depan. Makany gw pake jilbab. Gw bkn org yg baik, bkn org yg soleh. Tp seenggaknya kewajiban pake jilbab udh gw penuhi sblm mhadap Allah.”

Menurut pandangan perempuan yang menguasai 3 bahasa asing ini, hijab yang ideal adalah

“Mnrt gw itu yg terlihat elegan n bersih. Ppaduan warnanya bagus. Jilbab yg kalo diliat org bikin org pengen pakai jilbab jg.”
Arsi Hanifa, 29 Tahun, Ibu dari Hika dan adiknya yang sedang bergerak kian kemari dalam perut sang Bunda; memulai hijabnya sejak usia dini karena lingkungan keluarganya yang religious seakan memaksanya untuk berhijab. Ketika menginjak kelas 2 SMA, pemahaman perempuan yang semasa kuliah aktif di Masjid Salman ini, mengenai hijab sesungguhnya baru mulai terbangun.

Mulai berhijab dg pemahaman bahwa ini adalah pemenuh kewajiban dan salah satu konsekuensi dari beriman dalam keislaman. Mulai muncul kebanggan dari dlm dii sendiri karena memilih bertahan dg hijab, sudah mulai bisa menciptakan image tampilan pribadi yg nyaman buat diri sendiri dalam keberhijaban (incl. Gaya berpakaian dan cara berkerudung). Dan demikianlah sampe sekarang. Meskipun tampilan ga selalu sama (mis. Fanatik dg gamis) tp udh punya pakem sendiri yg didasrkan sm norma yg diterima kaidah fiqih(setelah nikah mah karena bisa bebas nanya sama suami ttg sudut pdg “primitip” nya kaum adam jd itupun bisa dipake menentukan standar aurat, misal..baju ini ternyata ketipisan buat mata laki2 pdhl sblmnya ngerasa ud ckp tebel,dll).

Bagi seorang Yuliani, 27 Tahun, karyawan salah satu brand baju Muslim ternama di Indonesia, hijab adalah…

“Buat gw hijab is not the only things that cover your body up to toe but also should cover your attitude”

Berhijab untuk Meidina Rachma, 27 Tahun, reporter TV One adalah…

“Penutup aurat, pengingat diri jadi kalo mau apa-apa inget udah pake jilbab, motivasi buat jadi lebih baik…”

Awal memutuskan berhijab, yang terlintas di pikiran Meidina adalah…

“Awalnya karena nggak mau nanti mati dalam keadaan belum berjilbab…”

Frizki Yulianti, Dosen Ilmu Komunikasi Universitas Muhammadiyah Yogyakarta, 26 Tahun, Ibu dari seorang putri yang cantik mengisahkan  fase-fase dalam hidupnya ketika memulai berhijab. Fase pertama, ketika berhijab adalah sebuah kewajiban karena ia kuliah di institusi yang mewajibkan mahasiswinya berhijab.

“Meski aku punya ‘hak’ untuk melepas hiljab di luar kampus, namun lama-lama muncul rasa malu dan rasa risih kalo copot-pasang-copot-pasang. Hijab bagiku pada masa itu adalah obat malu. Malu diliat rambutnya, malu dilihat kulit tangannya, malu dilihat kulit kakinya, malu ketika kuliah kok pake pas pergi2 kok engga,” ujarnya.

Fase kedua dimulai ketika perempuan asal Bengkulu ini lulus kuliah dan merantau ke Jakarta, bertemu dengan orang-orang baru. Saat itu, bisa saja ia melepas hijabnya, akan tetapi satu hal yang membuatnya bertahan.

“Tapi ada satu momen yang bikin Anti finally memutuskan untuk tetap berhijab. Momen ketika baca Quran dibilang ‘pria baik hanya untuk wanita yang baik pula’. Anti mau punya pria yang baik, Shinta. Mau punya jodoh yang bisa mengimami. Salah satunya dengan menjadi wanita baik2 yang menjaga martabatnya, jadi salah satunya dengan tetap berhijab. Maka pada fase itu hijab bagiku sebagai salah satu sarana mencari jodoh yang terbaik untukku. Aneh ya, biasa cari jodoh ya rada ‘show off’ tp yang ini malah nutup2in. Hihi…

Adapun fase terakhir dan ia berharap berhijab selamanya adalah karena kenyamanan.

“Mungkin benar adanya bahwa tresno jalaran soko kulino. Sudah terbiasa berhijab kemudian disuruh lepas tentu aneh. Sudah nyaman begini ya sudah begini saja. Saat ini hijab adalah identitasku sebagai muslimah yang mencoba belajar terus agar menjadi muslimah yang sholeha. Jujur, kalo gaya hijabku konvensional. Namun jika ada yang cocok dengan model2 baru yang kira2 cocok denganku ya tak coba. Wong Islam itu Indah, jika dengan hijab ala hijabers menjadikan Islam lebih indah, why not?”

Bagaimana denganmu? Apa makna hijab untukmu? Sudahkah kamu menemukannya? Bila belum, jangan lelah mencarinya… Sebelum kedua tanganmu tidak bisa lagi memakainya, dan orang-oranglah yang harus memakaikannya untuk menutup auratmu dari sebentuk kain putih yang mereka sebut kafan….

Cantik Berhijab (Part 3)

Salahkah Berhijab dengan Cantik? Atau Berhijab untuk Cantik?

Yang harus dibuang jauh-jauh menurut saya bukan pada keinginan untuk cantik. Tapi menyandarkan motivasi berhijab pada rasa ingin “lebih” cantik, “lebih” modis, “lebih” enak dilihat orang, bahkan keinginan untuk terlihat “lebih” takwa; dalam pendapat saya adalah niat yang harus diluruskan.

Keinginan untuk cantik adalah hal yang amat sangat manusiawi bagi seorang perempuan. Tapi cantiknya kita bukan untuk diumbar pada sembarang, pada segala. Walaupun seringnya kita merasa tidak perlu tampil cantik karena “sudah laku”. Bahkan ini menjadi alasan banyak perempuan menopause “akhirnya” berhijab, “Halah, sudah tua ini, apalagi yang mau ditunjukin?”. Pandangan yang aneh, menurut saya. Ketika Islam justru member keringanan batasan aurat pada perempuan menopause, malah banyak dari mereka yang menutup rapat-rapat auratnya.

Cantik bukan untuk diumbar kemana-mana. Diri kita terlalu berharga untuk hanya sekedar menjadi penghias mata. Mata lelaki yang bukan pula suami kita. Justru setelah bersuami harusnya lebih cantik. Karena kita keluar rumah dengan rasa malu, dan menanggalkannya di hadapan lelaki yang sudah rela mengambil alih tanggung jawab Ayah kita dengan menanggung dunia akhirat kita. Apa yang akan kita sisakan untuknya apabila kita sibuk menghias diri untuk dilihat orang lain? Walaupun judulnya berhijab.

Kembali pada Tujuan Hijab

Dalam pandangan saya yang hina ini, hijab bukan sama sekali untuk tampil cantik. Namun bukan berarti ini pembenaran bagi hijabers yang kadangkala juga cuek pada penampilan. Berhijab rapi, bersih dengan padanan warna yang senada tentu terlihat lebih elegan daripada yang sembarangan. Saya juga tidak hendak mempromosikan hijab besar serupa mukena. Yang ingin saya sampaikan melalui tulisan saya nan panjang ini adalah, sejatinya kita berhijab dengan ilmu dan niat yang memang karena Allah.

Apabila hijab besar yang menutupi badan “bukan kita banget”, silahkan berhijab sesuai kepribadian kita, mau itu ternyata sesuai tren atau kita termasuk orang yang konvensional, selama sesuai dengan criteria Allah melalui Al-Quran dan Hadits yang sudah saya paparkan pada tulisan sebelumnya, insyaAllah tidak mengapa.

Apabila saat ini kita pun masih belajar dan belum bisa berhijab menutup dada, atau berbaju panjang; belajarlah untuk tidak puas diri dan merasa cukup dengan apa yang kita lakukan, plus dengan tidak mencibir hijabers yang memilih untuk berhijab lebar atau bercadar. Sekali lagi, boleh jadi mereka yang lebih disayang Allah daripada kita.

Pun ketika kita saat ini sudah berhijab panjang dan lebar. Tidak bijak kiranya apabila kita memandang sebelah mata kepada hijabers yang hijabnya masih mini. Bukankah hanya karena kasih sayang Allah saja kita mendapat hidayah, ilmu, dan tergerak hatinya untuk berhijab. Jangan-jangan mereka yang kita pandang sebelah mata justru lebih dahulu masuk surga daripada kita.

Saya sendiri pernah mengalami pasang surut dalam berhijab. Ada kalanya saya yang masih minim pengetahuan agama berhijab alakadarnya. Bajunya kecil, di tubuh yang besar. Jelas bukan salah baju saya :p. Ada pula masanya saya mengulurkan hijab, panjang menjuntai, lalu saya reduksi menjadi sekedar menutup dada. Dan sekarang, saya sampai pada fase yang mudah-mudahan lebih stabil.

Saya paham, sebagai seorang istri seringkali saya melakukan dosa dan kesalahan pada suami saya. Saya takut akan suatu hari dimana suami saya akan ditanya tentang diri saya sebagai tanggungannya, sedang hijab saya masih jauh dari sempurna. Pun pada hari yang sama ketika jengkal kulit saya yang harusnya tertutupi tampak kemuka, ia bersaksi di hadapan-Nya, sedang saya tahu ilmunya. Ini adalah masa yang sedang saya jalani. Dan ini bukan fase yang mudah. Maka dari itu, saya paham sekali betapa susahnya mengalahkan diri sendiri, terlebih lagi untuk saya yang pada dasarnya sudah senang bergaya sejak kecil.

Anyway, anyhow, bagaimanapun gaya berhijab kita, kembalikanlah pada tujuan hijab semula. Hijab adalah identitas iman, hijab adalah penutup, penjaga, pelindung, pakaian ketakwaan dan kerendahhatian. Terlalu mulia apabila ianya sekedar digunakan untuk mempercantik diri. Sedangkan fungsinya sendiri adalah menjaga, baik raga maupun hati.  

Cantik Berhijab? (Part 2)

Suatu hari di sebuah restoran, seorang kerabat berkomentar melihat sebuah keluarga yang istri dan anak perempuannya berhijab panjang.

“Itu mah bukan kerudung, itu mukena,” ujar kerabat saya setengah mencibir.

Pikir saya saat itu, “Apa yang salah dengan kerudung panjang? Tidakkah memang demikian idealnya kerudung bagi seorang perempuan Muslim?”.

Saya agak terkejut ketika menyadari tidak banyak yang paham tentang hijab yang disyariatkan Al-Quran dan Hadits. Termasuk ketika saya berada dalam perdebatan apakah boleh memakai berhijab, memakai rok midi dan kemudian disambung stocking? Saya tentu berkeras dengan jawaban “tidak”. Tapi rupanya ada yang mengatakan “boleh” karena menurut orang itu stocking sudah cukup menutup kakinya. Perdebatan itu kemudian mereda ketika saya bertanya balik, “Apa dia boleh sholat dalam keadaan seperti itu?”.

Setiap Muslimah paham bahwa shalat harus mengenakan mukena, yang terdiri dari dua set pakaian yang menutupi seluruh tubuh kecuali muka dan telapak tangan. Seringkali jemari tersibak atau tangan terlihat sedikit saja kita sudah kasak-kusuk merasa shalatnya tidak sah. Apa bedanya dengan keseharian kita? Bukankah syarat penutup aurat ketika shalat dengan apa yang Allah syariatkan sebagai penutup aurat kita sama: Menutup seluruh tubuh kecuali muka dan telapak tangan?

Supaya kita sama-sama pintarnya, yuk kita telaah ayat-ayat Al-Qur’an dan Hadits tentang hijab…

“Katakanlah kepada wanita yang beriman: “Hendaklah mereka menahan pandangannya, dan kemaluannya, dan janganlah mereka Menampakkan perhiasannya, kecuali yang (biasa) nampak dari padanya. dan hendaklah mereka menutupkan kain kudung ke dadanya.” (QS. An Nuur: 31)

“Hai Nabi, Katakanlah kepada istri-istrimu, anak-anak perempuanmu dan istri-istri orang mukmin: “Hendaklah mereka mengulurkan jilbabnya ke seluruh tubuh mereka.” yang demikian itu supaya mereka lebih mudah untuk dikenal, karena itu mereka tidak di ganggu. Dan Allah adalah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang.” (QS. Al Ahzab: 59)

Dari dua ayat ini, kita dapat mengetahui bahwasanya yang diperintahkan untuk berhijab adalah “perempuan beriman”. Ini menandakan bahwa berhijab adalah tanda keimanan. Sehingga, ketika berhijab yang herus diingat pertama kali adalah bahwa berhijab adalah untuk Allah, karena keimanan dan kepatuhan kita pada Yang Maha Segalanya. Ini adalah aturan pertama dari yang utama: Hijab adalah lambang keimanan.

Dan hendaklah mereka menutupkan kain kudung ke dadanya

Ayat ini menunjukkan bahwa hijab adalah kerudung yang menjulur sampai menutup dada. Mengapa menutup dada? Karena dada adalah karunia Allah untuk para perempuan. Padanya ada keindahan rupa yang menjadikan banyak wanita berlomba-lomba menonjolkannya.  So, ini aturan kedua,  hijab adalah kerudung yang menjulur sampai menutup dada.

“Hendaklah mereka mengulurkan jilbabnya ke seluruh tubuh mereka.

Jilbab, seringkali disalahartikan dengan hijab karena masalah budaya. Jilbab pada dasarnya mengacu pada pakaian panjang dan longgar yang menutup seluruh tubuh sampai ke mata kaki. Walaupun masih banyak berdebatan mengenai batasan jilbab bagi muslimah, tapi yang jelas, Al-Quran memerintahkan kita untuk mengenakan pakaian yang menutup seluruh tubuh. Ini adalah aturan ketiga, jilbab adalah pakaian yang menutup seluruh tubuh.

Hijab dan Jilbab, sesungguhnya berbeda, tapi satu kesatuan. Keduanya sama-sama dikenakan untuk menutup aurat perempuan Muslim. Banyak perbedaan pada batasan aurat di kalangan ulama. Mazhab syafii, misalnya, menganggap punggung tangan juga adalah aurat (ini alasan mengapa Muslimah di Indonesia shalat mengenakan mukena dan saat umrah/haji sibuk mencari sarung tangan), maka semestinya di Indonesia yang menganut mazhab Syafii dalam tata cara ibadah kerudungnya pun menganut mazhab Syafii. Yang kerudungnya panjang menjuntai menutupi telapak tangan. Mengapa ketika ada perempuan Muslim berpakaian demikian justru sering dicibir? Apakah yang mencibir lebih baik dari yang dicibir? Jangan-jangan mereka yang lebih disayang Allah daripada kita?

Nah, satu hal yang menginspirasi saya adalah kata-kata Ust. Ahsan Askan, MA, guru ngaji di kompleks tempat saya tinggal. Menurut beliau, pakaian seorang Muslimah (dan Muslim) harusnya adalah pakaian yang siap untuk dipakai shalat. Seperti perempuan-perempuan Mesir, kisahnya, saat azan berkumandang mereka langsung menuju masjid untuk shalat berjamaah, dengan pakaian yang mereka kenakan. Demikian juga yang sering kita lihat di Saudi manakala umrah/Haji. Dengan kerudung menutup dada dan baju panjang, para muslimah shalat tanpa halangan. Toh perintahnya kan sama-sama menutup aurat. Mengapa pada saat shalat kita detail sekali dengan kenampakan aurat, sedangkan keseharian kita tidak demikian? Jadi, ini saya masukkan ke dalam aturan berikutnya, hijab dan jilbab adalah penutup aurat yang sama fungsinya dengan penutup aurat saat shalat. Maka dari itu, idealnya, pakaian kita harus layak dipakai shalat, baik dari bentuk fisik maupun kebersihannya.

Selain dua ayat di atas, masih banyak lagi hadits-hadits yang menerangkan tentang hijab yang “wearable”. Salah satu hadits menerangkan tentang perempuan yang berpakaian tapi telanjang dan menyerupai punuk unta yang disebut Rasulullah SAW tidak akan mencium bau syurga.

“Ada 2 macam penghuni Neraka yang tak pernah kulihat sebelumnya; sekelompok laki-laki yang memegang cemeti laksana ekor sapi, mereka mencambuk manusia dengannya. Dan wanita-wanita yang berpakaian namun telanjang, sesat dan menyesatkan, yang dikepala mereka ada sesuatu mirip punuk unta. Mereka tidak akan masuk surga dan tidak akan mencium baunya. Sedangkan bau surga itu tercium dari jarak sekian dan sekian” (H.R. Muslim).

Kata-kata “Berpakaian namun telanjang” dalam hadits tersebut menunjukkan bahwa berpakaian Muslimah tidak boleh ketat atau transparan sehingga terlihat seluruh lekuk tubuhnya seperti orang yang telanjang. Berikutnya adalah perihal punuk unta di kepala perempuan. Suatu hari saya tidak sengaja menjepit rambut saya tinggi-tinggi sebelum memakai kerudung. Alasannya sederhana, biar isis, alias adem. Saat saya mengenakan kerudung, di depan cermin saya termangu, mendadak saya teringat hadits di atas. Mungkin ini yang disebut dengan punuk unta. Pandangan saya sejalan dengan sebuah blog mengenai muslim fashion yang dibuat oleh seorang Muslimah Amerika. Grup diskusi blog tersebut sepakat bahwa hijab yang didalamnya “disumpel” sesuatu sehingga kelihatan “menjulang” adalah apa yang disebut dalam hadits Rasulullah SAW tentang perempuan yang mengenakan sesuatu menyerupai punuk unta pada kepalanya. Dan sedihnya tidak berapa lama berselang, “punuk unta” tersebut justru menjadi tren dan dijual sepaket dengan “daleman” hijab. So, ini aturan berikutnya, hijab itu tidak menyerupai punuk unta.

Saya sebagai penulis, bukan perempuan yang paling sempurna dalam berhijab. Kesempurnaan hanya milik Allah; sedang contoh terbaik dalam berhijab adalah para istri Rasulullah SAW dan para wanita beriman di zaman Rasulullah SAW yang bersegera dalam berhijab ketika turun perintahnya.

Ketika kita memutuskan untuk berhijab, itu adalah sebuah langkah besar. Hijab yang kita kenakan adalah untuk Allah, bukan untuk menjadi cantik, bukan untuk dilirik, bukan untuk menunjukkan bahwa kita bertakwa, apalagi menunjukkan kita modis semata. Sombong hanya milik Allah; sedang untuk kita “hanya” menaati perintahnya. Menghijab kejumawaan hati, menghijab perbedaan jasadi; dengan “hijab” sesuai aturan Allah ta’ala.Hijab Sebagai Pakaian Muslimah