Menapaki Jalan Nabi 5 (Thawaf Perpisahan, Cerita tentang Ka’bah yang Dirindu)

Tulisan ini dibuat sepulang Umrah. Beberapa detail sudah terlupakan, ketika saya baca ulang. Saya re-post dan re-share untuk mengingatkan diri sendiri, obat rindu pada yang rindu, dan penyemangat pada yang ingin berangkat :)

Kamis itu terik seperti biasa. Hampir semua jamaah memasukkan jadwal Thawaf Wada atau Thawaf terakhir, Thawaf perpisahan dalam agenda mereka masing-masing. Itulah hari terakhir kami di Makkah. Rasanya terlalu cepat. Rasanya saya belum puas. Ah, bukankah memang tidak pernah ada yang “puas” beribadah di tempat sesuci ini?

Semua orang seperti serakah ingin kembali lagi. Bahkan belum pulang ke tanah air saja sudah banyak yang menyusun rencana kembali di tahun berikutnya, apabila Allah memberi umur dan rizki. Saya dan suami saya termasuk di dalamnya. Kami seringkali berucap, “nanti kalau kita haji…”, “kapan-kapan kalau kita ke sini lagi…”. Padahal kami masih ada di sana.

Sebelum menceritakan hari terakhir itu, saya ingin mundur sejenak pada hari pertama kami di Makkah. Saya dan suami ditempatkan di sebuah kamar suite di hotel Grand Zam-Zam. Kamar besar dengan dua kamar tidur, dua kamar mandi dan dapur. Awalnya kami mengira kamar itu hanya milik kami sendiri. GR. Saya sudah kegirangan, dan mulai norak dengan kamar yang indah bagai di surga (padahal saya belum pernah ke surga). Ada jendela kaca di ujung kamar yang tertutup oleh gordyn. Saya mendekat dan berdiri di depan kaca. Mendadak saya ingat foto profil di Blackberry Messenger yang saya copas dari seorang teman. Gambar sajadah terbentang menghadap jendela yang terbuka, yang pemandangannya adalah Masjidil Haram dan Ka’bah yang berkilauan. Gordyn kemudian saya buka karena penasaran. Dan disanalah pemandangan indah itu, di sisi kiri saya. Pemandangan yang sama dengan yang ada di foto profil BBM, dari atas jendela kamar saya. Masya Allah…. Subhanallah… Saya tidak pernah mimpi, bahkan dalam mimpi yang paling indah sekalipun, punya kamar dengan pemandangan Masjidil Haram dan Ka’bah. Dan Allah memberikannya untuk saya, Alhamdulillah. Segala puji hanya untuk Allah.

Setelah bebersih diri, saya dan suami bersiap turun ke bawah untuk melaksanakan umrah pertama. Setelah agak lama menunggu di bawah, saya ditemui oleh seorang Ibu. “Mbak, maaf lho saya tadi buka kamarnya…,”ujarnya.

Saya berusaha mencerna maksudnya. Masuk ke kamar saya? Lho, memangnya…”Saya juga kamarnya di 2909, rupanya kita sama-sama…”, lanjutnya dengan wajah sumringah dan logat Jawa timur yang khas. Awalnya, jujur, saya agak kecewa. Karena di awal tadi, saya dan suami mungkin terlalu GR kami mendapatkan kamar sebesar itu untuk kami sendiri. Hihi…

Tapi kemudian saya berpikir lagi, pasti ada maksudnya mengapa saya dan suami akhirnya satu kamar (walaupun kamar mandi dan kamar tidurnya terpisah) dengan pasangan Bapak dan Ibu, demikian saya dan suami memanggil pasangan suami istri asal Tuban itu. Lagipula mereka tampaknya baik hati dan bersahaja.

Alhamdulillah, prasangka saya benar adanya. Selama di Mekkah, Bapak dan Ibu seperti orangtua bagi saya dan suami. Yang membangunkan, menjaga, dan membimbing kami. Membimbing dalam arti sebenarnya. Ajaibnya, pasangan Bapak dan Ibu selalu berkisah tentang hajar aswad, Multazam dan bagaimana mereka berdua bisa dengan mudah mencapainya. Bahkan menurut Bapak, “Itu kosong lho pas kita ke masuk agak ke dalam”.

Sekedar informasi, karena thawaf bentuknya adalah rotasi, jadi seolah-olah tampak seperti “lingkaran-lingkaran” manusia. Persis seperti bumi dan planet-planet  ber-revolusi mengelilingi matahari. Semakin ke dalam, biasanya semakin sesak oleh manusia. Saya sendiri tidak pernah berpikir bisa masuk ke lingkaran paling dalam, salah satunya karena sifat saya yang cepat puas. “Dari jauh saja sudah senang, bisa ke sini pun sudah senang bukan main…”, begitu pikiran saya.

Jadi tidak terlintas di pikiran saya untuk mendekat, apalagi pernah satu kali saya thawaf seorang diri. Saat itu saya merasa kecil, secara konotatif maupun denotatif. Saya keburu takut membayangkan orang-orang Arab, Pakistan, Turki, Iran yang besar-besar, baik laki-laki maupun perempuannya dan berhitung kemungkinan saya hilang di tengah lautan manusia. Saya memilih “jalan aman”, jalur nyaris terluar. Memang jadi terasa lebih melelahkan, karena selain terik matahari yang menyengat, juga jaraknya menjadi lebih jauh.

Adapun suami saya beberapa kali mencoba mendekat, tapi kemudian mundur saat melihat seorang perempuan, entah dari mana, sebegitu “agresif”-nya mendekati hajar aswad, sampai saat ia sudah mencium, ia terjengkang ke belakang dan kerudungnya lepas. Saya yang diceritakan oleh suami jadi teringat cerita seorang teman yang saat umrah juga terjengkang dan kerudungnya lepas. Lalu semua orang menunjuk ke arahnya dan mengatakan, “Haram! Haram!”. Saya tidak mau terlalu mengagungkan hajar aswad, apalagi kalau mempertaruhkan kerudung saya. Mencium Hajar Aswad “hanya” sunnah, sedangkan menjaga aurat wajib hukumnya.

See? Dalam beberapa hal saya sama sekali bukan risk taker. Bahkan dalam hal mendekati Ka’bah. Dari malam sebelumnya, suami saya sudah berpesan. “Besok thawaf wada-nya kita ikut Bapak sama Ibu ya, kayaknya mereka ‘ada apanya’ gitu deh, Yang. Kok gampang banget bisa mendekat ke Ka’bah,” demikian ujar suami saya. Ada satu malam, selepas Isya kalau saya tidak salah, akhirnya saya tahu mengapa “jalan” Bapak dan Ibu tampak begitu dimudahkan oleh Allah.

Ibu itu membuka cerita, mengawali kisahnya dari kehidupannya di masa lalu. Ia harus berjualan gorengan dan nasi bungkus, mulai dari jam tiga pagi, untuk membantu biaya sekolah anak-anaknya; karena gaji Bapak tidak seberapa. Bapak adalah guru SD di kampung, model PNS yang jujur dan “nggak punya apa-apa”. Usaha, kesabaran, keuletan dan kerja keras Ibu membuahkan hasil karena sekarang anak-anaknya sudah “jadi orang”. Sudah mapan. Sudah bisa membayari dirinya dan suami Umrah, bahkan katanya, “insyaAllah kalau ada rizkinya tahun depan mau naik haji”. “Anakku itu, pas habis ngasih aku duit, proyeknya tembus. Langsung aku dibayari umroh sama bapak,”kisahnya. Saya merinding mendengarnya.Cerita itu bergulir, dan kemudian saya tahu, saya belajar banyak hal darinya. Saya tidak mungkin cerita semuanya di sini, karena itu adalah masalah keluarganya. Masalah terdalam yang membuatnya terisak-isak saat berdoa.

Tapi saya belajar, tentang keikhlasan yang luar biasa. Menjadi istri harus ridho sepenuhnya kepada suami. Menjadi ibu pun harus ridho setulusnya kepada anak-anak. Termasuk ridho saat salah satunya melakukan perbuatan yang menyakiti hati, dan tidak mengungkit-ungkit jerih payah yang dilakukan selama ini. Ridho itu meliputi segalanya. “Ikhlas itu kok rasanya susahnya minta ampun…,” ucapnya sedikit terisak. Air matanya jatuh satu-satu.

Saya ingat Mama di rumah dan perjuangannya yang luar biasa mendampingi Kakak saya yang berkebutuhan khusus, dari lahir hingga saat ini. Sebegitunya Mama sudah berusaha kadangkala masih terbaca nada keluh dari tutur katanya. Saya merangkul Ibu, seperti merangkul Mama. Ibu itu tipe perempuan Jawa yang suaminya tahu beres dengan kerjaan rumah tangga. Tipe ibu yang tulus dan bersahaja. Aura ke-ibu-annya begitu kuat hingga saya merasa nyaman di dekatnya walaupun usia perkenalan kami tidak sampai seminggu.

Darinya saya belajar, menjadi perempuan itu tidak menyisakan pilihan selain ikhlas, ikhlas dan ikhlas. Siapapun yang dihadapi.Pilihan hidup tentu saja banyak, tapi pilihan yang Allah ridho? Tidak banyak. Itulah mengapa banyak perempuan terjerumus dalam neraka. Karena mereka tidak menghargai apa-apa yang diberikan suaminya… Astaghfirullah…Saat itu saya tahu, inilah salah satu alasan mengapa saya didekatkan dengan Ibu. Agar saya belajar menjadi anak yang berbakti, istri shaliha dan ibu yang mengabdi. Subhanallah… Mungkin itu alasan mengapa jalan Ibu selalu dimudahkan, dan mengapa semua orang tampaknya menyukai sosoknya yang jenaka.

Siang itu sebenarnya nyaris saya dan suami tidak jadi thawaf bersama Ibu dan Bapak. Suami saya yang ditunggu di tempat janjian tidak kunjung datang. “Yo wis, kita duluan aja,” kata Bapak. “Sebentar lagi,Pak, ini katanya biar sama-sama…,” jawab Ibu.

Dan akhirnya muncullah suami saya. Kami masuk berempat, beriringan. Bapak, membimbing kami, dengan doa sederhana. Wibawanya sebagai seorang guru tidak saya ragukan. Mungkin ini yang namanya kharisma. Bapak memimpin di depan, diikuti Ibu, saya, dan suami di belakang saya. Saya dan Ibu tingginya relatif sama, beruntung suami kami berdua tingginya di atas rata-rata; jadi cukup bisa “bersaing” dengan jamaah Timur Tengah yang sebagian bertubuh tinggi besar.

Jujur, detailnya saya lupa. Semuanya terasa berlangsung begitu cepat. Bapak membimbing kami masuk ke dalam lingkaran, hingga kami thawaf persis di depan Ka’bah! Dan tahukah apa yang saya lakukan? Melongo sembari thawaf. Bahkan berdoa pun rasanya luput dari ingatan. Saya tidak pernah membayangkan bisa sedekat ini dengan Ka’bah, bisa berdiri menghadap langsung ke arah Multazam, bisa mengelus Rukun Yamani secara langsung alih-alih dengan isyarat. Pada suatu putaran, Ibu menarik saya mendekat ke dinding Ka’bah. “Iki lho, ndhuk, sing mbok gole’i. Ini lho yang kamu cari-cari,” serunya.

Saya…Saya rasa itu adalah kata-katanya yang tidak akan pernah saya lupa. Bahkan mata saya masih berkaca saat mengetik ini. Saya hadapkan wajah saya, kedua tangan saya ke dinding Ka’bah. Memohon ampun pada Pemilik-nya. Bersyukur. Entah apalagi namanya. Yang pasti, saya lupa dengan doa-doa saya. Rasanya seperti… Ah, tidak tahu apa namanya… Rasanya begitu indah… Rasanya terlalu indah…Tujuh putaran terakhir saya selama di sana sempurna sudah. Kami menuju Hijir Ismail dan shalat dua rakaat di dalamnya.

Di antara kelimbungan dan kenorakan saya, terselip sebuah doa, agar thawaf ini bukanlah thawaf terakhir dalam hidup saya. Amiin… Amiin… Amiin…

 

P.S. Thawaf terakhir itu menyisakan hikmah setidaknya untuk saya. Apa yang saya kira tidak mungkin, menjadi mungkin apabila Allah menghendaki. Jadi saya belajar mengatasi sifat saya yang sering cemas terhadap hal-hal yang belum pasti dan belum saya ketahui. Saya mulai berani menyusun mimpi-mimpi saya yang dulu saya kubur rapat-rapat. Dan masalah hari esok yang saya tidak tahu, bukankah itu nikmatnya hidup? Menjalani hidup sehidup-hidupnya, bukan hidup yang terlalu penuh dengan rencana. Menjalani hiduo sehidup-hidupnya, bukan pula membiarkannya tanpa rencana. Menjalani hidup sehidup-hidupnya, menurut saya adalah hidup yang semarak karena kita berlari mengejar mimpi dan memasrahkan kelanjutannya pada Sang Maha Segala.

Advertisements

Menapaki Jalan Nabi (Part 4: Rindu ini Akhirnya Menemukan Labuhannya)

Tulisan ini dibuat sepulang Umrah. Beberapa detail sudah terlupakan, ketika saya baca ulang. Saya re-post dan re-share untuk mengingatkan diri sendiri, obat rindu pada yang rindu, dan penyemangat pada yang ingin berangkat :)

Menjelang dini hari itu, saya dan rombongan tiba di Mekkah. Jantung saya berdegup lebih cepat, apalagi ketika dari kejauhan tampak menjulang menara Masjidil Haram yang bercahaya. Rasanya mengharu biru…Allah, hamba sudah sampai. Hamba, ya Rabb. Hamba yang hina ini, hamba yang penuh gelimang dosa. Ini hamba ya Allah, memenuhi panggilan-Mu. Ini hamba yang kecil dan demikian tidak berarti bagi-Mu, Ini hamba, datang memenuhi seruan-Mu. Tidak ada yang lain selain-Mu ya Tuhanku. Segala pujian di seluruh alam raya dan kenikmatan hanya milik-Mu. Labbaik Allahumma Labbaik, Labbaika Laa Syarikalaka Labbaik. Innal Hamda wa ni’mata Laka wal Mulk, Laa syarika laka.

Untuk mempersingkat cerita, setelah check in hotel dan makan hidangan Arab seharga sepuluh Riyal ternikmat yang mungkin pernah saya coba, saya dan rombongan memasuki Masjidil Haram beriringan. Tangan saya menggandeng Miranti, teman dekat saya selama perjalanan. Suami saya mengiringi di sebelah kiri dan suami Miranti di sebelah kanan. Kami tiba di hadapannya. Terpana saya menatapnya. Ini bukan kali pertama saya Umrah, tapi rasanya seperti baru sekali itu melihat Ka’bah. Luruh air mata saya, berderai-derai.

Berdua, saya dan Miranti terisak perlahan. Inilah Ka’bah, rumah pertama yang dibangun di muka bumi. Inilah Ka’bah, kepadanya miliaran Muslim di dunia berputar, berporos, bersumbu. Inilah Ka’bah, yang memandangnya melahirkan desir lembut, menggoyahkan hati yang keras, meluruhkan air mata. Apabila Ka’bah yang disucikan, sejatinya “hanyalah” bangunan; maka rindu ini kepada siapa harus kembali? Rasa rindu yang hadir dalam diri saya tahun-tahun belakangan ini… Rindu yang sama yang tumbuh di hati banyak pendambanya, mereka yang bahkan belum pernah melihatnya langsung. Rindu ini, cinta ini milik-Mu, ya Allah.

Saya melihat pusaran manusia yang begitu banyak. Yang Arab, yang Pakistan, yang Eropa, yang Melayu. Yang lebih putih dari orang kulit putih yang pernah saya jumpai, dan yang lebih hitam dari orang kulit hitam yang pernah saya lihat. Yang gagah, yang jelita, yang buta, yang tuna daksa, yang tua, yang muda. Semua thawaf, semuanya berputar mengelilingi Ka’bah, mengesakan-Nya. Hanya Dia yang bertempat di hati mereka. Mereka, sama seperti saya, sama-sama rindu pada-Nya. Sama-sama ingin memperoleh cinta-Nya. Sama-sama ingin masuk surga-Nya.

Lalu ada dimana saya?

Lihatlah, entah berapa jumlahnya, begitu banyaknya manusia yang bersegera menuju seruan-Nya. Tubuh-tubuh mereka sama dibalut kain putih. Tidak ada miskin, tidak ada kaya. Tidak ada penguasa, tidak ada rakyat jelata. Lalu pertanyaan itu datang lagi, Tuhan, dimana saya? Siapa saya? Saya bukan siapa-siapa. Saat kaki ini melangkah, berputar bersama-sama, saya sama dengan mereka. Sama lemahnya, sama tidak berdayanya. Saya bukan siapa-siapa. Namun alangkah beraninya saya membusungkan dada dan mengangkat muka. Meminta dihormati, meminta disegani. Padahal Allah tidak memandang titel saya, tidak memandang kedua orang tua saya, apalagi nenek moyang saya. Di sini, di tempat seramai ini, saya membawa diri saya sendiri. Diri saya dan dosa-dosa saya, diri saya dan amal kebaikan saya yang tidak seberapa. Tidak ada titel dan gelar cum laude yang bisa saya gadaikan agar saya bisa menjadi hamba pilihan; tidak ada uang yang bisa saya tukar dengan kemuliaan di sisi-Nya. Bahkan tukang sapu Bangladesh di pinggir Ka’bah pun mungkin masih jauh lebih kaya di hadapan-nya dibandingkan saya.

Tujuh putaran itu selesai, alhamdulillah. Hampir tanpa halangan. Betapa banyak cerita orang-orang yang matanya dibutakan dari melihat Ka’bah, atau terjungkal saat hendak mendekatinya. Ada bahkan sebuah kisah dari pembimbing Haji, bahwa salah seorang jamaahnya lari tunggang langgang saat melihat Ka’bah, padahal saat itu ia sedang duduk di kursi roda karena kedua kakinya kemah. Saya sungguh bersyukur, Allah berkenan menerima saya, menerima suami saya dan jamaah lainnya menjadi tamu-Nya. Di hadapan Multazam, agak jauh sedikit, kami shalat dua rakaat dan bersimpuh. Mengakui segala dosa di hadapan-Nya sekaligus meminta segala hal yang ingin kami minta pada-Nya. Air mata berderai dari tiap insan yang mendamba cinta-Nya. Nyaris tidak ada orang yang datang ke rumah-Nya untuk sekedar wisata. Semua punya angan dan cita yang hendak disampaikan.

Saat semua jalan yang ditempuh terasa buntu, bukankah hanya Allah yang busa membukanya. Saat beban hati demikian sempit menghimpit, bukankah hanya Allah yang bisa melegakannya..

 

Menapaki Jalan Nabi (Part 3: Hati-hati dengan Desir Hati)

Tulisan ini dibuat sepulang Umrah. Beberapa detail sudah terlupakan, ketika saya baca ulang. Saya re-post dan re-share untuk mengingatkan diri sendiri, obat rindu pada yang rindu, dan penyemangat pada yang ingin berangkat 🙂

Inilah dua tanah yang disucikan. Tiap langkah menuju kebaikan diganjar berkali lipat. Tiap ucapan adalah doa, bahkan desir hati pun bisa menjadi doa. Maka berhati-hatilah dengan apa yang kita pinta. Dan banyak-banyaklah memohon ampunan pada-Nya karena Allah Maha Mengetahui apa yang kita sembunyikan bahkan di dasar hati yang paling dalam. Inilah Mekkah Al-Mukarramah dan Madinah Al-Munawwarah. Dua kota yang terasa seperti bulan Ramadhan sepanjang tahun. Dimana manusia berbondong-bondong menuju rumah-Nya, lantunan ayat suci terdengar dimana-mana, wirid dan zikir, yang lantang dan yang perlahan-lahan. Dua kota dimana manusia berduyun-duyun mengaku dosa pada Tuhannya, meminta ampun atas segala alpa, dan mengadukan pada-Nya segala himpitan dan derita.

Dengan cara yang unik, Allah memberi saya permen karet bermerk Batook. Hanya keinginan yang terbit sesaat. Saya ingat, kantung plastik sudah di tangan, dan permen itu tidak ada di dalamnya. Tapi sampai di hotel, entah bagaimana permen itu ada di dalam plastik yang saya bawa. Dan sang penjual pun merelakannya. Maka jadilah permen Batook itu menjadi milik saya.

Suatu pagi, di Mekkah saya mengidamkan makanan Arab bernama Om Ali. Pernah saya cicipi pada Umrah saya yang lalu. Rasanya manis seperti bubur Farley, makanan bayi. Penuh susu, biskuit dan puff pastry yang dihancurkan bersama susu, kismis dan kacang-kacangan. Tidak banyak yang mengetahuinya. Pagi itu saya bertanya pada seorang laki-laki berkulit hitam dengan baju koki yang hilir mudik di ruang makan, “Do you serve Om Ali?”. “Om Ali?”, ia bertanya balik, seperti keheranan. Kemudian ia mengangkat bahunya. “No? No om Ali?” tanya saya memastikan. Ia menggeleng-gelengkan kepalanya. Keinginan saya tidak pupus. Saya sudah mengidamkan makanan ini sejak lama. Pernah suatu hari saya ingin membeli Om Ali di Egyptian Food Festival di sebuah hotel berbintang tapi tidak jadi. Harga seporsinya Rp.139k. Harga yang membuat saya kehilangan selera. Jadi kali ini, saya harus makan Om Ali, tapi saya mau gratis. Entah mengapa saya punya pikiran seperti ini. Saya bukan tipe pencari gratisan atau diskonan. Tapi dari sejak di Madinah saya sudah berdoa di perjalanan, agar saya bisa makan Om Ali gratis. Dan Allah mengabulkannya.

Betapa bahagianya saya saat siang itu restoran ZamZam Hotel menyediakan Om Ali dalam porsi banyak sekali. Tidak banyak yang menyentuh, karena tampilannya memang kurang menarik. Walaupun harus saya akui rasanya tidak selezat Om Ali pertama yang saya coba, tapi saya tetap senang sekali mendapati Om Ali sampai-sampai saya menghampiri pegawai hotel hanya untuk mengatakan, “The Om Ali you serve is very good”.

Suatu hari, Allah pun mengabulkan desir hati saya. Yang tidak saya ucapkan secara lisan, yang saya ucapkan dalam hati, bahkan saat saya seorang diri. Hari itu di Madinah, saya sedang kesal karena suami saya membeli begitu banyak barang dan meninggalkannya untuk saya susun di koper. Setelah menyusun dengan kesal karena merasa buang-buang waktu, itu pun masih berantakan karena dasarnya saya bukan penyusun barang yang baik; saya melihat dua pasang sepatu saya belum dimasukkan. “Aduh”, pikir saya, “ini belum masuk”. “Banyak sekali barang yang harus saya susun. Ini sepatu sudah buluk, seharusnya ditinggal saja di sini. Tapi nanti kalau ditinggal Mama nanyain, ini kan dikasih sama Mama”. Oh iya, hari sebelumnya saya sempat membeli sepasang sepatu murah meriah di pelataran Masjid Quba. Harganya hanya sepuluh riyal. Ada beberapa saat dimana hati saya menyesal membelinya, karena saya sudah berjanji dengan diri sendiri untuk tidak menumpuk-numpuk barang. Saya sudah bawa dua pasang sepatu, untuk apa menambah sepasang lagi. Hanya memenuhi kopor saja. Ada rasa bersalah dalam diri saya.

Hari itu hari terakhir saya di Madinah. Saya ingin ziarah ke Raudhah sekali lagi. Jadi saya seorang diri pergi ke Masjid dan bergabung dengan jamaah Muslimah rumpun Melayu. Oh iya, saya biasa menghafalkan nomor urut penitipan sepatu, jadi saya tidak bingung. Saya ingat meletakkan sepatu saya di penitipan paling kanan yang pintunya tertutup, di penitipan nomor 17. Saat saya hendak pulang dan mengambil sepatu, saya kebingungan mencari-cari sepatu saya. Tidak ada dimanapun! Astaghfirullah… Saya kehilangan sepasang sepatu yang pagi harinya saya keluhkan karena memenuhi kopor. Jadilah saya menghubungi suami saya minta dibawakan sepasang yang lain. Yang menjadi begitu berharga keberadaannya.Saya tidak tahu apa sebabnya. Yang pasti saya lekas-lekas memohon ampun jika saya tidak bersyukur pada-Nya atas sepatu saya. Tapi Allah mengabulkan desir hati saya yang ingin meninggalkan sepatu. Saya tidak perlu repot-repot dan sayang-sayang meninggalkannya, pun segan terhadap Mama yang sudah memberikannya, Allah yang sudah mengambilnya. Siapa yang mau marah?Yah, demikian sekelumit cerita saya, sisanya insyaAllah menyusul esok hari.

Semoga bisa menjadi pengingat bagi kita semua untuk bersyukur dan berhati-hati dengan desir hati bahkan yang paling lembut…

LoA dan Do’a (Part 2)

Walaupun saat ini punggung saya sedang sakit karena terlalu banyak duduk, but as I promised in my previous post–> LoA dan Do’a (Part 1), saya, insyaAllah akan melanjutkan cerita saya. Mungkin saya hanya kurang gerak. (Oh, andaikan nge-blog bisa disambi jalan atau jogging >.<)

Setelah di post sebelumnya, saya menyarankan untuk banyak-banyak berDO’A, instead of LoA, sekarang, I’m gonna tell you why…

Tahun kemarin adalah tahun hadiah untuk saya. Saya membuka tahun 2012 dengan do’a dan keinginan yang kuat untuk Umrah, tapi saya nggak tau gimana caranya. Dari segi finansial belum cukup untuk umrah berdua, tapi entah bagaimana saya YAKIN banget kalau saya bisa Umrah lagi.

Kalau saya belum pernah Umrah, mungkin rindunya nggak akan segitunya. Justru karena saya sudah pernah Umrah pada 1999 dan 2005, kerinduan itu rasanya membuncah dalam dada saya. Percaya deh, orang yang sudah naik Haji atau Umrah lebih kangen ingin kembali lagi ke Tanah Suci daripada yang belum. Saya juga nggak tau ini rindunya darimana datangnya. Saya rasa karea saya lelah dengan urusan tetek bengek obstetri ginekologi, lelah dengan lingkungan yang “menuntut” saya untuk hamil. Saya mau sebuah “escape”, sementara aja. Tapi bukan cuma “escape” sekedar “escape”, saya mau sebuah “liburan”, masa reses yang menjadikan saya lebih kuat, lebih baik, lebih shaliha, lebih taat. Karena saya bukan mau menghindari masalah. Saya cuma mau menghadapinya dengan baik, dengan sabar, dengan enjoy.

Jujur, saya membuka tahun 2012 dengan BUANYAK air mata karena kegagalan proses inseminasi, dan bulan berikutnya saya selalu haid dan haid. Siklus saya yang biasa teratur jadi acakadut, membuat saya HHC (harap-harap cemas) apa hamil, apa enggak.

Saya lupa bulan apa tepatnya, apakah Maret atau Februari, saya meng-copas DP BBM seorang teman. Gambar yang sedikit memenuhi kerinduan saya akan tanah haram. Gambar sebuah sajadah terbentang di sebuah kamar dengan jendela kaca dan pemandangan di depannya adalah Masjidil Haram. Bayangkan! Kamar siapa itu yang bisa memandang Masjidil Haram dengan view dari ketinggian?

Setiap hari saya memandangi, membayangkan, masya Allah… saya sungguh menginginkannya. Rindu sekali ingin Umrah. Entah bagaimana caranya, saya juga tidak tahu. Yang saya tahu hanya Allah Maha Mengetahui, Allah Maha Memberi Rizki. Terserah Allah gimana caranya.

Penghujung Maret, kalau saya tidak salah, sore itu saya sedang dalam perjalanan ke Superindo Mampang bersama Papa dan suami. Suami dan Papa mengeluhkan saya yang nggak mau nembak bikin SIM A, padahal semua orang juga begitu, kata mereka. Saya nggak mau, berusaha bertahan untuk nggak mau, karena mereka yang menyuap dan disuap sama-sama masuk neraka, kata Rasulullah SAW. Perbincangan berlanjut ke sana ke sini tentang sistem yang “emang begitu’ bobroknya dan korup. Papa saya kemudian nyeletuk, “Gini deh, biar kamu semangat, gimana kalau kamu dapet SIM A, Papa beliin mobil?”.

“Daripada aku dibeliin mobil, mending aku dibayarin Umroh aja berdua sama Abang (suami),” ujar saya.

“Emang berapa harga Umroh sekarang?” tanya Papa.

“Sekitar 2000-an dollar, Pa. Aku udah tanya-tanya ke banyak travel…” jawab saya.

Oh iya, saya baru ingat, pada akhir 2011 saya sempat pergi ke Pameran Haji Umrah-nya Garuda dan sudah mengambil segudang brosur Haji Umrah. He.. Jadi, Umrah ini keinginan lama banget sebenernya. Saya bahkan sempat pergi ke ESQ Travel untuk mendapatkan brosur Umrah. Keinginan saya sebenarnya adalah Haji, tapi untuk bisa Haji dari Indonesia tentu memakan waktu yang lama. Untuk ONH Plus saja harus menunggu setahun-dua tahun. Belum biaya yang tidak sedikit. Apalagi ONH Reguler. Konon daftar tunggunya sudah sampai tahun 2020. Hiks… Membayangkannya saja saya sedih 😥

Anyway, gayung bersambut, Papa mengiyakan, bersedia membayari saya dan suami Umrah. Jadilah mulai hari itu saya sibuk mencari travel, mengurus passport yang sudah kadaluarsa, kartu kuning, belanja peralatan Umrah (my favorite part :D), download e-book Umrah-nya Syaikh Ibn Baz, dan macem-macem deh. Saya bahkan sudah mencicil packaging sebulan sebelum hari keberangkatan, saking semangatnya. Hihihi…

Teman-teman saya yang tahu saya ingin Umrah sempat agak kaget waktu saya bilang mau berangkat. Kemarin-kemarin cuma berani “mimpi”, banyak-banyak do’a, banyak-banyak minta di-do’a-in; sekarang kejadian. Pengen umroh-nya bukan cuma ‘pengen’ semacam ‘pengen kawin’ tapi nggak kawin-kawin. Memang ‘Pengen’ dalam arti ‘akan’.

Hal yang paling “lucu” adalah, mendadak mens saya teratur lagi. Hehehehe… Dari sejak Papa mengiyakan untuk memberangkatkan saya Umrah, siklus saya kembali teratur. Alasannya saya rasa sederhana, karena saya sudah tidak lagi memikirkan kehamilan. Se-kesal-kesalnya saya dengan petugas travel yang acakadut dan proses di imigrasi yang bikin emosi, saya tahu, ada hadiah indah menunggu saya. :’)

Sampailah akhirnya saya di tanggal yang dinanti-nanti. Jumat, 25 Mei 2012. Saya terbangun di pagi hari dan bergumam, “This’s it! Semoga Allah memudahkan perjalanan ini…”. Layaknya menikah, perjalanan Umrah atau Haji juga seringkali diuji. Saya masih ingat saat Umrah 2005, saya dan keluarga baru mendapat visa di pagi hari, dimana siangnya kami harus take off. Petugas travel yang menyambut kami di bandara mengatakan pada Papa saya,”Biasa ini, Pak. Kalau perjalanan ibadah memang agak berliku, tapi kalau mau senang-senang, ke Bali atau ke Vegas biasanya jalanya lancar”. Begitu pun dengan rombongan besar jamaah Umrah dari travel yang saya gunakan. Kami menunggu berjam-jam di bandara karena delay. Tapi ini nikmatnya, tidak ada yang marah-marah, mungkin juga tidak berani. Ada sih yang mengeluh, atau menunjukkan wajah lelah dan kecewa. Tapi kesalahan memang bukan dari pihak travel melainkan dari pihak maskapai penerbangan.

Singkat cerita, setelah berkunjung selama beberapa hari di Madinah, rangkaian perjalanan Umrah dimulai. Dini hari, kami tiba di Makkah dalam keadaan berihram. Setelah mendapatkan kamar, saya dan suami pergi ke nomor kamar yang tertera pada kunci elektronik  untuk sekedar meluruskan kaki atau buang air. Hotel yang kami tempati adalah Grand Zam-zam, yang terletak persis di sebuah gedung berisi pusat perbelanjaan dan hotel-hotel berbintang. Pintu satu Masjidil Haram persis ada di depan gedung. Saya bahkan masih ingat nomor kamarnya, 2909.

Di ruang tamu, dalam ruangan suite berkamar dua (satu ruangan untuk dua keluarga), saya mencari arah kiblat. Oh ternyata kiblat mengarah ke kiri yang apabila di ruangan itu mengarah ke jendela yang tertutup tirai. Rasanya suasana itu pernah saya dapati. Semacam mirip dengan DP BBM yang selalu saya pandangi sebelum berangkat Umrah. Tidak sabar, saya menyibak tirai tersebut, dan disanalah, pemandangan yang sama dengan DP BBM saya. Masjidil Haram yang begitu bercahaya, Ka’bah dan lautan manusia yang thawaf memuja keesaan-Nya.

Pada saat itu juga saya menangis.  Betapa saya yang kecil ini di hadapan-Nya, seringkali khilaf dan banyak berbuat dosa, namun tidak sedikit pun Allah lengah dan luput memperhatikan, bahkan hal yang paling detail dari keinginan saya. Saya percaya bahwa tidak ada satu hal pun di dunia ini terjadi begitu saja, tanpa ada hikmah di baliknya. Karena takdir manusia layaknya garis lurus yang saling bersinggungan satu sama lain, takdir bagi seseorang akan bersentuhan dengan ketetapan-Nya bagi orang yang lain.

Kenangan ini kembali teringat, sehingga kemudian saya mencoba menuliskannya, karena seorang rekan Umrah berkomentar di foto pemandangan dari atas kamar 2909 Hotel Grand Zam-zam yang saya ambil. Dari komentar tersebut, saya tahu, tidak semua kamar mendapatkan pemandangna serupa. Dan saya bertambah yakin bahwa walaupun “hanya” pemandangan luar biasa, akan tetapi itu adalah hadiah untuk saya dari Allah.

Fotor0203175749

Dari perjalanan Umrah saya kemarin, saya mengambil hikmah. Tidak perlu LoA untuk menggapai mimpi. DO’A sudah lebih dari cukup. DO’A yang sungguh-sungguh akan melahirkan keinginan yang kuat, keinginan yang kuat akan berimbas pada perilaku yang sejalan. Lagipula, apabila Allah menghendaki suatu hal terjadi pada diri kita, siapakah di semesta ini yang dapat menghalanginya, begitu pun sebaliknya.

Lalu dimana letak ikhtiar?

Saya selalu percaya, bahwa DO’A adalah penghulu segala mimpi dan capaian dalam kehidupan. DO’A yang sungguh-sungguh, if I have to repeat akan membawa pada perubahan perilaku, sebagaimana shalat yang sempurna akan mencegah perbuatan keji dan munkar (lalu mengapa maling, koruptor, pelacur, pemadat masih ada padahal mereka juga shalat? Berarti ada yang salah dengan shalatnya :)). Setelah DO’A kita panjatkan banyak-banyak dan sungguh-sungguh, iman kita persiapkan dengan matang dengan banyak-banyak PDKT pada-Nya, nah, ikhtiar adalah ladang amalnya, ladang jihadnya.

Seringkali, saya pribadi, mengedepankan ikhtiar dan meletakkan DO’A di akhir, seakan-akan DO’A adalah senjata terakhir, atau ber-DO’A (baca: shalat) pada saat terakhir *istighfar* karena alasan sibuk. Shalat-nya mepet menjelang tutup kantor (jaman ngantor dulu) karena alasan baru sempat, pun sekarang-sekarang shalat-nya mepet karena alasan tanggung bikin materi ngajar. Lho, berarti di awal dimana saya letakkan Allah dalam usaha saya apabila shalat saya “sesempetnya”?

Saya ingat dalam sebuah ceramah, Ustadz Yusuf Mansyur (semoga Allah memberkahi beliau), bercerita. Suatu sore, di penghujung Ashar beliau sedang berada

di salah satu mall, dan menyapa seorang penjaga toko, “Udah jam segini, udah shalat Ashar belum?”, kurang lebih begitu beliau bertanya. Detail redaksinya saya lupa. Jawab si penjaga toko, “Belum, ustadz, nggak sempet kudu jagain toko”. Lalu Ustadz menanggapi,

“Oh kalau gitu, tunggu

in aja, sampe tahun depan kalau begitu caranya ente masih bakal jadi penjaga toko”.

Ah, semoga Ustadz mau memaafkan kekhilafan saya menyitir detail ucapan beliau. Tapi intinya adalah, seringkali kita berkeinginan tinggi, tapi meletakkan Allah, Sang Pemegang Kehendak dan Kendali Semesta di ujung-ujung kehidupan kita. Lalu bagaimana hidup kita mau berubah apabila tidak ada usaha peningkatan hubungan dengan-Nya?  *ngomong sendiri T_T*

Semoga tulisan ini bisa menjadi pengingat, terutama untuk SAYA PRIBADI. Seringkali saya mendapati perenungan-perenungan diri justru dari menulis dan mengajarkan pada orang lain, oleh karena itu, saya tidak lebih baik dari siapapun dengan menulis hal-hal di atas. Saya hanyalah hamba-Nya yang sering lalai, namun ingin beranjak dari kelalaian itu walau sedikit, walau tertatih. :”(

Wallahu A’lam.

P.S. Detail perjalanan Umrah saya bisa dibaca di sini dan di sini. Masih acakadut sih, dan belum menyelesaikan Part 3 Madinah-Jeddah. Tapi semoga bisa menambah semangat yang membaca juga untuk diri saya sendiri, bagi mereka yang rindu Tanah Suci.

 

Menapaki Jalan Nabi (Part Dua: Madinah yang Bertabur Cahaya

by Shinta Galuh Tryssa on Tuesday, June 5, 2012 at 8:05am ·

Sebenarnya jarak tempuh dari Jeddah ke Mekkah jauh lebih dekat daripada Jeddah ke Madinah. Fakta ini saya ketahui dari seorang pekerja migran, satu-satunya pekerja migran di antara jamaah umrah, saat saya bercakap-cakap dengannya. Malam itu si Mbak berkerudung kuding muda duduk sendiri dengan canggung. Matanya berkeliling menyisir ruang tunggu yang dipenuhi oleh Jamaah Umrah, bukan hanya dari indonesia, tapi juga jamaah dari Malaysia yang berangkat menggunakan pesawat Garuda Indonesia.

 

“Kampung majikan saya dekat dari Haram (Mekkah, maksudnya), cuma satu jamlah,” ujarnya dengan logat Tegal.

 

“Terus nanti sampai sana dijemput?”

“Iya, nanti dijemput di Jeddah sama majikan saya,”

“Majikannya baik dong, mbak?”

“Iya, Alhamdulillah,”

“Kok bisa pulang, Mbak? Apa memang cutinya” tanya saya lagi.

“Iya, ini dikasih pulang sama majikannya. Untungnya majikan saya nggak punya anak kecil, jadi bisa bebas pulang. Tapi ini saya perhatiin nggak ada yang kerja kayak saya ya. Semuanya orang umroh,” keluhnya.

 

Saya sangat paham perasaannya. Apabila dulu penerbangan menuju Jeddah dipenuhi oleh pekerja migran, sekarang penerbangan menuju Jeddah dipenuhi, disesaki bahkan, oleh jamaah Umrah. Pemerintah sudah menutup jalan pengiriman tenaga kerja migran sejak kejadian terlantarnya banyak Jamaah yang kemudian berdiam di bawah kolong jembatan di Mekkah dan Jeddah. Miris dan sangat dilematis. Di satu sisi banyak dari mereka yang berangkat secara ilegal menggunakan visa umrah, di sisi lain pembinaan yang tidak paripurna dari pihak agen TKI di Indonesia menjadikan permasalahan demi permasalahan kerap kali menimpa pekerja migran, terutama perempuan, di sana. Semakin miris, karena ternyata ada dari mereka yang berangkat dengan ilegal kemudian menjadi bagian dari sindikat pelacuran. Entah si Mbak dari Tegal itu sudah tahu atau belum, tapi bagaimanapun sebutannya sebagai pahlawan devisa, secara status tetap saja dia adalah pembantu. Sedangkan jamaah Umrah, tentulah cukup berpunya sampai bisa berangkat Umrah. Walaupun kedudukan manusia sama di hadapan-Nya, tetap saja tidak sama secara sosiologis. Rasa canggung dan serba salah yang tampak dari gerak-gerik perempuan paruh baya tersebut seolah menunjukkan hal tersebut. Hanya dia yang kembali ke Saudi untuk mencari uang; sedangkan sisanya berangkat membawa uang untuk menghabiskannya di sana.

 

Saya agak berharap dapat menjalani Umrah dulu di Mekkah, baru menghabiskan waktu di Madinah. Tapi ada untungnya juga rutenya tidak demikian; karena kalau Mekkah terlebih dahulu, berarti kami harus berihram dari pesawat. Mandi dan shalat dua rakaat. Untuk saya dan jamaah perempuan mungkin tidak terlalu masalah. Yang agak problematis adalah jamaah laki-laki. Karena dengan pakaian ihram seorang Muslim (bukan Muslimah) tidak diperkenankan untuk mengenakan pakaian berjahit dan menutup kepala. Termasuk pakaian dalam. Jadi selama ihram harus jadi laki-laki “manis”, tidak boleh duduk atau jongkok sembarangan.

 

Enam jam perjalanan Jeddah-Madinah itu cukup melelahkan. Kami sempat berhenti sebentar untuk sarapan dan nge-teh di sebuah pemberhentian. Dan suami saya, lagi-lagi hilang untuk jajan. Kali ini jajanannya adalah Lays extra large. Oh iya, harga Teh di sana murah banget. Hanya satu riyal dengan gula yang besar-besar butirannya. Rasa tehnya agak pahit, dan disajikan langsung dari rebusan air yang mendidih. Lidah saya menjadi korban karena coba-coba menyeruput sedikit. Perjalanan kemudian dilanjutkan. Sepanjang jalan, sejauh mata memandang yang terlihat adalah hamparan pasir dan gunung berbatu, juga bangunan-bangunan yang ditinggalkan. Bus yang kami tumpangi mendadak berhenti. Rupanya puluhan monyet sedang menyebrang jalan. Ini sungguh hiburan menyenangkan. Sebagian sudah sampai di ujung jalan, sebagian lagi masih tertinggal di belakang. Hihihi… Setelah itu pemandangan berganti menjadi penggembala domba yang menuruni pegunungan batu. Variasi yang menarik di tengah pemandangan hamparan pasir dan jajaran pegunungan batu.

 

Akhirnya kami sampai juga ke bagian pemeriksaan. Jalan kemudian terbagi dua, untuk Muslim dan untuk non Muslim. Hal ini dikarenakan dua tanah Haram (Mekkah dan Madinah) Allah jaga hanya untuk Muslim (atau yang mengaku Muslim) saja. Kami belum masuk tanah haram, baru di sebelah luar Madinah. Mas Ghaffur, sang guide menjelaskan, bahwa mulai saat itu kami harus menjaga perbuatan dan memperbanyak ibadah. Karena Allah sendiri yang menjaga kedua kota haram, dan melipatgandakan pahala ibadah kita di sana. 1000 kali untuk Madinah, dan 100.000 kali di Mekkah. Di kedua kota itu, saya merasa, walaupun Allah tidak bertempat, tapi Allah demikian dekat. Kedua kota tersebut adalah kota yang istijabah, sehingga bahkan lintasan hati pun bisa menjadi kenyataan. Oleh karenanya, Mas Ghaffur senantiasa mengingatkan jamaah untuk menjaga lisan dan hati.

 

Pffuh… Menjaga lisan saja sudah sulit, bagaimana dengan hati dan lintasannya yang kadang lewat tanpa diminta dan tanpa kita sadar. Tapi di sana saya belajar, bahwa lintasan hati itu berbanding lurus dengan amal ibadah kita. Kalau kita cenderung pada kebaikan, banyak melakukan perbuatan baik, insya Allah lintasan hatinya pun lintasan hati yang baik. Ibaratnya, lintasan hati adalah hasil akumulasi dari amal ibadah kita. Saya percaya itu. Orang yang terbiasa berbuat baik, dan condong pada kebaikan pasti lintasan hatinya juga baik. Orang yang disibukkan dengan mengingat-Nya, maka lintasan hatinya pun penuh dengan ingat pada-Nya.

 

Menjelang Zuhur, saya sampai di hotel. Alhamdulillah hotel kami dekat dengan Masjid Nabawi. Masjid Nabawi, berdesir hati saya memandangnya. Leleh hati saya saat Zuhur itu memasukinya. Betapa rindunya saya memasuki Masjid yang di sana Rasulullah SAW membangun peradaban Islam, mendidik para sahabatnya hingga menjadi orang-orang hebat, terpandang di bumi dan langit. Islam yang kita terima sebagai agama, di sanalah awalnya…Payung-payungnya terbuka menyambut pagi, menjaga jamaah dari terik mentari. Kipas angin berukuran besar tergantung, bukan hanya menghembuskan angin, tapi sekaligus menghembuskan uap air menyejukkan.

 

Dinginnya udara Masjid Nabawi menyapa saya segera. Agak susah mendapatkan shaf yang “bagus” kalau berangkat kesiangan. Alhamdulillah Zuhur pertama itu saya masih mendapatkan shaf di bagian dalam, yaitu bagian “Women Without Children Section”. Bagus dipisah begini, agar yang membawa anak-anak tidak mengganggu mereka yang ingin khusyuk beribadah.

 

Pemandangan saya dihiasi dengan perempuan-perempuan yang cantiknya Masya Allah. Apalagi perempuan-perempuan Iran. TUbuhnya tinggi semampai bak model, kulitnya putih bersih kontras dengan jubah hitam yang mereka pakai. Jubah yang sebenarnya tidak selalu mereka pakai dalam keseharian di negaranya. Ada pula perempuan-perempuan yang tampak seperti orang Eropa, tapi versi jauh lebih cantik. Pasti dari negara-negara Syams. Kabarnya di sana bahkan bayangan orang-orangnya pun cantik dan tampan. Saya merasa kecil dalam arti kata sebenarnya. Kecil, pendek dan bulat. Hihi… Sedangkan mereka tinggi-tinggi dengan tulang besar semampai. Bahkan yang paling gendut pun cantiknya luar biasa.Subhanallah…

 

Madinah selalu menempati tempat spesial di hati saya karena sejumlah alasan, di luar keberkahan luar biasa yang Allah limpahkan padanya. Pertama, di sanalah tinggal keturunan orang-orang Anshor, golongan orang-orang yang lebih dahulu menerima Islam. Orang-orang dengan hati yang lembut, tingkah laku yang hangat dan memiliki tingkat kemurahan hati di atas rata-rata orang banyal. Pun keturunan orang-orang Muhajirin, mereka yang berhijrah karena Allah. Orang-orang yang rela meninggalkan apa-apa yang dicintainya demi keselamatan, kejayaan agamanya; dan ketaatan pada Tuhan dan Rasul-Nya.

 

Kedua, Madinah adalah kota para pecinta ilmu. Inilah warisan Rasulullah SAW, sebuah kebiasaan yang mendarah daging. Majlis-majlis ilmu konon lebih banyak ditemukan di Madinah daripada kota-kota lain di Saudi Arabia. Di sanalah, Rasulullah SAW mendidik ummat Islam. Di sana, di Madinah yang bertabur cahaya. Al Munawwarah yang dicinta dan didamba…Pada hari terakhir saya di Madinah, sekembalinya saya dari Raudhah, saya melewati satu bagian di Masjid Nabawi dimana beberapa orang Muslimah sepertinya sedang “setor” hafalan kepada sang ustadzah. Saya menebak melalui gaya-gaya mereka komat-kamit sambil merem melek, dengan Al-Quran di hadapannya. Yang komat kamit sambil merem melek, pasti orang-orang auditori yang sedang menghafal. Hihi…

 

Saat itu terbit rasa cemburu dalam hati saya. Ah, betapa beruntungnya mereka. Mengajarkan dan menuntut ilmu langsung dari tempat pertama kali peradaban Islam dibangun oleh Sang Nabi SAW. Semoga suatu hari saya pun bisa, mencapai derajat keilmuan yang tinggi dalam agama ini. Amiin.

 

Suami saya jatuh cinta dengan kota Madinah. Waktu yang dihabiskannya di dalam kamar sangat sebentar, sisa waktunya dihabiskan di luar. Untuk shalat, jajan, dan berkeliling tempat-tempat yang dekat. Suami saya bahkan sudah bersahabat dengan pemuda Sudan menjual Al-Quran untuk Waqaf. Yang pagi sore, siang malam, tidak lelahnya memasarkan, “Waqaf waqaf waqaf…” dengan gayanya yang khas. Suami saya bahkan sempat berfoto berdua dengannya. Hihi…

 

Kecintaan ketiga saya pada Madinah adalah karena saya merasa “aman” berbelanja di sini. Apabila barangnya tidak bagus, pedagangnya langsung mengatakan. Apabila bukan barang asli, pasti juga dikatakan. Seringkali kita diberi “bonus”, walaupun itu hanya sebiji korma. Suatu hari saya menitip sikat gigi pada suami yang hendak membeli titipan seorang teman di Supermarket Bin Dawood, Madinah. Sampai di hotel, barangnya tidak ada, tapi tertera si struk. Artinya sudah dibayar. Suami saya kembali ke Bin Dawood. “Luar biasa,” kata suami saya, Mereka sangat welcome dengan suami saya sampai berkenalan dan suami saya dibawa ke mechanical room, demi mengusut satu barang sepele. Hanya sebatang sikat gigi. Mereka sungguh-sungguh mencari, menelusuri kemana dan bagaimana sampai sebatang sikat gigi bisa lolos dari plastik. Dan akhirnya ketemu. Diberikan pada suami saya dengan baik dan hangat.

 

Suatu kali pernah juga saya belanja di toko kelontong dekat hotel. Beli cemilan dan air minum. Di kasir saya melihat permen karet strawberry yang menggoda dan memiliki nama yang unik, ‘Batook’. “Hihi, ini permennya bikin batuk kali ya, Bang…”, begitu canda saya dengan suami. Hampir saja saya beli, tapi tidak jadi. Entah bagaimana ceirtanya, permen itu tiba-tiba sampai di plastik belanjaan kami. Saya panik karena tidak merasa membeli. Lekas-lekas saya kembali ke toko kelontong hendak mengembalikan permen karet. Tapi bapak tua pemilik toko, mengibaskan tangannya, “halal, halal, halal…”. Saya boleh membawa permen itu dengan percuma.

 

Di depan Masjid Nabawi ba’da Shubuh dan Ashar pasti ada pasar kaget. Biasanya di sela-sela waktu Shalat yang jedanya jauh. Persis di depan Masjid Nabawi ada penjual kerudung yang menjual dengan “Atraksi”. Penjualnya berdiri di atas kursi, kadang juga tidak pakai kursi lalu membuka dagangan dengan cara melempar-lempar dagangan, “Lima Riyal, Murah murah murah…”. Kain-kain Pakistan itu berterbangan kemana-mana. Bahkan sampai ke jalanan. Seringkali apabila saya melintasinya saya memungut satu dua yang tercecer lalu saya kembalikan. Perempuan mana yang tidak suka. hihi… Dan hebatnya, saat saya membeli enam, saya katakan pada penjualnya, “Enam, Sittah”. Sok-sok berbahasa Arab. “Masya Allah, sittah…” ujarnya seperti kaget karena saya tahu bahwa enam itu sittah dalam bahasa Arab. “tiga puluh riyal”, ujarnya menyerahkan bungkusan, tanpa menghitung ulang. “tidak dihitung?” tanya saya sambil memberi isyarat. Pedagang di Madinah dan mekkah memang bisa berbahasa indonesia yang sifatnya bisnis. Hihi.. tapi untuk detail mereka tidak bisa. “Tidak. Enam, Sittah, halal.” ujarnya sambil mengibaskan tangan dan tersenyum. Tinggal saya yang takut jangan-jangan saya mengambil kerudungnya lebih dari enam. gaya mengibaskan tangan sambil menggoyang kepala itu memang ciri khas orang-orang Arab. Laki-laki maupun perempuan. Dari pedagang, petugas hotel, sampai askar Masjid.

 

Suatu hari, suami saya pulang dari perburuan belanjanya membawa dua botol parfum Lacoste. Negara Arab memang terkenal dengan harga parfumnya yang luar biasa murah. Dan original. Karena kalau palsu mereka pasti bilang. “Ini Abang ngutang sama yang jual…” ujar suami saya. “Hah? Kok bisa?” tanya saya bingung. “Iya, tau-tau abang ditawarin dua, harganya murah banget. Tapi Abang nggak bawa duit, katanya nggak apa-apa, nanti saja setelah Isya atau kapan saja dibayarkannya. Ini juga masih dikasih bonus parfum Arab yang bentuknya bolpen”, jelas suami saya, penuh semangat.Penduduk Madinah juga sangat murah hati.

 

Selain bonus yang diberikan dalam perniagaan; seringkali jamaah diberi “sedekah”, walaupun itu hanya siwak dan kurma. Seperti suatu sore di depan Masjid Nabawi. Seorang lelaki Arab berparas bersih, tinggi semampai membagi-bagikan hadiah. Apa itu kiranya? Saya dan suami pun mendekat. Rupanya bungkusan itu sudah habis saat saya dan suami datang. Kami hendak beranjak pergi saat laki-laki itu membuka bungkusan baru. Orang-orang mendadak penuh berkerumun di sekelilingnya. Ada yang bagi-bagi gratis? Siapa yang tidak mau. Saya dan suami sudah agak jauh, lalu lelaki itu memanggil kami. Suami saya yang datang, dan lelaki itu memberi kami dua bungkus kurma. Satu bungkus berisi enam atau tujuh kurma. Alhamdulillah.

 

Oh ya, ngomong-ngomong kurma, Madinah ini surganya Kurma. Dan favorit saya adalah kurma yang belum terlalu matang yang masih menggelayut pada batang-batangnya. Rasanya manis, ada sedikit asam dan sepet. Tapi nikmatnya… Apalagi dimakan dalam keadaan dingin, di tengah cuaca panas terik. Nyam nyam… Lezat sekali. Subhanallah…Dan tentunya, yang tidak bisa dilupakan adalah ziarah saya ke makam Rasulullah SAW dan dua sahabat yang mengapit beliau, Abu Bakar dan Umar. Ini istimewa rasanya, karena bagi perempuan, Raudhah (artinya “taman”) tidak dibuka setiap saat, oleh karena Raudhah berada di bagian jamaah laki-laki, bahkan menjadi tempat imam memimpin shalat. Yang dimaksud dengan Raudhah adalah tempat di antara mimbar dan rumah Rasulullah SAW. Pertanyaannya adalah, dimana rumah Rasulullah SAW? Rumah beliau adalah tempat beliau dikuburkan. Oleh karena kabarnya, para nabi dan rasul dikubur di tempat mereka meninggal. Sedangkan Rasulullah SAW wafat di kamar Aisyah.

 

Masya Allah… saya bertamu ke rumah Rasulullah SAW??

 

Nah, di masa lalu Masjid Nabawi memang tidak sebesar sekarang, arsitekturnya dipisahkan, dibuat agak berbeda untuk menandai Masjid yang orisinal dan perluasannya yang kita kenal sekarang. Rumah Rasulullah SAW (yang sekarang menjadi bagian dari Masjid Nabawi) persis berada di sebelahnya. Di antara rumah beliau dan mimbarnya, Rasulullah SAW suka sekali duduk berlama-lama. Awalnya tidak ada yang tahu apa sebabnya; sampai kemudian beliau mengatakan bahwa di antara rumah beliau dan mimbarnya adalah taman syurga (Raudhatul jannah), dan di sana Allah mengabulkan semua apa yang diminta manusia. Huff.. Ini salah satu tempat paling istijabah di dunia..

 

Saya agak mengharu biru saat dini hari itu pergi ke Raudhah bersama rombongan Ibu-ibu. Bayangkan, selama ini saya hanya bisa membayangkan, mengira-ngira seperti apa sosok agung yang seluruh Muslim di dunia senantiasa menebarkan shalawat dan salam padanya; dan sekarang, saya akan melihat makamnya. Katanya salam kita langsung sampai pada beliau dan beliau sendiri yang menjawabnya… Astaghfirullah, Subhanallah… Salam kita dijawab LANGSUNG oleh Rasulullah SAW?

 

Lalu sampailah saya di sana. Setelah menunggu giliran, mendahulukan rombongan jamaah Muslimah Iran lalu Pakistan, tibalah saatnya rombongan Melayu. Oh iya, jamaah perempuan yang hendak ziarah memang dibagi per kebangsaan dan bahasanya. Kebangsaan Arab biasanya terdiri dari orang-orang Saudi, orang-orang dari Syams, Maroko, dan yang berbahasa Arab lainnya. Kebangsaan Pakistan terdiri dari orang-orang Pakistan, India, Bangladesh dan yang satu bahasa dengan itu. Kebangsaan Melayu terdiri dari Indonesia, Malaysia, Brunei, Singapura, Pattani (Thailand Selatan) dan Filipina. Ada sedikit kelegaan dalam diri saya karena jamaah Iran dan Pakistan sudah berlalu. Jamaah Iran yang tinggi besar seringkali meratap-ratap dengan suara lantang dan agresif perilakunya. Melangkahi orang seenaknya, duduk di antara dua orang seenaknya. Pernah satu kali saya tidak bisa rukuk karena persis di depan saya berdiri perempuan Iran menggotong kursi roda! Di tengah pelaksanaan shalat berjamaah, mereka hilir mudik mencari tempat, dan berdiri di depan orang-orang shalat. Astaghfirullah… Ibadah mereka pun agak berbeda, mungkin karena mereka Syiah. Sedangkan jamaah Pakistan agak lebih tertib tapi sama-sama suka meratap-ratap. Memang lebih baik menunggu sampai giliran terakhir.

 

Para askar sibuk berteriak dengan suara mereka yang nyaring, “Yallah Hajjah hajjah…”, sambil mengibaskan tangan, atau menepuk-nepuk tangan. “Hajjah” dulu mereka gunakan untuk memanggil seluruh jamaah perempuan. Sekarang Hajjah mereka gunakan untuk memanggil jamaah turunan Arab. Untuk jamaah Indonesia mereka memanggil dengan, “Ibu..Ibu..Ayo Ibu, jalan terus,”. Dan memanggil “Khanoum” untuk muslimah Iran.

 

Bagian Raudhah ditandai dengan karpet hijau, jadi setelah bershalawat pada Rasulullah SAW :’) memberi salam pada dua sahabatnya; saya tidak mau melepaskan pandang dari karpet. Begitu masuk ke karpet hijau, blas! Lepas semuanya. Leleh air mata saya. Doa saya panjatkan, shalat sunnah dua rakaat saya tunaikan. Saat itu demikian berharga hingga saya berharap waktu berjalan lebih lambat. Tunggulah sebentar lagi. Sedikit lagi. Di bumi yang saya sujud di atasnya, siapakah yang shalat di sini 14 abad lampau? Apakah Rasulullah SAW pernah duduk di sini? Pernah mengajarkan Islam di sini? Semoga shalawat dan salam tercurah padamu selalu, duhai Muhammad bin Abdullah. Yang ditawarkan emas sebesar gunung Uhud namun memilih hidup miskin dan mati miskin. 

 

Saya cinta Madinah. Madinah dan penduduknya yang berdagang bukan sekedar mencari keuntungan. Madinah dan penduduknya yang berdagang mencari kelimpahan berkah. Madinah yang meninggalkan perniagaan saat azan berkumandang. Madinah yang sama, belasan abad silam menyambut kedatangan Rasulullah SAW dengan penuh suka cita. Nabi baru yang mulia, yang membuka hati mereka dari kegelapan menuju cahaya. Madinah yang sama, yang menyokong Rasulullah SAW dan para sahabatnya memulai kehidupan setelah pahit getir yang dilalui di Mekkah dan kezhaliman orang-orang kafir Quraisy. Madinah yang sama, saat Allah akhirnya membuka tirai gelap masa-masa suram dan memberi celah kegemilangan Islam melaluinya.

 

Menapaki Jalan Nabi (Part 1: Jakarta-Jeddah)

Kisah ini diawali di suatu pagi, pada hari Jumat yang diberkahi. 25 Mei 2012. Hari keberangkatan saya dan suami ke tanah suci, sekaligus hari gajian. Pukul sembilan pagi, kami berdua beserta sanak saudara sudah berangkat menuju bandara. Pesawat memang dijadwalkan take off jam 4.50 sore, tapi para peserta Umrah diharuskan berkumpul jam 1 siang ba’da shalat Jum’at. Jadilah kami berangkat pagi-pagi, saat jalanan masih begitu pada dengan mereka yang giat mencari sesuap nasi. Tim “Hore” yang mengiringi kami memang cukup banyak. Ada orang tua suami saya, ibu saya, plus kakak dan adik saya. Hihihi… Harap maklum, Umrah kan Haji mini. Kalau Haji saja perjuangannya hidup dan mati, berarti Umrah, yaaa… versi mininya dari itu, direduksi berkali-kali :p. Lagipula ini bukan “jalan-jalan” biasa; ini Umrah, sodara-sodara! Ibadah yang Allah perintahkan para Rasul-Nya untuk dilakukan. Melihat rumah yang ditinggikan Nabi Ibrahim AS dan dimuliakan anak keturunannya. Ibarat bertamu, ini bukan cuma bertamu ke Istana Presiden atau Istana raja manapun, ini bertamu ke rumah Pemilik Seluruh Alam Raya!! Jadi nggak berlebihan rasanya kalau kami berdua, saya dan suami sampai “dikawal” sejumlah kecil pasukan.

Terakhir saya Umrah itu tahun 2005, kuliah semester 5. Saat itu bulan Juni-Juli. Cuaca demikian terik. Suhu nyaris mencapai 50 derajat, setengah mateng! Keadaan Mekkah pun kian hiruk pikuk oleh ummat Islam dari seluruh dunia. Kebetulan negara-negara Arab dan Afrika sedang libur sekolah juga. Jadi klop! Kata Mama, ‘rasanya lebih ramai dari waktu Mama haji’. Tapi itu 2005, tujuh tahun lalu. Dengar-dengar tahun 2012 ini setiap bulannya, jamaah Umrah seperti musim Haji. Apalagi jamaah Indonesia. 2012 itu tahun dimana jumlah jamaah umrah mengalami peningkatan signifikan. Dalam satu bulan, kedutaan besar Saudi Arabia bisa mengeluarkan visa sampai 20.000 lebih visa Umrah. Itu pun masih ada yang tidak kebagian visa. Subhanallah…

Mungkin karena di seluruh Indonesia (keccuali Papua, mungkin) saat ini sudah merata, waktu tunggu untuk dapat porsi Haji reguler mencapai 10 tahun; sedangkan haji plus bisa sampai 4 atau 5 tahun; jadi orang-orang berlomba-lomba untuk Umrah, boleh jadi khawatir tutup usia, rizki sudah ada, tapi belum sampai waktunya. Membayangkan harus nunggu 10 tahun saja rasanya nyesek ya… hiks…Nunggu sejam saja kita sudah gelisah, apalagi menunggu 10 tahun!

Kembali ke perjalanan saya dan suami; sampai di tengah jalan, cobaan pertama datang. Tante saya, marketing travel Arminareka Perdana, menelepon, mengabarkan kalau pesawatnya delay jadi pukul 8 malam. Okay. Baiklah. Kami sudah separo jalan, tinggal meneruskan. Pukul 11 kami sudah sampai. Menunggu sampai pukul 8? Insya Allah tidak masalah. Toh kerinduan saya sudah menahun ingin pergi ke sana. Apalah artinya menunggu sembilan jam. Setelah mengurus kopor, ini dan itu, setelah shalat Jum’at, kami check in. Saya dan suami menghabiskan waktu di salah satu lounge. Menyibukkan diri dengan makanan, membolak-balik koran, online internet, makan lagi, baca koran lagi, main internet lagi… hihihi… Kami menunggu dengan sabar, sekaligus tidak sabar. Jantung saya berdebar-debar seperti hendak bertemu pacar. Grogi, senang, excited, ada sedikit kecemasan, takut, apalah itu namanya…

Saat akhirnya kami boarding, saya merasa seperti anak kecil yang mau berangkat sekolah untuk pertama kali. Norak. Hihi. Dapat seat nyaris paling buntut, yang sepertinya belum pernah saya rasakan sepanjang sejarah perjalanan saya dengan pesawat, dan turbulensi yang Masya Allah… Kata suami saya, “Nggak ‘lewat’ aja udah bagus”. Oh iya, untuk suami saya, ini kali pertama dia berangkat Umrah. Jadi saat turbulensi, saat saya merasa “diayun-ayun” sambil tidur dan suami saya merasa meregang nyawa; dia sempat bertanya, “Dulu kamu begini juga nggak?”. “Aku lupa. Aku taunya udah sampe.” Wkwk… Maksud saya, sepertinya sepanjang jalan saya tidur, jadi lupa apa ada turbulensi atau tidak. Suami saya bahkan sempat ngobrol sama pramugara baik hati. “Mas, emang begini ya kalau ke Saudi?”, tanya suami. “Iya, Bapak baru pertama ke Jeddah ya? Memang selalu begini, Pak, setiap pesawat melintas di atas Kolombo. Ini belum apa-apa. Beberapa waktu lalu pesawat sampai harus mendarat di India, karena ada pramugari yang terlempar beserta bawaannya saat turbulensi di atas Kolombo. Pramugarinya harus dirawat segera,” ujarnya.

Suami saya selalu lebih takut pada turbulensi pesawat ketimbang saya, karena suami saya adalah Insinyur Pesawat :p. Ya, setidaknya itu major yang diambilnya saat kuliah di ITB dulu. Makanya, walaupun pekerjaannya berbau transaksi finansial, Suami saya paham sedikit banyak tentang seluk beluk mesin pesawat dan betapa “ringkih”-nya pesawat itu sebenarnya. Kehilangan satu bagian kecil saja, ujarnya suatu hari, pesawat sangat rentan kecelakaan.

Saya bukannya tidak takut. Ada sekelebat ingatan saya akan Mama dan Papa saya saat turbulensi hebat itu terjadi. Mendadak saya kangen Mama Papa. Tapi saat itu saya berusaha pasrah. Yasudahlah. Allah yang menggenggam nyawa saya, mau di daratkah, di lautkah, di udarakah; itu hak Allah untuk mengambil nyawa saya. Ini pelajaran kedua kami, setelah pelajaran sabar di bandara tadi. Pelajaran pasrah. Saya benar-benar paham mengapa doa orang-orang yang ada dalam perjalanan itu istijabah (dikabulkan). Karena ketergantungannya dengan Allah sangat tinggi. Siapa-siapa yang dicinta, apa-apa yang dicinta, tidak bisa dibawa serta dalam perjalanan kita. Bahkan ada suami saya di sebelah saya, pada dasarnya hubungan dengan Allah nafsi-nafsi sifatnya. Yang kita bawa dalam perjalanan hanyalah sedikit saja perbekalan dunia. Dan perbekalan takwa-lah yang menjadi bahan perhitungan-Nya.

 

Kami akhirnya sampai dengan selamat pukul 3 dini hari. Kemudian mengurus ini itu sampai jam setengah lima, dan akhirnya shalat Shubuh di bandara. Ada perubahan kecil yang saya lihat, kamar mandinya sekarang lebih bersih dan terawat. Pada dua umrah sebelumnya, seingat saya, kamar mandi di Saudi, kecuali di hotel, jarang ada yang bersih. Yah, mirip-mirip dengan Indonesia-lah.

Oh iya, sejak berangkat, saya mengamati suami saya. Entah apakah karena Mamah (Ibu Suami saya) sempat bergumam malam harinya, “Pasti dia (suami) di sana jajan terus tuh ya…”, atau karena suami saya merasa terbebas dari beban kantor; suami saya benar-benar jajan di setiap tempat. Begitu sampai di Jeddah, langsung mengajak saya jajan. Hihi…

Perjalanan kemudian dilanjutkan menuju Madinah dengan Bus. Madinah cuy! Madinah… Madinah… MADINAH!!!!

Sampai jumpa di Madinah yaa…  

P.S. harap sabar ya… Saya orangnya kalau cerita nggak runut, kalau berusaha runut jadinya panjang… hehe…

Haji Kecil itu… (Sebuah Pengingat untuk Diri Sendiri)

Tujuh tahun lalu! Itu terakhir kalinya saya menginjakkan kaki ke tanah suci. Tidak tujuh tahun persis. Tujuh tahun kurang satu atau dua bulan. Waktu itu entah bulan Juni atau Juli, di tahun 2005. The best year of my life. Saat liburan semester, saya dan keluarga saya berangkat umroh untuk kali kedua. Rasanya… Saya sudah lupa rasanya. Yang masih bisa saya ingat adalah rasa dag dig dug dhuerr saat bisa melihat Ka’bah kembali. Langsung, di depan mata…

Saya tidak mbrebes mili seperti kebanyakan orang saat melihat Ka’bah. Apa yang saya rasakan seperti tiba-tiba bertemu seseorang yang dicinta, setelah sekian lama mengharapkan pertemuan dengannya. Jantung berdebar-debar, antara senang, harap, lega, gugup, grogi, norak. U name it.

Saya juga masih ingat rasanya melihat cahaya berpendaran dari atas pesawat saat hendak mendarat di bandara Madinah. Malam itu, selepas Isya kami tiba. Dan saya melihatnya dari angkasa. Cahaya berpendaran, naik ke langit. Indah. Indah sekali. Seperti kembali ke rumah. Itulah cahaya berpendaran dari Masjid Nabawi. Masjidnya Rasulullah SAW. Tempat jasadnya yang mulia dikuburkan.

Tujuh tahun lalu, saya punya beberapa permintaan yang sederhana cenderung konyol. Salah satunya adalah saya ingin bertemu, melihat langsung bagaimana bentuk orang-orang Palestina. Dan Allah mengabulkannya.

Di Jeddah, saat hendak kembali ke tanah air, saya melihat bagaimana rupa orang-orang Palestina. Saat itu sedang ada kompetisi basket liga arab. Para peserta kebetulan menginap di hotel yang sama dengan rombongan kami. Saat melihat rata-rata tampilan pemain basket negara-negara Arab, saya hanya bisa berdoa semoga saya tidak pernah satu lift dengan mereka. Karena saya akan “lenyap” di antara para pemain basket liga arab yang tingginya… Subhanallah… Mugkin saya hanya sepinggangnya lebih sedikit.

Suatu hari, mereka sedang berkumpul di lobby. Dan disitulah saya melihat bagaimana tampilan orang-prang Palestina. Tingginya tidak setinggi pemain basket lainnya. Konon kabarnya bangsa Arab di daerah Libanon, Palestina, dan sekitarnya lebih “cakep” dibandingkan bangsa Arab lainnya. Tapi saya sih tidak bisa membedakan. Saya mengetahuinya dari bendera dan nama masing-masing negara yang tercantum di seragam mereka.

Sepele? Iya. Tapi ada suatu kejadian yang saya lihat yang membuat saya berdecak kagum. Di antara mereka ada salah seorang yang saya duga adalah coach tim Palestina. Saat mereka hendak bergegas, sang coach memanggil salah satu dari mereka. Saya lupa siapa nama yang si Coach panggil, anggaplah namanya adalah “Ahmad”, nama sejuta ummat. “Ahmad”, seru sang coach. Yang punya nama menoleh. Sang coach mengepalkan tinju sambil tersenyum, “Allahu Akbar!”. Dan Ahmad pun membalas, “Allahu Akbar!”.

Ada yang berdesir di hati saya melihat pemandangan itu. Betapa Allah dekat sekali dengan mereka. Bahkan dalam kompetisi yang “kurang penting” dan dalam rangka persahabatan pun, mereka bertanding dengan nama-Nya. Subhanallah…Apatah lagi saat mereka berperang melawan Israel?

Inilah alasan saya meminta-Nya memperlihatkan saya bagaimanakah wujud orang-orang Palestina, mereka yang seringkali disebut-sebut dalam doa. Mereka yang terasa dekat walaupun saya tidak mengenal mereka. Dekat karena Allah. Karena kita begitu cinta Palestina; dan masyarakat Palestina pun cinta dengan saudara-saudaranya dari indonesia. Keren ya?! Kita tidak saling kenal, tidak bahkan pernah bertemu, atau seperti saya, bertemu tapi tidak saling mengenal; bahkan berpapasan pun tidak; tapi kita saling mencintai dalam naungan iman pada-Nya.

Dalam seluruh perjalanan umroh pun sebenarnya sangat terasa. Ada yang berkulit putih, mungkin dari Rusia atau Albania, atau muallaf dari Eropa; ada yang berkulit kuning dari China; ada yang berkulit sawo matang seperti jamaah Indonesia, Malaysia, Brunei atau Filipina; hingga yang berkulit sangat gelap. Gelaaaaap sekali. Nyaris sama warna kulit dengan warna rambutnya. Inilah saudara-saudara kita dari Afrika bagian barat, biasanya. Tubuhnya tinggi menjulang. Yang perempuan ada yang tinggi besar; ada pula yang tubuhnya bak deskripsi dongeng-dongeng Babilonia (yang pernah saya baca waktu kecil): Sangat tinggi dan sangat langsing, berjalan dengan dagu terangkat, kulit hitam mengkilat,dan semarak dengan kain warna warni yang menutup aurat mereka. .

Seperti yang dikatakan Malcolm X dalam suratnya pada sang istri, saat ia pergi haji. Di tanah suci, ia minum satu tempayan dengan orang yang kulitnya paling putih dari orang kulit putih yang pernah ia lihat higga yang paling hitam dari orang kulit hitam yang pernah ia temui.

Subhanallah… Inilah Islam. Inilah ummatnya Rasulullah SAW yang disatukan di tanah-Nya dalam naungan iman, cinta dan taat pada-Nya dan sunnah Rasul-Nya. :’)

Ah… Siapa yang tidak rindu dengan tanah suci-Nya apabila sudah merasakan nikmatnya berada di sana?

Ketika dunia yang ditinggalkan tidak lagi menjadi masalah. Itulah, menurut saya, istirahat sesungguhnya.

-9Hari9Malam-